
Agnes bertugas untuk menjaga Ava di kelas, sedangkan teman yang lainnya ada di taman belakang sekolah karena Safira ingin memberitahukan bukti alasan Alan melakukan ini semua. Keadaan jadi semakin canggung saat di sana juga ada Bagus dan Justin.
Agnes pun juga sebelumnya sudah diberi tahu soal rekaman suara perbincangan Safira dan Alan, jadi gadis kalem itu tidak perlu bertanya-tanya dan khawatir lagi.
"Menurut gue sih emang benar yang Alan omongin, kalau kita nggak seharusnya melihat dari satu sisi tanpa melihat sisi lainnya. Kita juga nggak bisa terus-terusan nyalahin Alan kayak gini karena dia juga terpaksa melakukan cara itu supaya Ava nggaj terus-terusan berharap dan nggak bergantung sama Alan," tutur Dino mengutarakan pendapatnya setelah mendengar rekaman suara.
"Iya, Alan lebih baik meninggalkan Ava dengan cara yang kayak gitu daripada dia bertahan tanpa dasar apapun, karena itu bakalan nyiksa Alan dan lebih bikin Ava sakit hati dari ini. Alan nggak sepenuhnya salah, karena dia juga capek dan frustasi saat Ava tetap nggak mau ngerti kondisinya," sambung Justin.
"Bayangin aja gimana kalau sampai Alan nggak gunain cara ini? Pasti bakalan lebih hancur dan kacau balau dari ini. Ava bakalan terus ngejar Alan tanpa henti karena kita semua tahu kalau Ava itu keras kepala sekaligus susah diatur orangnya, dan Alan pun pasti lelah untuk berpura-pura nggak papa di balik gadis itu dan kita semua. Jadi, menurut gue Alan ada benar dan ada salahnya juga. Be-"
"Benarnya itu, Alan cuma nggak mau Ava lebih sakit saat tahu yang sebenarnya nanti, dan salahnya itu Alan ngelakuin cara tersebut. Ava juga salah saat dia nggak mau mengerti apa yang dimaksud Alan dan terus mengejar cintanya tanpa memperdulikan orang di sekitarnya sekaligus dirinya sendiri," sahut Ana cepat sebelum Revan melanjutkan kalimatnya.
Sedangkan yang ucapannya disahut mendengus sebal.
"Jadi, kita juga termasuk salah dong karena kita udah terlalu jahat nyalahin Alan mulu?" tanya Safira pada semua temannya yang ada di sana.
Di saat semua mengangguk, Bagus justru hanya diam saja. Cowok itu sangat merasa bersalah dan terbebani akan apa yang sudah ia lakukan.
Secara nggak langsung, gue yang udah menyebabkan semua ini terjadi.
Di sisi lain juga Justin saat ini tengah dirundung kegelisahan dan kebimbangan yang amat sangat dalam.
Apa ini saatnya, ya? Atau nunggu nanti aja?
***
Saat ini ada dua orang yang tengah berdiri di lapangan basket yang cukup sepi, karena seorang cowok sudah tidak tahan dengan sang gadis yang terus mendekatinya jadi ia menyeret gadis tersebut untuk diberi penjelasan yang sejelas-jelasnya sehingga cowok tersebut bisa bebas dari semua beban yang ia emban selama ini, sendirian.
"Nggak usah pegang-pegang!" Menepis kasar tangan Natalie dari lengannya.
"Aps sih, Lan? Gue, 'kan, pacar lo." Dari luar Natalie tetap baik-baik saja, walau di dalamnya sangat hancur karena ia tahu apa yang akan Alan katakan padanya.
Alan menunjuk wajah Natalie. "Gue bukan pacar lo, dan nggak akan pernah seperti itu karena gue sama sekali nggak ada rasa apapun sama lo."
"Nggak ada rasa lo bilang? Terus tadi malam lo nyium gue itu artinya apa kalau nggak cinta sama gue?"
"Maaf. Dari awal, lo itu cuma alat. Alat buat gue agar gue bisa jauh dari Ava sehingga gadis itu nggak suka, benci, dan nggak banyak berharap dari gue. Sedikit pun sama sekali gue nggak pernah ada rasa sama lo. Ava aja gue suruh pergi, apalagi lo."
Natalie menggeleng dengan cucuran air mata yang sudah membasahi pipi. "Apa nggak ada sedikit pun perasaan lo ke gue? Karena gue benar-benar suka sama lo dari awal masuk sekolah."
"Nggak ada, sama sekali nggak ada. Gue tahu kalau lo suka sama gue cuma karena fisik. Lo nggak benar-benar suka sepenuhnya sama gue." Alan beranjak pergi dari sana, tapi ditahan oleh Natalie.
"Enggak, Lan. Gue suka sama lo dan semua tentang lo." Semakin menangis histeris.
"Rasa suka bisa hilang kapan aja. Kalau lo bakal jawab rasa suka yang bisa berubah jadi rasa cinta, lo salah karena rasa suka lo bakalan berubah menjadi obsesi." Melepas cengkraman tangan Natalie lalu berjalan menjauhi gadis itu.
Natalie menjerit histeris bercampur tangis tidak karuan. "Lo bakalan kena karma karena lo udah nyia-nyiain gue dan nyakitin Ava juga! Gue jamin itu lo nggak akan pernah bisa lolos!"
Alan berhenti lalu menoleh ke samping. "Apapun yang dilakuin manusia, sekecil apapun itu pasti bakal dapat balasannya, dan gue bakal terima itu dengan lapang dada." Kembali berjalan sampai akhirnya keluar dari area lapangan basket.
Natalie mengacak rambutnya frustasi, ia tidak pernah menyangkan kalau Alan akan berbuat seperti itu padanya. Sejahat itu kah, Alan? Kalian tentu bisa menilainya sendiri.
Protagonis dan Antagonis itu relatif, tergantung kalian mengambil dan menilai dari sudut pandang yang mana.
Gadis itu mencak-mencak di tengah lapangan basket, berjalan ke tribun lalu menelungkupkan kepala di antara kedua kaki. Gadis itu menangis sesegukan tanpa henti.
"Harusnya saat gue udah tahu kalau gue hanya jadi alat untuk Alan, saat itu gue harus pergi dan nyerah. Tapi bodohnya, gue masih tetap menerima itu seakan-akan tidak tahu apa-apa. Benar apa kata orang? Kalau obsesi dan cinta itu beda tipis. Cinta bakalan bikin diri kita sendiri itu bodoh dan buta akan apapun."
"Aaaaaaaaa! Bodoh banget lo, Nat!" Melempar sepatunya ke sembarang arah.
__ADS_1
***
Karena jam ini ada free class jadi para siswa bebas melakukan apa saja, asalkan di dalam kelas. Tak heran jika kelas X Ips 4 seperti kapal pecah, ada yang main bekel, ngegame, nonton film atau drama, skipping, jantengan, kartu, catur, dan bergosip.
(Mohon pengertiannya kawan-kawan, kalau permainan di atas dijelaskan pasti panjang, jadi kalau ada yang ingin tahu bisa search sendiri. Okay?)
Safira yang ada di samping Ava mengelus pelan rambut gadis itu. "Udah dong Ava, lo jangan galau mulu."
"Nggak galau kok, cuma masih kecewa aja."
"Seiring berjalannya waktu gue yakin pasti lo bakal bisa move on. Eum ... lo, 'kan, hobi baca novel dan suka dengerin musik."
"Terus, gue harus gimana?"
"Ish makanya dengerin dulu dong. Gimana, kalau lo latihan vokal dan nulis cerita gitu? Suara lo, 'kan, nggak jelek-jelek banget, jadi masih bisa diperbaiki. Imaginasi lo juga kuat, beragam, dan bagus untuk dijadikan sebuah cerita. Itu semua untuk ngisi kehidupan lo yang nggak berguna sekaligus cara buat ngalihin pikiran lo dari Alan. Bagus nggak ide, gue?"
Gadis yang diajak bicara mengangkat kepalanya lalu menatap sang sahabat.
Safira, benar juga sih? Nggak ada salahnya juga gue mencoba, siapa tahu itu adalah salah satu cara untuk bisa move on dari Alan.
***
Revan, Safira, Syarifa, Dino, Ana, Agnes, Bagus, dan Justin sudah sepakat untuk tidak akan memberitahu rekaman suara itu pada Ava, mereka hanya tidak mau kalau gadis itu akan semakin susah untuk melupakan Alan. Bukti yang direkam Safira juga sudah dihapus agar tidak meninggalkan jejak.
Saat Alan keluar dari kelas, dari belakang ada yang dengan sengaja menyenggol kasar bahunya, siapa lagi kalau bukan Natalie. Gadis itu masih sangat marah dan kesal dengan Alan. Itu wajar, jadi Alan membiarkannya. "****."
Yang tadinya tempat duduk Natalie di depan Alan kini gadis itu ada di paling depan, sedangkan sekarang yang duduk di depan Alan itu Gentar.
Cowok itu mengambil hp nya dari saku saat benda pipih tersebut mengeluarkan suara 'beb' diiringi getaran.
Ana
Ke belakang sekolah sekarang, penting. Ajak Justin dan Bagus juga.
"Ke taman belakang sekarang." Melangkahkan kaki menjauhi dua sahabatnya.
Bagus dan Justin mengikuti Alan dari belakang, ini rencananya.
***
Karena Agnes pulang lebih dulu bersama Ava, jadi yang ada di taman belakang hanya ada Ana, Syarifa, Revan, Safira, dan Dino.
"Apa lagi?" tanya Alan saat cowok itu masuk, dari belakang juga ada dua manusia yang ikut masuk.
Bagus dan Justin melangkah bergabung bersama Safira dkk. Alan masih biasa saja, tenang seperti sebelumnya tidak terkejut sama sekali.
"Alan." Safira sebagai perwakilan membuka suara, maju satu langkah mendekati Alan. "Maafin kita sebelumnya karena udah terlalu dan sangat sering menyalahkan lo dalam masalah ini. Kita sadar dan kita tahu kalau lo nggak sepenuhnya salah, Ava dan kita semua juga nggak kalah salahnya. Apa yang lo bilang benar, kalau kita nggak seharusnya melihat dari satu sisi, khususnya untuk gue yang paling sering menyalahkan dan nyakitin lo baik secara batin maupun fisik."
Ana maju satu langkah, berdiri di samping Safira. "Mungkin, kalau lo nggak ngomong kayak gitu, kita semua nggak bakalan paham dan akan terus nyalahin lo. Kita paham apa maksud lo dan kenapa lo ngelakuin semua ini, karena kita, lo jadi semakin memendam diri dan hampir kehilangan seorang teman dan sahabat."
Justin maju dan berdiri di samping Ana. "Seorang teman atau sahabat nggak akan pernah meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apapun. Tapi kita? Kita justru mau ninggalin lo karena kita hanya berpikir kalau lo adalah teman yang jahat tanpa mau melihat sisi positifnya. Harusnya kita juga bisa berpikir jernih dan tetap percaya dan selalu ada buat lo apa pun yang terjadi."
Dino, Syarifa, Revan, dan Bagus ikutan maju, ke tujuh remaja tersebut serentak menyatukan telapan tangan di depan dada sambil berkata, "Kita memang bukan teman yang baik, tapi lo mau, 'kan, maafin kita semua? Kita janji nggak bakal menjadi remaja yang egois lagi?"
Tangan yang tadinya dilipat di depan dada kini ditenggelamkan kedalam saku seraya menghembuskan nafas pelan. "Saat ini, jangan percaya apapun yang gue katakan. Kalian terlalu jahat untuk melakukan semua ini, jadi nggak akan ada maaf untuk kalian semua."
Seulas senyuman dari wajah mereka semua kini hilang seketika saat Alan mengatakan hal tadi, tangan mereka pun turunkan kembali.
Alan berbalik dan beranjak pergi dari sana, tapi ucapan Dino berhasil menghentikan cowok itu. "Jadi, lo nggak mau maafin kita? Itu wajar sih, karena kita udah terlalu jahat sama lo."
Tanpa menoleh Alan berujar lagi, "Kalau kalian paham apa maksud gue, kalian pasti paham apa yang gue omongin barusan." Pergi dari sana menuju parkiran.
__ADS_1
Ke tujuh remaja itu langsung berkumpul membentuk sebuah lingkaran kecil tak beraturan, mereka bingung.
"Apa sih maksud, Alan?" kesal Safira
"Iya, kenapa nggak bilang intinya gitu?" sambung Bagus
"Bingung, 'kan, jadinya? Mungkin, Alan emang nggak mau maafin kita kali?" tambah Dino.
Di saat semua orang pada menggerutui Alan, Justin justru hanya diam sambil memikirkan sesuatu, sngat tidak mungkin jika Alan seperti itu.
"Gue tahu Alan, dan dia nggak bakalan kayak gitu. Alan itu cowok yang jarang to the point terhadap sesuatu," bela Justin, kemudian berkata, "Coba kita ulang apa jawaban Alan tadi."
"Saat ini, jangan percaya apapun yang gue katakan. Kalian terlalu jahat untuk melakukan semua ini, jadi nggak akan ada maaf untuk kalian semua," ulang mereka semua, pelan-pelan seperti mengeja tulisan.
Safira langsung sumringah dan mengangkat tangannya. "Ah iya! Gue tahu! Gue tahu! 'Kalian terlalu jahat untuk melakukan semua ini, nggak akan ada maaf untuk kalian semua' dan di kata sebelumnya dia juga bilang 'Saat ini jangan percaya apapun yang gue katakan'!"
Bagus ikutan mengangkat tangan. "Itu kebalikannya! Jadi, Alan udah maafin kita dong?"
Semua yang ada di sana sontak dan saling tatap, beberapa detik kemudian ke tujuh remaja tersebut langsung berteriak dan meloncat kegirangan saking senangnya.
"Akhirnya masalah udah selesai semua!"
"Terima kasih, Tuhan! Karena telah membuat kita semua bebas akan masalah!"
"Alhamdulillah kita semua bisa baikan lagi!"
"Terima kasih Tuhan karena sudah mau mempersatukan kita lagi!"
Krik
Krik
Krik
Krik
Semuanya sontak diam mematung saat melihat dan menyadari kalau Justin dan Ana saling berpelukan. Sedangkan, yang menjadi tersangka utama kini saling melepas tangan dan menjaga jarak.
"Ehkem," dehem Ana dan Justin secara bersamaan.
"Cieeee! cieeeee!"
"Balikan nih ye!"
"Balikan, Cuy!"
"Bakal dapat PB nih!"
(PB \= Pajak Balikan)
...***...
...Gimana chapter kali ini? Ayo komennya diramaikan....
...Kalian senang nggak kalau Alan balik lagi bersama teman-teman yang lainnya kayak dulu lagi? Soalnya Aku kasihan sama Alan kalau sampai dia nggak punya teman, takutnya nanti dia semakin menutup diri dan malah depresi karena nggak ada yang bisa diajak bicara termasuk Justin sahabatnya....
...Ditulis tanggal 16 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 24 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....