Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 111 ~ Menyebalkan!


__ADS_3

...



...


"Lo, ngapain di sini?" tanya Safira begitu terkejut. Pasalnya tadi pagi sebelum Safira berangkat bersama yang lain, Revan tidak ingin ikut karena katanya ada urusan mendadak di kampus, dan tiba-tiba sekarang cowok itu ada di sini?


"Kurang lebih selama hampir tiga tahun lamanya gue memendam sebuah rasa sama lo. Rasa yang nggak akan pernah bisa gue jelasin dengan kata-kata."


"Kepribadian lo yang kasar, keras kepala, dingin, suka memerintah, suka seenaknya, bawel, dan apa adanya membuat gue berpaling dari gadis bernama Ava. Sikap lo yang selalu seperti itu lama-kelamaan membuat gue muak, kesal, marah, namun juga ada rasa nyaman yang terselip di dalamnya."


"Rasanya, gue ingin berteriak sekeras mungkin saat tiga tahun yang lalu gue tahu kalau lo juga ada rasa sama gue." Revan maju mendekati sang gadis, mengikis jarak sampai setengah meter.


Safira diam tak bergeming dari tempatnya, menunggu Revan menyelesaikan rangkaian kalimat yang sudah ia susun serapi dan sebaik mungkin dari lubuk hati.


"Lo tetap menunggu walaupun gue belum memberi sebuah kepastian yang pasti, karena lo pun juga tahu kalau gue belum siap untuk itu."


"Ava memang cinta pertama gue di SMA, tapi lo, Safira adalah cinta seumur hidup gue. Dan, gue hanya ingin ada dua wanita yang mengisi setiap hari-hari gue tanpa pergi meninggalkan ruangan itu. Selain Ibu, itu adalah lo, Safira Oktaviana." Revan menekankan dua kata terakhir kemudian berlutut seraya menyodorkan sebuket bunga mawar."


"Setelah penantian panjang, hari ini, di tempat ini, dan disaksikan oleh seluruh siswa SMAN Tri Bakti, lo mau nggak jadi pacar gue?"


Safira masih diam mematung di tempat, beberapa detik gadis itu terkesiap seakan terhipnotis dengan kalimat yang dilontarkan cowok di depannya.


Ini ia benar tidak salah dengar atau gendang telinganya yang rusak? Selama ini Revan bahkan belum pernah mengatakan kalimat sepanjang ini. Cowok itu juga jauh dari kata romantis. Tapi, ini?


"TERIMA!"


"TERIMA!"


"TERIMA!"


Teriak para siswa dan siswi di sana seraya bertepuk tangan secara bersamaan.


Di iringi kristal bening yang jatuh saat gadis itu berkedip. Safira tersenyum sembari menerima sodoran bucket bunga mawar kemudian mengangguk seraya berkata lirih, "Iya. gue mau. Gue mau menjadi wanita yang menemani setiap hari-hari lo selain Ibu. Cuma gue di hati lo, dan akan selalu begitu."


Revan bangkit diiringi tepukan serta sorakan keras oleh para siswa dan siswi di sana, kemudian langsung memeluk erat gadis yang dicintainya.


Sesaat sahabat dan teman Safira terpaku melihat gadis itu sampai menangis mengeluarksn air mata. Melihat Safira berkaca-kaca pun bisa dihitung dengan jari, tapi kalau untuk sampai mengeluarkan linangan air mata yang beranak pinak, baru kali ini saja. Hal itu sangat langka dialami Safira.


Ava saja yang melihat itu ikut berkaca-kaca.

__ADS_1


Kisah cinta lo happy ending, Bro. Kisah cinta Dino dan Maudi juga happy ending. Tapi, kisah cinta gue dan dia justru nggak sesuai dengan harapan dan impian yang gue bangun selama ini dengan sepenuh hati. Gue hanya berharap, kalian semua bersyukur, saling menjaga, dan langgeng sampai ke pelaminan


Lamunan Ava buyar saat ada seseorang yang menepuk pelan bahunya. Gadis itu menoleh dan mendapati Pak Rifai satpam sekolah berdiri di belakangnya. "Ada apa, Pak?"


"Ada segerombolan remaja yang datang mencari, Neng Ava, di lapangan. Katanya mereka ingin bicara sesuatu. Saya sudah peringatkan merea agar tidak menganggu bedah bukunya, tapi mereka tetap memaksa dan tidak akan pulang sebelum, Neng Ava, menemui mereka."


Segerombolan remaja?


Itulah pertanyaan yang kini ada di otak gadis itu, tanpa berlama-lama Ava langsung keluar dari aula.


***


Dari jauh saja Ava bisa melihat mereka semua dengan jelas berjejer rapi di lapangan utama. Saking jelasnya, ia ingin mencongkel matanya keluar dari kelopak mata. Dada gadis itu terasa amat sangat sesak mengingat apa yang telah mereka lakukan dulu, menghancurkan masa kecilnya yang seharusnya bahagia di usia seusianya.


Sesampainya di sana, Ava langsung dihadiahi lemparan buku yang mengenai tepat ujung sepatunya. Perlu kalian tahu, kalau itu adalah buku novel ciptaannya. Gadis itu memungutnya. Rasa sesak di dada yang tadi muncul, kini lenyap dan digantikan rasa kemarahan yang amat sangat membara, kilatan merah terpancar jelas di mata Ava. Nafasnya memburu seolah menahan sesuatu.


Ava menatap nyalang belasan remaja laki-laki dan perempuan yang juga kini menatapnya angkuh.


"Maksud lo apa nyeritain kita semua di buku, lo? Pengen balas dendam ke kita karena perbuatan kita dulu waktu SD?" tanya cowok dengan kulit sawo matang secara kasar. Dari dulu cowok itu memang sok jagoan.


Tangan kiri Ava memegang buku, sedangkan tangan kanan gadis itu terkepal kuat penuh emosi. "Oh. Kalian juga baca novel, gue? Gue nggak pernah nyebut nama kalian loh, gue hanya menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Kalau kalian udah tahu, jadi gue nggak perlu ngejelasin panjang lebar tentang kesalahan kalian."


"Nggak usah sok deh jadi orang! Udah lah, lupain aja! Itukan cuma kenakalan anak-anak doang! Masa gitu aja lo masih ingat dan nggak maafin kita? Jadi orang mah nggak usah pendendam!" cecar cowok yang mempunyai dua gigi tengah berukuran besar.


Ava terkekeh pelan, gadis itu tersenyum seraya mengerutkan kening. "Cuma kenakalan biasa? Iya. Gue tahu itu, tapi apa harus sejahat itu? Apa harus sekejam itu? Apa harus sesering itu?"


Perlahan-lahan karena sudah tak kuat, air rasa asin itu keluar membasahi pipi dari dalam kelopak mata. "Salah gue gitu?! Kalau nggak gara-gara kalian ngebully gue dan dua sahabat gue! Gue nggak bakalan kayak gini! Kalian tentu sama sekali nggak paham dan hanya menganggap itu sebuah kenakalan biasa. Tapi, apa kalian pernah mikirin apa efek dari itu?"


"Kalian semua yang terlibat sangat sering muncul di mimpi gue, dan berakhir saat bangun tidur dada gue sesak bercampur sama air mata."


"Gue udah sangat sering mencoba melupakan hal itu, tapi nggak bisa! Semakin gue mencoba, semakin kuat ingatan itu! Seolah ingatan itu udah nyatu dan mendarah daging."


"Terkadang, gue juga berharap sama Tuhan kalau kalian akan kena karma yang lebih sakit dari apa yang gue rasain saat itu dan sekarang. Sayangnya, gue nggak pernah melakukan itu. Kalian tahu kenapa? Jawab! Jangan hanya diam dan menatap!" Ava menatap orang-orang yang dulu pernah membullynya. Ia akan selalu mengingat hal itu dan mungkin tidak akan pernah berdamai dengan hatinya. Tapi, jika Tuhan berkehendak, mungkin juga bisa.


"Itu karena sama aja gue nunjuk kalian, satu jari mengarah kalian dan sisanya ke gue. Gue juga tahu kalau gue ngelakuin hal itu, gue nggak ada bedanya sama kalian! Mulut emang sangat gampang mengucapkan kata 'maaf', tapi enggak dengan hati. Butuh bertahun-tahun lama untuk benar-benar sembuh. Itu menjadi sebuah trauma bagi gue selama ini."


"Saat gue ketemu atau berpapasan sama kalian, mulut gue selalu berhianat dan selalu menyapa basa-basi. Itu gue lakukan sekedar untuk menghormati aja, setelahnya, gue selalu ingin memotong mulut gue sampai habis supaya nggak ada lagi kata yang keluar dari mulut gue untuk kalian."


"Sampai segitunya, lo? Ya itu, 'kan, salah lo sendiri kenapa nggak mau maafin kita dan lebih menyimpan dendam! Kalau lo maafin pasti nggak akan terjadi dengan lo! " elak sinis seorang perempuan yang bentuk wajahnya agak bulat.


Ava maju satu langkah. "Iya! Sampai segitunya! Lo budek?! Kalau ada orang ngomong makanya didengerin! Jawaban atas pertanyaan lo udah gue jawab! Budek banget jadi orang!"

__ADS_1


Baru saja gadis berwajah bulat itu ingin mendamprat Ava, dari arah belakang gadis itu sudah ada empat remaja yang sangat siap menjadi tameng bagi gadis itu.


"Mau apa?" Revan, Sara, Safira, dan Maudi bersamaan.


"Bukankah gue baik? Gue yakin Tuhan itu nggak akan pernah tidur. Tanpa gue minta, Tuhan pasti bakalan kasih karma yang berlipat-lipat ganda sama umatnya atas kesalahan sekecil apa pun itu."


"Gue juga yakin kalau tuhan bakal menyadarkan dan nunjukin kesalahan kalian dengan cara yang berbeda, jadi gue nggak perlu ngotorin tangan gue untuk itu. Dan kalau gue beruntung, Tuhan pasti bakal memperlihatkan karma yang kalian dapag ke gue."


"Mulai sekarang, gue akan mencoba berdamai dengan hati gue dan mengiklaskan semuanya atas apa yang kalian perbuat. Karena apa? Kalau gue masih menyimpan dendam, kalian pasti akan selalu bahagia dan gue yang dirugikan. Kalian tentu tahu maksud gue."


"Dasar jahat!" hina cowok dengan perawakan tinggi putih.


"Gue? Jahat? Kalian yang jahat sama gue dan kedua sahabat gue!" Kali ini Ava tak akan memberi jeda pada mereka untuk membela. Ava akan sangat brutal dan menekankan apa yang ia rasakan selama ini.


"Siapa yang ngebully kita secara fisik maupun batin padahal kita nggak salah apa-apa?! Siapa yang buang terus ngeludahin alat tulis kita?! Siapa yang setiap pulang sekolah nonjokin dan jambakin kita?! Siapa yang ngehina dan nyuruh kita ganti rok karena kependekan hanya karena mau ke kolam renang doang?! Siapa yang menjauhi kita saat kalian pada salah paham soal nama yang bahkan nggak ada hubungannya?!"


Sara memegang pundak Ava untuk menenangkan gadis itu. Tapi, Ava malah menepisnya kasar. Tak pernah sekalipun mereka melihat Ava semarah ini sebelum nya.


"Siapa yang selalu memorovokasi anak-anak lain supaya ikut ngebenci dan ngehina kita?! Siapa yang selalu ngehina fisik kita kalau kita adalah anak yang jelek, kumel, dan jijik di mata kalian?! Siapa yang ngebentak, ngehina, dan jauhin gue hanya karena lupa beli jeruk untuk tugas kelulusan?!"


"Siapa yang ngejauhin kita saat kita udah sangat sering membela dan membantu kalian?! Siapa yang nuduh kalau kita mengambil kelompok kalian waktu itu?! Siapa yang selalu nyebarin berita ini dan itu tentang kita ke kelas lain?! Siapa yang ngejauhi gue tanpa alasan yang jelas sampai Ana dan Agnes ikut kalian seret buat jauhin gue?!"


"Siapa yang sengaja ngegores punggung tangan gue dengan ujung bolpoin sampai berdarah saat coba melawan?! Siapa yang ngaduin ke anak-anak lain saat orang tua kita ke sekolah untuk ngaduin tiga orang anak cowok yang udah ngebully kita di kelas lima?! Siapa yang ninggalin kita bertiga saat siang-siang kepanasan jalan kaki jauh-jauh datang kerumah kalian untuk kerja kelompok dan kalian malah pergi ke warnet?! Siapa?! Siapa gue tanya sama kalian?!" Nafas gadis itu begitu memburu saking marahnya. Kilatan bercampur tangis tergambar jelas di sana kalau gadis itu benar-benar sangat sakit hati.


Ava menyugar rambutnya, menatap semakin nyalang belasan remaja itu yang juga menatapnya diam. "Kurang?! Masih mau dengar lebih banyak lagi? Itu bukan seberapa kalau kalian ingin tahu. Atau mau gue buatin listnya sekalian?"


Ava melemparkan buku novel itu ke arah segerombolan remaja tersebut asal dan jatuh tepat di hadapan mereka semua. "Ambil! Terserah mau kalian apakan! Tapi, barang yang udah dibeli nggak bisa dikembalikan. Gue nggak hobi merengut kebahagiaan orang lain. Cukup Tuhan aja yang lakuin itu di saat dan waktu yang tepat."


Gadis itu pergi dari sana dengan perasaan yang amat sangat murka. Ia tidak perduli sekacau apa ia sekarang, karena yang terpenting sesuatu yang ia pendam selama ini sudah ia katakan dengan sangat brutal dan panjang lebar. Ava tidak akan perduli setelahnya.


Safira, Revan, Sara, dan Maudi menatap punggung Ava yang mulai menjauh kemudian mengalihkan fokus ke segerombolan remaja yang masih diam tak berkutik. Tentu, mereka tidak bisa membela, mengelak, atau membantah, karena semua yang diucapkan Ava benar adanya.


Dan, harusnya saat itu juga mereka semua menyadari apa yang telah mereka lakukan. Perbuatan mereka sangat kejam sehingga membuat seseorang begitu sakit sampai sangat sulit untuk sembuh.


"Harusnya kalian bisa mikir di usia yang sekarang. Ah, harusnya di umur seperti itu kalian juga bisa sedikit berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Bukankah setiap maunusia diberi otak? Kecuali kalau kalian pada nggak punya otak sih," sindir keras Safira sebelum gadis itu pergi bersama Sara dan Maudi.


"Thanks buat semua kebaikan hati kalian ke Ava. Berkat sakit hati yang kalian kasih, Ava jadi bisa kayak gini. Sukses terus ya buat perbuatan baiknya," sambung Revan sebelum pergi mengekor teman-temannya dari belakang untuk menuju kembali ke aula utama melanjutkan bedah buku.


Belasan remaja itu hanya diam tak berkutik sedikit pun. Mereka semua tak menanggapi hinaan, celaan, dan sindiran dari beberapa teman serta sahabat Ava. Sedangkan gadis itu sendiri bagaimana? Ah, tidak tahu.


...***...

__ADS_1


...Ditulis tanggal 30 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...


__ADS_2