Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 42 ~ Tatapan Itu Lagi


__ADS_3

...



***


07:45


Jangan lupa kalau ini hari adalah senin, jadi para siswa dan siswinya kini sudah berada di lapangan lengkap dengan atribut seragamnya. Mendengarkan ceramah dari Pak kepala sekolah yang selalu membahas tentang kedisiplinan, sopan santun, kenakalan remaja, pergaulan, dan cara berperilaku kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda.


Setelah kepala sekolah selesai dengan amanatnya, petugas upacara segera membubarkan barisan. Cuaca hari ini cukup panas, jadi tak jarang seragam bagian punggung para siswa terutama anak laki-laki basah karena keringat.


***


09:15


Istirahat ini Ava tidak ke kantin, tapi ke kelas X Ips 3 bertemu dengan teman-temannya. Safira, Dino, dan Revan tidak ikut, karena katanya malas, jadi mereka yang biasanya tidak akur kini akur.


Teman-teman yang lain sudah pergi ke kantin lebih dulu. Syarifa dan Agnes duduk di kursinya, sedangkan Ava dan Bagus duduk di atas meja kedua gadis itu.


Semalam, Anes bercerita kalau hari-hari ini Bagus kerap memberi gombalan dan rayuan andalannya. Tapi gadis itu hanya berpikir kalau hal itu tidak lebih dari sekedar candaan, jadi Agnes sama sekali tidak cerita tentang hal itu karena takut Iqbal akan cemburu.


Anehnya, setiap Bagus menggombali Agnes, cowok itu selalu menatap gadis itu tanpa teralihkan sedikit pun. Tidak terlalu bisa disimpulkan jenis tatapan apa itu, karena baru-baru ini Bagus melakukan hal tersebut.


"Nes!" panggil Bagus tersenyum sambil menatap gadis di depannya.


Yang dipanggil menoleh dengan wajah setengah datar. "Apa?"


"Lo tahu nggak kalau cinta gue ke lo itu seperti kereta api?"


"Nggak. Kenapa emang?"


"Kan, tidak pernah kempes!" seru Bagus diiringi tawa.


"Eak!!" girang Ava dan Syarifa bersamaan sembari menepuk kedua tangan.


Sedangkan gadis itu sendiri menahan senyumnya. "Kereta api emang nggak punya ban ogeb. Lo pasti nyarinya gini "Gombalan-gombalan Denny Cagur". Iya, 'kan?"


"Sok tahu. Lo pasti senang, 'kan, gue gombalin karena belum pernah digombalin cowok?"


Agnes mendengus. "Issh! Enggak, ya! Biasa aja."


Bagus sendiri hanya tersenyum sebagai jawaban. "Ah, gue punya satu lagi. Lo tahu kenapa donat itu tengahnya bolong?"


"Donat ada yang tengahnya nggak bolong?"


Jawaban Agnes sontak membuat Syarifa menonyor kepala gadis itu. "Kompromi dong!"


Gadis itu berdecak. "Ribet lo ah. Nggak tahu."


"Karena yang utuh itu cuma cintaku padamu. Awokawokawok." Bagus tertawa jahil sembari menepuk paha beberapa kali.


Lagi dan lagi hal itu membuat Syarifa, Agnes, dan Ava tertawa ngakak walaupun tak bisa di pungkiri kalau gombalan itu garing.


"Jangan gombalin dia mulu, nanti suka loh lama-lama," goda Ava yang berada tepat di samping Bagus.


"Biarin, karena suka itu datangnya tiba-tiba dan tak terduga. Persis kayak jelangkung gitu, datang tak di undang, pergi tak di antar." Bagus mendekatkan kepalanya ke arah Ava, "... lo juga mau gue gombalin?"


Ava sendiri bergidik ngeri. "Ogah!"


For your information kalau kalian ingin tahu, bahwa Bagus itu orangnya agak sedikit seperti perempuan jika dilihat dari sifat dan perilakunya. Dia suka banget merawat wajah dengan berbagai macam skincare dan jago make over orang dengan ratusan make up yang dia punya, bahkan cosplay jadi perempuan yang cantiknya minta ampun pun dia bisa. Dia laki-laki berkawat gigi warna-warni karena katanya pernah ada dan ada sedikit masalah dengan giginya dan karena dia nggak cocok pakai kaca mata jadi dia pakai soflens yang terkadang warna hitam, coklat tua, maupun coklat terang. Biaya perawatan wajahnya aja nggal kaleng-kaleng dong. Wajar sih, kan, dia anak holkay.


"Gue balik, udah mau bel," celetuk Ava tepat setelah melihat jam dinding.


"Iya, hati-hati!" teriak Sayrifa seraya mengangkat satu tangan.


***

__ADS_1


Saat keluar dari dalam kelas X Ips 3, Ava berpapasan dengan siswi kelas X Bahasa yang diketahui bernama Zara Dhea Maulida atau yang biasa dipanggil Zara. Dia dekat dan bersahabat dengan Bagus entah sedari kapan, tapi ada rumor yang menyebar kalau katanya Zara diam-diam menyukai Bagus. Ada juga rumor lain bahwa Bagus hanya menganggap Zara sebagai seorang teman, sahabat, dan adik. Itu masih rumornya sih, belum tentu kebenarannya. Tapi, Ava lihat dan Amati kalau Zara cukup sering ke kelas X Ips 3.


Ava tersenyum sebagai tanda sapaan dan penghormatan dan Zara pun juga membalas senyumannya sebelum hilang dari balik pintu kelas sebelah.


***


"Woi! Serius banget?" Ava menggebrak meja saat teman-temannya tengah asik bermain game yang di mana permainan itu pernah jaya di masa tahun 2016-2017.


"Tumben nggak berantem? Biasanya cek-cok mulu?" tanya Ava setelah berhasil duduk nyaman di kursinya.


"Sekali-kali lah, Va. Bosen juga kalau lama-lama berantem terus," jawab Revan tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih di depannya.


"Va, gue mau tanya."


Sang gadis yang akan ditanyai itu menopang dagu. "Tanya aja."


"Lo, kapan bubar sama dari Alan?"


Tak


Dino meringis sembari mengusap kepalanya setelah mendapat jitakan keras dari gadis bernama Safira. "Jelek banget, doa lo?"


"Ya elah, badaknya ngamuk!" hina Dino tak takut sama sekali.


"Kotoran sapi mending diam!" ketus Safira tidak suka.


"Nggak usah teriak bisa nggak, sih?!"


Revan, Safira, Ava, dan Dino menoleh ke arah sumber suara.


"Lha emang itu tadi lo nggak teriak?" sindir keras Safira.


"Itu, 'kan, tadi bukan sekarang," elak Maudi bangga.


"Ya itu, 'kan, kita juga tadi bukan sekarang. Mau apa, lo?" balas Dino membalikkan fakta.


"Nggak usah ngomong, kalau pada akhirnya lo nggak bisa jawab. Urusin tuh anak buat lo yang lagi ngupil," celetuk Revan tak mau kalah.


Maudi menoleh ke arah enam gadis yang kini duduk bersamanya. "Lo, bikin gue malu aja."


"Ya ... maaf, nikmat soalnya," jawab gadis yang diketahui bernama Maria.


Bukan Bunda Maria yang itu, Maria aja.


Sesaat setelahnya, mata Ava dan Games tak sengaja bertemu saat gadis itu hendak melihat ke arah Maudi. Buru-buru mata gadis itu dialihkan lagi menatap lurus ke depan. Ava melirik ke arah Games lagi, dan saat itu juga cowok itu masih menatapnya.


Ava sangat tidak nyaman dan sangat tidak suka saat diperlakukan dan tatap seperti itu Bagaimana gadis itu bisa tenang saat di mana-mana Games selalu menatapnya dari jauh.


Saat Ava tengah membaca novel di kelas juga Games sengaja lewat dan melirik-lirik ke arah Ava. Sering sekali bertanya yang tidak penting atau bergumam tidak jelas, duduk di meja samping barisan Ava dan melirik-lirik atau sekedar meminjam bolpoin sebagai alasan, bahkan dengan sangat terang-terangan menyindir Ava di depan semua temannya.


Games memang tidak menyebutkan nama, tapi Ava tentu tahu kalau itu untuknya karena saat Games berbicara selalu menatap ke arahnya. Contohnya seperti ini "Saat lo bertanya atau ngomong tapi orang itu nggak ngerspon gimana perasaan, lo?" , "Kalau orang itu udah berusaha dan berjuang tapi tetap tidak dihargai sakit nggak, sih?" atau juga seperti "Harus gimana saat orang yang kita suka malah nggak ngerspon?"


Dan, Games akan tersenyum bangga saat teman atau orang yang ia ajak ngobrol untuk menyindir Ava menjawab seperti "Ya sakit lah. Lagian jahat banget sampai nggak mau ngerspon" , "Sakit banget pasti" atau "Kalau menurut gue sih udah lupain aja, anggap dia nggak pernah ada atau nggak pernah kita suka" . Saat itu juga rasanya Ava ingin sekali merobek dan memenggal kepala Games dengan tangannya sendiri. Sayangnya, Ava sama sekali tidak bisa melakukan itu, karena pasti ia dikira terlalu percaya diri dan Games bisa dengan mudah menyangkal itu semua atau membalikkan fakta.


For your information kalau kalian ingin tahu, bahwa tepat saat pulang sekolah di hari pertama MPLS, Ava membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal yang langsung menanyakan alamat rumahnya di mana, saat itu lah Ava langsung bergidik tidak nyaman. Bukannya membalas, gadis itu langsung menghapusnya tanpa jejak, dan Ava sangat yakin kalau orang itu mendapat nomornya dari grup kelas. Besoknya setelah Ava bertanya pada sang sahabat baru Safira, ternyata itu adalah nomor milik Games, teman satu kelas mereka yang duduknya di paling pojok tepat di depan Revan dan Dino.


"Kenapa lo?" tanya Safira sembari menyenggol siku Ava yang sedari tadi tegang seperti khawatir.


"Nggak papa."


"Nggak usah bohong, gue tahu kita baru menjalin persahabatan ini, tapi gue udah tahu betul gerak-gerik dan sifat lo gimana. Pasti, Games sekarang lagi ngeliatin lo, 'kan?"


Ava sendiri mengangguk pelan.


Safira menghembuskan nafas kasar. "Woi! Nggak usah ngeliatin teman gue diam-diam dong! Bikin nggak nyaman dan jijik tahu!"


"Ngapain lo?" tanya Revan spontan setelah mendengar teriakan Safira yang menggelegar.

__ADS_1


"Bukan apa-apa." Mendekat ke arah Ava. "Coba lo lihat lagi, masih natap apa enggak?"


Ava menurut saja, saat menoleh gadis itu akhir nya bisa lega dan tersenyum saat cowok itu tidak lagi menatap ke arahnya dan malah sibuk ke benda pipih yang Games pegang. "Udah enggak. Makasih Safira."


"It's okay. Lo tenang aja karena gue yang akan menjaga lo dan menjadi pelindung lo selama lo ada di sisi gue."


"Selamat siang anak-anak!" Seorang guru perempuan bernama Feni masuk ke dalam kelas dengan membawa buku-buku tebal di tangannya dan berhasil membubarkan kerumunan anak laki-laki yang ada di belakang tengah sibuk bermain kartu.


Bu Feni selaku mata pelajaran Sejarah meletakkan buku-itu di atas meja dan duduk di kursinya. "Sebelum kita memulai pembelajaran, Bu Feni akan mengabsen kalian satu persatu."


"Iya, Bu!"


***


15:15


Sepulang sekolah tadi, Alan langsung menyeret Ava ke rooftop. Lagi pula, 'kan, Ana masih bersama Justin mojok di kelas X Ips 3, sedangkan Agnes menyusul Iqbal di kelasnya, X Ipa 2.


Cowok itu membawa paper bag berwarna hitam yang sudah ia siapkan sedari pagi sebelum berangkat sekolah, kemudian memberikannya pada gadis di sampingnya.


"Ini, apa?"


"Buka aja."


Tanpa berlama-lama lagi, Ava langsung membuka paper bag tersebut. Senyum gadis itu langsung merekah saking senangnya, dan dengan gerakan spontan langsung memeluk Alan.


"Suka?" tanya Alan saat Ava kembali fokus dengan isi dari dalam paper bag.


"Suka banget, Alan ..." jawab gadis itu semangat saat cowok di sampingnya ini menepati janji.


Di dalam paper bag tersebut ada tiga hoodie dengan warna yang berbeda-beda, ada warna putih, abu-abu, dan kuning kunyit.


"Ini sesuai sama yang gue minta, 'kan?" Menciumi wangi parfum yang tercium sangat manis bagai permen.


"Enggak."


"Terus, ini lo beli? Kan, kemarin gue mintanya yang bekas lo aja, karena gue suka aroma manisnya yang nggak hilang-hilang." Raut wajah Ava berubah kesal.


Alan menatap gadisnya tenang. "Itu udah gue semprot sama pafum gue. Lagian, tadi kayaknya lo suka-suka aja tuh."


"Tapi, 'kan, setelah lo kasih tahu, beda aja gitu sensasinya."


"Itu adalah salah satu cara menghargai wanita. Gue nggak mungkin ngasih lo yang bekas saat gue pun masih mampu membelikan yang baru."


Alan sengaja tak memberi tahu Ava kalau hoodie itu dia beli dengan tabungannya, sebab kalau gadis itu sampai tahu maka tidak akan diterima.


Ting


Ting


"Sebentar," sela Ava setelah ponsel di dalam tasnya berbunyi.


Raut wajah dan tatapan gadis itu langsung berubah antara marah dan sendu saat tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. Dadanya berdesir hebat tidak karuan karena harus kembali dipaksa mengingat kejadian tujuh tahun lalu yang berhasil membuat kehidupannya dan kedua sahabatnya berubah total.


Alan yang menyadari tatapan tidak mengenakkan itu pun mendekat ke arah sang gadis.


"Kenapa?"


Perlahan Ava menoleh kemudian menatap cowok di sampingnya dengan mulut yang sedikit komat-kamit karena tak kuat untuk sekedar berbicara.


...***...


...Ditulis tanggal 05 Agustus 2020...


...Dipublish tanggal 31 Maret 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2