
...
...
Hari-hari begitu cepat berlalu, yang tadinya sangat dekat kini berubah terasa sangat jauh seperti layaknya orang yang tak pernah bertemu atau mengenal satu sama lain, terasa sangat tabu dan menyiksa hati serta diri sendiri.
Yang awalnya terasa sangat jauh pun kini menjadi sangat dekat dan bahkan tak bisa lepas sama sekali. Keadaan pun juga secara derastis mulai berubah seiring berjalannya waktu, entah itu dekat atau jauh.
Semenjak Ava tampil dalam acara wisuda kelas XII, karier gadis itu semakin bersinar dan sering diikut sertakan dalam lomba-lomba menyanyi baik ditingkat kelas, sekolah sendiri atau bersaing dengan sekolah lain baik ditingkat nasional maupun yang lebih tinggi dari itu. Ava juga sering bernyanyi untuk mengisi acara-acara penting seperti hari ulang tahun sekolah, hari kemerdekaan negara, atau pun pensi dari sekolah itu sendiri. Dan, perlu kalian ketahui kalau gadis itu tak jarang membawa pulang piala atau piagam dari lomba-lombanya.
Karena Ava juga, tempat les vokal yang ia tempati dulu juga kena imbasnya. Tempat itu semakin banyak diminati para kaum hawa dan adam dari berbagai macam usia. Pembimbing, alat musik, dan fasilitasnya juga semakin banyak serta lengkap dari sebelumnya.
Kalau sudah begitu kan Ava jadi semakin dikenal banyak orang untuk bernyanyi sana sini. Kemarin saja ada yang menawarinya untuk bernyanyi di cafè setiap malam mulai dari jam 19:00 - 22:00 dengan bayaran yang tidak main-main saking besarnya. Tapi, gadis itu menolak dan ingin lebih memfokuskan diri dengan sekolahnya dulu, urusan bermusik itu bisa jadi hobi atau untuk bersenang-senang.
Revan dan Safira masih belum ada perkembangan, mereka berdua tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, karena takutnya nanti akan putus di tengah jalan atau bahkan berakhir tidak saling mengenal. Dino dan Maudi masih baik-baik saja di belakang cerita walaupun terkadang keduabnya saling berbeda pendapat dan sangat susah sekali kalau bertemu, entah kapan hubungan keduanya terkuak oleh publik.
Semenjak Alan menemui Ava di belakang panggung, gadis itu hampir saja goyah akan keputusannya yang memperpanjang perjanjian dengan Safira untuk sama sekali tidak ke kelas yang ditempati oleh Alan kecuali kalau ada hal yang sangat penting. Jadi, Ava sama sekali tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kelanjutan cerita dari cowok itu, karena baik Bagus, Justin, Syarifa ataupun Agnes tidak pernah membahas atau membicarakannya.
Keduanya pun memang sering berpapasan, tapi bukan berarti mereka baik-baik saja dan saling bertegur sapa. Justru kebalikannya, masing-masing dari mereka seperti tidak pernah mengenal atau bertemu satu sama lain. Alan yang tetap berjalan menatap lurus ke depan tanpa menoleh, sedangkan Ava yang menunduk melanjutkan jalan tanpa berhenti sekedar untuk memandang.
Oh iya! Hubungan Agnes dan Bagus sekarang sudah agak membaik, walaupun keduanya masih tetap berbicara satu sama lain, tapi hal itu sangat jarang dilakukan. Bagus juga sudah tentu banyak dan bolak balik berganti pasangan sana sini, mulai dari adik kelas sampai kakak kelas. Jangan tanyakan kabar Agnes, karena setelah mendengar kalau Iqbal sudah punya pacar beberapa bulan yang lalu, gadis itu tidak lagi berharap dan mundur secara perlahan. Komunikasi dengan Iqbal pun sekarang jarang sekali atau bahkan tidak pernah lagi.
Ana dan Justin masih baik-baik saja walau pun mereka juga sudah sangat jarang atau bahkan tidak pernah bertegur sapa. Natalie? Gadis itu sedang bahagia karena beberapa hari yang lalu ia sudah punya pacar baru yang lebih dari mantan gebetannya. Sayangnya pacar baru Natalie itu tidak satu sekolah dengannya, tapi vukan berarti apa yang dilakukan Alan padanya hilang dan terlupakan begitu saja. Natalie justru sedang menunggu karma yang akan cowok itu dapat, selalu.
Kalau untuk Games mungkin cowok itu memilih mundur dan move on dari Ava karena lelah hanya menatap doi dari jauh. Lelah tidak sih seperti itu? Sangat lelah, tapi terkadang rasa suka itu juga ada yang awet sampai beberapa tahun lamanya. Tapi, semoga saja Games tidak seperti itu.
Bagaimana hubungan Ava dan Aras semenjak kejadian di rooftop? Keduanya juga masih sangat baik dalam hal komunikasi. Karena hubungan jarak jauh, mereka jadi sering mengirim pesan atau video call- an. Terkadang kalau Aras sedang tidak sibuk dengan urusannya, cowok itu akan pulang satu bulan sekali dan akan langsung menemui Ava untuk diajak jalan-jalan dengan motor tanpa pulang kerumahnya sendiri.
Kalau saat ini Ava sibuk dengan karier bermusiknya, Aras justru sibuk tawuran sana sini dengan sekolah atau Universitas lain bersama teman satu gengnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Terlebih lagi saat tahu kalau musuh bebuyutan Aras semasa SMP satu Universitas dengannya. Menyebalkan, bukan?
Mulai awal masuk sebagai siswa kelas XI, Safira, Ana, Agnes, Dino, Syarifa, Ava, dan Revan memutuskan untuk mendaftarkan diri di tempat les Bahasa Inggris atas rekomendasi dari Dino yang letaknya tak jauh dari sekolah. Fokus utama mereka juga sekarang belajar dan belajar agar nantinya bisa masuk dan diterima di Universitas yang mereka impikan. Kelas X boleh saja main-main sesuka hati, tapi kelas XI bukan waktunya main-main lagi karena mereka akan beranjak dewasa. Otak remaja di usia itu juga harus bisa diajak kerja sama dan berpikir maju ke depan walaupun di usia seperti itu juga adalah usia yang lagi bandel-bandelnya tanpa memiliki rasa takut.
Sedikit demi sedikit kalau tidak sekarang kapan lagi menabung untuk masa depan yang diinginkan? Tapi, lebih baik juga dari dulu sudah dipersiapkan. Umur itu sama sekali tidak menentukan kedewasaan seseorang, hanya saja mereka juga tidak mau dewasa sebelum waktunya. Jadi, sebisa dan semampunya, mereka akan menggunakan masa remaja sebaik mungkin, karena mereka pun juga tahu kalau waktu tidak bisa diulang layaknya cerita fiksi yang bisa dengan mudah dibayangkan.
***
Seorang gadis kini ada di dalam kamarnya yang selalu dikunci dan tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali sudah mendapat izin. Ava duduk bersandar di depan meja belajarnya, sibuk berkutik dengan laptop yang memperlihatkan sebuah aplikasi membaca dan menulis online paling terkenal serta bergengsi di kalangan para penulis profesional.
Sudah sekitar hampir tiga tahun ini ia hanya sebagai pembaca. Ava sudah sangat banyak membaca cerita dari berbagai genre di dalam aplikasi tersebut, dan bisa ia simpulkan kalau cerita dari aplikasi tersebut lebih banyak serta lebih populer kalau mengambil latar belakang bertema sekolah. Sangat pas dan cocok bukan?
__ADS_1
Matanya terasa sangat pegal saat dari tadi ia hanya menatap beranda utama aplikasi itu dari laptop tanpa berbuat apa pun. Sorot arah mata Ava beralih ke secarik kertas yang selalu tertempel di dinding meja belajarnya. Iya, syarat itu.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya ragu. "Kalau nggak sekarang, kapan lagi coba? Waktu yang gue punya juga semakin berkurang."
"Ava, turun! Makan! Kalau lo nggak turun sekarang! Gue dobrak pintu kamar lo!"
Lamunan gadis itu berhasil dihancurkan oleh suara teriakan Ana dari lantai bawah.
Ava menghembuskan nafas pasrah. "Berisik!" Bangkit dari duduk menuju ruang makan.
Sebelum ia benar-keluar dari kamar, langkah kaki gadis itu terhenti di ambang pintu, kepalanya menoleh ke arah meja belajar. "Tapi, gimana caranya supaya orang nggak tahu dan nggak sadar akan hal itu?"
"Ava!" panggil Agnes saat sadar kalau Ava hanya berdiri di ambang pintu menatap ke dalam kamar.
Yang dipanggil sontak menoleh. "Iya?"
"Ayo makan!"
"Iya." Ava menutup pintu sampai akhirnya melangkahkan kaki dan mendudukkan dirinya di kursi untuk menyantap semua makanan yang ada di meja bersama dengan kedua sahabatnya.
Agnes menatap Ava penuh selidik yang seolah terlihat berpikir. "Lo, mikirin apa?"
Ana ikut mendongak, mencoba bergabung dengan obrolan.
Ana serta Agnes hanya mengangguk mengiyakan daripada nanti urusannya lebih panjang dan berakhir tidak jadi makan.
Gimana, ya, caranya supaya mereka semua nggak tahu dan nggak sadar kalau itu semua juga ada dia. Apa, gue manfaatin kecantikan gue yang paripurna ini? Kayaknya nggak bakal ada yang nolak gue deh, secarakan gue baik, ramah, bisa nyanyi, bisa main alat musik, penyayang, pintar, tidak pantang menyerah, penyabar pula, batin Ava, gadis itu tampak sibuk mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
***
Beberapa hari ini setiap malamnya Ana dan Agnes mulai bingung akan apa yang Ava lakukan di kamar. Bagaimana tidak bingung kalau setiap selesai makan malam sampai tengah malam gadis itu masih belum tidur, medua gadis itu juga tidak bisa masuk begitu saja ke kamar Ava untuk melihatnya.
Saat di sekolah pun juga sama, Ava semakin jarang makan di kantin dan lebih memilih membawa bekal dari rumah untuk di makan saat istirahat atau nitip membelikan sesuatu di kantin ke Safira tanpa mau beranjak dari duduk dan sibuk berkutik dengan ponsel di genggamannya.
Ava tersenyum lebar saat ia mendapat beberapa nontifikasi dari dalam aplikasi orange bahwa ada yang menyukai sesuatu yang ia buat atau ada yang sekedar memfollownya di aplikasi tersebut. Senyum gadis itu lebih mengembang dan terkejut saat tahu kalau yang memberikan nontifikasi tersebut adalah teman kelasnya sendiri. Kenapa Ava tahu? Ya karena ada photo profile dan tertera nama akunnya.
"Hah? Tahu darimana dia?"
Sorot arah mata gadis itu mengarah ke jejeran bangku yang diduduki Maudi dkk. Ava berucap, "Thanks" tanpa suara saat secara kebetulan Maudi sempat menoleh ke belakang.
Pacar Dino itu memberikan satu jempolnya di balik punggung untuk Ava seraya menganggukkan kepala beberapa kali sebagai tanda kalau Maudi mengerti akan tindakan Ava.
__ADS_1
"Lo, kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Safira duduk di bangkunya setelah dari kantin membelikan Ava siomay dan jus alpukat sesuai permintaan sang sahabat.
Gadis yang ditanyai menggeleng pelan, mengambil dan memakan makanannya. "Nggak papa kok, cuma lagi senang aja. Btw, thanks, ya, udah dibeliin."
"Iya, sama-sama. Kalau bukan lo yang minta mah gue nggak bakal mau dan makasih juga karena udah mau belajar dan nurutin apa kata gue. Bukan tanpa sebab, gue hanya ingin lo nggak sakit hati lagi seperti sebelumnya."
Ava menoleh menatap sahabatnya dengan wajah super ceria. "Iya, gue tahu kok maksud lo, Safira."
Gadis itu menggelendot di lengan Ava dan bersandar di bahu gadis itu. Ia bahkan tidak perduli dengan Ava yang saat ini susah menggerakkan tangannya untuk makan.
***
"Boleh yaaaa. Pliisss ..." rengek Ava memohon pada cowok di depannya sambil menyatukan kedua telapak tangan.
Iya, karena di hari minggu yang cerah ini Aras ada waktu luang jadi saat sampai di Jakarta, cowok itu langsung kerumah Ava tanpa pulang kerumahnya dulu dan tanpa mengabari Ava kemudian langsung menggelandang sang gadis pergi sarapan di cafè.
Ava bahkan belum sempat mandi dan hanya menggosok gigi, mencuci wajah serta menutupi atasannya dengan kardigan hitam pemberian Aras bulan lalu. Kan tidak mungkin kalau ia ke cafè hanya memakai piama, terlebih Ava juga hanya memakai sandal jepit dengan rambut yang hanya dikuncir atas tanpa balutan make up.
Aras nampak bimbang dan sesekali menggaruk tengkuknya atas rencana dan ke inginan yang Ava buat, karena menurutnya itu sangat beresiko untuk sang gadis. "Jangan deh. Pakai cara lain aja, nanti gue bantu mikir."
Bukan tanpa alasan kenapa Aras menolak, selain itu sangat beresiko bagi Ava karena gadis itu belum handal dan baru pertama kali, juga karena rencana itu sangat lah aneh hanya karena alasan agar semua orang tidak tahu dan menerka-nerka semau mereka.
Ava memutar bola matanya malas. Ia mulai gerah bepura-pura manja di depan Aras, itu sama sekali bukan dirinya. "Cara apa? Coba bilang ke gue! Kalau lo nggak mau, gue bakal batalin perjanjian kita dan nggak akan pernah balik lagi. Gimana? Pilih yang mana? Ikutin cara gue atau kita batal perjanjian?"
Nah, kalau Ava sudah mengancam ginikan hancur dunia ini. Aras jadi tambah pusing dibuatnya. Di lain sisi ia tidak rela akan rencana yang akan Ava lakukan, tapi di lain sisi yang satunya juga ia tidak mau berpisah dengan Ava.
...***...
...Kita-kira apa yang akan Aras pilih?...
...Untuk chapter sekarang ini, memang lebih banyak deskripsi daripada dialog antar sesama cast. Jadi, mohon pengertiannya, ya, man-teman dan para readersku yang tercinta....
...Kalau kalian nggak suka sama cerita Aku, kalian boleh pergi dan minggir dari sini. Tapi kalau kalian suka cerita Aku, ya, alhamdulillah banget dan terima kasih banyak....
...***...
...Ditulis tanggal 25 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 30 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....