Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 29 ~ Mengutarakan


__ADS_3

...



...


Setelah mendengar cerita dari Alan, raut wajah Ava langsung berubah antara malu dan senang. Untuk menutupi itu semua, gadis itu lantas mencubit pinggul Alan. "Udah ah! Sakit tahu!"


"Terus, itu plastik isinya apa?" Menatap kedua plastik yang ditenteng Alan.


"Pegel nih,"


"Yaudah, ayo masuk."


Keduanya langsung duduk si sofa. Meletakkan barang belanjaan Alan di meja. Ava mengeluarkan semua isi plastik tersebut. Mencoba melihat apa yang Alan beli untuknya. Ada mie samyang, mie ramen, minuman kaleng, minuman isotonic, dan berbagai macam camilan ringan lainnya.


Memang baik sekali cowok bernama Alan. Ia tahu apa yang gadisnya suka.


"Banyak banget? Kayak uang tinggal metik aja?" Mengambil dan memakan camilan keripik kentang, kemudian menoleh ke arah Alan, "... mau?"


Alan menggeleng. "Lo aja,"


Alan berdiri dan beranjak keluar dari kamar.


"Mau kemana? Pulang? Jangan pulang dulu! Lo, baru aja sampai ..." todong Ava cepat.


"Gue cuma mau ngambil motor, tadi lupa masih di luar,"


"Tapi, nanti balik lagi, yaa!" teriak Ava saat Alan sudah keluar dari kamar.


***


08:56


Seorang cowok kini telah menunggu sang pujaan hati dengan berdiri di luar kelas.


Saat kelas sang pujaan hati sudah bubar, cowok itu segera melebarkan pandangannya. Tidak ada.


"Eeh, lo temannya Ava, 'kan?" tanya Aras pada Safira yang keluar bersama Dino, Lia, dan Revan.


"Iya, ada apa?" tanya Safira dengan nada sedikit ketus.


"Kalian, lihat Ava nggak?"


Ketiga orang tersebut diam sebentar dan saling tatap.


"Ava hari ini nggak berangkat. Katanya sih alerginya kambuh." jawab Revan santai.


Tanpa permisi, ketiganya langsung pergi karena tak ada jawaban dari Aras.


"Huh! Sekarang gara-gara gue, Ava jadi sakit. Pasti dia marah dan kesal sama, gue." Mengambil hp di dalam saku. Mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


***


Ava yang kini menonton Alan bermain game mendengar hp nya berbunyi langsung menjauhkan badannya dari Alan. Di ambilnya ponsel dari atas laci.


Aras


Ava, lo nggak masuk? Kok, lo nggak ngomong ke gue? Sekarang gue kerumah lo, yaa ...


^^^Ava^^^


^^^Kak Aras, mau bolos?^^^


Aras


Iya, tapi nggak papa kok. Gue kesana sekarang yah,


Ava menatap cowok di sampingnya yang masih sibuk bermain game.


"Kalau mereka berdua ketemu, kayakmya bakal hancur deh?"

__ADS_1


^^^Ava^^^


^^^Nggak usah kak. Seharian ini gue mau istirahat aja,^^^


Aras


Nggak papa kok, Va.


"Kenapa?" tanya Alan tiba-tiba.


Karena terkejut, gadis di sampingnya sontak menoleh.


Alan menatap hp yang di pegang Ava. Cowok itu langsung mengambil alih dan mengetikkan balasan.


^^^Ava^^^


^^^Udah lah, Kak! Nggak usah. Gue mau istirahat! Nggak usah maksa deh,^^^


Aras


Yaudah, lo cepet sembuh, yaa.


'Read'


Alan mengembalikan ponsel tersebut pada sang pemilik sambil tersenyum. "Easy."


Gadis di sampingnya tersenyum lebar. Entah kenapa, Alan merasa senyum selebar itu hanya untuknya. Jika itu benar, maka Alan akan sangat bahagia mengetahui hal tersebut.


"Ava ... " lirih Alan


"Apa?"


"Tipe cowok idaman lo, kayak apa?"


Ava mencoba berfikir. "Yang baik, ganteng relatif, nggak pencemburu, rajin sholat, setia, dan sari dulu gue suka kalau nggak yang humoris ya yang cuek gitu,"


"Ooh gitun ya?"


Alan menahan tawa. Ava mungkin tidak sadar jika ia sedang mengikuti chalenge dari salah satu artis yang menikah dengan cara ta'aruf.


"Nggak papa. Cuma mau memantaskan diri. Tapi, masih banyak yang harus di kejar. Dan, gue juga sadar kalau gue bukan apa-apa di banding, kak Aras,"


Ava langsung mengusap kasar wajah Alan. "Jangan gila deh!"


Tawa Alan langsung pecah seketika. Gadis di sampingnya ini memang tidak tahu dan sangat polos.


Alan menjitak kepala Ava. "Lo tuh lola yaa, Va ..." Masih tertawa ngakak.


Ava hanya diam. Memperhatikan Alan yang tengah tertawa. "Alan, lo kalau ketawa gini gue senang deh, daripada lo uring-uringan mulu,"


Alan sontak berhenti tertawa saat Ava mengatakan itu. "Gini yaa, Va. Lo mungkin nggak sadar, kalau gue kayak gitu karena gue ada rasa sama ko. Gue nggak tahu gimana perasaan lo, ke gue. Tapi, gue nggak suka lo dekat sama kak Aras. Gue nggak suka saat kak Aras nyia-nyiain lo. Gue nggak suka kalau kak Aras bikin dandanan lo kayak orang dewasa. Bahkan, lo juga belum dewasa. Dan, gue lebih nggak suka lagi kala kak Aras ngambil lo dari gue ..."


Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak berkutik. Seolah ada yang mengunci mulutnya dan hanya menyuruhnya untuk mendengarkan saja. Ava di buat tak bergeming dengan pernyataan Alan.


Cowok itu memegang kedua tangan Ava dengan lembut. Memberikan kenyaman yang bisa Alan berikan. "Ini terserah lo, dan hak lo buat milih. Gue rela dan apapun keputusan lo, gue dukung sepenuh nya. Asalkan lo bahagia, gue juga ikut bahagia. Setelah ini, lo juga boleh ngebenci atau pun ngejauhin gue karena gue udah lancang ngomong kayak gini ..."


Ava masih diam mematung di tempat. Terkesima dengan pengungkapan sesosok laki-laki di sampingnya. Baru pertama kali ini Alan mengatakan semua isi hatinya. Baru pertama kali Alan berbicara padanya selembut dan terdengar begitu tulus. Dan, baru pertama kali ini juga, Alan berbicara pada Ava sepanjang ini.


Nafas gadis itu tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Sekarang, gue udah tahu perasaan lo ke gue gimana. Lo bilang, lo akan dukung apapun keputusan gue? Bahkan, kalau gue lebih milih kak Aras ketimbang, lo?"


Alan menunduk sebentar. Menghirup udara sebanyak mungkin, karena kini cowok itu sangat butuh banyak pasokan udara segar. Pikirannya mulai berlarian kesana kemari. Ia mengangkat kepala lalu menatap kedua manik mata gadis di depannya. Masuk menelusuk lebih dalam lagi. Suasana kini mulai menjadi aneh dan terasa canggung.


Alan takut kalau membuat Ava merasa tidak nyaman. Alan takut kalau setelah ini Ava membenci dan menjauhinya, lalu meninggalkannya. Walaupun, dirinya sendiri yang mengatakan kalau ia rela dan mendukung Ava. Jujur, Alan sangat takut akan hal itu dan tidak ingin apa yang ia pikirkan terjadi.


"Iya, gue akan mencoba terima apapun keputusan lo. Apapun yang bikin lo senang dan bahagia,"


Ava tersenyum saat beberapa detik tadi tak mendapat respon atau jawaban dari Alan.


"Tapi, lo jangan terbebani kalau gue ngomong perasaan gue ke lo, karena gue nggak mau nanti lo berubah pikiran buat milih gue karena kasihan. Gue bakal lebih sakit hati ketimbang lo milih kak Aras." lanjut Alan. Cowok itu tersenyum manis lalu menoel hidung Ava.


Suasananya mulai mencair lagi karena Alan. Tadi, Ava pikir setelah mengatakan itu, Alan akan langsung pulang, tapi ternyata semua itu tidak terjadi. Kini, tidak ada lagi rasa canggung maupun sedih.

__ADS_1


Seharian ini Alan bermain bersama Ava. Begitupun sebaliknya. Mulai dari menonton film, menonton anime movie, dan bermain ABC lima dasar dengan hukuman yang kalah wajahnya harus di coret dengan bedak bayi.


***


15:25


"Assalamu'alaikum." salam kedua gadis remaja yang baru pulang dari sekolah. Siapa lagi kalau bukan Ana dan Agnes.


Rumah terasa sepi dan tidak ada jawaban juga dari dalam rumah. Jadi, mereka memutuskan untuk ke kamar gadis itu untuk melihatnya.


Tok


Tok


Tok


Ava yang kini baru saja meminum obat dan mengoleskan salep ke seluruh tubuhnya yang memerah bangkit dari duduk, bergegas untuk membuka pintu. Tadi pagi ia lupa untuk meminum obat karena terlalu asik menonton film.


"Apa?" tanya Ava saat sudah di depan kedua sahabatnya.


"Itu, wajah ko kenapa?" balik tanya Agnes dan Ana bersamaan.


Gadis yang di tanya baru sadar kalau belum membersihkan wajahnya dari bedak bekas coretan. "Bukan apa-apa. Tadi abis main ABC lima dasar, dan yang kalah di coret wajahnya,"


Agnes mengedarkan pandangan nya ke kamar Ava. "Alan, udah pulang?"


Ava mengangguk pelan. Menyenderkan kepalanya di bibir pintu. "Udah. Tadi, sekitar jam 15:00,"


"Lo udah sembuh?" Sekarang, giliran Ana yang bertanya.


Yang menjawab dan yang mengangguk justru Agnes. "Ya iyalah! Tadi di temenin sama Alan udah pasti sembuh. Kan, nggak marah marah lagi ..." ledek Agnes cekikikan sendiri.


"Apaan sih? Biasa aja," kesal Ava.


"Eeh, itu apaan?" celetuk Ana saat melihat ada bungkus camilan dan dua plastik putih besar di atas meja. Agnes pun juga ikut mengintip ke arah kamar Ava.


Gadis yang di tanya menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, kok!" Buru-buru Ava menutup pintu dan menguncinya dari dalam saat kedua sahabatnya ingin menerobos masuk ke dalam kamar.


Terdengar gerutuan dan teriakan kedua sahabatnya dari luar. Ava mengelus dada. "Untung gue buru-buru. Kalau nggak bisa, habis dah semuanya."


"Ava, itu apaan woi! Buka pintunya!"


"Itu pasti lo di kasih Alan, 'kan? Mana banyak banget lagi tadi bungkusnya!"


"Iya, ada dua plastik gede lagi!"


"Ava buka pintunya! Kita juga mau kali, Va! Lo jangan pelit dong! Kita, 'kan, sahabatan!"


"Nggak! Kalian tahu kalau gue nggak mau berbagi apa yang udah jadi milik gue! Alan ngasihnya buat gue! Bukan buat kalian! Jadinya, itu semua punya gue! Bukan punya kalian!"


Kedua sahabatnya terus saja mengomel. Gadis itu mengambil sebuah novel yang tadi pagi belum selesai ia baca. Duduk di atas bad kasur, kemudian menyambungkan earphone yang sudah tersambung dengan hp ke telinga. Mengatur volume lebih keras agar gerutuan dari kedua sahabatnya tidak terdengar.


...🎵Fast lane - Palm Trees & Mdl Abi F Jones....


Itu, lagu yang kini tengah Ava putar sebagai penambah nikmat dalam membaca cerita fiksi remaja.


...***...


...Yang masih bertahan di Timnya, Aras?...


...Yang belok haluan ke Timnya, Alan?...


...***...


...Ditulis tanggal 30 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 4 Maret 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading...

__ADS_1


__ADS_2