
...
...
Kini, sudah genap satu bulan Aras mengajari Ava cara bermain gitar dan lain sebagainya. Gadis itu juga sekarang sudah bisa walaupun tidak jago-jago banget. Ia pikir, bermain gitar itu mudah, tapi jika dilakukan ternyata cukup susah.
Karena minggu depan Ava sudah semester dua untuk kenaikan kelas, jadi fokus gadis itu terarah kesana. Selain itu juga satu bulan lagi Aras ujian dan dua minggu setelahnya akan diadakan wisuda.
"Lo yang semangat ngerjain tesnya, jangan sampai tinggal kelas," peringat Aras.
Saat ini Aras dan Ava ada di taman belakang sekolah, baru saja tadi Ava selesai bernyanyi dengan diiringi gitar.
Gadis di depan Aras tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapi miliknya. "Iya, Kak Aras juga jangan mikirin apa-apa selain persiapan ujian."
Aras tersenyum sebagai jawaban, cowo itu mengambil hp dari saku karena mendengar suara 'beb' diiringi getaran.
Kerudung
Balik coy ke kelas. Lo belom ngerjain PR matematika, Bu Musri minta sekarang dikumpulin,
^^^Aras^^^
^^^Lo nggak bisa nyalin? Ganggu lo ah gue lagi sama Ava,^^^
Kerudung
Nggak bisa. Kalau gue bisa nggak akan gue chat lo. Anak-anak juga pada gelagapan nyari contekan dari kelas lain, karena pada lupa tadi.
^^^Aras^^^
^^^Ya udah, gue balik.^^^
^^^'Read''^^^
Kalian tentu tahu siapa kontak bernama kerudung itu? Tentu, jawabannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah si kalem Gilang.
Aras kembali memasukkan hp nya ke dalam saku, ia berdiri dan membuat Ava juga ikut berdiri.
"Eum ... gue balik duluan yah. Lo nggak papakan gue tinggal?"
Ava menepuk lengan Aras beberapa kali sebagai tanda kalau ia mengizinkan Aras pergi. "Iya, nggak papa kok."
Cowok itu melambai seraya berkata, "Bye."
Ava melambai sebentar sebelum Aras pergi dari hadapannya, tapi detik betikutnya gadis itu membalikkan badan dengan cepat. "Kak Aras!" panggilnya sebelum Aras benar-benar pergi dari balik pintu
Kepala Aras menyembul di balik pintu. "Iya?"
"Makasih, karena sebulan ini lo udah ngajarin gue main gitar dengan sabar. Makasih, karena udah ngeluangin waktu lo buat gue sehingga lo ninggalin sahabat lo. Makasih, karena udah ngerepotin lo dari awal masuk sekolah sampai sekarang. Dan, makasih karena udah setia nunggu gue walaupun lo tahu kalau gue belum bisa,"
Aras nampak tertegun dan tidak menyangka sang gadis bisa mengatakan itu semua. Ada rasa khawatir saat Ava mengatakan itu dengan nada bergetar, seolah-olah apa yang Ava katakan benar-benar tulus dan tidak dibuat-buat.
"Jangan bersikap seolah-olah gue adalah malaikat pelindung lo, karena apa yang lo lakuin itu atas kemauan dan usaha keras lo sendiri. Beribu kesalahan bisa ditebus hanya dengan satu kebaikan jika tulus dari hati yang paling dalam. Benar, bukan?"
Untuk terakhir kalinya Aras tersenyum sebelum cowok itu benar-benar pergi dari sana meninggalkan Ava yang berdiri tak bergeming.
"Iya, itu benar," jawabnya pelan.
***
Hari ini pun tiba. Hari di mana seluruh siswa dan siswi SMA Negeri Tri Bakti melaksanakan semester dua kenaikan kelas.
Kali ini suasananya berbeda, cukup terlihat sedikit sepi karena kelas XII diliburkan untuk menjalani kegiatan belajar di rumah sekaligus refreshing agar tidak terlalu stres menjelang ujian.
__ADS_1
Setelah kelas X dan XI selesai menjalankan semester dua kenaikan kelas, giliran mereka yang diliburkan dan kelas XII masuk untuk tryout yang ke sekian kemudian ujian penentuan kelulusan.
Ava ada di kelas XII Ips 2 dengan teman sebangku seorang perempuan berponi bernama Amelia Ariana.
Seperti biasa, Ava selalu mengecek kembali lembar jawabannya sebelum maju ke depan untuk dikumpulkan. "Finish," ujarnya pelan setelah mengecek semua jawaban tidak ada yang tertinggal.
Gadis itu maju ke depan untuk mengumpulkan, mengambil tas kemudian memberesi barang-barangnya di meja. Kembali ke depan lagi untuk menyalimi guru yang bertugas sebagai pengawas.
"Assalamu'aikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam."
Kedua pengawas itu laki-laki, yang diketahui namanya Pak Marioto dan Pak Mariono. Namanya hampir serupa, namun wajahnya tidak sama.
***
"Yuk, ke kantin!" sambar sang sahabat yang sudah menunggu di bibir pintu saat Ava keluar dari kelas.
Tanpa berlama-lama kedua gadis itu langsung pergi ke kantin untuk mengisi tenaga.
***
"Woi! Sini! Duduk sini!" teriak Dino tidak tahu malu, bahkan di saat semua siswa dan siswi menatapnya.
Safira dan Ava menyusul teman-temannya yang selalu duduk di bagian pojok kiri. Ada Revan, Ana, Syarifa, Agnes, dan selalu ada Dino.
"Bikin malu lo!" damprat Syarifa memukul pelan punggung Dino.
"Biarin," jawab cowok itu kembali sibuk dengan benda pipih di tangannya.
"Eh bentar. Kenapa, ya, kita kalau kumpul makan tuh selalu di sini? Nggak ganti di tempat duduk lain gitu dan selalu di pojokan? Entah cuma sugesti gue aja atau gimana, para siswa dan siswi SMAN Tri Bakti nggak pernah ada yang duduk di sini walaupun kita datangnya kadang suka telat? Padahalkan bisa aja mereka duduk di sini karena nggak ada tempat duduk lagi, tapi saat kantin seramai apapun nggak pernah ada yang duduk di sini. Aneh nggak, sih?" Ana membuka suara sembari menunggu ibu kantin datang menawarkan menu.
Mereka semua yang ada di sana pun juga bingung kenapa bisa seperti itu.
"Kalian juga sadar nggak sih kalau kita ada apa pun itu entah ada masalah, ada yang mau dibahas, kejadian yang terjadi, penyelesaian masalah, tempat menenangkan diri, tempat yang paling sering dikunjungi, dan masih banyak lagi itu adalah taman kecil di belakang sekolah?" Agnes menjeda kalimatnya, menatap semua teman-temannya. "Seolah-olah taman belakang sekolah itu adalah tempat paling istimewa bagi kita semua, dari awal sampai sekarang dan entah sampai kapan."
Ava tersenyum sangat lebar. "Iya juga, ya? Kok, gue baru sadar sekarang sih?"
"Iya, tempat itu seakan selalu menarik kita ke sana. Wah, ada apa nih? Kayaknya, kita harus cari tahu. Siapa tahu ada rahasia tersembunyi di sana," sahut Revan ngarang.
"Genre cerita ini itu teenfiction, komedi, dan romantis. Bukannya mystery yang nyari-nyari gituan!" damprat Safira menatap sinis Revan yang berada di depannya.
"Ya nggak papa lah, ditambahin genre mystery gitu, 'kan, pasti seru banget. Iya nggak?" balas Revan tak mau kalah.
"Halah! Nggak usah nyari gituan! Matematika bab titik koordinat aja lo masih belum paham! Pake belaga jadi detektif mengungkap rahasia taman belakang!" Safira berkacak pinggang dengan matanya yang melotot ke arah Revan. "Nggak usah belagu! Nanti meninggal!"
Revan ikut berkacak pinggang sambil melototkan kedua matanya. "Apa lo bilang?!"
Semua yang ada di meja itu hanya bisa menunduk malu di saat seluruh siswa dan siwi yang ada di kantin menatap mereka semua. Sepertinya ke lima remaja tersebut akan mundur dan memecat kedua suami istri itu sebagai teman mereka.
Setelah ini, mereka semua juga yakin kalau Revan akan segera menalak tiga Safira.
"Pada mau pesan apa?"
Semuanya mendongak menatap cengo ibu kantin yang tiba-tiba datang, pertengkaran Safira dan Revan juga terhenti.
***
Hari berganti minggu, dan minggu kini berganti bulan. Sudah saatnya para siswa kelas XII melaksanakan ujiannya dan para siswa serta siswi kelas X dan XI yang hanya berleha-leha saja di rumah menikmati liburan setelah semester dua kenaikan kelas.
Raport kelas X dan XI sudah diberikan dua minggu setelah selesai semester dua, dan mereka semua pun hanya tinggal menunggu sang kakak kelas selesai ujian agar bisa masuk ke kelas berikutnya.
Seperti biasa, sekolah elit dan sekolah favorit seperti SMAN Tri Bakti tidak pernah mengecewakan para guru dan orangtua. Sudah sekitar sepuluh tahun berturut-turut setelah di bangunnya sekolah itu, para siwa dan siswinya selalu menang dalam hal nilai ditingkat nasional maupun international daripada sekolah lain. Maka dari itu setelah keluar dari sana para siswa dan siswinya yang kuliah sebagian besar mendapat beasiswa baik di universitas negara sendiri maupun dari negara lain, sedangkan kalau yang kerja akan mendapat rekomendasi dari guru atau diambil oleh perusahaan besar dengan perkerjaan yang sangat menguntungkan.
Semua siswa nampak mengetikkan nama dan sandi di komputer yang sudah ada tepat di depan mereka sebagai tanda kalau mereka semua siap untuk mengerjakan berbagai macam soal hots yang sudah disediakan pemerintah.
__ADS_1
"Silahkan dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Diteliti dengan tajam, dan jangan terburu buru agar kalian tidak kecewa dengan hasilnya nanti!" ucap guru pengawas laki-laki dari sekolah lain yang entah namanya siapa dan dari sekolah mana.
Aras tidak terlalu memperdulikan hal itu.
"Iya, Pak!" jawab seluruh siswa.
Aras memejamkan mata sebentar, bayangan yang pertama muncul yaitu bayangan kedua orangtuanya. Bayangan kedua yang muncul adalah sahabat tercintanya yaitu Uki dan Gilang yang melambai ke arahnya. Dan, bayangan ke tiga yang muncul yaitu bayangan seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arahnya sambil berkata, "semangat" tanpa suara.
Aras tersenyum sangat lebar, semangatnya berkobar semakin membara. Ia membuka mata kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengarahkan mos untuk menekan tombol "Masuk" yang akan menuntunnya melihat semua soal-soal.
***
Setiap detik dan waktu adalah hal yang sangat berharga. Setelah para siswa dan siswi kelas XII bergelut dengan berbagai macam jenis soal baik mudah maupun susah, akhirnya mereka semua telah selesai melaksanakan kewajiban tersebut. Hebatnya lagi nilai mereka semua kembali menang dalam hal nilai ditingkat nasional. Para guru, orang tua, dan terutama diri mereka sendiri bangga akan pencapaian yang semakin tahun selalu berkembang.
Surat berisi keterangan lulus tidaknya pun sudah diterima para siswa dan siswi untuk dihadiahkan ke orang tua saat pulang ke rumah nanti, menyambut anaknya masing-masing dalam kegembiraan yang menghangatkan.
***
Siswa kelas XII memilih kemeja putih dan celana hitam didampingi dasi berwarna hitam sebagai pakaian wisuda mereka. Sedangkan siswi kelas XII pun juga sama, mereka memilih kemeja perempuan lengan panjang dan rok hitam panjang didampingi dasi hitam berwarna hitam.
Jika yang beragama islam dan yang berkerudung, maka kerudungnya dimasukkan kedalam kemeja, sedangkan yang non muslim rambutnya ditata rapi kemudian disanggul setengah kepala.
Seharusnya yang laki-laki itu memakai satu setel jas, sedangkan yang perempuan memakai kebaya. Tapi, para siswa dan siswi menolak dengan alasan akan ribet dan susah menata ini dan itu.
Sudah tiga tahun mereka semua berbagi tawa, suka, dan duka dalam keadaan apa pun. Sudah tiga tahun lamanya mereka bersama-sama sampai membentuk sebuah ikatan satu sama lain. Dan, sudah tiga tahun lamanya mereka semua berbagi cerita dan pengalaman selama di SMAN Tri Bakti.
Kini, saatnya mereka diwisuda satu persatu dan naik ke atas panggung kemudian para guru akan mengalungkan samir dan berhak menerima pencapaian mereka selama tiga tahun belajar di sini. Dan, betapa bangganya para orang tua saat menyaksikan anak-anaknya tumbuh berkembang sebagai anak yang berpendidikan.
Ada sekitar sepuluh anak yang kini tengah berdiri di atas panggung menerima piagam serta sejumlah uang untuk mengapresiasi para siswa dan siswi nya sebagai sepuluh siswa terpintar kelas XII angkatan ke sepuluh.
"Bapak dan ibu guru hadirin sekalian, inilah para siswa dan siswi kita yang berprestasi di sekolah ini. Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah kepada mereka!"
Prok
Prok
Prok
Suara tepukan, ratusan bahkan ribuan pasang tangan tangan menggema di seluruh sekolah. Harusnya acara wisuda ini diadakan di aula utama sekolah, tapi di karenakan ada tamu undangan dan para siswa serta siswi kelas X dan XI jadi acara ini diatur dengan sedemikian rupa mewahnya di lapangan utama sekolah.
Seorang gadis dengan seragam putih abu-abunya nampak gugup di samping panggung. Sang sahabat nampak terus menenangkan sang gadis dengan cara menepuk pelan punggungnya.
"Sabar Ava, jangan gugup!" peringat Safira.
"Tapi gue gugup banget!"
"Itu wajar, karena ini adalah kali pertama lo tampil di depan orang banyak," timpal Ana yang juga ada di sana.
"Lo tenang aja. Kan, lo udah latihan berhari-hari, jadi pasti bisa kok." Agnes ikut menenangkan.
Tenang, Ava, batinnya dengan menghembuskan serta menarik nafas dalam-dalam.
Sepuluh siswa paling berprestasi tadi sudah turun dari atas panggung lalu duduk di kursi mereka masing-masing.
"Okay! Para hadirin sekalian! Bapak dan Ibu guru, para tamu undangan, para orang tua murid serta siswa dan siswi kelas XII yang saya hormati. Kini, giliran seorang gadis cantik berambut sebahu yang akan menyanyikan beberapa lagu sebagai persembahan selanjutnya. Mari kita sambut ..." Mc perempuan itu menoleh ke arah samping panggung menatap sang bintang utama, "... Ava Angelina Putri!"
...***...
...Swipe up untuk melanjutkan! Jangan lupa vote, saran, dan komen terus!...
...Ditulis tanggal 23 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 27 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....