Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 112 ~ Menyenangkan!


__ADS_3

...



...


"Emang, sesakit itu, yah?" tanya Sara saat berhasil menyusul Ava yang mengamuk terduduk di bangku taman belakang sekolah.


"Iya! Sesakit itu rasanya yang gue pendam selama ini! Saking sakitnya, cuma itu yang bisa gue ucapin ke mereka karena juga terhalang target chapter! Padahal, gue pengen jabarin lebih detail tanpa terkecuali ke mereka. Tapi, nggak papa lah, segitu aja udah cukup untuk mengingatkan mereka akan kejadian itu."


"Cuma itu? Perasaan tadi banyak banget deh? Berbagai macam jenis pula?" cibir Revan menautkan satu alis.


"Lo, bilang apa, Van?" tuntut Ava yang mendengar cowok itu berbicara.


Revan menatap gugup. "E-engga kok. Gue cuma bingung aja, kenapa mereka sampai tega ngelakuin hal  itu?"


"Diam," suruh Safira menyenggol lengan Revan yang berdiri tepat di sampingnya. "Tapi, masih bisa sembuh, 'kan, Va?"


Gadis itu menggeleng malas. "Nggak tahu dan kurang tahu."


Maudi duduk di samping Ava. "Sedendam itu kah lo sama mereka?"


"Gue nggak pernah dendam sama mereka! Tapi, rasa sakit itu masih sangat ada seolah nggak pernah hilang dari tempatnya!" jawab gadis itu dengan nada sedikit meniggi, kedua tangannya dilipat di depan dada.


"Yaudah, kita di sini selama lima menit supaya lo lebih tenang. Kalau udah, nanti kita ke aula lagi, kasihan anak-anak pada nunggu," saran Sara yang terbaik untuk kondisi seperti ini.


Sang gadis yang di ajak bicara sama sekali tak mengindahkan hal itu. Ia masih terlalu emosi untuk menghadapi mereka semua. Sugguh penyakit hati yang sulit untuk sembuh.


Ava hanya berharap dan masih berharap kalau dia ada di sini menenangkannya seperti dulu dan seperti sebelum-sebelumnya. Atau, paling tidak ada Aras lah di sini yang mau menuruti semua kemauan Ava. Sayangnya, cowok itu sibuk dengan deadline kampus yang menumpuk.


Entah sekarang mereka sadar atau tidak? Kini, ke lima remaja tersebut ada di tempat paling istimewa bagi mereka semasa SMA.


***


Ava mengembus dan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum masuk ke dalam aula dan duduk lagi di kursinya. Teman dan sahabat gadis itu juga sudah duduk di kursi masing-masing.


Ava membisikkan sesuatu kepada Maif, lalu gadis itu mengangguk seraya berkata, "Iya."


Maifa bangkit dari duduknya. "Maaf, ya, teman-teman semua! Tadi Kak Ava beserta kakak-kakak yang lain ada urusan sebentar. Jadi, sebagai permintaan maaf dan sebelum pembahasannya kita lanjut lagi, Kak Ava mau nyanyi buat kalian semua. Mau nggak?"


Sorak tepukan dan jeritan dari bibir mulai terdengar kembali. Lebih meriah dari sebelum nya, karena memang jumlah orang yang masuk ke aula juga bertambah.


"IYA! MAU!"


"MAU, KAK! MAU!


"UUUUU! MAU!"


Semangat dari para fansnya lah yang saat ini bisa menenangkan hati gadis itu yang tengah campur aduk tidak karuan. Selain mereka semua mendukung Ava, mereka semua juga selalu ada untuknya.


Para panitia yang bertugas menyediakan satu kursi lagi di paling depan, gitar, dan juga microfon untuk Ava bernyanyi. Setelah semua sudah siap, gadis itu duduk sambil memangku gitar tersebut.


Mendekatkan bibirnya ke microfon, menatap semua siswa dan siswi di sana dengan senyum yang mengembang. "Mau lagu apa? Di ambil suara terbanyak, ya."


"REWRITE THE STARS!"


"A THOUSAND YEARS!"


"NEVER ENAOUGH!"


"MELUKIS SENJA, KAK!"


Ava tersenyum. "Ok. Karena riquestnya yang paling banyak adalah Melukis Senja dari kak Budi Doremi, jadi saya akan nyanyi lagu itu. Tapi, nanti kalau mau kalian bisa nyanyi bareng-bareng tepat pada saat reff nya. Gimana? Mau nggak?"


"MAU, KAK!"


"SIAP ATUH, KAK!"


"KUY! GAS KEUNLAH!"


Beberapa detik kemudian gadis itu memetik gitar sesuai dengan nada lagu tersebut. Semua yang ada di sana diam dan mendengarkan.


Gadis itu sudah tidak gugup lagi tampil di depan orang banyak, karena sudah terbiasa dengan job manggung yang tersebar di mana-mana.


"Aku mengerti

__ADS_1


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri."


Sesekali gadis itu tersenyum karena ada orang yang memberikan nya kiss bye atau finger heart.


"Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu."


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa."


Tepat saat bagian itu, semua peserta yang ada di sana bernyanyi bersama-sama sembari mengangkat tangan lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri sesuai dengan ritme lagu tersebut.


"Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia."


***


Ava memelankan ritme gitarnya saat lagu yang ia nyanyikan hampir selesai.


"Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia."


Hingga kau bahagia."


Semua siswa dan siswi yang ada di sana bangkit dari kursi, bertepuk tangan serta bersorak penuh kebahagiaan.


"KEREN, KAK!"


"AMAZING!"


"TERHARU, KAK! AKU SAMPAI NANGIS!"


Ava tersenyum sangat lebar sampai bibirnya terasa sangat pegal saking bahagianya.


***


Revan, Maudi, Sara, dan Safira sekarang ada di kantin untuk mengisi kekosongan perut mereka. Mungkin, mereka sangat kelaparan setelah bedah buku berlangsung dan berlanjut menemui para guru untuk saling mengobrol banyak hal, menyapa, atau sekedar tersenyum sebagai penghormatan.


Baru saja ditinggal satu bulan di Universitas pilihan masing-masing, SMAN Tri Bakti sudah melakukan pembangunan perpustakaan kedua yang lebih besar, lebih mewah, dan lebih lengkap dari sebelumnya begutupun dengan pembangunan besar-besaran lainnya. Saat siswanya sudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi saja sekolah nya yang dulu semakin mewah saja.


"Ava!"


Langkah gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membasuh wajah terhenti saat ada suara bebeberapa orang memanggilnya dari arah belakang.


Ava seperti sangat mengenal suara-suara itu. Jantungnya diminta berpacu lebih cepat saat tahu dan mengingat sang pemilik suara itu. Tangan gadis itu semakin mengerat untuk sekedar memegang ponsel di tangannya.


Perlahan Ava menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tebakannya tidak salah. "Kalian? K-kok di sini? Tahu dari mana?"


Berjarak sekitar tiga meter, ada sekitar enam cowok yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ava. Gadis itu kini pasti mati kutu menghadapi cowok-cowok itu. Bisa dibilang mereka ada banyak perubahan, salah satunya tinggi badan mereka semakin tinggi, mungkin mereka juga bertambah semakin pintar karena saat SMP mereka semua masuk kelas unggulan dan pasti saat SMA mereka mereka masuk salah satu kelas unggulan lagi, dan mungkin juga bisa dibilang semakin ganteng.


Awokawokawok, yang terakhir bercanda karena takutnya dimarahi pacar mereka masing-masing. Kan, nggak lucu kalau Aku disebut PHO.

__ADS_1


Back To Topic!


"Nggak penting sekarang kita tahu dari mana, asalkan lo jangan usir kita. Tapi, harus gitu minta maafnya lewat sebuah cerita?" pungkas Marshal seraya menunjukkan sebuah buku di tangan kanan.


Sedangkan tubuh gadis yang ditanyai sekarang tengah campur aduk tidak karuan. Ava menelan ludahnya susah payah tatkala semua cowok di depannya menatap dirinya. Badan gadis itu panas dingin tidak karuan, sedikit gemetaran, canggung, kikuk, dan ada yang tertahan.


Ava mengulum bibir karena tiba-tiba saja kerongkongan dan bibirnya terasa kering. "Eum ... gimana, ya? Mungkin, bisa di bilang gue adalah gadis pengecut, karena gue nggak punya cukup keberanian untuk meminta maaf sama kalian secara langsung."


"Gue percaya, kalau, Tuhan, akan nunjukin kesalahan gue beserta jalan keluarnya dengan cara yang berbeda. Dan, itulah cara yang Tuhan kasih ke gue sehingga bisa tersampaikan ke kalian. Maaf untuk kalian semua yang pernah gue sakitin hatinya."


"Nggak seharusnya gue bersenang-senang di saat orang lain sakit hati karena gue. Gue nggak berharap kalau kalian mau maafin gue, tapi gue hanya ingin kalian tahu kalau gue sangat menyesal dengan apa yang udah gue perbuat."


"Va, kita semua juga udah maafin lo bahkan jauh sebelum lo minta maaf ke kita," ucap Marshal menenangkan seraya menepuk lengan Ava beberapa kali.


Suasana serta hati gadis itu yang awalnya sangat canggung kini perlahan mencair hanya karena tepukan seorang teman.


Ava menatap ke arah Empat Sekawan (empat sahabat yang beranggotakan Marshal, Firdhi, Rimba, dan Davin). "Kalian berempat, maafin gue karena nggak ngasih tahu untuk apa gue pinjam nama kalian. Saat itu gue egois, sehingga hanya gue yang boleh tahu itu untuk apa. Tapi, hal itu malah berujung membuat kesalahpahaman."


Ke empat orang itu mengangguk seraya tersenyum.


Beralih menatap cowok yang paling tinggi di sisi paling kiri. "Firdhi, maafin gue karena dulu saat kelas sembilan gue udah sering mempermainkan lo tanpa rasa kasihan." Cowok itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Menatap cowok di samping Firdhi. "Davin, maafin gue karena saat itu gue juga marah-marah sama lo sehingga membuat lo lebih marah dan benci sama gue."


Davin mengangguk memaklumi. "Gue juga minta maaf saat itu udah ngata-ngatain dan ngebentak lo sampai lo nangis sesegukan dan berakhir gue ngeblokir nomor lo. Apa, rasa sakit hati akan gue masih ada?"


Ava nampak berpikir sejenak, kemudian berucap sangat yakin, "Sedikit. Tapi, gue yakin pasti nanti akan sembuh kok. Tenang aja."


Beralih menatap cowok yang berdiri di samping Davin. "Farid, maafin gue karena udah ngomong terlalu kasar dan nggak berperikemanusiaan saat lo nembak Sara waktu itu. Gue kesal dan terbawa emosi karena lo terus memaksa Sara dan nggak mau mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi. Tapi, gue sangat menyesal setelahnya karena gue baru sadar kalau itu terlalu kejam. Lo pasti sakit hati banget, yah?"


Farid menghela nafas pasrah kemudian tersenyum. "Iya. Awalnya sangat sakit hati, tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu perlahan memudar sampai gue lupa."


Ava mengangguk, kemudian menatap cowok yang ada di samping Farid. "Aniq, maafin gue juga ya karena gue udah salah banget karena mempermainkan hati lo layaknya sebuah mainan. Harusnya, gue jaga perasaan lo dengan nggak menjadikan lo sebagai target. Gue baru sadar kalau itu salah saat gue kena karmanya sekarang."


Aniq memegang kedua lengan Ava. "Enggak, kok. Nggak papa. Gue sekarang udah nggak papa. Jadi, lo nggak perlu terbenani dengan hal itu lagi." Melepas tangannya dari lengan Ava.


"Iya lah udah nggak papa, 'kan, sekarang udah punya pacar, cantik lagi. Ada di mana sekarang?" Nada bicara Ava yang tadinya sendu kini berubah ceria dan terdengar santai.


"Ada di mobil," jawab Aniq sedikit terkekeh.


"Kok, lo tahu dia udah punya pacar?" tanya Farid menyelidik.


"Bukan cuma Aniq doang yang gue tahu, tapi kalian semua. Untuk Firdi, nggak usah deh sok-sokan jadi fakboy kayak Marshal. Itu nggak cocok dengan wajah lo."


Cowok itu mendengus kesal, menatap sinis. "Ish. Biarin lah. Suka-suka gue kali!"


Ava beralih menatap cowok yang ada di paling tengah. "Marshal, masih LDR-an sama pacarnya yang juga wibu itu?" Cowok itu mengangguk mengiyakan. "Enak, ya, kalau punya pacar yang kesukaannya sama."


"Buat Rimba, masih jadi primadona sekolah dan mencari-cari tipe wanita sholekhah?"


Cowok yang ditanyai itu mengangkat kerah. "Masih dong. Udah ganteng, jago silat, baik hati, dan tidak sombong pula. Siapa sih yang mau nolak pesona gue? Ahli syurga nih."


Yang ada di sana sontak tertawa mendengar pernyataan cowok yang terkenal karena prestasinya yang sangat jago silat itu.


For you information kalau kalian ingin tahu, prestasi Rimba udah sampai ke luar kota loh. Sombongin teman sedikit nggak papalah, ya.


"Untuk Farid, pasti sekarang lagi fokus mengejar cita-cita? Bagus. Urusan pacar mah nanti aja. Kalau udah sukses pasti cewek manapun bakal nempel. Iya nggak?"


"Yoi dong!" serempak ke enam cowok itu diiringi canda dan tawa.


"Walaupun kesalahan gue masih ada banyak yang lainnya, tapi gue sangat berterima kasih karena kalian udah mau maafin gue," ujar Ava lagi dengan tulus disertai anggukan dari ke enam cowok tersebut.


Ava sangat bersukur karena hari ini dipertemukan dengan mereka semua. Gadis itu sudah mengantongi maaf masing-masing dari mereka. Walau hari ini ada insiden tidak menyenangkan, tapi hari ini juga terjadi insiden yang sangat menyenangkan. Gadis itu pasti akan mimpi indah nanti malam.


Tuhan, terima kasih karena sudah mengabulkan semua doa-doa saya. Masalah dan beban yang saya pikul sendiri selama ini perlahan-lahan mulai menemukan cahaya dan solusinya, syukur Ava dalam hati.


Begitu banyak sisi positif yang dapat ia ambil dari semua kejadian dan rasa bersabar nya selama ini. Ia juga berharap kalau semua masalah apa pun yang terjadi termasuk masalah di hati nya segera menemukan jalan keluar dan solusi nya.


"Ava, semoga lekas sembuh dari sakit hati yang lainnya, ya," seru Farid memberi semangat tulus.


Gadis itu mengangguk seraya seulas senyum yang terukir dengan jelas di wajahnya. "Iya. Itu pasti."


Ava menatap semua teman yang ada di sana lekat-lekat dengan matanya yang sendu. Buru-buru menyeka air mata yang hampir saja jatuh membasahi pipi dan hampir membuat aliran sungai deras yang beranak pinak disana.


...***...

__ADS_1


...Ditulis tangggal 31 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...


__ADS_2