
...
"Ava, maafin gue, Va ... gue benar-benar nggak tahu kalau lo alergi udang. Maafin gue, Va ...." ucap Aras dengan nada yang benar-benar membuat hati Ava menjerit kesakitan.
Ava menutup gerbang rumahnya. "Kak Aras mendingan pulang aja. Gue capek, dan mau istirahat." balas Ava berjalan berbalik ke arah rumahnya.
Sedangkan Aras, kini dirinya merasa kesal dan bersalah kepada Ava. Kenapa ia bisa ceroboh dan tidak tahu kalau gadis itu alergi udang.
***
"Assalamu'alaikum," salamnya saat masuk ke dalam rumah.
"Lha? Va, kok cuma sebentar?" tanya Ana yang duduk menonton tv bersama Agnes.
"Lha, itu leher sama wajah lo kenapa merah-merah kayak gitu? Wajah lo juga pucat?" Nada bicara Agnes khawatir tapi masih duduk di sofa.
"Aah, ini?" Menunjuk wajahnya, "... nanti gue ceritain."
Saat Ava beranjak menaiki anak tangga, tiba-tiba Agnes bertanya lagi. "Ava, gue tanya sekali lagi dan untuk terakhir kalinya ..." Suasana kini berubah serius karena Agnes, "... lo beneran nggak ngerasa kalau Alan sayang sama, lo? Dan lo juga nggak ada rasa sama, Alan?"
Gadis yang di tanyai terdiam mendengar pertanyaan sang sahabat. "Nggak. Gue nggak ada rasa ke Alan. Cowok itu terlihat memperlakukan kita sama, layaknya teman dan sahabat." Setelah mengatakan itu, Ava langsung masuk ke dalam kamar. Merebahkan dirinya di atas bad kasur.
Mendudukkan dirinya lalu membuka paper bag yang diberikan Aras tadi. Gadis itu tersenyum sambil menahan tangis, saat tahu kado yang di berikan Aras adalah sebuah topi rajut dengan merk terkenal berwarna pink.
...
...
"Gue nggak tahu lagi harus gimana?" monolognya dengan air matanya kini mulai mengalir lebih deras. Gadis itu juga tidak tahu kenapa dirinya menangis seperti ini.
***
06:30
Saat ini Ana dan Agnes ada di kamar Ava. Berpamitan dengan sang pemilik kamar karena hari ini gadis itu tidak berangkat sekolah. Harusnya sih Ava sekolah, tapi kerena dipaksa kedua sahabatnya untuk tidak sekolah, jadi, ya, ia menurut saja.
Karena memang tadi malam Ava sudah menceritakan kejadian yang menimpanya pada Ana dan Agnes.
"Udah ah! Sana kalian pergi aja! Hush! Hush!" usir Ava mengibaskan tangannya seperti mengusir ayam. "Jangan lupa, ya, nanti surat izinnya kasih, ke Safira!" peringat Ava. Wajahnya di buat semelas mungkin.
Kedua sahabatnya menangguk pelan sambil beranjak meninggalkan kamar gadis itu.
Sebelum menutup pintu, Agnes sempat melambaikan tangannya pada Ava. "Bye."
Ava balas melambai sambil tersenyum manis. Gadis itu membuang nafas kasar. Ini antara kesenangan dan kesengsaraan, karena gadis itu bisa tidak bertemu dengan Aras hari ini tapi ia juga sendirian seharian di rumah.
Tita-tiba Agnes membuka pintu kamar Ava lagi. Membuat sang empu terlonjak kaget di atas bad kasur. "Tenang Ava, lo nggak akan sendirian kok!"
Setelah mengatakan itu Agnes menutup pintu kamar Ava lagi. Terdengar suara langkah kaki Agnes yang bergegas menyusul Ana di pekarangan rumah.
Tapi Ava yang tidak paham dengan ucapan Agnes hanya memutar bola mata ke sekeliling kamar. Bukannya ia di rumah ini hanya sendirian saja. Di rumah ini hanya ada mereka bertiga. Gadis itu mulai merinding.
"Apa Agnes selama ini anak indigo, yah?" Beranjak dari bad kasur lalu bergegas masuk ke kamar mandi. "Mandi aja deh, Gue."
***
Tak butuh waktu lama, cukup lima belas menit saja Ava menyelesaikan rutinitasnya setiap pagi, dengan handuk yang masih melingkar di kepalanya.
Menghampiri rak dinding yang berisi ratusan novel yang ia beli dan di belikan orang-orang. Memilih novel yang kali ini akan ia baca. Gadis itu sempat menatap tiga novel yang dibelikan Aras beberapa waktu lalu, tapi tatapan dan tangannya malah terulur mengambil novel karya Luluk Hf 12 Cerita Gleen Anggara yang dibelikan Alan kemarin.
Gadis itu tersenyum saat melihatnya. Ava sangat suka cerita yang sad ending daripada happy ending, karena menurutnya cerita happy ending itu sudah biasa.
Mendudukkan dirinya di bad kasur. Mencopot handuk yang melingkar di kepalanya dan di gantikan dengan earphone yang tersambung dengan ponselnya.
...🎵Better - Khalid...
__ADS_1
Itu lagu yang tengah Ava dengarkan, tapi sepertinya ia mendengar sesuatu dari luar. Itu seperti suara menggubrak-gubrak sesuatu.
Ava mencopot earphone dari telinganya lalu mencoba mendengarkan suara dari luar. "Aah, nggak ada suara apa-apa kok." Memasang earphone lagi ke telinga.
Sesekali cewek itu bersenandung ikut bernyanyi dalam lantunan musik yang ia putar. Di playlist lagunya lebih banyak lagu dari luar, ketimbang lagu dari negara kelahirannya sendiri, yaitu Indonesia. Mungkin ada tapi cuma beberapa saja.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara dari luar kamarnya. Cukup keras ketukan tersebut, jadi Ava masih bisa mendengar.
Ia meletakkan earphone juga novel di bad kasur. Mengambil tongkat baseball yang terbuat dari besi di dalam lemari pakaian. Itu pemberian dari ayah nya saat usia Ava menginjak tiga belas tahun. Di karenakan saat itu ia sedang menggemari olahraga tersebut.
...
...
Berjalan pelan mendekati pintu, karena ucapan Agnes tadi terus terngiang jelas di kepalanya.
Memutar knop pintu perlahan-lahan, dan setelah pintu terbuka Ava bergegas mengayunkan tongkat yang ia bawa kebawah dan ke atas sambil menutup mata.
Anehnya ia merasa ada yang janggal. "Kok nggak ada suaranya, ya?" batin nya. Perlahan-lahan membuka mata.
Mata gadis itu membelalak saat yang datang dan berdiri di depannya kini adalah Alan. Iya, orang itu Alan yang kini tengah memasang wajah datar sambil menenteng dua plastik besar warna putih.
Gadis itu menutup mulut lalu tersenyum kaku. Mejatuhkan tongkat baseball ke sembarang tempat.
"Untung aja nggak kena. Kalau kena, bisa tambah babak belur gue," sindir Alan dengan nada datar.
"Yaa maaf, soalnya tadi Agnes bilang gue nggak sendirian. Jadi, saat gue dengar ada yang ketuk pintu, ya, gue was-was gitu, kirain penjahat ..." Memainkan jari beberapa kali.
"Kok, lo main nyelonong masuk aja? Nggak salam dulu?"
"Tadi gue udah gubrak-gubrak pager rumah lo, tapi nggak ada yang bukain, jadi gue langsung masuk ke dalem rumah karena pintunya udah kebuka. Gue liat ada pintu warna biru, yaa, pasti itu kamar lo, jadinya gue ketuk aja," Alan menjelaskan dengan sangat panjang. Bibirnya kini pun sampai pegal, karena ia tidak terbiasa seperti itu.
"Terus ngapain lo disini? Dan, lo bisa tahu dari mana kalau di rumah ada orang? Pake bawa, apaan tuh?"
Flashback On
Saat ini Alan tengah merapikan rambutnya di depan cermin. Bersiap untuk pergi ke sekolah.
Alan tinggal di rumah berlantai dua ini bersama dengan Bi Sari sang asisten rumah tangga, karena Alan anak tunggal. Juga karena orangtua nya sering bekerja di luar kota, jadi terkadang Alan merasa sangat kesepian.
Tapi ia tahu kedua orangtua nya bekerja keras hanya untuk dirinya. Toh Alan tidak apa-apa karena sudah terbiasa sejak kecil. Jadi, itu tidak masalah baginya. Yang akan jadi masalah saat ini adalah saat Ava pergi jauh meninggalkan dirinya, atau justru malah kebalikannya?
Ting
Ada pesan masuk. Mengambil hp di atas bad kasur, dan ternyata itu dari Agnes.
Agnes
Alan, Ava sakit, tapi dia sendirian di rumah.
^^^Alan^^^
^^^Lha terus?^^^
Agnes
Yaa ... lo nggak berangkat sekolah kek atau apa gitu? Lo jugakan babak belur, bilang aja sakit karena abis jatoh dari motor. Itu bisa lo jadiin alasan buat nggak masuk sekolah, jadi orang peka dikit kek?!
^^^Alan^^^
^^^Gue nggak tahu ngirim surat izinnya? Rumah gue yang paling jauh dari yang lain,^^^
__ADS_1
Agnes
Kan, lo buat surat izin dari rumah bisa, terus lo kirim suratnya lewat grup atau lewat Bu Ica wali kelas kita,
^^^Alan^^^
^^^Yaudah, gue mau jalan,^^^
Agnes
Iya, jangan apa-apain Ava loh, yaa! Mentang-mentang lo sama dia nanti di rumah cuma berdua,
^^^Alan^^^
^^^Gue cabuli aja gimana?^^^
Alan terkekeh saat membaca pesan yang ia kirim. Ia yakin saat ini Agnes pasti tengah menahan kesal.
Agnes
Mati, lo!
Alan langsung bergegas menyobek tengahan buku lalu membuat surat izin. Setelah selesai, cowok itu memfoto dan mengirimkannya ke Bu Ica sekaligus dishare ke grup kelas.
Grup kelasnya kini pun mulai ramai banyak pertanyaan yang dilontarkan sahabat juga teman-temannya.
"Kemarin Alan baik-baik aja, kok sekarang sakit?"
"Si manusia Es bisa sakit juga ternyata, ya?"
"Lo alasan, 'kan, Lan. Mau bolos ya, lo?"
"Efek karena babak belur abis jatoh dari motor kemarin kali?"
Yaa, memang benar. Kemarin saat di tanya guru-guru yang masuk ke kelas X Ips 3 kenapa wajah Alan babak belur seperti itu, ia hanya menjawab karena habis jatuh dari motor, dan sudut bibirnya terbentur batu di aspal jalan.
Alan sama sekali tidak menggubris itu semua, dan langsung mengganti baju untuk menuju rumah sang pujaan hati. Tak lupa pula memakai topi yang ia beli kemarin bersama Ava, di padukan hoodie hijau tosca, celana jeas hitam, dan sneakers hitam putih.
"Mau kemana, Den?" tanya Bi Sari saat berpapasan di ruang tamu.
Alan menyalimi tangan Bi Sari yang sudah ia anggap sebagai orangtua nya sendiri. "Mau kerumah pacar, Bi. Doa in selamet sampai tujuan yaah," tutur Alan dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Apa?
Alan mengatakan bahwa Ava itu pacarnya? Oohh, tidak! Jika Ava mendengarnya mungkin gadis itu akan mencubit pinggul Alan sekeras mungkin, seperti waktu di mal.
"Waah setelah sekian lama, Den Alan menjomblo, akhirnya punya pacar juga. Bibi doa in semoga langgeng, yah!"
Setelah mendapat jawaban dan juga doa dari Bi Sari, Alan tersenyum sangat manis, dan mengamini dalam hati. "Doa orangtua mah manjur."
"Assalamu'alaikum." Salamnya keluar dari dalam rumah. Segera menjalankan motornya ke tempat tujuan.
Flashback Off
...***...
...Hai! Hai! Semoga doa Bi Sari terkabul, yah! Supaya Alan bisa merasakan yang namanya bahagia dengan pilihannya sendiri....
...Kabarnya gimana? Pada udah makan belum? Karena pura-pura bahagia juga butuh tenaga....
...***...
...Ditulis tanggal 28 Mei 2020...
...Dipublish tanggal 2 Maret 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1