
...
...
09:20
Saat ini Ava dan Alan ada di perpustakaan, karena Ava yang meminta Alan untuk menemaninya. Hari ini Safira sakit jadi tidak berangkat ke sekolah, sedangkan Ana dan Agnes tidak mau mengantarkan.
...
...
Perpustakaan di sini cukup ramai, karena banyak sekali novel-novel yang sangat cocok dengan anak remaja.
Ava ingin mencari novel karena Ava bosan membaca novel online. Hal itu membuat matanya pegal.
Alan mencari rak di sebelah utara, sedangkan Ava di bagian selatan.
"Udah ketemu belum, Lan?" tanya Ava yang masih mencari-cari novel.
"Belum," jawab Alan. Sebenarnya ia tidak mencari novel tapi malah melihat Ava dari celah-celah rak buku.
"Va, gimana kalau kita duduk sebentar?" tawar Alan.
Ava menoleh, dengan sesegera Alan membalikkan badannya dan berpura-pura mencari novel, takut jika Ava melihatnya.
"Kenapa? Kan, belum ketemu novel yang gue mau," jawab Ava menyusul Alan dan berdiri di depannya.
Ava terlalu lelet jadi Alan menarik tangan gadis itu dan duduk di kursi berdua. Alan sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada Ava, tapi Alan ragu kalau Ava akan menolaknya.
"Mungkin, kalau gue ajak dia dinner kira kira mau nggak, ya?"
"Nanti, dikira ikut-ikutan kayak, kak Aras?"
"Lan," panggil Ava menepuk bahu alan.
"Aa iya, Va, mendingan kita cari di toko buku aja?"
Ava berpikir sebentar. "Mau deh, lo yang ngajak berati lo yang beliin loh, yaa?"
Alan tersenyum lalu mengangguk. "Iya ..."
Mereka berdua bangkit dan beranjak kembali ke kelas. Saat mereka sudah di luar, tiba-tiba Aras datang dengan nafas tak beraturan.
"Ava!"
Ava diam dan tak menjawab ia memalingkan wajahnya. Sedangkan Alan ia menatap datar ke arah Aras, Alan menarik tangan Ava untuk menjauhi Aras, tapi tangan Ava juga di tarik oleh Aras.
"Va, gue mau minta maaf sama lo soal tadi malam ..."
"Kata temsn lo tadi yang namanya Revan sama Dino, lo kesini mau cari novel, yah?"
"Lo mau nggak pas pulang sekolah nanti ketoko buku? Gue beliin deh berapapun yang lo mau. Asal lo mau maafin gue,"
Alan memutar bola matanya malas, kenapa di mana-mana selalu ada Aras, Aras, dan Aras, tak bisa, kah, mahluk yang tak di ketahui namanya itu membiarkan Alan bersama Ava sebentar?
Ava menatap Alan sebentar, sebenarnya Ava tergiur dengan ajakan Aras, karena Ava ingin membeli banyak novel bukan hanya satu.
"Kalau gue nolak, nanti kiranya gue nggak maafin dia, dan rencana gue buat jadian sama dia gagal,"
__ADS_1
"Tapi kalau gue mau, gue udah janjian sama Alan."
Ava berbalik dan membisikkan sesuatu ke Alan. "Alan, janjian kali ini lain kali aja, yaa? Kasian loh Kak Aras udah minta maaf masa gue kacangin?" Ava berkata sangat manis, sehingga membuat Alan ingin mencakar wajah Ava.
"Halah bilang aja lo pengen banyak novel, yang berduit dong yang dipilih." gerutu Alan dalam hati.
Alan menghela nafasnya. "Iya, nggak papa."
Alan hanya bisa pasrah dan membiarkan Ava menentukan pilihannya.
Karena disini Ava lah peran utamanya, Alan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika orang yang di sayanginya menyukai orang lain.
"Makasih, Alan ...." Ava mengelus pipi Alan sambil tersenyum, lalu beralih ke Aras.
Ava tersenyum senang, tapi Ava masih tidak berani menatap mata Aras, jadinya Ava menatap ujung rambut depan Aras. "Yaudah deh Kak, gue mau."
Aras tersenyum senang, Alan tidak mau dan sangat malas melihat senyum Aras. Bagi Alan sangat mengerikan itu, jadi Alan menarik tangan Ava menjauhi Aras.
Selama perjalanan ke kelas Alan menuntun Ava berjalan dengan memegang ke dua bahu gadis itu, karena Ava yang entah gila atau stress berjalan tanpa melihat kedepan, bisa-bisa kalau Alan tidak menuntunnya, Ava terjungkal dari lantai dua jatuh lalu mati, Alan tidak mau itu terjadi.
Dan sampai Ava duduk di bangku kelasnya pun Ava tidak henti-hentinya tersenyum dan menjerit. Sampai-sampai Alan saat itu ingin sekali menabok mulut Ava dan berteriak kalau Alan cemburu pada Aras.
***
Alan duduk di bangkunya, menatap keluar jendela. Cowok itu melamunkan sesuatu, tapi lebih tepatnya memikirkan sesuatu.
Justin datang dan menepuk bahu Alan. "Lo kenapa? Di tolak sama, Ava?"
"Gue belum nembak Ava," jawab Alan seadanya, tanpa memalingkan wajah.
"Terus kenapa, Lo?"
"Nggak papa sih ..." Menoleh ke arah Justin, "... harus gini terus, ya?"
Jadi?
Apa yang di maksud Alan dan Justin? Apa ada yang di sembunyikan Alan dari Ava atau dari yang lainnya juga?
***
15:30
Sesuai perjanjian, kali ini Ava dan Aras ada di toko buku. Aras membantu mencarikan novel yang Ava mau.
...
...
Di sini tidak cukup ramai, hanya ada beberapa orang saja, mungkin karena sudah sore.
Ava sudah membawa tiga novel, dan Ava sangat yakin kalau Aras tidak keberatan akan hal itu.
Di sisi lain ada cowo dengan hoodie coklat tua yang diam-diam mengamati kedua orang berdosa itu dari sisi lain di dalam toko buku. Tentu saja dia Alan.
Alan menutupi wajahnya dengan buku dan berpura-pura memilih buku, kalau tidak karena Ava, Alan sangat, sangat, sangat, dan sangat malas melakukan semua drama ini.
Alan cemburu dengan Ava dan Aras, karena Alan mendengar mereka berdua tertawa bersama. Alan mau di posisi Aras karena Ava menyukai Aras.
Aras menyusul Ava yang tengah memilih buku dan berdiri di belakangnya
"Ava," panggil Aras.
__ADS_1
Ava menoleh ia terkejut mendapati Aras berada sedekat ini dengan dirinya. Awalnya Ava menatap wajah rupawan Aras, tapi karena malu Ava beralih menatap ujung rambut Aras.
Aras meletakkan kedua tangannya di sisi kana dan kiri kepala Ava, sehingga Ava tidak bisa bergerak atau keluar dari sana. Aras menatap Ava sangat intens, mengamati setiap lekukan yang di pahat sangat sempurna daru wajah gadis di depannya ini.
Ava takut kalau Aras akan melakukan sesuatu padanya dengan keadaan sedekat ini.
Ava bisa merasakan hembusan nafas Aras yang mengenai wajahnya. Nafas Aras tidak bau tapi justru ada wangi-wangi mint nya gitu.
Setelah kejadian ini Ava akan bertanya Aras memakai pasta gigi apa dan akan langsung Ava beli.
Alan yang ingin tau apa yang di lakukan kedua orang biadap itu. Jadi, Alan putuskan untuk menggagalkan rencana Aras mendekati Ava.
Alan diam, ia melihat semuanya, tidak mungkin Alan tidak melihatnya, karena Alan mempunyai mata, bahkan memiliki dua mata, di sisi kiri dan kanan.
Alan terdiam menatap kedua orang itu yang saat ini sangat, sangat, sangat berdosa, tidak bisa di hitung dengan logika berapa sangat berdosanya.
Sungguh keterlaluan. Mereka bermesraan di tempat umum, kalau Alan mau Alan bisa melaporkan kejadian ini atas pasal 281 ayat 1 dan 2 KUHP atas asusila di tempat umum, yang bukan tempat umum, tetapi yang dapat di lihat atau di dengar dari tempat umum, atau juga di depan orang lain.
Tapi karena Alan tidak seribet dan tidak perduli tentang hal itu. Jadi Alan tidak mau, saat ini Alan hanya perduli dengan hatinya yang sakit karena Ava dan mahluk tidak jelas itu.
Ava yang menyadari ada seseorang yang berdiri dan menatapnya, beralih menatap orang itu yang sudah pergi menuju kasir dengan tergesa-gesa.
Alan membayar buku yang di bawanya tadi. Ia tidak perduli apakah buku itu bagus atau tidak, karena Alan tidak akan membacanya.
Ava tahu siapa orang itu, karena bisa di lihat dari postur tubuh, seragam serta tas yang di pakainya. Ava menjauhkan Aras dari diri nya, lalu berlari menyusul orang itu.
Tapi saat Ava sudah ada di kasir cowo itu sudah sudah pergi dari balik pintu. "Alan!" panggil Ava frustasi. Mengusap rambutnya ke belakang.
Aras terkejut mendengar nya. Jadi gara-gara ini Ava mendorong Aras sampai kepala Aras terbentur rak buku.
Ava terdiam menatap kepergian Alan, ia memikirkan sesuatu. "Pasti Alan tadi liat semuanya!"
"Nanti kalau Alan nyebar kejadian itu gimana? Pasti nanti gue bakal di tuduh yang enggak-enggak sama orang,"
"Apalagi siswa di sekolah SMAN Tri Bakti Jakarta mulutnya kek cabai Carolina Reaper, saking pedasnya,"
"Aduh gimana, nih? Nanti gue harus chat, Alan!"
Aras sebal Ava hanya diam menatap kepergian Alan. Adik kelasnya yang berwajah standar itu mengacaukan semuanya, tidak seperti dirinya yang berwajah di atas rata-rata.
"Ava!" panggil Aras mencoba menyadarkan sang gadis.
Ava menoleh tersadar akan lamunannya. "Aah, iya pasta gigi lo merk apa, Kak?" tanya Ava spontan karena terkejut.
Aras mengernyitkan dahinya, tadi Aras yang terbentur rak buku, tapi kenapa Ava yang seperti orang linglung.
Ava yang sadar apa yang ia bicarakan, jadi ia hanya mencengis lebar. "Ah, udah nggak papa, ayo bayar." Ava memberikan tiga novel ke Mbak penjaga kasir untuk di bayar.
"Yah nggak jadi deh sepuluh novelnya, malah dapt cuma tiga, gara gara Alan sih,"
"Tapi Kalau nggak ada Alan tadi, gue pasti udah .... " batin Ava.
Ia menatap Aras sekilas, lalu beralih menatap ke bawah, tepat nya ke arah ujung sepatunya.
...***...
...Ditulis tanggal 30 April 2020...
...Dipublish tanggal 18 Februari 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1