
...
...
Ava mengambil sebuket bunga mawar dan coklat yang Aras sodorkan sedari tadi.
Alan tersenyum ikhlas dalam hati. "Ternyata ini pilihan lo, Va. Thank you, selama ini udah mau bareng-bareng sama gue. Walaupun itu cuma sebentar, tapi gue senang, Ava."
Daripada Alan tambah malu, lebih baik dirinya pergi dari sana. Tapi, sebelum cowok itu melakukan hal tersebut, Ava terlebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
Sedangkan, Aras? Cowok itu kini telah bangkit dan ingin memeluk Ava. Tidak memperdulikan sang gadis yang mencekal tangan cowok di sampingnya. Mungkin, dalam pikiran Aras tujuan Ava membawa Alan adalah sebagai saksi dan supaya cowok itu tidak mendekati Ava lagi.
Dengan gerakan yang tak terduga, Ava menjatuhkan buket bunga dan coklat yang gadis itu pegang saat Aras berada dua jengkal dari dirinya.
Mata Aras membelalak sempurna sekaligus terkejut tidak percaya. Bukan hanya Aras saja tapi semua yang ada di sana tak terkecuali Alan. Cowok itu kini tengah mematung di tempat. Ia tidak mengerti dengan apa yang Ava lakukan saat ini. Karena harusnya saat ini gadis itu menerima Aras. Tapi, ini apa?
"Maaf, Kak. Tapi, gue nggak bisa nerima lo. Kriteria cowok idaman gue mau cuma ada dua, yaitu cuek dan humoris. Setelah tiga minggu gue jalan sama lo, nyatanya itu semua nggak ada di diri lo. Tapi, ada seseorang yang memiliki salah satunya. Dan, baru sekarang gue menyadari hal itu. Dia cowok yang selalu ada di saat gue butuhkan," Ava mengangkat tangan Alan yang di pegangnya.
Semua yang ada di sana lagi dan lagi terkejut serta bertanya-tanya. Alasan macam apa itu yang di lontarkan, Ava? Itu sangatlah tidak masuk akal.
"Wah! Wah! Si Alan udah gila nih kayaknya?" rutuk Dino yang beranjak ingin mendekat ke aras Alan. Tapi, baru saja cowok itu melangkah Safira langsung memelototinya.
"Di-am-di-si-ni. Okay?" Menekankan setiap kata seraya.
"Ta-tapi-i-itu, Alan?" kini giliran Revan yang ingin pergi.
Safira yang mulai geram akan kedua temannya kini menembak kilatan kemarahan lewat matanya yang tajam. "Lo, berani sama, gue? Mau mati, lo?" Mencengkram kuat kerah seragam Dino dan Revan yang sontak membuat nyali keduanya menciut.
Kedua remaja laki-laki itu langsung mengangguk dengan cepat seraya berkata, "I-iya, ja-janji nggak akan nyusul."
***
__ADS_1
Aras terkekeh untuk menutupi kekesalan dan keterkejutan nya. "Apa benar, iya? Itu alasan yang nggak masuk akal! Cuma karena kriteria?"
Jujur saja Ava sangat takut melakukan ini semua. Gadis itu menggigit bibir bawah dan menahan rasa dingin di sekujur tubuhnya.
Ava tahu apa resiko yang akan ia dapat setelah ini. Maka dari itu, dirinya mulai menyiapkan mental. Bersama dengan Alan yang kini ada di sampingnya itu sudah sangat cukup sebagai penguat Ava.
"Terserah, kalau Kak Aras nggak percaya, karena itu hak, lo," Ava beranjak pergi dari sana dan ikut mengajak Alan juga.
Sedangkan cowok itu? Alan masih terdiam karena ia juga sama terkejutnya. Dan, ia juga tahu kalau saat ini sang gadis tengah menahan semua kegugupannya. Ava menggenggam tangan Alan dengan sangat erat. Cowok itu sendiri bisa merasakan kalau tangan Ava berkeringat.
"Ava! gue yakin nggak cuma itu lo! Jujur sama gue, Ava! Kalau lo di hasut sama, Alan! Iya, 'kan?!"
Pernyataan Aras membuat Ava mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana. Gadis itu membalikkan badan.
"Iya, memang bukan cuma itu alasannya. Alan nggak mungkin ngehasut gue, karena di anak baik-baik. Bahkan, menurut gue lebih baik dari Kak Aras sendiri ..." Ava memberikan jawaban menohok untuk Aras, "... tapi, kalau Kak Aras pengen tahu, gue bakal jelasin semuanya,"
"Sejak pertama kali gue ketemu sama Kak Aras, gue udah ngerasa ada yang aneh sama lo," Ava mulai menghilangkan embel-embel, "Kak" untuk menghormati cowok itu.
"Tapi, 'kan, kita berdua udah saling nyaman. Kita sama-sama udah saling memahami dan mengerti satu sama lain. Tapi, kenapa lo tiba-tiba jadi gini?"
"Lo selalu manjain gue dengan barang-barang mahal, makanan mewah dan tempat-tempat yang keren. Gue selalu dandan secantik dan semakasimal mungkin saat mau jalan sama lo. Bahkan, melebihi dandanan anak seumuran gue demi nggak bikin lo malu. Tapi, lo juga selalu mamerin soal materi, harta benda yang lo miliki dan kekuasaan yang lo punya, "Jangan bikin gue malu" kalimat itu yang selalu terucap di bibir lo dan hal itu membuat gue merasa ragu untuk bersanding di samping lo. Alan memang nggak pernah manjain gue seperti lo manjain gue. Walaupun gue tahu dia sangat mampu untuk itu. Tapi, dia berusaha untuk tetap bersikap sederhana tanpa menghambur-hamburkan uangnya. Ada orang yang ngasih tahu gue kalau dia lebih memilih mementingkan kebutuhan daripada keinginan yang pada waktunya rasa itu akan hilang,"
Cowok itu tersenyum samar. Hanya satu nama yang terlitas di pikirannya, yaitu Justin karena dari dulu hanya Justin yang tahu prinsipnya.
"Saat gue jalan sama lo, gue ngerasa segan dan malu. Gue selalu ngerubah sifat asli gue saat sama lo karena gue tahu lo nggak akan suka. Beda saat gue sama Alan yang memang benar-benar nunjukin sifat asli gue tanpa rasa segan, dan lebih ngerasa bebas ngelakuin apa aja. Mau makan belepotan atau banyak, Alan sama sekali nggak pernah komen atau mempermasalahkan hal itu,"
Pengakuan Ava saat ini mengingatkan Aras akan kejadian saat dirinya dan Ava ada di pasar malam. Cowok yang di sindir kini mulai sadar akan kesalahannya.
"Lo juga sempat ingin ngelakuin hal kurang ajar saat kita ada di toko buku, dan lagi-lagi Alan yang nyelametin gue. Dia aja yang datang ke rumah gue dan liat gue berenang langsung balik badan terus nutup mata sampai gue masuk ke dalam kamar. Padahal, waktu itu gue juga pake baju renang dan dia bisa aja mengintip saat gue lari akan masuk dalam kamar. Sayangnya, Alan selalu berbalik saat dia berhadapan dengan gue. Lo juga suka ngejelek-jelekin Alan di depan gue, yang gue juga tahu kalau itu semua nggak benar. Tapi, gue masih tetap percaya akan semua yang lo katakan. Sekalipun, Alan bahkan nggak pernah ngejelek-jelekin lo atau menghina lo sama seperti Kak Aras menghina dia. Alan justru malah memuji dan setuju kalau gue sama lo ketimbang sama dia. Baik bukan, saat dia rela melepas cintanya demi bisa bikin gue bahagia dengan pilihan gue sendiri?"
Semua yang ada di sana tekejut sekaligus tidak percaya akan apa yang Ava katakan. Tanpa sadar, gadis itu sudah membongkar semua perilaku buruk Aras di depan para pemujanya.
Tapi, Ava tetap melanjutkan alasan dan pengakuannya karena Aras yang tadi memintanya dan ia juga mau kalau Aras mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
"Alasan lo pengen pacaran sama gue juga karena gue anak baru yang famous, 'kan? Bukan karena lo benar-benar suka sama gue. Itu semua hanya untuk menaikkan derajat lo supaya semakin banyak yang memuja dan menggilai lo tanpa henti. Berkuasa dan di puja-puja para wanita. Hari senin ini, gue nggak bawa topi karena ketingalan. Saat itu, gue ketakutan karena nggak mau di hukum walaupun gue tahu hukuman itu juga nggak seberapa. Saat gue tanya, ternyata koprasi udah kehabisan topi. Dan saat lo lewat, gue sangat berharap kalau lo akan meminjamkan atau mencarikan topi untuk gue sebagai malaikat pelindung dan penyelamat gue. Tapi, keinginan dan harapan itu hancur seketika saat lo bahkan nggak menoleh sama sekali. Jangankan menoleh, lo menyapa dan melihat gue aja enggak. Justru, saat itulah Alan yang nyelametin gue dari hukuman. Dia memang nggak berhenti, tapi dia juga ngasih topinya tanpa berkata apa pun. Dan, berakhir dia yang menggantikan gue untuk di hukum. Hal sederhana, namun terlihat istimewa, bukan?"
"Alan tetap sabar dan menerima walaupun gue selalu banding-bandingin dan ngebela Kak Aras baik di depan semua teman gue atau di depan dia sekalipun. Waktu kita jalan berdua ke pasar malam, lo dapat telepon kalau teman lo kecelakaan, lo ninggalin gue sendirian gitu aja tanpa berbuat sesuatu. Harusnya, lo bisa nganterin gue pulang dulu setelah itu baru jengukin teman lo. Tanpa sadar, Kak Aras ngebiarin gue kedinginan gitu aja saat jelas-jelas lo liat gue ngusap-ngusap paha gue. Itu memang salah gue, tapi seenggaknya tolong lah sedikit mengerti. Alan datang ke rumah gue dan saat dia tahu gue jalan sama lo, dia ngikutin kita berdua,"
Aras masih mendengarkan penjelasan Ava tanpa menyela. Tak bisa di pungkiri dan di percaya kalau semua yang Ava katakan itu benar.
"Alan juga yang nganterin gue pulang dengan alasan yang bisa di bilang aneh. Dia ngancingin mantel gue dari atas sampai bawah supaya gue nggak kedinginan. Saat itu juga kita janjian dinner berdua, gue udah siap-siap tapi lo malah ada janji sama yang gadis lain. Dan kita malah ketemu di restaurant yang sama. Saat lo tahu gue marah, lo bahkan nggak merasa bersalah sama sekali. Justru Alan yang bawa gue keluar dari sana supaya gue nggak panas liat kalian berdua dinner romantis. Alan nenangin gue sampai gue nggak marah lagi. Gue tetap berpikir positif saat lo tanpa sadar ngomong seolah-olah gue nggak pantas bersanding dengan lo,"
Alan menatap gadis di sampingnya kagum. Ia tidak percaya kalau Ava bisa seberani dan selantang itu. Jari jemari Alan terulur untuk berganti menggenggam tangan Ava.
"Kalau lo suka sama gue, lo harusnya cari tahu semua yang berhubungan dengan gue. Tapi, lo bahkan nggak ngelakuin itu semua. Gue nggak tahu dari mana Alan tahu tentang gue, tapi seenggaknya di berusaha untuk memahami, mengerti, dan sabar ngadepin gue. Dia tahu gue suka warna biru dan paling benci warna pink. Alan tahu kalau gue alergi udang. Alan tahu gue suka makanan pedas. Alan juga tahu cara gimana ngadepin gue dengan sabar tanpa emosi. Alan bahkan juga rela ngalah demi gue, dan dia selalu merasa yang paling salah dan gue yang selalu benar,"
"Apa yang lo omongin itu nggak ada pembuktian sama sekali. Lo nggak paham, nggak ngerti, dan nggak sabaran buat ngadepin gue ..." Ava beralih menatap Alan yang juga sedari tadi menatapnya, "... intinya, saat lo nggak ada untuk gue, berbuat sesuka serta seenak lo, dan saat gue butuh bantuan atau sandaran, saat itu lah ada Alan yang selalu ada dan setia ngelakuin itu semua buat gue ..."
Kini, tak ada yang bicara, menyela atau membantah sama sekali. Semua mematung dan tak bergeming dari tempatnya. Masih sangat terkejut dengan pernyataan panjang yang dikatakan Ava di depan umum. Tak terkecuali Alan dan Aras sendiri. Ava mengungkapkan semua isi hatinya yang ia rasakan selama ini. Tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, karena yang terpenting gadis itu berani mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
Bahkan, Aras pun saat ini tidak berani berbicara atau membantah sang gadis.
Ava maju mendekati Aras, kemudian membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar dirinya dan sang mantan pujaan hati.
...***...
...Kalian sadar nggak sih kalau semakin lama, partnya semakin panjang?...
...Yang sabar, yan bacanya! Jangan ngamuk-ngamuk karena scroll- annya nggak selesai-selesai!...
...***...
...Ditulis tanggal 03 Juni 2020...
...Dipublish tanggal 08 Maret 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....