
Pulang sekolah ini Ava ada janji dengan Alan, maka dari itu, ia menyuruh semua teman-temannya untuk pulang lebih dulu.
Tapi, kepalanya sedikit pusing karena tadi sempat adu jambak dengan Maudi, saat setengah jam sebelum pulang sekolah karena kelas X Ips 4 jam kosong. Tentu bukan Ava yang memulainya lebih dulu, tapi Maudi lah yang datang datang menggebrak meja gadis itu. Itu di lakukan karena gadis itu masih tidak terima di kerjai Ava balik saat di kamar mandi dan berhasil membuat make up Maudi sedikit luntur.
Tapi, gadis itu tetap tidak ada kapok-kapoknya sama sekali. Karena sangat geram mendengar ocehan dan juga hinaan yang Maudi lontarkan, jadi nya Ava menabok mulut musuhnya itu dengan buku paket Agama dengan tebal sekitar 500 halaman. Merasa tidak terima dengan perlakuan Ava, Maudi malah justru menjambak rambut Ava.
Jadilah saat itu mereka berdua adu jambak dan menjadi tontonan satu kelas. Safira dan teman-teman lainnya tidak bisa memisahkan kedua orang tersebut saking brutalnya. Beruntung ada Alan dkk lewat di depan kelas X Ips 4 lalu dengan tenaga laki-laki yang mereka miliki berhasil memisahkan kedua remaja perempuan itu. Alan menarik Ava jauh dari hadapan Maudi sampai dibawa ke taman kecil belakang sekolah dan tetap berada di sisi gadis itu sampai tenang.
Ava menjelaskan kejadian tersebut dengan sangat detail. Beruntung, kebanyakan siswa dan siswi di sana yang menyaksikan itu lebih membela Ava. Jadi lah Maudi di sana terpojokkan dan lebih memilih pergi menjauh dari kerumunan.
Alan juga sudah menyuruh siswa yang melihat itu tetap diam dan tidak melaporkannya nya ke guru BK. Katakan lah Alan egois. Iya, memang ia egois karena cowok itu hanya dan tidak mau kalau sang gadis terjerat masalah. Selain itu juga, urusannya tidak akan cepat selesai karena kedua gadis remaja itu sama-sama tidak mau kalah dan memiliki ego yang cukup tinggi.
Cowok di samping Ava menghentikan langkahnya karena sang gadis yang sedari tadi terus mengetuk-ngetuk kepala seolah mengeluarkan atau ada sesuatu di dalamnya.
Alan menarik tas Ava ke belakang saat gadis itu tetap melangkah tanpa menyadari kalau partnernya berhenti di belakang.
"Apaan?" tanya sang gadis, masih tetap mengetuk kepala nya.
Cowok di depan Ava membungkuk kan badan, mencoba menatap gadis di depannya sembari mensejajarkan tinggi badan untuk berhadapan dengan Ava.
Sedangkan, gadis itu sendiri mundur beberapa langkah agar Alan yang ada di depannya tidak terlalu mengikis jarak. Ia tertegun sekaligus mematung saat wajah cowok di depannya hanya berjarak sekitar dua jengkal. Jarak yang tidak terlalu dekat, namun sangat berhasil menyesakkan dada dan membuat mata tak berkedip sedikitpun.
"Masih pusing?"
Tangan gadis itu menurun. Menggeleng cepat beberapa kali seraya berkata, "Enggak. Udah enggak!"
Alan menegakkan badannya. Kembali melangkahkan kaki. Ava menggelengkan kepalanya beberapa kali agar sadar dari alam bawah sadar sebelum mengekor di belakang cowok di depannya. Masih dalam keadaan mengetuk kepala.
Cowok itu menghela nafas berat saat tak kuasa dengan tingkah Ava yang menurutnya sangat menggemaskan. Selain itu juga karena ia terlalu lelah melihat sang gadis yang terus-terusan mengetuk kepala. Apa tidak sakit? Itu yang ada di pikirannya.
Ava menegang saat Alan membalikkan badan sembari menatap dengan sorot mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa sadar, dengan gerakan secepat kilat dan sudah dari kapan, Ava bahkan sudah ada di gendongan Alan.
Gadis itu menjerit histeris minta di turunkan. Tapi, Alan cukup kuat dan kokoh saat Ava menggoyangkan tubuh beserta kakinya seraya meronta-ronta.
"Alan! Turunin! Malu tahu, di liatin banyak orang!"
Dengan sangat tidak sopannya cowok itu terus melangkah menuju motor nya tanpa memperdulikan ocehan sang gadis yang ada di gendongannya.
Jika meronta dan berontak sama sekali tidak berguna. Ava terpaksa melakukan cara ini agar cowok itu mau menurunkannya.
"Turunin atau gue tabok?"
Langkah kaki Alan berhenti. Menatap sang gadis cengo sekaligus dengan dahi berkerut.
"Takut, 'kan, lo?" cicit sang gadis.
"Biasanya kalau gue lihat di IG itu, 'Diam atau gue cium?' Kok, lo malah, 'Turunin atau gue tabok?' " celetuk Alan saat melihat video tersebut di Instagram kemarin malam.
"Emang, kalau gue bilang gitu, lo mau?" tawar Ava.
Cowo di hadapannya tak kunjung menjawab. Menggeleng kemudian berkata, "Enggak." Kembali melangkahkan kakinya.
"Batu banget jadi orang." rutuk sang putri saat gadis itu sudah menyerah akan usahanya yang berakhir sia-sia.
Ada seulas senyum samar yang diperlihatkan Alan. Saking sedikitkan tarikan tersebut, mungkin itu juga tidak bisa disebut sebagai senyuman.
...
...
Saat sampai di parkiran pun ada puluhan pasang mata yang memperhatikan kedua remaja tersebut. Berbagai macam tatapan dan berbagai macam jenis ucapan. Daripada Ava malu sendiri, jadi ia putuskan untuk pura-pura pingsan saja.
__ADS_1
Sedangkan cowok itu? Ah, Alan bahkan tak menganggap mereka semua ada. Baginya di sini, hanya ada dirinya dan sang gadis saja. Tak ada siapa pun dan tak ada yag mengganggu.
Sorot mata Alan sedikit menggeser ke arah parkiran bagian pojok yang diisi Aras beserta teman-temannya. Di samping Aras dkk juga ada Dinda yang duduk bercanda ria bersama kedua temannya.
Tatapan tajam dan sengit pun tak luput dari mereka semua.
Cowok itu menduduk kan Ava tepat di jok bagian belakang motor maticnya. Memakaikan helm merah yang ia berikan pada gadis di depannya. Setelah selesai baru lah Alan memakai helm abu-abunya.
"Kita jalan pakai motor gue,"
"Motor gue gimana?" tanya Ava sedikit dengan nada tinggi dan agak sedikit sewot.
"Nanti, biar dibawa pulang sama Justin dan Bagus. Mereka nongkrong di warung depan sekolah."
Ava hanya mengangguk mengiyakan. Percaya akan apa yang di katakan sang calon pacar. Cowok itu mengklakson motor saat melewati gerombolan Aras dkk. Bukannya sombong atau berniat pamer, tapi itu ia lakukan hanya sebagai penghormatan atau salam sebelum benar-benar pergi dari sana.
Karena sedari kedatangan Alan dan Ava di parkiran, Aras dkk lah yang menatap mereka berdua sampai di ada di depan motor cowok itu. Kan, tidak nak juga kalau menganggap mereka semua tidak ada. Setidaknya, bagi mereka pengecualian lah.
Aras menatap kepergian Ava dan Alan iri. Saking irinya, cowok itu bahkan tanpa sadar sampai menatap kedua remaja yang baru saja pergi sampai benar-benar hilang dari area sekolah.
Gilang menepuk pundak sang sahabat supaya tatapan matanya tidak sampai seperti itu. "Sabar, Bro ..."
Aras hanya diam dan sama sekali tak menanggapi. Kejadian di lapangan basket membuatnya cukup sakit hati sampai tak selera makan atau melakukan apapun. Itu kah yang di namakan sakit hati? Dan, itu efeknya?
"Ras, lo nggak mau kita ngasih pelajaran sama Alan?" tawar Uki. Cowok itu masih sibuk mengobrak abrik tambang emas milik nya dengan jari telunjuk. Sangat brutal dan lebih dalam agar dapatnya juga banyak.
"Jorok banget lo, Ki!" kesal cowok bernama Zero saat melihat Uki mengelapkan hasil tambangnya ke dinding parkiran.
"Kenikmatan dunia tuh! Bawa pulang sana. Nanti kalau udah sampai rumah di goreng jadikan lauk." sarkas Fahri asal.
Uki mengusap wajah Reza kasar dengan jari-jari tangan yang tadi secara bergantian di gunakan untuk menggali harta karun berharga miliknya.
Dengan gerakan secepat kilat Reza menepis tangan Uki dan mengelapkan wajahnya ke seragam Amin.
Kejadian itu sontak membuat Amin segera berdiri menjauhi kedua orang tersebut.
Tanpa menghiraukan candaan dan ocehan teman-temannya, Aras tetap diam dan memikirkan perkataan Ava saat di lapangan basket.
Kalimat itu yang saat ini Aras gunakan sebagai prinsip dan acuan tanpa bosan untuk menunggu Ava. Cowok itu sudah lebih dari cukup jika hanya melihat dan menjaga sang gadis pujaan hati dari jauh. Selain itu juga sekolah lain tidak ada yang tahu dan menyebarkan insiden mengerikan tersebut. Semuanya aman dan terkendali jika di bawah perintah Aras
Dinda yang melihat Aras seperti itu geram. Dirinya tidak suka jika cowok yang ia sukai terus saja memikirkan Ava.
Aras bahkan sudah terlihat seperti terobsesi dengan gadis itu. Apa sih yang kurang dari dirinya? Bahkan, Dinda saja lebih di puja-puja para cowok di sekolah ini, ketimbang Ava yang bukan tandingannya.
"Gimana Ras? Lo mau kita kasih pelajaran, ke Alan?" tanya Uki mencoba memastikan.
Sedangkan yang di tanyai malah menatap lurus ke depan. "Biarin aja. Nanti pasti ada waktunya."
Teman-teman Aras hanya mengangguk saja. Tidak berani mengusik sang ketua dan berusaha tetap pengertian. Setiap kata atau kalimat yang keluar dari bibir Aras adalah keputusan yang sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
***
"Kalian tunggu di sini sebentar." gumam Dinda pada kedua sahabatnya. Ambro dan Denise.
Gadis itu berdiri di samping Aras. "Masih mau nungguin?"
Pertanyaan Dinda memang terdengar biasa saja, tapi bagi Aras itu seperti sengatan yang terasa amat sangat sakit di dada.
Cowok itu ingin sadar dari kenyataan, tapi entah kenapa tidak bisa dan tetap kembali titik awal.
"Udah lah, Ras. Lebih baik lo menyerah."
Tidak mau berlama-lama mendengar ocehan Dinda yang sama sekali tidak berguna, Aras memakai helm kemudian menaiki motor sport nya dan langsung pergi dari sana tanpa mengindahkan semua teman-temannya yang memanggil namanya.
Dinda melipat kedua tangan di depan dada. Menatap kepergian Aras tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu. "Kalau lo pikir gue akan diam, lo salah besar."
__ADS_1
***
Kini Alan dan Ava ada di sebuah taman bermain. Mereka duduk di bangku besi di bawah pohon rindang. Menikmati udara sore yang bisa di bilang tidak terlalu segar dari udara pagi.
...
...
Kepala Ava sudah tidak pusing lagi. Tiba- tiba rasa pusingnya hilang saat Alan membawanya ke sini. Gadis itu juga tidak marah lagi pada sang cowok.
Ava menatap Alan yang duduk di sampingnya. "Lo, mau ice cream nggak?"
Alan menoleh dengan cepat. "Kalau lo mau, biar gue aja yang beliin," baru saja cowok itu beranjak dari duduk, tapi sudah di tahan oleh gadis di sampingnya. Ava mempunyai sebuah rencana untuk membalas perbuatan Alan di parkiran.
"Nggak papa, gue aja. Kan, gue pernah bilang kalau gue bakal neraktir lo, walaupun cuma ice cream,"
"Apa pun yang lo beliin walau itu cuma ice cream sekalipun, gue tetap suka, Ava ..." jawaban manis nan lembut dari bibir Alan membuat jantungnya berdebar kencang dan pipinya merah merona.
"Mau rasa apa?"
"Terserah."
Dengan segera Ava membeli ice cream di toko sebrang taman bermain. Ia membeli satu ice cream cone rasa alpukat, dan satu ice cream stick rasa green tea.
Setelah membayar ice cream nya gadis itu segera pergi menyusul sang pangeran lagi. "Hai!" sapanya duduk di samping Alan.
...
...
...
...
Sedangkan cowok di sampingnya menatap kedua ice cream yang di pegang Ava, dan ingin mengambil ice cream yang rasa alpukat. Sebelum Alan benar-benar mengambil ice cream miliknya, buru-buru Ava menjauhkannya dari tangan Alan.
Cowok itu menatap Ava tidak terima. "Gue mau yang itu ..."
Ava tersenyum lebar ambil menyodorkan ice cream stick di tangan kanannya. "Lo yang ini aja,"
Belum sempat Alan mengucapkan penolakannya gadis di sampingnya sudah menyodorka ice cream stick tersebut. "Yang-ini-aja,"
Alan mengambil ice cream tersebut seraya menjawab, "Okay."
"Bagus. Anak pintar." puji sang gadis seraya membuka penutup ice cream rasa alpukat.
"Nama gue, Alan. Bukan, Bagus." pungkas cowok itu masih tidak terima.
...***...
...Setelah itu apa yang akan terjadi? Apa, Alan akan balas dendam? Tetap tungguin kisah mereka selanjutnya yaah!...
...***...
...Ditulis tanggal 01 Juli 2020...
...Dipublish tanggal 18 Maret 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....