Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 61 ~ Sabar


__ADS_3

...



...


Beberapa hari ini setelah kejadian di kedai kemarin, sikap Alan tiba-tiba saja menjadi sangat cuek pada Ava. Oh, bukan! lebih tepatnya tidak perduli lagi, berbeda seperti sebelum-sebelumnya.


Mungkin juga, bisa di bilang kalau hubungan Alan dan Ava sedang renggang tanpa alasan yang jelas dan Ava tidak tahu apa itu.


Gadis itu juga sudah meminta nomor Alan ke Agnes. Sayangnya, saat ia mengirim pesan pada Alan, cowok itu selalu membalas hanya dengan beberapa kata seperti "Oh", "Hmm", "Iya", "Oke" dan bahkan terkadang emoji saja yang itu entah tidak jelas mengartikan apa.


Gadis itu tetap berpikir positif akan apa yang terjadi saat ini. Ava membuang jauh-jauh pikiran negatifnya, dan berharap ada keajaiban datang menghampirinya.


***


Ava duduk di anak tangga toko depan sekolah, sedangkan Ana dan Agnes duduk di bangku yang sama. Mereka bertiga sama-sama saling mengobrol santai sambil membahas lomba-lomba yang akan diadakan pada saat tanggal tujuh belas Agustus mendatang.


Detik berikutnya, Ava melihat ada Justin yang datang ke sekolah, diiringi Alan dari belakang yang memakai hoodie navy agak ke abu-abuan yang biasa cowok itu pakai. Justin sudah masuk ke dalam sekolah dan hanya Alan yang masih di tengah jalan bersiap untuk menyebrang.


Ava tersenyum melihat cowok itu dari jauh, ditambah dengan cahaya matahari yang dipantulkan dari helm abu-abu Alan. Ia merasa senang dan bangga saat Alan mau bersamanya.


Tapi beberapa detik kemudian, senyum Ava perlahan-lahan menghilang saat dari jauh Ava melihat ada truk warna biru yang melaju sangat kencang dari arah berlawanan.


Jantung gadis itu berdegup tidak karuan, nafasnya memburu tidak terkontrol, dan juga mata Ava mulai berkaca-kaca mengeluarkan cairan bening dari sana.


"Alan pergi, Lan!! Alan, jangan di sana! Alan dengerin gue!! Alan, gue di sini!!"


Berulang kali Ava terus meneriaki Alan untuk segera pergi dari sana, tapi sayangnya cowok itu sama sekali tidak mendengar dan terus menoleh ke kanan kiri bersiap untuk menyebrang karena sedari tadi jalanannya ramai, jadilah Alan belum ada kesempatan untuk menyebrang.


Ava beranjak dari duduk untuk menyelamatkan Alan dari maut yang mungkin sebentar lagi bisa saja menghampiri sang pacar. Tapi anehnya, kakinya tidak mau bergerak atau pindah dari tempatnya. Tidak tinggal diam begitu saja, Ava berusaha sekuat tenaga agar bisa bergerak dan menyusul Alan untuk menyelamatkan cowok itu.


Cairan bening sudah membasahi pipi dan lehernya. Ava menoleh ke arah Agnes dan Ana untuk meminta pertolongan dari mereka berdua.


"Agnes! Ana! Bantuin gue! Itu Alan mau ditabrak!" teriak Ava pada kedua sahabatnya.


Ava menjambak rambutnya frustasi dan semakin terisak saat Agnes dan Ana tidak bergerak sama sekali. Ava melihat lingkungan sekitarnya. Dan benar saja, tidak ada yang bergerak kecuali Ava, Alan, dan truk biru itu. Waktu seakan berheti dan tidak membiarkan Ava menyelamatkan Alan sebentar saja.


"Alan! Awas di belakang lo, Lan! Alan pergi dari sana, Alan!" teriak Ava masih terisak dalam tangis. Gadis itu berulang kali mengusap air matanya tapi tetap tidak berhenti juga, bahkan tidak ada tanda-tanda kalau sumbernya akan mengering.


Brak


"Alan!!" jerit Ava semakin histeris dan tidak terkendali. Gadis itu tertunduk lemas dengan pandangannya menatap lurus ke objek utama. Walau begitu hatinya sangat, sangat, dan sangat hancur.


Tangis Ava langsung menjadi-jadi saat itu juga tatkala melihat truk warna biru itu sudah menabrak belakang motor Alan dan juga sang pemilik. Cowok itu terguling beberapa meter dari gerbang sekolah dengan posisi tengkurap dan wajah tidak terlihat karena tertutupi oleh rambut. Belum lagi kaca depan helm Alan yang pecah.


Ava menepuk paha dan lututnya berkali-kali, menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang menimpa Alan karena tidak bisa menyelamatkan cowok itu. Gadis itu kembali menatap Alan yang ada di sana. Ava bingung apa Alan masih hidup atau sudah tidak bernyawa, karena di sana tidak ada darah sama sekali. Bagian belakang motor matic Alan yang rusak parah dan berceceran di mana-mana.


Hati gadis itu rasanya hancur berkeping-keping saat hujan turun dan membasahi Alan yang tidak bergerak tergeletak di jalan. Ava tidak bisa berbuat apa-apa karena kakinya masih tidak mau bergerak.


"Alan jangan tinggalin gue, Lan. Gue ngggak mau lo pergi." Ava menelungkupkan kepalanya, tidak kuasa menatap sang pacar lebih lama lagi.


"Tuhan! Kenapa kau lakukan ini padaku? Salah apa aku sehingga kau mengambil dia dariku? Jangan ambil dia, Tuhan! Aku sayang dan mencintai dia!" Ava mendongak ke atas seolah olah berbicara pada, Sang Pencipta, masih dibanjiri air mata yang dari tadi tak kunjung berhenti.


Ava langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang amat sangat tersenggal. Gadis itu menenatap ke sekeliling kamarnya dengan raut wajah khawatir sekaligus takut.


Sumpah demi, Tuhan! Mimpi itu rasanya sangat-sangat nyata dan seolah itu pertanda akan sesuatu.


Tanpa pikir panjang dan berlama-lama, Ava langsung mengambil ponselnya di bawah bantal lalu mengirim spam chat pada Alan. Hal itu ia lakukan untuk memastikan kalau cowok itu tetap baik-baik saja.


Gadis cantik itu menggigit kuku jarinya. "Alan, lo di mana, sih? Jangan bikin gue khawatir gini."


Ava semakin dibuat khawatir dan takut saat Alan tak kunjung membalas pesannya. Ava menghela nafasnya saat melihat jam dinding di atas pintu masuk kamarnya menunjukkan pukul 05:00 pagi.


"Masih jam lima, nggak mungkin juga Alan udah bangun jam segini." Ava menyandarkan punggungnya di dinding kasur lalu mengambil segelas air putih di atas laci kecil kamarnya.


"Ternyata itu cuma mimpi," gumam gadis itu masih dalam keadaan nafas yang memburu, ia masih sangat syok.


Walaupun Ava sadar hal itu tidak mungkin terjadi saat ini karena ini juga masih jam lima pagi, tapi sebelum Alan menjawab pesannya Ava tidak akan bisa tenang. Gadis itu merasa ada yang mengalir dari pipinya.


Perlahan-lahan Ava menyentuh pipinya untuk memastikan sesuatu. "Air mata? Jadi, dari tadi pas gue tidur juga nangis?"

__ADS_1


Ava mengecek benda pipih miliknya lagi. Masih belum mendapat jawaban dari Alan. Jadinya Ava beralih mengechat Justin, karena gadis itu melihat Justin sudah membuat story WhatsApp. Saat itu juga ia bercerita dengan panjang lebar tentang mimpinya dan menyuruh Justin untuk tidak memberitahu Alan.


Justin


Mungkin karena beberapa hari ini lo terlalu mikirin Alan.


Nggak usah mikir yang macam-macam, lo pikirin aja apa yang lo yakini.


Itu balasan Justin. Ava menatap lurus ke depan kemudian mengangguk pelan.


Tapi, yang gue yakini itu, Alan ... bakal benar-benar ninggalin gue, ungkapnya dalam hati.


Ting


Ting


Ava segera melihat sang pengirim pesan tersebut, dan di sana sudah tertera nomor togel yang berara paling atas.


Perlahan-lahan senyum Ava mengembang.


+62 8254 ×××× ××××


Gue nggak papa


^^^Beneran nggak kenapa-napa, 'kan? Badan lo sehat dan baik-baik aja, 'kan?^^^


+62 8254 ×××× ××××


Iya


Kenapa emang?


^^^Allhamdulillah kalau gitu,^^^


^^^Oh. Nggak papa kok, yang penting lo hati-hati aja kalau ngelakuin apa gitu,^^^


^^^Gue nggak mau lo kenapa-napa.^^^


+62 8254 ×××× ××××


Iya


^^^Yaudah, sana sholat dulu^^^


+62 8254 ×××× ××××


Hmm


Tentu kalian bisa lihat sendirikan, perubahan sikap Alan pada Ava. Gadis itu tentu saja berpikir keras akan apa yang sudah Ava lakukan sehingga membuat Alan bersikap seperti itu padanya.


Tapi, tetap saja gadis itu tidak menyadari kesalahan apa yang ia perbuat.


***


Karena terlalu khawatir, Ava jadi mondar-mandir di depan Safira yang tengah mengerjakan PR PPKN. Rencananya gadis itu ingin menghadang Alan untuk melihat Alan benar baik-baik saja.


Untuk masalah mimpi itu, Ava berniat tidak akan menceritakan pada siapapun, dan cukup dirinya serta Justin yang tahu.


Safira yang melihat itupun lantas heran sendiri. "Lo kenapa sih, Va?" tanya Safira masih sibuk menyalin jawaban milik Ava di lks.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Safira, gadis itu langsung berjalan cepat ke arah pintu saat melihat Alan yang akan lewat di depan kelasnya. Cowok itu memakai hoodie navy ke abu-abu an, hoodie yang sama seperti yang ada di mimpi Ava tadi pagi. Kedua tangan cowok itu dimasukkan ke dalam saku dengan penutup hoodie yang menutupi kepalanya.


Alan terkejut lalu menoleh ke arah Ava yang mencekal lengan kirinya dengan sangat erat.


Mata Alan dan Ava bertemu, keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Bisa Ava lihat di sana Alan memiliki mata yang sama sepertinya, yaitu mata berwarna coklat terang sedikit agak gelap.


"Lo bawa buku PPKN nggak? Kalau bawa gue mau pinjam?" Terpaksa Ava bertanya spontan seperti itu pada Alan. Untuk saat ini karena jika bukan seperti itu Alan akan sangat susah untuk berbicara secara langsung pada Ava.


Ava yakin ini akan berlangsung untuk beberapa hari saja, dan Ava juga yakin bahwa setelah ini hubungannya dengan Alan akan baik-baik saja.


"Nggak," jawab Alan.

__ADS_1


Ava tersenyum samar kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari lengan kiri Alan, sedangkan cowok itu langsung pergi dari hadapan Ava tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir cowok itu.


Gadis itu menatap punggung Alan yang mulai menjauh sampai akhirnya masuk ke dalam kelas.


Sedetik kemudian Ava baru ingat dan menyadari sesuatu.


Mimpi itu.


Iya. Mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi saja, tapi itu adalah sebuah pertanda akan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.


Tuhan, kalau Alan ditakdirkan atau tidak ditakdirkan untuk saya, tolong beri saya sebuah tanda yang bisa membuktikan hal itu.


Itu yang tadi malam Ava katakan sebelum gadis itu memejamkan matanya.


Air mata yang Ava tahan sedari tadi mengalir begitu saja membasahi pipinya. Sadar akan ada lalu lalangnya para siswa di sana, Ava langsung menghapus jejak dan kelopak matanya yang akan mengalirkan air mata lagi. Gadis itu berbalik lalu masuk ke dalam kelas seperti tidak terjadi apa-apa.


***


"Cepetan woi!" teriak Dino yang sudah nangkring di atas motor, menunggu sang adik keluar dengan tas yang ia gendong di depan.


Diru keluar dari dalam rumah setelah berpamitan dengan sang mama. "Sabar kali, mau ngapain sih buru-buru segala?"


Gadis montok yang cantiknya natural itu naik ke atas motor sport abangnya.


"Telat gue! Ini udah jam berapa, lo baru siap-siap?"


Dino menjalankan motornya sesaat saat sang adik sudah ada di boncengan. "Sepuluh menit lagi gue udah bel ogeb!"


"Hati-hati, ya! Dino jangan ngebut!" peringat Chelsea yang berdiri di ambang pintu.


"Iya!" balas Dino ikut berteriak.


"Yaelah, rajin banget lo jadi orang. Gue masuk aja kadang jam setengah delapan nggak di apa-apain," pungkas Diru yang membuat Dino sangat ingin menabok mulut adiknya itu.


Setelah keluar dari komplek rumah, barulah Dino menambah kecepatan motornya. Diru masih biasa-biasa saja karena gadis itu sudah sangat sering diajak kebut-kebutan oleh sang kakak.


"Itu mah lo anak setan yang nggak pernah masuk tepat waktu! Kalau gue sampai telat, ini gara-gara lo yang kelamaan mandinya. Lagian, biasanya lo berangkat pakai motor sendiri? Kenapa kali ini lo mau diantar sama gue?"


"Emang, ada hukumnya kalau seorang adik nggak boleh diantar sama abangnya? Gue juga pengen kali kayak anak-anak lain."


Ciiiiiit


Nyeeeet


Belum sempat Dino menjawab pertanyaan sang adik, cowok itu malah mengerem motor secara tiba-tiba karena ada ayam betina yang lewat.


"Waw enak," desis Dino tanpa sadar setelah merasakan ada sesuatu yang mendesaknya dari belakang.


Diru turun dari motor kemudian menabok kakaknya itu. "Mentang-metang gue montok, terus lo bisa ngambil kesempatan adikmu yang suci ini? Gue bilangin, Bunda, nanti kalau pulang!" Menabok kasar wajah sang kakak yang terbalut helm untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Dih! Siapa yang ngambil kesempatan?!" bela Dino galak.


Diru melangkahkan kaki lebih cepat dengan raut wajah murka ke arah gadis yang sudah menunggunya di gerbang sekolah.


"Kakak lo ganteng banget, sih! Beruntung banget deh jadi lo," celetuk Naura- teman sebangku sekaligus sahabat Diru di sekolah.


Diru menoleh ke arah sang kakak. "Ganteng apaan? Sok ganteng mah iya!" sindir gadis berusia lima belas tahun itu dengan sengaja supaya sang kakak mendengarnya dengan jelas.


"Jangan salahin gue woi! Salahin tuh ayam betina yang tiba-tiba nongol!" teriak Dino sebelum cowok itu pergi dari sana, ngebut mengendarai motor ke sekolah supaya tidak terlambat.


...***...


...Menurut kalian mimpi itu berarti, bertanda, dan bermakna apa?...


...Kalian percaya nggak sih kalau mimpi yang dialami sama Ava terjadi di dunia nyata?...


...***...


...Ditulis tanggal 07 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 19 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2