
...
...
06:45
Sesuai dengan janji Alan kemarin, hari ini dirinya akan menjemput Ava di rumah gadis itu.
Ava sudah menunggu Alan di depan rumah, dan kedua sahabatnya sudah berangkat lebih dulu tadi.
Gadis itu bangkit dari duduk karena orang yang ia tunggu sudah datang, mengunci gerbang kemudian tersenyum manis ke arah Alan yang saat ini sudah ada di depannya menunggangi kuda besi kesayangan cowok itu.
"Yuk!" ajak Ava bersemangat saat sudah duduk di boncengan Alan.
Cowok itu tersenyum, menatap gadisnya dari kaca sepion. "Pegangan."
Alan menjalankan motornya, menembus jalan raya yang sudah ramai dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang ada.
***
Saat sampai di parkiran, Ava dan Alan berpapasan dengan Aras, Uki, dan Gilang saat kedua remaja itu ingin menuju ke kelas.
Ava hanya diam tanpa mau menatap Aras sedikit pun. Bukannya gadis itu takut, tapi seperti nya masih ada rasa tidak enak di hati Ava semenjak kejadian itu.
Sadar akan gadisnya yang merasa tidak nyaman di tatap sang kakak kelas dengan intens, Alan meraih tangan Ava kemudian menautkan jemarinya ke sela-sela jari sang gadis dengan sangat erat, kemudian pergi menjauh dari sana.
Jujur, sebenarnya cowok itu juga tidak suka saat orang yang dulu pernah datang di kehidupan Ava datang kembali dan merusak semua rencana yang sudah ia susun sangat detail dan rapi.
Ava menatap cowok yang saat ini masih menggandeng tangannya. "Makasih."
Dengan ekspresi yang masih datar, cowok itu mengangguk pelan seraya mengukir seulas senyum sangat tipis. Dengan usaha dan kemampuannya, ia akan menjaga gadisnya sampai waktu dan sesuatu itu benar-benar hilang dari dalam diri Alan.
***
Kedua remaja itu masuk ke kelas masing-masing, tak lupa pula sebuah senyuman dan lambaian tangan sebagai tanda perpisahan mereka.
***
Bisa Alan lihat di depan kursinya sudah ada Natalie yang duduk sambil tersenyum lebar ke arahnya. Dan tentu saja, cowo kitu tidak membalas senyuman tersebut, karena sikapnya yang dingin dan cuek mencuat kembali ke permukaan setelah Ava tidak ada di sampingnya.
Kelas X Ips 3 saat ini cukup ramai karena Alan dan Ava berangkat lebih siang.
Alan bahkan jarang sekali tersenyum, dan mungkin hanya bisa tersenyum pada orang yang benar-benar akrab dengannya. Kalau tidak sangat lucu pun, cowok itu bahkan sama sekali tidak berekspresi layaknya anak dengan sifat normal dan biasa saja.
Dulu, Ava pikir, kalau cowok cuek itu pasti mempunyai masa lalu yang kelam dan anak dari korban broken home, tapi ternyata ia salah. Tidak semua anak yang sifatnya cuek dan dingin itu berasal dari dua hal tersebut, ada banyak yang memiliki sifat turunan dari orang tua sendiri atau memang dari sifat si anak itu sejak lahir.
Setelah melepas tas dan meletakkannya di atas meja, tanpa menatap ke arah orang tersebut Alan bertanya, "Lo ngapain di sini?"
Natalie memundurkan kursi mendekati meja Alan. Masih dengan senyuman yang mengembang. "Gue pindah di sini, Gentar gantian duduk di nomor dua dari depan. Sesuai janji lo kemarin lo mau, 'kan ngajarin, gue? Sengaja loh ini gue pindah supaya gampang kalau ada apa-apa nanti."
"Buruan," jawab Alan singkat, padat, dan jelas.
Dengan sigap, Natalie langsung mengeluarkan lks dan buku tulis dari laci, kemudian duduk di samping Alan karena kebetulan Justin belum datang.
"Ini nih yang gue nggak bisa." Natalie menunjuk soal nomor tiga di lks yang berhubungan dengan hitung-hitungan.
Alan menghela nafas pasrah. Lebih baik dirinya cepat menjelaskan agar Natalie juga cepat pergi dari sini.
"Baca soalnya!" suruh Alan tanpa mengalihkan pandangan dari lks di depannya.
"Diketahui TR \= 300 Q dan TC \= 3 juta 50 Q. Jika Q \= 20.000 unit, tentukan laba atau rugi produsen!" Natalie kembali menatap Alan tepat setelah membaca soalnya.
"Minggir, gue mau duduk!" usir Justin sedikit ketus, yang kini sudah berada di depan Natalie.
Entah kenapa sebagian siswa dan siswi yang ada di sini tidak suka dengan Natalie. Padahal, Natalie itu orangnya cantik dan pintar. Katanya sih, ada rumor yang menyebar kalau Natalie suka caper dan genit ke cowok-cowok di kelas, persis seperti kelakuan Maudi. Mungkin bisa jadi keduanya adalah kembar yang terpisahkan selama lima belas tahun.
Sedangkan gadis itu menepuk sandaran kursi milik Justin yang ia tempati. "Tas lo taruh di sini aja, gue lagi mau belajar sama Alan."
Justin menatap Alan yang saat ini tengah menguap karena bosan dan sangat malas. Itu juga ia gunakan sebagai kode untuknya agar Justin menuruti permintaan gadis itu. Alan hanya ingin ini cepat selesai dan Natalie tidak lagi merengek dan membantunya.
"Kenapa nggak nyuruh yang lain aja, sih?" sarkas Justin kelewat kesal dengan gadis di depannya ini.
Natalie terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Justin. Kan, tidak mungkin kalau dirinya mengaku bahwa ia hanya ingin berdekatan dengan Alan.
__ADS_1
Justin menatap sang sahabat yang tengah mengangguk pelan, sembari menatap seolah berkata, "Ya udah nggak papa, turutin aja supaya cepat."
Karena Alan sudah begitu, jadi mau tidak mau Justin menuruti kemauan Natalie untuk pergi dari sana.
"Kalau nggak cewek, gue tabok lo," gerutu Justin sebelum melangkah pergi dari sana dan menyusul teman yang lainnya.
***
"Eh, itu si Natalie masih aja ngedeketin Alan. Padahal, 'kan, dia juga udah tahu kalau Alan udah jadi milik Ava," cibir Justin yang juga ikut geram dengan sikap caper Natalie.
"Nggak tahu juga sih. Dia pas hari pertama masuk kelas, 'kan, emang gitu sikapnya ke Alan. Cintanya bertepuk sebelah tangan kayaknya," celetuk Bagus asal. Semuanya langsung terkekeh membenarkan hal tersebut.
"Nes, jangan bilang ke Ava soal kejadian ini. Lo tahu sendiri gimana reaksi kalau sampai Ava tahu," ingat Syarifa mewanti-wanti.
Agnes menatap ke arah Alan dan Natalie bergantian, kemudian mengangguk pelan mengiyakan peringatan Syarifa. "Iya, nggak kok. Nanti gue sendiri yang bakalan ngomong sama, Alan."
***
Alan mengambil buku tulis dan bolpoin milik Natalie, berniat untuk menulis sambil menjelaskan agar tidak terlalu lama.
Selama cowok itu menjelaskan, Natalie bukannya fokus dengan apa yang dijelaskan oleh Alan tapi dirinya malah menatap wajah manis nan datar cowok di sampingnya.
"Diketahui \= 300 Q (20.000)
TC \= 3000.000 + 50 (20.000)
TR\= Rp.6000.000
TC\= Rp.4000.000
-------------------- -
\= Rp.2000.000."
Harusnya yang ada di posisi Ava diisi oleh Natalie, karena dirinyalah yang pertama sudah suka dengan Alan. Bahkan, saat pertemuan pertama Natalie dengan Alan di pendaftaran sekolah.
Jatuh cinta pada pandangan pertama itu memang ada, kayak gue ke lo. Sayangnya, lo bukan milik gue, karena cinta gue hanya bertepuk sebelah tangan, keluh Natalie merasa kecewa sekaligus tidak terima. Gadis itu mulai geram saat bayangan Ava muncul di pikirannya.
"Jadi, labanya itu 2000.000, paham nggak?" Menoleh ke samping, "... paham nggak?!" tegas Alan saat tahu dan sadar kalau yang ia ajari malah tidak mendengarkan.
"Sekarang pergi!" suruh Alan tega, tanpa dosa, dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Natalie lansung mengerucutkan bibirnya, mengambil semua barang-barang yang ada di meja cowok itu. Padahal, 'kan, dirinya masih sangat ingin di samping Alan. Tapi tak apa, toh sekarang ia duduk di depan cowok yang ia sukai.
"Makasih, Lan." Natalie duduk di kursinya lagi.
Alan mengangguk malas sebagai jawaban.
Nggak papa deh. Selama Alan belum nikah, gue masih berhak nikung dia, batin Natalie bersemangat dan tak akan kalah dengan gadis itu. Kalau ia tidak bisa mendapatkan Alan, semua gadis di dunia ini juga tidak boleh.
***
Justin duduk di samping sahabatnya lagi, kemudian menatap cowok itu seolah bertanya, "Ada apa?"
Alan hanya menghendikkan bahu sebagai jawaban dan tanda ia tidak tahu. Justin saja yang bicara terkadang tidak dijawab, apalagi orang lain yang tidak dekat atau tidak kenal dengan Alan, pasti akan langsung diabaikan.
Sebenarnya sih Alan tahu kalau Natalie suka kepadanya, hanya saja sekarang sudah ada Ava di hidup Alan, dan dirinya tidak mau merusak semua itu.
Bebarengan dengan hal itu, Bu Erna masuk untuk mengajar jam pelajaran pertama.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi, Bu!"
***
09:15
Ava di suruh Bu Tiyas selaku guru Antropologi untuk mengumpulkan tugas yang ada di lks.
Safira tidur di kelas karena tadi badan gadis itu sedikit panas. Sebenarnya, Ava ingin meminta bantuan tapi dirinya tidak tega, jadilah Revan dan Dino yang membantu.
Saat Ava ada di ambang pintu, Maudi sengaja menabrak bahu kirinya.
"Woi, sabun bolong! Mata lo kekubur ingus? Huh?!" sindir Ava menghina musuhnya itu yang baru saja turun dari tangga sendirian, tanpa ditemani teman-temannya.
__ADS_1
Tanpa sadar, Maudi itu selalu membawa malapetaka untuk Ava. Tidak tahu juga kenapa Maudi sebenci itu pada dirinya.
"Apaan, sih?" sahut Revan yang kini sudah berdiri di samping Ava.
"Nggak papa."
"Ya udah, yuk!" ajak Dino semangat yang baru datang.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang guru.
***
Saat di pertengahan jalan, dari jauh Ava sudah bisa melihat ada Aras, Uki, dan Gilang yang bersandar di pilar sekolah. Sedang bercanda ria bersama tentunya.
Ava menundukkan kepala sambil memperlambat jalannya, dan, hal itu membuat Revan serta Dino kebingungan dengan gelagat sang gadis yang seperti itu.
Mereka bertiga kompak berhenti melangkah.
"Kenapa, Va?" tanya Revan.
"Nggak papa kok. Ayo jalan lagi," jawab gadis itu pelan.
Sampai akhirnya Dino tahu apa yang Ava khawatirkan saat melihat di ujung koridor ada Aras dkk.
Dino menggeser tubuh Ava, sehingga posisi gadis itu ada di tengah dan diapit kedua cowok.
Revan menatap Dino seolah bertanya, "Ada apa?"
Sedangkan cowok yang ditatap menunjuk ke ujung koridor dengan dagu sebagai jawaban.
"Jalan aja terus. Jangan noleh," bisik Dino dan Revan bersamaan. Keduanya saling tatap, tapi sedetik kemudian mereka seperti orang yang tak perduli dan tak saling kenal.
Saat melewati koridor pun, Ava tetap menatap ke depan dan tidak menoleh sama sekali. Melakukan perintah kedua cowok yang saat ini mengapitnya sangat dekat.
Uki dan Gilang menatap kepergian tiga adik kelasnya itu dengan datar. Sedangkan Aras menatap punggung Ava sayu nan sendu.
Ada yang berubah di diri gadis itu. Satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya merasa istimewa.
Dan sedari tadi pula, ada orang yang memperhatikan ketiga remaja itu. Siapa lagi kalau bukan, Dinda.
Dinda selalu ada di dekat Aras, dan tidak akan membiarkan siapapun merebut cowok itu dari dirinya. Berkat mata-mata yang ada di gedung kelas X, ia jadi tahu bagaimana situasi dan kondisi Ava.
Gadis itu mendekati Aras dengan senyum yang merekah sangat lebar.
"Cabut kuy!" ajak Aras cepat saat melihat Dinda mendekat ke arahnya, karena Aras juga sudah tahu apa yang akan dikatakan gadis itu nantinya.
"Lo lihat aja nanti! Kalau gue ngga bisa dapetin lo! Lo juga nggak akan bisa dapetin, Ava! Nggak akan pernah!" teriak Dinda menggema di koridor yang saat ini sepi akan lalu lalangnya para siswa.
Hal itu membuat Aras berhenti melangkah, membalik badan kemudian menatap Dinda yang sekarang wajahnya merah padam.
Aras terkadang takut kepada Dinda, karena gadis itu selalu berbuat nekat, dan berbicara seolah apa yang dikatakan adalah ancaman berbahaya yang pasti akan dilakukan.
"Lo nggak akan menjamin itu!" tegas Aras penuh penekanan di setiap ucapan, setelah itu berlalu pergi dari sana.
Dinda mengambil ponsel dari saku seragamnya, mencoba menelpon seseorang.
"Halo?" jawab orang itu yang ada di sebrang sambungan telepon.
"Segera laksanain rencana kita." Dinda memutus sambungan telepon, tanpa menunggu jawaban dari sana.
"Lo lihat aja Va, gue bakal ngancurin hubungan lo. Sama kayak lo ngancurin hubungan gue sama Aras." Mata gadis itu berapi-api. Kebenciannya terhadap Ava semakin menjadi-jadi.
Awalnya Dinda sudah sabar untuk memendam emosi terhadap Ava, tapi saat gadis itu menolak Aras di lapangan basket, saat itu juga kesabaran Dinda mulai habis. Dan, dirinya juga mulai tidak tahan dengan semua ini, dan sangat bersemangat untuk membalas perbuatan Ava.
...***...
...Aku updatenya satu hari sekali, hemat. Insyaallah juga nanti di bulan Agustus Aku udah mempublish cerita baru di negri orange, karena bulan Januari akhir Aku udah nulis draft-nya. Doain, ya, semoga cepat selesai agar Aku juga bisa mempublish cerita baru lagi di negri kuning, baru coba-coba dulu sih siapa tahu beruntung....
...***...
...Ditulis tanggal 18 Agustus 2020...
...Dipublish tanggal 05 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....