Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 78 ~ Bingung dan Takut


__ADS_3

...Mau tanya dong, rahasianya awet begadang apa? Selain minum kopi loh, ya, karena Aku kalau minum kopi kadang suka kaget gitu perutnya, kayak tiba-tiba sakit, jadinya rada takut. Soalnya beberapa hari ini Aku selalu ngantuk saat jam menunjukkan pukul 21:00, sayangnya di jam itulah sampai jam 00:00 tuh Aku nulis project kedua. Pengen cepat-cepat selesai, supaya bisa lanjut ke project ketiga....


...***...


...



...


"Ava, mau ke mana?" tanya Agnes yang menonton tv di ruang tamu. Tentu saja ia bingung, karena Ava memakai pakaian casual dan sangat rapi dari biasanya, malam-malam begini pula.


Gadis yang dipanggil menoleh. "Mau pergi sama kak Aras." Di luar gerbang Aras sudah mengklakson mobilnya beberapa kali. "Ya udah ya, kak Aras udah nunggu di luar, bye."


Setelah Ava keluar, Ana dan Agnes saling melempar tatapan serta senyuman penuh arti.


"Balikan!" seru keduanya secara bersamaan.


***


"Maaf Kak, lama," tutur Ava saat masuk ke dalam mobil Aras.


"Iya, nggak papa." Aras menjalankan mobilnya menuju tempat yang sudah ia tentukan.


***


Mobil Aras terdiam rapi di parkiran salah satu restaurant biasa di Jakarta.


Keduanya sama-sama duduk diruangan restaurant yang sudah Aras pesan beberapa jam yang lalu.


"Apa ini nggak ngerepotin, Kak? Sampai harus mesan ruangan privat kayak gini?" tanya Ava agak sedikit rasa mengganjal di dadanya.


Belum juga ini adalah kali pertama Aras mengajaknya ke restaurant seteleh beberapa bulan yang lalu ia memutuskan untuk memilih Alan, yang bahkan cowok itu juga meninggalkannya lalu Aras datang lagi di hidup Ava.


"Kan, katanya lo nggak mau ada yang tahu soal ini, kalau di ruangan terbuka ... bisa aja ada yang ngeliat atau bahkan orang itu ada di sini. Lagian ... ini ruangannya cuma ada tiga jendela kecil dan lo itu sama sekali nggak ngerepotin gue."


"Ya ... iya juga sih."


"Ini ... coba lo liat." Aras menghadapkan laptopnya ke Ava. "Gue udah ngelacak nomor peneror itu, dari pagi sampai sekarang, lokasi nomor itu ada di sekolah dan nggak berpindah-pindah sama sekali."


Ava mengamati sambil menjelaskan apa yang Aras jelaskan padanya.


"Jadi ... gue pikir, si peneror ninggalin sesuatu yang bersignal di sekolah, atau kalau nggak gitu dia sembunyinya di sekolah. Menurut lo, gimana?"


"Kalau sembunyi di sekolah sih kayaknya enggak deh Kak, masa iya tiap hari gitu tinggalnya di sekolah? Tapi, nggak tahu juga sih kalau dua obsi itu kemungkinan salah satunya ada yang benar."


Aras mengangguk pelan. "Ya ... iya juga ya. Apalagi sekolah kita itu penjagaannya ketat banget."


Ava menjentikkan jarinya. "Gimana kalau kita cari di seluruh sudut sekolah?"


"Eum ... kayaknya bakal susah dan memakan waktu yang lama deh?" Melihat wajah Ava yang murung lagi membuat Aras tidak tega. "Ya udah, gue usahain, tapi ... gue nggak bisa kerja sendiri."


Senyum gadis di sampingnya langsung mengembang sempurna. "Sip deh, Kak! Gue bakal bantuin kok!"


***


Tok


Tok


Tok


"Siapa sih malam-malam begini datang?" Agnes meletakkan toples berisi camilan di meja.


"Mungkin, Ava kali udah pulang?"


"Kalau Ava pasti tinggal masuk dan nggak akan ngetuk pintu. Lagiankan masa perginya cuma beberapa menit doang? Kalau gitu mah cepat banget."


Agnes melangkahkan kakinya membukakan pintu, tak ada siapa-siapa di luar, tapi saat arah pandangan Agnes menuruh ke bawah.


"Aaaaaaaaaaa!!"


***


Ting


Ting


Hp Ava berbunyi, dan gadis itu langsung membuka pesan tersebut.

__ADS_1


+62 8966 ×××× ××××


Kau bersembunyi pun Aku bisa menemukanmu. Carilah!


Mata Ava membulat sempurna, bola matanya memandang dan meneliti seluruh ruangan dan berhenti ke arah pintu.


"Kenapa, Va? Kok lo kayak ketakutan gitu?"


Gadis di samping Aras ini meneguk ludah dengan susah payah. "Dia ada di sini," ungkap Ava dengan volume bicara seperti berbisik.


Hawa dingin tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan, padahalkan AC- nya pun dimatikan, dan tadi hawanya hangat, tapi, kenapa tiba-tiba jadi dingin dan merinding begini?


Perlahan-lahan Aras mulai mengetahui dan memahami apa yang Ava rasakan.


Kok merinding sih? Apa ini yang dirasakan Ava selama ini? Kasian banget tu cewek memendam katakutan yang sangat luar biasa. Gue harus bantu dia, tuturnya dalam hati sambil menengok kanan kiri dan mengusap kedua lengan akibat hawa dingin yang menyeruak seluruh tubuh.


Saat Ava lebih mempertajam pandangannya, bola mata gadis itu tak sengaja menangkap sesuatu yang lewat dari jendela yang berada tepat di belakang Aras.


Seseorang dengan pakaian serba hitam melambaikan tangannya yang juga terbungkus sarung tangan hitam.


"Ava, lo mau ke mana?!" teriak Aras saat melihat Ava yang tiba-tiba berlari keluar ruangan.


Aras buru-buru membereskan barang-barangnya lalu mengekor Ava dari belakang.


***


"Woi berhenti lo, jabingan!" teriak Ava saat ia mulai dekat dengan orang tersebut.


Sayangnya si peneror itu berlari semakin kencang, sehingga menyulitkan Ava untuk mengejar.


***


"Mana lo sialan?!" umpatnya saat sudah ada di luar restaurant. Gadis itu semakin melebarkan pandangannya mulai dari arah parkiran, taman, air mancur, dan pepohonan sekitar. Tapi, sial! Tidak ada apa-apa di sana kecuali orang yang lalu lalang.


Ia juga tidak bisa memastikan apakah peneror itu perempuan atau laki-laki karena orang itu memakai pakaian yang serba hitam mulai dari topi, kacamata, masker, sarung tangan, hoodie, sepatu, dan celana.


"Ada apa sih, Va?" tanya Aras saat berhasil berdiri di samping gadis itu.


"Maaf gue udah ninggalin lo, Kak. Tapi tadi peneror itu ada di sini! Gue kejar tapi udah hilang!"


Ting


Ting


+62 8966 ×××× ××××


Failed


Beberapa detik kemudian layar hp gadis itu tertera nama Agnes, Ava langsung menggeser tombol hijau.


Mengatur pernafasannya agar tidak terdengar ngos-ngosan. "Iya, ada apa, Nes?"


"A-Ava to-tolong kita."


Tut


Tut


Tut


"Ha-halo, Agnes?" Ava menatap aras dengan raut wajah super ketakutan. "Antar gue pulang sekarang!"


"Ada apa lagi sih, Va?"


"Nanti di jalan gue jelasin, tapi anterin gue pulang dulu!"


Aras mengangguk. "Ya udah! Ayo buruan masuk mobil."


***


Kali ini Ava benar-benar ketakutan setengah mati, Ia takut kalau terjadi apa-apa kepada kedua sahabatnya. "Cepat sedikit bisa nggak, Kak?!"


"Iya! Iya! Gue ngebut, lo pegangan yang kencang." Aras benar-benar menambah kecepatannya, cowok itu juga ketakutan karena Ava ketakutan, perasaan itu menular.


Ava bahkan tak takut sama sekali saat Aras ngebut di jalanan, yang ia rasakan saat ini adalah ketakutan tentang kedua sahabatnya. Ava juga takut kalau hal ini akan merembet ke semua orang yang ia sayang.


Bebepara detik kemudian Ava baru sadar akan pesan yang dikirim peneror itu sore tadi saat pulang sekolah.


Berarti dia udah tahu kalau gue minta bantuan Kak Aras dan dia juga tahu kalau Kak Aras melacak dia?

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat ketakutan Ava semakin menjadi-jadi.


Peneror ini cukup mempunyai skill untuk mengelabuhi orang tanpa ketahuan, pandai bersembunyi, dan juga pandai memaikan seseorang.


Ya, iyalah, kalau nggak punya skill mah bakal langsung ketahuan.


***


Saat sampai di rumah Ava dan Aras langsung turun dari mobil menuju rumah, bau amis langsung mengenai indera penciuman mereka. Hal pertama yang mereka lihat adalah sebuah darah berceceran di lantai, ada juga pisau tajam nan cukup besar yang dilumuri darah.


Ava meninggalkan Aras yang masih berdiri di luar mengamati benda cair nan sedikit kental tersebut. Gadis itu mengecek setiap kamar, dan pada akhirnya menemukan kedua sahabatnya yang bersembunyi di kamar Ana.


"Kalian nggak papa, 'kan?"


Kedua sahabatnya menggeleng pelan, mugkin mereka masih sangat syok akan hal itu. Bekas air mata keduanya pun masih terlihat dan sesekali menetes.


"Kalian tahu siapa yang ke sini dan ngirim itu?"


Keduanya masih menggeleng tanpa mau menjawab.


"Ya udah, kalian tenang aja nggak usah takut, karena itu hanya orang iseng dan jail. Gue jamin kalian nggak bakal kenapa-napa dan malam ini kita bakal tidur saru kamar."


Perasaan gadis itu bukan lagi merasa takut, bukan lagi merasa deg-degan, dan bukan lagi merasa was-was. Kemarahannya yang ia pendam selama ini seketika lansung meledak-ledak, Ava semakin geram, dendam di dadanya semakin menguat, dan ia juga merasa tertantang.


Tangan gadis itu mengepal dengan sangat kuat, bahkan otot dan urat nadinya sampai terlihat.


Kalau gue berhasil nemuin lo, insyaallah gue bakal pesta tujuh hari tujuh malam tanpa jeda buat ngabisin duit gue, dan gue juga bakal kasih hukuman yang setimpal sama apa yang lo lakuin ke gue dan orang-orang terdekat gue.


***


Aras sudah pulang satu jam yang lalu, tadi cowok itu menawarkan penjagaan tapi Ava menolaknya, lagiankan, Aras sudah sangat banyak membantu. Ava sudah membersihkan tanpa sisa darah di lantai depan rumah, sedangkan Aras membawa pisau tadi untuk dicari tahu apakah ada sidik jarinya atau tidak.


Ava belum bisa tidur sama sekali, untung saja besok hari libur, jadi ia dan kedua sahabatnya bisa menenangkan pikiran yang kacau balau.


Flashback On


"Setelah tadi gue amati dan nyium, darah yang ada di lantai dan di pisau itu ternyata darah hewan, karena darah manusia baunya nggak seamis itu. Gue juga mikir kalau yang neror itu lebih dari satu orang, buktinya ada yang ngirimin hal tadi ke rumah dan yang satunya lo bilang ngeliat orang itu di restaurant. Ada suatu kejadian yang terjadi di waktu yang hampir sama. Belum lagi jarak antara rumah dan restaurant setengah jam- an lebih, dengan kecepatan penuh pun juga hal itu nggak bisa dilakuin secara bersamaan."


*Ava menatap lurus ke depan. "Gue takut kalau orang-orang yang ada di sekitar gue celaka. Agnes sama Ana juga sesyok itu." Menatap Aras dengan air mata yang sudah bercucuran. "Habis ini siapa? Safira? Revan? Dino? Justin? Bagus? Atau bahkan, Kak Aras sendiri?"


Gadis itu menunduk. "Mungkin, sebaiknya Kak Aras nggak usah bantuin gue lagi, daripada nanti Kak Aras kenapa-napa. Gue takut kalau kak Aras masuk lebih dalam lagi semuanya akan semakin celaka. Gue yang mulai permainan sejak kedatangan gue ke sekolah ini, jadi, gue juga harus bisa mengalahkan si pembuat mainan ini*."


Aras menyentuh dagu Ava lalu mengarahkannya untuk menatap dirinya. "Gue bakalan tetap bantuin lo, Ava, dan lo tenang aja, karena gue nggak bakalan kenapa-napa. Selama lo, sahabat, dan teman-teman lo ada di dalam pengawasan gue, kalian semua nggak akan kenapa-napa."


Aras menyeka air mata Ava dengan kedua jari jempolnya. Ia juga berharap dengan keadaan seperti ini Aras bisa semakin dekat dengan Ava dan mendapat kesempatan kedua dari gadis itu.


Aras bukan bermaksud mengambil alih tempat Alan, tapi cowok itu hanya ingin membuat Ava merasa nyaman dan aman saat bersama dengannya.


"Bo-boleh?" tanya Aras memastikan saat ia akan memeluk Ava. Mulai sekarang, Aras akan meminta izin pada Ava jika akan melakukan sesuatu atau menyentuh gadis itu.


"Bo-boleh kok," jawab Ava ragu-ragu tapi mau.


Perlahan-lahan Aras mengarahkan tubuh Ava ke dalam dekapannya, mengelus dan menepuk punggung serta kepala gadis itu pelan. Sebenarnya itu modus tapi sekalian menenangkan Ava juga.


Ava berbalas memeluk Aras, hanya saja gadis itu cuma memegang hoodie yang di pakai Aras. "Gue juga takut lo kenapa-napa, Alan."


Saat Aras tahu Ava membatin seperti itu, apa cowok itu akan marah? Tidak, Aras tidak akan marah, tapi mungkin cowok itu hanya kesal, kecewa, dan sedih. Tapi, untunglah Aras tak bisa mendengar apa yang Ava ucapkan dalam hati.


Ava, gue ingin kita berdua kayak gini terus tanpa ada bayang-bayang Alan yang menjadi penghalang. Gue nggak bisa jauh dan ninggalin lo saat gue dan hati gue udah terikat serta memilih lo. Kalau misi ini selesai, apa hubungan dan suasana seperti sekarang juga akan selesai dan hanya menjadi kenangan? batin Aras, semakin mempererat pelukannya.


Flashback Off


Gadis itu mengusap wajahnya kasar. "Aaarrrggghhh! Kenapa di keadaan kayak gini gue malah jadi kesem-sem sama perlakuan kak Aras ke gue?"


Gadis itu menatap kedua sahabatnya yang tengah tertidur pulas. "Maaf, karena gue udah nyeret kalian ke masalah gue. Tapi, gue janji bakal menyelesaikan masalah ini secepatnya. Nggak bakal ada lagi rasa takut, trauma, atau merinding yang akan kalian rasakan. Gue janji."


...***...


...Chapter kali ini penuh teka-teki, yah? Dan chapter kali ini juga lebih fokus ke Aras sama Ava yang lagi berusaha dan berjuang nemuin si peneror....


...Tebakan kalian yang dulu tentang si peneror berubah nggak, setelah kalian baca chapter ini?...


...***...


...Ditulis tanggal 08 November 2020...


...Dipublish tanggal 05 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2