
...
...
Saat mendengar bel istirahat, Ava langsung berlari tanpa mengindahkan segala macam teutek bengek yang keluar dari mulut sang teman sebangku.
Gadis itu berlari menyusuri koridor kelas XII menuju kelas XII Ips 2. Saat sampai di sana ternyata guru perempuan belum selesai menjelaskan materi, jadi Ava putuskan untuk menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu masuk.
Selang beberapa menit kemudian, sang guru perempuan itu keluar dari kelas, Ava menundukkan kepala saat guru tersebut lewat di depannya. "Pagi, Bu."
Guru itu tersenyum. "Iya, Pagi juga."
"Oh, nama nya Bu Semi," gumam Ava saat sempat membaca name tag guru perempuan itu.
"Ava?"
Yang dipanggil pun sontak menoleh, kemudian menyengir canggung. "Kak Aras."
Aras tersenyum lebar, mengibaskan tangannya seolah mengusir kedua sahabat yang selalu ada di sampingnya. Si kalem Gilang dan si playboy Uki. Kedua cowok tersebut pergi tanpa protes sama sekali, karena keduanya juga tahu kalau selama kurang lebih delapan bulan ini Aras sangat tersiksa akan perasaannya. Jadi, tak terkejut jika cowok itu sangat terlihat bahagia ketika melihat Ava menemuinya.
"Bisa, bicara sebentar?"
"Bisa."
***
Aras dan Ava kini ada di taman belakang sekolah. Ava yang saat ini sangat canggung sedangkan Aras yang penasaran dan kebingunan karena Ava tak kunjung mengatakan apa niatnya.
Gadis itu menggaruk belakang kepalanya. "Gimana, ya?"
"Udah, ngomong aja."
Ava menegapkan duduk lalu menatap Aras. "Jadi, selama enam bulan ini tuh gue les vokal, terus sekarang guru lesnya pengen anak didiknya bisa main alat musik. Gue pilih gitar sebagai yang utama, tapi gue nggak bisa cara mainnya gimana. Kalau nggak diajarin langsung kurang paham. Di sana di ajarin sih, tapi cuma sebentar gitu. Jadi ..."
"Jadi lo pengen gue ngajarin lo?" jawab Aras saat ucapan gadis di depannya menggantung.
Ava terkekeh. "Hehe, iya. Ma-mau nggak?"
"Ya maulah. Apapun buat lo."
Ava lantas langsung memegang kedua punggung tangan Aras dengan lembut. "Makasih banget, Kak. Makasih banyak."
Aras menahan desiran aneh yang tiba-tiba ia rasakan di sekujur tubuhnya, terutama di area dadanya. Cowo itu memejamkan mata sejenak seraya mengatur nafas, perlahan melepas tangan Ava dari tangannya. "Iya, sama-sama."
Ava menarik kedua tangannya cepat. "Ma-maaf. Refleks tadi."
"Nggak papa."
"Jadi, bisanya kapan?"
"Sebisa lo aja. Terserah lo."
"Karena sepulang sekolah gue les vokal sampai malam, dan malamnya masih ada kerjaan, gimana kalau di sekolah aja? Pas istirahat atau kalau ada waktu senggang?"
Aras mengangguk mengiyakan. "Okay, nggak masalah. Gue juga masih punya banyak waktu. Kapan?"
"Gimana kalau kita mulai besok?"
"Okay, gue bisa. Setiap jam istirahat gue bakal nunggu lo di sini."
Ava menganguk, beberaa detik mereka sempat canggung tanpa obrolan sama sekali. "Pacar Kak Aras emangnya nggak marah kalau Kak Aras ngajarin gue?"
Kening cowok itu mengernyit. "Pacar? Gue nggak punya pacar. Atas dasar apa lo ngomong kayak gitu?"
"Ya, ini, 'kan, udah delapan bulan, siapa tahu aja Kak Aras udah punya pacar."
"Gue masih nunggu lo, Ava."
Gadis itu segera bangkit, apa yang dikatakan Aras barusan membuatnya semakin tidak enak hati. "Eum .. yaudah, gue mau balik. Kak Aras mau bareng?"
Aras mengeleng. "Enggak, duluan aja. Gue masih mau di sini."
Ava bangkit dari duduk. "Bye." Berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
"Ava!" panggil Aras bangkit dari duduk menatap Ava.
Ava yang baru saja akan keluar pun menoleh.
"Lo, masih ingat kejadian di halaman rumah lo delapan bulan yang lalu, 'kan?" ulang Aras mengingatkan lagi untuk yang kedua kalinya, karena ia merasa saat yang pertama tadi Ava tidak mendengar, padahalkan gadis itu mendengarnya dengan jelas.
Ava diam sejenak karena tak enak harus menjawab bagaimana, "I-iya."
"Hal itu masih berlaku sampai sekarang."
"Ta-tapi, Kak-"
"Jawab saat lo siap. Gue akan selalu di sini sampai lo buat keputusan," sela Aras cepat karena ia tahu Ava belum siap menerimanya. "Tapi gue punya nyarat yang harus lo tepati kalau lo mau gue ajarin."
"Syarat apa?"
***
Aras duduk termenung di tribun lapangan basket seorang diri, tak bisa dipungkiri kalau ia masih sangat menyimpan rasa untuk Ava, sedikit pun rasa itu tak pernah hilang. Aras pun sama sekali tidak ada niat untuk menghapus rasa itu, sudah sekitar delapan bulan ini ia tersiksa dan bergelut dengan hati tanpa kepastian sama sekali, seolah perasaan itu sudah sangat melekat di dalam dirinya.
Ia rela melakukan itu agar Ava juga rela saat memutuskan semuanya. Aras tak pernah mau mengekang atau memaksa Ava, ka hanya ingin jika Ava menerimanya tanpa paksaan, tanpa keraguan, diiringi kepercayaan, dan ikhlas hati luar dalam. Hanya itu? Iya, hanya itu. Secinta itu kah Aras dengan Ava? Iya, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan akan selalu seperti itu.
Ada rasa bahagia saat Ava datang padanya untuk mengajari gadis itu bermain gitar, tapi juga ada rasa kecewa saat Ava belum menerimanya. Aras kira tadi Ava sudah siap, tapi saat cowok itu menatap kedua manik mata Ava gadis itu sama sekali belum siap, masih ada sosok laki-laki lain yang terus ada di ruangan khusus tersebut.
Flashback On
"Syarat apa?"
Aras maju mendekati Ava. "Gue ingin, saat wisuda nanti, lo menyanyikan satu lagu untuk gue dan satu lagi terserah untuk siapa. Bukan bermaksud apa-apa, tapi gue hanya ingin kemampuan lo diketahui oleh orang banyak tanpa lo pendam atau sembunyikan dari dunia mengerikan ini. Deal?"
Ava nampak berpikir, ia sedikit ragu akan hal itu. Tapi tak apalah, toh itu hanya menyanyi biasa. "Deal."
Flashback Off
Aras menopang tangannya di atas paha, menatap sendu lurus ke depan.
Andai lo tahu gimana tersiksanya gue, Ava. Gue selalu melihat lo dari jauh tanpa bisa menjangkau lo lebih dekat. Tapi, gue akan berusaha sabar, dan membiarkan waktu yang menjawabnya.
Asal kalian tahu saja, kenapa tadi Aras tidak terkejut saat Ava mengatakan kalau gadis itu bisa bernyanyi? Itu karena selama enam bulan ini Aras terus memantau dan menanyakan bagaimana perkembangan dunia musiknya melalui Safira.
Awalnya sih Safira tidak mau karena takut Ava akan marah, tapi karena desakan Aras terlalu kuat dan cowok itu sampai datang ke rumahnya, jadilah Safira mau. Gadis itu juga sama sekali tidak memberitahu Ava karena takut kalau Ava nanti merasa tidak nyaman dan terbebani.
Jika Aras tidak lelah dan ada waktu senggang pun terkadang ia juga mendatangi dan mengintip tempat les Ava benyanyi, Aras hanya ingin melihat Ava setiap saat walau gadis itu masih acuh padanya. Wanita itu butuh pembuktian, bukan hanya sekedar ucapan manis belaka yang membuat hati para kaum hawa bedetak tidak karuan.
Aras menatap ponselnya yang memperlihatkan kontak gadis itu. "Gue emang punya nomor lo, tapi enggak dengan hati lo."
"Raga lo di sini, tapi jiwa lo di sana. Apa gunanya raga tanpa jiwa?"
"Lo itu seperti bawang putih, Ava."
"Kenapa gitu?" jawab Aras sendiri, sepertinya ia sudah mulai gila. "Karena masakan apapun itu kalau tanpa bawang putih akan terasa hambar dan sedikit ada yang kurang."
"Tapi, gue ingin lo menjadi bawang putih dan gue garamnya."
"Kok gitu?"
"Karena dua bahan tersebut adalah bahan yang paling penting dan saling melengkapi satu sama lain."
***
"Mau belajar sama kak, Aras?" tanya Safira saat melihat Ava beranjak sambil menyampirkan Gitar di bahu kiri.
"Iya."
Dino dan Revan datang lalu duduk di bangku kosong depan mereka, yang punya bangku sudah pergi.
"Lo belajar terus, kita jadi nggak bisa milikin lo sepenuhnya. Istirahat pertama lo belajar. Istirahat ke dua lo tidur. Malamnya lo belajar, ngerjain tugas, dan juga ada kerjaan lain yang entah apa itu. Kapan lo punya waktu?" gerutu Revan sangat merindukan Ava yang santai seperti dulu.
"Ya ... mau gimana lagi? Materai perjanjiannya juga dipegang sama Safira, setiap hari sabtu dan minggu, 'kan, seharian kita selalu hangout, masih kurang?"
"Sangat kurang! Lo sih, Fir! Ngapain juga pake perjanjian di atas materai? Ngerepotin segala!" murka Dino.
Sebelum Safira menabok Dino, Revan lebih dulu melakukannya tepat di belakang kepala cowok itu.
Dino meringis. "Sakit woi!"
__ADS_1
Mata Revan melotot. "Mau apa? Gue siram pake aspal panas baru tahu rasa lo!"
Dino bangkit menjauhi Revan. "Belajar ngomong dulu sana biar pandai merangkai kata! Rasa tahu! Bukan tahu rasa! Sekolah nggka sih lo?"
Cowok yang diejek pun semakin geram dengan sahabat somplaknya ini. "Apa lo bilang? Sini lo!" Revan mengejar Dino entah ke mana, suka-suka mereka. Ke mana saja boleh, kalau bisa sih ke hati para readers yang lagi baca cerita ini.
Ya begitulah keseharian mereka semua. Dino dan Revan yang selalu seperti kuncing dan anjing. Ava yang semakin sibuk dengan jadwalnya, sedangkan Safira yang sekarang ikut andil untuk menjaga dua manusia yang selalu membuatnya naik darah.
"Gimana sama Revan? Masih belum lo terima?"
Iya, beberapa waktu yang lalu Revan akhirnya menyatakan cintanya pada Safira lewat chat tepat jam dua belas malam. Sayangnya Safira menolak karena tidak mau dengan cara seperti itu, ia tentu bukan gadis murahan yang dengan mudah didapatkan. Selain itu juga artinya Revan tidak serius dan hanya main-main saja.
Safira tidak datang ke dunia hanya untuk merasakan cinta yang pada akhirnya hanya mematahkan hatinya. Ia ingin merasakan cinta tapi dengan orang yang juga merasakannya tanpa ada kata 'Meninggalkan' setelah menjalin sebuah hubungan.
"Sebelum dia nembak gue secara langsung, gue nggak akan terima walaupun gue juga memendam perasaan ke dia," jawab Safira enteng tanpa beban. Itu adalah tantangan yang Safira berikan untuk Revan, tapi sayangnya cowok itu belum melaksanakan tantangan tersebut. Revan masih membutuhkan waktu dan kesiapan diri agar nantinya saat sang gadis menjawab "iya" dirinya tidak pingsan di tempat.
"Kasihan tahu."
"Biarin aja, karena gue bakalan nunggu dia sampai dia menerima tantangan itu."
Ava memberikan satu jempolnya. "Bagus. Jangan mau didapatkan secara mudah."
Keduanya saling tertawa bersama sebelum akhirnya berpisah di tengah jalan. Ava pergi ke taman belakang menemui Aras sesuai janji, sedangkan Safira ke kantin menyusul Revan dan Dino.
***
"Minggir!" Natalie menyenggol kasar lengan Alan saat ia lewat di pintu bebarengan dengan Alan dkk, melenggang pergi tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Woi! Santai dong! Pantesan cinta lo nggak terbalaskan! Lo jadi cewek beringas dan genit sih!" cela Bagus karena sudah terlalu geram. Bagaimana tidak geram kalau Natalie selalu mengganggu Alan saat hidup cowok itu kini perlahan mulai membaik.
Natalie sendiri hanya menoleh sinis sambil terus berjalan.
"Biarin aja," kata Alan agar keributan tidak terjadi.
Mungkin saja, Natalie benar benar sakit hati dan masih tidak terima dengan kejadian enam bulan yang lalu. Apakah selama itu rasa sakit hati bertahan dan tidak kunjung hilang?
Ketiga cowok tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya menuju kantin, para cacing sudah sejak tadi berdemo meminta makan.
Rahasia yang dipendam Bagus serta Justin juga belum disampaikan kepada Ava. Mulut mereka memang gatal, tapi mereka juga harus menentukan waktu yang pas agar tidak ada yang patah hati lagi saat semuanya mulai berjalan normal.
***
Alan berhenti di depan pintu taman belakang saat ia akan ke kamar mandi, dan malah mendengar suara orang bernyayi samar-samar dari dalam taman. Cowok itu perlahan mengarahkan kakinya untuk mendekat dan membuka sedikit pintu sebagai celah, dan saat itu juga Alan bisa melihat dengan jelas di dalam sana yang ada dua orang yang tengah duduk di bangku yang sama, dengan sang laki-laki mengarahkan cara bermain gitar dan memposisikan jari yang benar pada sang gadis di sampingnya.
"Ini jarinya di sini biar mudah maininnya, dan tangan yang satunya pegang kepala gitar untuk mengatur not- nya."
"Gini?" tanya sang gadis saat melaksanakan arahan sang mentor.
"Nah, iya gitu. Tadikan gue udah ajarin gimana cara mainnya, sekarang lo praktekin tapi sambil nyanyi juga."
"Tapi, gue nggak bisa," rengek sang gadis.
"Bisa. Jangan bilang nggak bisa kalau lo belum coba."
"Ya udah deh, mau lagu apa? Indo atau luar?"
"Terserah lo. Yang gampang-gampang aja dulu."
Alan kembali menutup pintu taman lalu keluar dari sana, berjalan kembali ke kelas. "Gue ikut senang saat lo berhasil menemukan kebahagiaan lo, Ava."
...***...
...Gimana hubungan Maudi sama Dino? Mereka berdua masih baik-baik daja di belakang cerita....
...Maudi yang menjalankan misinya, sedangkan Dino yang hanya berleha-lehe sambil dari jauh menatap gadis pujaan hatinya....
...Komennya dong tentang cerita ini? Saran? Kritik? Itu juga boleh....
...***...
...Ditulis tanggal 20 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 26 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....