Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 85 ~ Malam Yang Panjang


__ADS_3

...



...


"Astagfirullah!" Ava mengelus dada saat ada tiga orang yang tak ia kenal memakai topeng serta pakaian serba hitam yang menghadangnya dari belakang.


"Ka-kalian, siapa?!"


Tak ada sahutan dari ketiga orang tersebut, mereka malah mendekat dan Ava semakin mundur.


"Jangan maju mundur terus dong! Itu Syahrini!" Di saat seperti ini pun gadis itu masih bisa melawak. "Bukan muhrim!" sentaknya saat salah satu tangan mereka akan menyentuh Ava.


Ava melirikkan mata ke kanan dan ke kiri.


Kok nggak ada orang, sih? Tuhan, tolong saya. Kirimkan malaikat super ganteng.


Gadis itu melepas helm lalu memukul mereka bertiga secara bergantian, saat akan kabur tangannya malah dicekal salah satu dari mereka.


"Mau ke mana? Di sini nggak ada orang! Jadi, nggak usah lari ke mana-mana!" ucap salah satu penculik yang memakai hoodie.


Ava memberontak dengan sekuat tenaga, mencakar dan menendangkan kaki ke segala arah sebagai perlawanan. Bagaimanapun caranya ia harus segera lepas dari ketiga orang tersebut walau tak bisa dipungkiri ia terlalu lemah untuk melawan. Ava terus diseret menuju mobil warna putih dengan stiker kupu-kupu yang berada tak jauh dari sana. Tunggu! Mobil putih? Stiker kupu-kupu? Bukankah itu mobil yang juga ingin menabraknya dan mobil yang pernah menculiknya waktu itu? Jangan-jangan, itu juga orang yang sama?


"Tolong! Tolong! Gue mau diculik sama orang jelek! Tolong! Siapapun tolongin gue!" Penculik yang mengunci leher Ava membekap mulutnya.


"Diam lo! Kalau orang pada bangun bisa tertangkap!"


Sampai akhirnya seperti mendapat kekuatan super, Ava menendang tubuh penculik di samping kiri, membuatnya tersungkur cukup jauh. Menginjak kaki penculik yang ada di samping kanan lalu menggigit lengan penculik yang mengunci kepalanya, membuat mereka semua meringis kesakitan.


"Aaaaaaa!"


"Dasar gadis sialan!"


Kecil tapi cukup kuat dan berani, itullah Ava. Saat ketiganya lengah Ava langsung berlari sekuat tenaga, menjauh dan berniat sembunyi. Tak apa motornya hilang atau rusak, karena yang terpenting ia harus dalam keadaan hidup sekarang. Toh, Ava orang kaya, jadi ia bisa membeli lagi yang lebih bagus.


"Ayo cepat berdiri!"


"Bos bisa marah kalau sampai nggak ketangkap?"


Kembali mengejar Ava yang sudah mulai terseok-seok karena lelah berlari ke sana-ke mari, bingung harus bersembunyi di mana.


***


Di tempat berbeda tapi di waktu yang sama Ana dan Agnes khawatir karena Ava tak kunjung pulang, terlebih lagi saat mereka tahu kalau ponsel gadis itu ditinggal di kamar.


"Ini gimana?" tanya Ana yang dirundung kepanikan.


"Telpon teman-teman atau lapor ke kantor polisi?"


"Telpon teman aja! Kalau nunggu polisi kelamaan!"


"Ya udah. Gue telpon Dino sama Revan, dan lo telpon kak Aras sama Safira, nanti kita juga ikut nyari."


Ana langsung mengangguk setuju. Tak apalah menganggu sebentar, ini demi keselamatan Ava. Tentu, kalian sudah tahu alasannya kenapa mereka tidak menelpon Alan, Bagus, dan Justin, karena masalah mereka masih belum selesai.


"Apa sih ganggu malam-malam? Gue lagi tidur, besok sekolah!" Dari sebrang terdengar suara Dino yang sedikit serak, sepertinya cowok itu baru bangun karena terganggu.


"Ava nggak pulang-pulang! Katanya tadi beli mie. Gue takut kalau ada apa-apa sama dia! Soalnya hp nya juga nggak dibawa. Bantu nyariin yah, ajak Revan juga!"


Di sebrang sana, Dino baru bisa mencerna ucapan Agnes setelah beberapa detik, Cowo itu langsung terlonjak kaget dari tempat tidur. "Iya, gue bantu nyari. Nanti kita kumpul dulu di rumah lo."


"Iya, makasih dan maaf ganggu." Agnes mengangguk, sambungan telepon langsung dimatikan. Ia menyusul Ana yang baru saja berbicara dengan Aras.


"Ya udah, gue siap-siap dulu sambil ngirim pasukan. Kalian nggak perlu khawatir."


Ana mengangguk. "Iya. Kak, makasih udah dibantuin."


Saat sambungan telpon terputus, Ana menatap Agnes. "Kak Aras bakal kirim pasukannya juga untuk nyari Ava."

__ADS_1


Ke dua orang itu lantas sedikit lega, karena dengan begitu Ava bisa lebih cepat ketemu, lebih banyak orang lebih baik. Mereka juga bersyukur karena masih ada banyak orang yang perduli dengan Ava.


***


Dengan nafas yang tersenggal-senggal, Ava berhenti karena kelahan berlari. Penculik itu masih mengejar tapi belum memukannya, ia ingin berteriak tapi sangat sadar kalau itu akan mengantar dirinya ke sang penculik lebih cepat.


Ia tidak mau mati karena organnya diambil, ia masih ingin menyandang predikat gadis perawan, dan ia juga masih ingin melindungi orang yang ia sayang. Membayangkannya saja Ava tidak sangggup, apalagi jika hal itu terjadi sungguhan.


Keringat yang sedari tadi bercucuran di sekujur tubuh kini bertambah semakin banyak, kardigan yang ia pakai pun ujungnya robek akibat ditarik salah satu penculik tadi.


"Gu-gue harus sembunyi di mana?" Menatap sekeliling. "Mana makin dekat lagi mereka."


Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang membekap mulutnya lalu menyeret Ava menuju pohon beringin yang sangat besar. Hal itu membuat Ava ketakutan setengah mampus sampai tidak bisa berkata-kata, maka dari itu ia hanya bisa berontak. Orang misterius itu mengisyaratkan dirinya untuk diam saat penculik tersebut ada di area pohon.


"Ayo cepat cari! Kata bos, tadi teman-temannya sudah mulai berpencar untuk mencari gadis itu. Kita nggak boleh sampai keduluan sama mereka semua!"


"Apa jangan-jangan ada di balik pohon beringin itu?" pikir sang penculik bertubuh kecil.


"Enggak mungkin, karena pohon itu sangat terkenal angker. Siapa pun yang ke situ bakal ketempelan!" seru penculik bertubuh agak gempal.


Orang yang membekap Ava mengambil beberapa batu lalu dilemparkan sejauh mungkin dari area sana.


"Itu dia! Ayo ke sana!"


Setelah dirasa ketiga topeng monyet berdandan serba hitam tadi menjauh, barulah orang misterius itu perlahan membuka bekapan Ava.


Ava berbalik, mencoba melihat siapa orang yang telah mematahkan bayang-bayang dan menyelamatkan Ava layaknya seorang malaikat yang datang tepat waktu, seperti doanya tadi.


"Lo?"


***


Aras dan pasukannya sudah menemukan motor Ava diam di jalanan sepi, sayangnya tak ada apa-apa di sana.


Asal tahu saja kalau ketiga penculik tadi sudah dikabari oleh bosnya agar segera pergi sebelum tertangkap.


Aras juga sudah menelpon Agnes untuk memberi kabar, dan Agnes juga sudah memberi kabar kepada semua orang yang berpencar untuk menuju lokasi Aras saat ini.


Uki menepuk bahu Aras dari belakang. "Tenang Bro, gadis itu pasti nggak papa."


"Iya, lo tenang aja. Gue liat, kecil-kecil gitu dia berani." Gilang ikut nimbrung sementara yang lainnya masih mencari bukti.


Aras membuang nafas pasrah. "Sorry, karena tadi sore gue udah nuduh kalian yang enggak-enggak dan nuduh kalau kalau kalianlah yang nyuri pisau itu. Ka-"


"It's okay. Nggak masalah dan nggak perlu dibahas lagi, yang terpenting Ava ketemu dulu," sahut Uki cepat, ia hanya tidak mau Aras terlalu dan selalu menyalahkan dirinya.


Aras sedikit merasa janggal akan sesuatu.


Kok, Uki tahu kalau Ava nggak papa? Dan, Gilang juga kenapa bisa tahu kalau Ava kecil gitu tapi kuat? Jangan-jangan?


Aras menggelengkan kepalanya.


*A*h. Enggak Ras! Mereka baik dan mau bantu nyari Ava. Lo jangan lagi nuduh sahabat lo yang enggak-enggak! Mereka cuma berharap dan berdoa, udah itu aja!


Bersamaan dengan hal itu, tiba-tiba ponsel Aras berdering dan menampikan layar dengan nomor tanpa nama.


Awalnya Aras ragu, tapi setelah Gilang dan Uki mengangguk akhirnya cowok itu menggeser tombol hijau.


"Kak Aras."


"Ava!" Saat mendengar itu, semua yang ada di sana langsung berkumpul mengelilingi Aras.


"To-tolongin gue, Kak. Jemput gue." Dari sebrang sana suara Ava terlihat sangat lirih dan tak punya tenaga. Hal itu membuat jantung Aras semakin berpacu lebih cepat, hatinya juga tak tenang sebelum melihat Ava benar baik-baik saja.


"Iya. Tapi, sekarang lo di mana?"


***


"Ava!" serempak Ana, Safira, dan Agnes saat membuka pintu dan menemukan Ava yang tengah duduk di sofa meminum teh bersama seorang laki-laki dan dua orang paruh baya.

__ADS_1


Ketiganya saling berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu  masing-masing, diiringi nafas lega dari teman-teman yang ikut bantu mencari. Saat mendapat kabar dari Ava, Aras langsung menyuruh pasukan yang lain agar langsung menuju lokasi yang Ava beritahu tanpa mampir-mampir dulu.


Aras sudah menyuruh pasukannya untuk pulang ke rumah masing-masing, khusus untuk Uki dan Gilang tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu.


"Lo ke mana aja, sih? Gue cariin tahu nggak? Khawatir banget tadi gue." Bersusah payah untuk menahan tangis agar tidak diejek gadis cengeng, akhirnya pertahanan Safira runtuh juga. Air terjun itu terus mengalir deras di pipinya.


Revan spontan menonyor kepala Safira ke depan. "Ye ... katanya nggak bakal nangis tadi? Katanya gadis kuat? Lha ini apa? Sungainya udah beranak pinak kayak gini?"


"Udah deh! Cungkil Watu lo diam aja!" semprot Safira sedang tidak ingin bercanda.


(Cungkil Watu \= Kotoran Telinga)


"Halah! Daripada lo, Kembang Pasir!" hina Revan tak terima sekaligus tak mau kalah.


(Kembang Pasir \= Kotoran kucing)


"Berisik," lerai Gilang sebagai cowok paling normal dari mahluk-mahluk yang ada di sana.


"Alhamdulillah gue nggak papa kok." Menatap ke arah cowok yang juga duduk di sofa. "Ada Games tadi yang nolongin gue. Katanya dia belum tidur dan sempat dengar samar-samar ada orang teriak. Gue juga pinjam hp dia untuk nelpon Kak Aras."


Dino yang dari tadi diam akhirnya berkata, "Syukur deh. Btw, makasih juga untuk lo, Games karena udah nolongin Ava."


Games tersenyum sangat senang sekaligus tulus. Ia juga bangga karena telah menjadi penyelamat Ava, itung-itung juga sebagai tebusan karena Games juga pernah mencelakakan Ava dari atas gedung sekolah. "Iya, sama-sama."


"Wah! Wah! Kayaknya Ava hanya hafal nomor Aras nih? Nomor kita enggak?" ledek Uki yang senyum-senyum sendiri.


Aras yang merasa malu-malu kucing pun menyenggol lengan sahabatnya itu. "Apaan sih, lo?"


Kenapa bisa begitu? Karenakan saat Ava masih sangat suka Aras dan mengagumi cowok itu, Ava menghafal dan mencari tahu semua yang berhubungan dengan Aras, mulai dari warna favorit, makanan kesukaan, hobi, minuman kesukaan, dan lain-lain termasuk nomor ponsel cowok itu yang sangat ia hafal sampai sekarang.


Ava kembali menatap ke arah cowok yang duduk di sofa. "Games, ada setan yang nempel ke gue? Karenakan katanya tadi pohon beringin itu terkenal angker dan suka banget nempel ke orang."


Ayah Games tersenyum. "Bukan begitu, pohon itu memang angker, tapi mahluk yang ada di situ tidak akan pergi ke mana-mana karena tempat tinggalnya memang di situ, jadi, Nak Ava, tenang saja."


"Iya. Nggak akan terjadi sesuatu sama lo," timpal Games yakin.


Ava mengangguk paham. "Alhamdulillah kalau begitu."


***


Akhirnya setelah malam yang sangat panjang untuk mencari Ava, gadis itu akhirnya diselamatkan Games dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga juga kerabat teman lainnya.


Tadi mereka juga berbincang-bincang sebentar seputar kejadian tadi bersama Games, Ibu, dan Ayahnya. Ava tentu, berbohong dan tidak mau bilang kalau ia pernah akan dllukai ketiga orang tersebut sebelumnya.


Aras pun juga tidak berkomentar terlalu banyak tentang kejadian tersebut, karena pada akhirnya hanya Ava yang dirinyalah yang tahu kejadian sebenarnya. Ava pasti nanti akan cerita kok pada Aras kalau sudah tenang dan situasinya aman.


Karena hari yang sudah semakin malam, jadi karena tidak mau menggangu jam istirahat lebih lama lagi, Ava dkk akhirnya pulang. Terlebih lagikan besok mereka harus sekolah, khusus bagi Ava besok ia tidak berangkat, karena harus memulihkan diri terlebih dahulu.


Tak lupa pula berterima kasih pada kedua orang tua Games dan cowok itu sendiri karena telah mengijinkan Ava dan teman-teman yang lainnya beristirahat sejenak di sini. Gadis itu juga sempat meminta baik pada teman atau pada keluarga Games agar kejadian ini tidak diceritakan pada siapapun. Ava mengatakan alasannya karena tidak mau siswa sekolah yang ia tempati sekarang ini merasa terancam dan takut, untungnya mereka semua setuju dengan perjanjian tersebut.


Sekali lagi, pada akhirnya hanya Aras dan Ava yang tahu alasan sebenarnya. Gadis itu hanya ingin menjaga orang-orang yang ia sayang, dan Ava juga tidak ingin kejadian yang menimpanya atau lebih buruk lagi menimpa teman, kerabat, dan sahabatnya.


***


Setelah Ava beserta rombongannya pulang pun Games tak kunjung tidur. Cowok itu malah menatap sebuah foto yang ia ambil diam-diam saat di kelas. "Thanks, Ava karena lo udah kasih gue kesempatan untuk menjadi pahlawan walau hanya sekali ini saja."


...***...


...Fiuh! Akhirnya kejadian malam ini selesai juga. Eits, belum sepenuhnya selesai!...


...Masih ada beberapa masalah lagi!...


...***...


...Ditulis tanggal 22 November 2020...


...Dipublish tanggal 12 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2