Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 17 ~ Ban Kempes


__ADS_3

...



...


Bel pulang sekolah telah berbunyi lima belas menit yang lalu. Ava, Safira, Agnes, dan  Ana masih ada di sekolah, sedangkan teman-teman yang lainnya sudah pulang terlebih dulu. Tadinya Agnes minta di antar ke kelas X Ipa 2 untuk bertemu dengan Iqbal, karena sekarang setiap hari Rabu Iqbal mengikuti extra pencak silat, tapi tidak jadi karena Ava ingin segera pulang.


Tapi saat di parkiran Ava melihat Alan yang masih di sana, bolak balik mengecek motornya.


"Kalian, pulang duluan aja. Gue mau ngomong sama Alan dulu." ucap Ava. teman-teman temannya menyetujui dan memberikan kebebasan bagi Ava untuk berbicara.


Ava mendekati Alan. "Alan, kenapa motor lo?" Cowok itu tak menanggapi Ava, seolah gadis itu tidak ada di hadapannya, "... Alan, motor lo kenapa?" tanya Ava lagi. Alan tetap tidak menjawab atau menoleh ke Ava. Gadis itu memutar bola matanya malas, berdehem sebentar, "... Alan, motor lo kenapa?!" teriak Ava pada akhirnya. Ia sebal tidak di hiraukan cowok tu.


Beberapa siswa di sana langsung menatap Ava bingung.


"Ban gue ada yang ngempesin," jawab Alan datar, memencet ban belakangnya. Tapi walaupun begitu Ava senang, Alan masih mau berbicara dengannya.


"Alan, mau kemana?" tanya Ava saat Alan tiba-tiba pergi.


"Ke ruang cctv." jawab Alan tanpa menoleh dan terus berjalan.


Ava duduk di atas motor Alan, memainkan kepala motor Alan ke kiri dan ke kanan layaknya pembalap international.


"Kak Aras, belum pulang?" tanya Ava saat Aras datang bersama teman-temannya. Tapi Aras sama seperti Alan tadi, tidak menjawab, dan dengan wajah datar.


Ava langsung mencebikkan bibirnya, tebakannya benar. Aras pasti marah kepadanya, dan Ava sudah tidak ada harapan lagi dengan itu.


Setelah ini Ava akan segera meminta maaf dengan Aras jika masalah Ava dengan Alan sudah selesai.


Ava menatap kepergian Aras sampai penglihatan Aras dari matanya hilang, bebarengan dengan itu Alan kembali lagi.


"Lo, ngapain ke ruangan cctv? Ada yang maling motor?" tanya Ava penasaran. Alan menatap Ava datar.


"Turun,"


"Jawab dulu pertanyaan, gue!"


"Turun,"


"Jawab dulu pertanyaan gue, Lan ..."


Alan menghela nafas kasar, kenapa cewek di depannya ini sangat menyebalkan. "Nggak ada apa-apa,"


Ava turun dari motor Alan. "Lo, nggak mau bareng gue aja? Ban belakang Lo kempes tuh,"


"Nggak."


Alan menaiki motornya, menggerakkan kedua kakinya ke luar gerbang sekolah.


Ava segera memakai helm lalu menjalankan motornya menyusul Alan.


"Yakin, Lan, nggak mau? Udah sore loh ini?" tawar Ava terus membujuk Alan.


Ava mematikan motor juga mencabut kuncinya, tidak baik bukan membuang-buang bensin.


Alan berpikir sebentar, apa yang di katakan Ava ada benarnya juga.


"Gue juga lapar."


Alan mengulurkan tangannya. Ava langsung tersenyum lebar memberikan kunci motornya, lalu mundur ke belakang.


"Turun," suruh Alan masih dengan nada datar.


"Lha, kenapa? Kan, kita mau pulang,"


"Turun aja,"


Ava turun dari motornya dan Alan menaikimya lalu meninggalkan Ava begitu saja.


"Alan, jangan tinggalin, gue!"

__ADS_1


"Nanti, kalo gue di culik gimana?"


Tapi sayang, ocehan Ava tak di dengarkan Alan sama sekali.


"Gue, yang punya motor, gue yang di tinggal."


***


Setelah beberapa menit, akhirnya Alan datang dengan membonceng laki-laki yang bagi Ava masih cukup muda.


Ava berdiri. "Siapa?" tanyanya.


"Tukang tambal ban langganan gue. Nama nya, Mas Budi," jawab Alan seadanya.


"Mas, lo naik ke motor, gue. Nanti gue dorong lo dari belakang pake motor dia," Alan menunjuk Ava dengan jari jempol.


"Beres, Lan." Mas Budi tersenyum memberikan satu jempolnya.


"Ayo naik."


Ava naik di boncengan Alan, sedangkan Mas Budi menaiki motor Alan.


Alan nenempatkan kaki kirinya di pedal motornya, menjalankan motor Ava pelan pelan untuk mendorong motor Alan agar berjalan seimbang.


Ava mengetuk-ngetuk helm Alan pelan. "Kenapa nggak gue aja, yang pake motor lo, terus lo dorong?"


"Jangan mainin helm gue. Lagian, gue takut kalau lo, jatuh," Ava langsung tersenyum mendengar pernyataan Alan.


Ava masih memainkan helm Alan, bahkan menjambak jambak ujung rambut Alan yang sedikit kelihatan, gadis di belakangnya ini sungguh usil.


"Jadi, lo takut gue kenapa-napa gitu?"


Alan menggeleng. "Gue takut ngeluarin duit buat lo, nanti kalau lo jatoh gue yang harus tanggung jawab."


Ava mendengus kesal. Alan masih menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari biasanya.


***


...



...


Ava hanya memesan jus alpukat, sedangkan Alan satu piring nasi goreng lengkap dan jus buah naga. Gadis itu menatap Alan sangat lahap memakannya.


...



...


"Laper kok jam segini? Tadi, lo nggak makan di kantin?"


Alan tidak bicara ia saat ini sedang makan, dan berniat membalas pertanyaan Ava setelah acara makannya selesai.


6 menit kemudian ....


Setelah selesai makan Alan meminum jus nya. Jus milik Ava sudah habis sejak dari tadi, Ava sampai bosan menunggu Alan selesai makan.


"Tadi, gue nggak kekantin,"


"Masih inget toh, pertanyaan yang tadi?"


"Kenapa? Lo, dimana tadi?"


"Nggak papa. Gue di belakang sekolah,"


"Ngapain?"


"Yaa ... bengong aja,"

__ADS_1


"Bengong soal apa?"


"Soal lo, lah!" jawab Alan sedikit agak ngegas.


"Gue?" Ava menunjuk dirinya sendiri. Menautkan kedua alisnya, tidak mengerti apa yang di ucapkan Alan.


Alan bangkit dari duduk nya mendekati Ava yang tadi duduk di depannya. "Udah, nggak usah di pikirin."


"Lo yang bayar, yaa! Ganti rugi buat bensin gue." Alan tersenyum mengacak-ngacak rambut Ava, lalu pergi ke kasir untuk membayar.


Ava mematung di tempat, menyentuh kepalanya. "Tadi, dia ngacak-ngacak rambut, gue?"


"Nggak ... nggak. Gue nggak boleh baper cuma karena itu!"


***


16:55


"Makasih yaa, Mas," ucap Alan pada Mas Budi setelah motornya sudah selesai di tambal.


"Sama-sama, Lan, santai aja." jawab Mas budi sambil menyengir lebar, menampakkan sederet gigi putihnya.


Ava menjalankan motornya duluan. Alan mengikuti Ava dari belakang, Ava yang menyuruh Alan mengantarnya karena hari sudah sore dan Ava takut kalau ada apa-apa nanti di jalan.


Untungnya Alan yang baik dan manis ini tidak menolak Ava.


Alan berhenti di pinggir jalan depan rumah Ava, sedangkan Ava memarkirkan motor nya di garasi, lalu kembali lagi menyusul Alan.


"Lan, makasih udah nganterin gue pulang. Di traktir juga lagi,"


Alan mengangguk tanpa tersenyum, masih sama seperti sebelumnya.


"Apa, ada yang salah yaa sama ucapan gue? Kok dia diam lagi?"


Alan turun dari motor nya memeluk Ava dengan tiba-tiba. Ava tidak sempat menolak karena ia terkejut, Ava ingin melepaskan pelukan Alan, tapi Alan malah mempererat pelukannya pada Ava.


"Sebentar aja, biarin gue kayak gini dulu. Gue butuh, Lo ..." Alan berkata sangat lirih dan pelan. Yang bahkan hanya dapat di dengar oleh Ava, "... butuh banget."  lanjut Alan dalam hati.


Di sisi lain ada dua cewek gila yang tengah mengintip di kaca jendela sambil memotret kejadian itu dengan kamera ponsel. Siapa lagi kalau bukan Ana dan Agnes yang tinggal di rumah itu selain Ava.


"Sweet banget, yaa. Jadi pengen ..." ujar Ana manja-manja jijik.


Agnes langsung mengusap kasar wajah Ana. "Ngimpi, Lo!"


Alan memeluk Ava cukup lama, di pikiran Ava mungkin saat ini Alan sedang ada masalah jadi Alan butuh sandaran sebentar. Sama seperti Ava saat ia cemburu melihat Aras di cafè bersama seorang gadis. Saat itu Alan memeluknya, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Ava.


Dan sekarang Ava yang akan melakukannya pada Alan. Ava membalas pelukan Alan, mengelus punggung cowo itu pelan.


"Lo bohong, katanya tadi sebentar meluknya, lha ini lama banget?"


Ava bisa mendengar samar samar Alan terkekeh pelan karena pernyataan Ava, bahkan sangat pelan Ava hampir tidak bisa mendengarnya.


Detik berikutnya Alan melepas pelukannya, dan langsung pergi menjalankan motornya, tanpa mengatakan apa-apa pada Ava.


"Alan! Hati-hati di jalan!"


Ava kembali ke rumahnya, dan saat itulah Ana dan Agnes menghadang Ava di depan pintu sambil memberikan senyuman yang bagi Ava sangat mengerikan.


Ava sudah menduganya, bahwa kedua cewek di depannya ini lagi-lagi mengintip dari jendela, dan melihat kejadian Ava bersama Alan.


Ava menghembusksn nafas kasar, menatap datar kedua gadis di depan nya ini.


"Lama-lama gue pasangin lapisan baja di setiap jendela."


...***...


...Ditulis tanggal 6 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 19 Februari 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2