Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 46 ~ Nomor Tidak Dikenal


__ADS_3

...Selamat pagi semuanya! Yuk absen dulu!...


...Kalian suka genre film apa? Tadi bangunnya jam berapa? Sarapannya pakai apa?...


...Mulai di part ini kalian akan dibuat berfikir dan terus menerka-nerka!...


...***...


...



...


Bel pulang sekolah telah berbunyi dan menggema di seluruh sudut sekolah. Ava menggandeng lengan kiri Alan saat keduanya menuruni anak tangga satu persatu. Safira sudah dijemput supir pribadi Ayah nya, dan Ana masih berduaan dengan Justin, sedangkan Agnes menonton Iqbal latihan silat di lapangan utama.


"Lan, gue ikut ke parkiran atau nunggu di halte depan?" tanya Ava menoleh ke arah cowok di sampingnya.


Sedangkan Alan tengah berpikir sejenak. Kalau nanti Ava ikut ke parkiran pasti akan bertemu dengan Aras, itulah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Detik berikutnya, cowok itu mengangguk pelan.


"Lo nunggu di halte aja."


Ava mengangguk mengiyakan. "Bye." Melambaikan tangannya dan cowok itu juga membalas dengan lambaian juga.


Ava terdiam sebentar, tadi saat ia akan menjemput Alan di kelas cowok itu, Natalie merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Alan. Gadis itu sedikit cemburu saat itu, tapi itu tak lama setelah Alan terlihat berusaha melepaskan cekalan lengan Natalie. Ava hanya tidak mau mempermasalahkan sepele seperti itu, karena yang terpenting Alan sudah berjanji tidak akan berurusan lagi dengan Natalie.


Saat Ava berjalan sambil melamunkan sesuatu yang ia takuti terjadi, tanpa sadar dari arah belakang ada mobil yang melaju cepat ingin menabraknya.


Saat mobil berwarna putih itu semakin mendekat, tiba-tiba ada seorang malaikat baik yang menarik lengan Ava ke pinggir jalan untuk menyelamatkan Ava.


"Eeeeh!" seru Ava yang kini tengah terkejut bukan main.


Gadis itu ingin marah pada mobil putih yang di bagian kacanya ada sticker kupu-kupu berwarna ungu bercampur biru itu, tapi mobil itu sudah terlanjur jauh.


...



...


Ditatapnya malaikat baik hati yang kini tengah menatap dirinya datar.


"Kalau jalan tuh lihat-lihat, nanti bisa mati," peringat orang itu dengan nada yang amat sangat sinis, kemudian berjalan pergi ke arah halte.


Ava lantas langsung berlari untuk berterima kasih, tidak afdol jika dirinya hanya berdiam diri seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Ava duduk di samping orang itu. Sebenarnya ia sedikit ragu, tapi tak apa lah, toh orang itu sudah menyelamatkan dirinya dari maut. "Maudi, makasih, ya. Mungkin, kalau nggak ada lo, gue udah celaka karena mobil itu."


Tak ada tanda-tanda gadis di sampingnya menjawab atau menoleh ke arah Ava. Maudi berdiri karena supirnya sudah menjemputnya.


Baru saja saat ingin masuk, Maudi menoleh ke arah musuhnya itu. "Jangankan celaka, lo bisa mati karena hal itu." Setelah mengatakan itu, Maudi masuk ke dalam mobil berwarna merah. Senyuman miring pun terukir jelas di wajahnya.


Tidak bisa diartikan itu senyum yang bagaimana? Senyum jahat? Baik? Licik? Atau mungkin senyum bahagia?


Yang dirasakan Ava sekarang antara kesal karena perkataan Maudi yang seolah mendoakannya untuk mati, tapi di sisi lain ia lega karena Maudi berbaik hati untuk menyelamatkannya.


"Ayo. Keburu sore, gue mau ajak lo jalan-jalan juga!" ajak Alan yang baru saja datang membuyarkan lamunan gadisnya.


Ava langsung berdiri menghampiri Alan yang kini sudah ada di hadapannya. Memakai helm berwarna merah yang disodorkan Alan kemudian langsung naik ke atas motor.


***


Saat ini Ava dan Alan ada di tempat photochopy. Alan merobek buku gambar yang ada gambar kepitingnya, lalu mememberikan itu pada si Mas penjaga.


...



...


"Laminating, terus nanti dimasukin frame."


Cowok itu duduk di samping Ava yang kini tengah kebingungan, seolah bertanya, "Untuk apa?"


"Buat dipajang di kamar, supaya gue ingat lo terus."


Jawaban cowok di depannya ini sontak membuat gadis itu tersipu malu. Bahkan, saat ini Ava mengembangkan senyumnya selebar mungkin.


"Lo bisa nggak sih, nggak bikin anak orang senyum-senyum gini?"


Alan tersenyum sekilas. "Nggak bisa. Maunya lihat lo senyum terus." Cowok itu membuka tasnya, kemudian mengambil dua benda dengan model yang sama.


"Ini buat lo," Alan memakaikan gelang itu di tangan kiri Ava, "... dan ini buat gue." Memakai gelang itu sendiri.


"Gue jadi punya dua dong." Ava menggoyangkan tangan kiri pelan.


"Ini gelangnya gue beli waktu di pasar malam. Lo tentu udah tahu kenapa gue ke sana dan maaf karena gue udah bohong sama lo."


Ava mengangguk seraya tersenyum. "Iya, nggak papa kali. Gue juga mau makasih sama lo karena lo udah selalu ada dan jagain gue."


"Ini Mas." Penjaga photochopy laki-laki itu memberikan gambar yang sudah di laminating dan juga juga diletakkan di dalam frame.

__ADS_1


Gadis itu menatap Ava sambil tersenyum kemudian memberikan selembar uang berwarna biru.


Alan memasukkan gambar itu ke dalam tas setelah itu langsung pergi ke tempat tujuan selanjutnya.


Saat Alan akan menjalankan motornya, Ava melihat dari kaca spion Alan ada dua orang yang tidak asing bagi Ava mengawasi dari jauh. Tepatnya, di balik tembok besar sebuah supermarket, tapi saat Ava menoleh tidak ada siapa-siapa di sana.


Mungkin salah lihat kali, ya? pikirnya yakin.


Alan menoleh ke belakang secara tiba-tiba, yang membuat gadisnya terkejut bukan main. "Kenapa?"


"Jangan ngagetin gitu! Nggak, bukan apa-apa. Ayo jalan."


Alan langsung menjalankan motornya tepat setelah Ava memakai helm.


***


Sedangkan, kini di balik tembok penghalang supermarket itu ada dua orang gadis yang tengah merencakan sesuatu.


"Kita harus buat hidup Ava menderita, karena dia juga udah ngerebut semuanya dari gue. Cowok yang gue suka juga semakin menjauh karena ada gadis sialan itu," geram gadis berambut panjang lurus yang di ujung rambutnya di buat curly.


Gadis berambut agak bergelombang itu tersenyum licik. "Lo tenang aja, karena gue udah menyiapkan rencana jauh-jauh hari tepat setelah lo datang ke gue untuk ngajak kerja sama dalam ngancurin hidup, Ava."


Kedua gadis itu sama-sama tersenyum licik, mereka sudah sangat sabar untuk tidak emosi. Tapi, kesabaran mereka sudah habis saat Ava mengambil hak yang seharusnya milik mereka dan membuat masalah yang juga datang silih berganti setelahnya.


***


Ava dan Alan kini ada di sebuah tempat yang menjual sate ayam, karena di sini tidak ada jus alpukat dan jus buah naga, jadi minumnya mereka memesan es teh manis.


...



...


...



...


"Mari makan!" seru dua remaja itu serempak sambil tersenyum saat pesanan mereka datang.


Tak ada yang bicara atau menyela. Semuanya makan dengan lahap dan tenang tanpa gangguan.


***


Setelah makan, Alan mengajak Ava ke taman lagi. Entah kenapa cowok itu selalu suka saat ada di taman? Mungkin, karena udara di sini dan pepohonannya sangat asri. Selain itu juga di taman ini tidak terlalu ramai akan pengunjung, jadi suasananya sangat terjaga dari kebisingan berbagai macam kendaraan. Terasa amat sangat damai dan menenangkan.


***


Gadis itu duduk di bad kasur miliknya sembari emandangi gelang yang tadi di berikan Alan, pikirannya mengarah ke ucapan cowok itu tadi saat duduk di taman.


Flashback On


"Ava!" panggil Alan menatap lurus ke depan.


Gadis yang dipanggil menoleh. "Apa?"


"Kalau seandainya gue tiba-tiba pergi, apa tanggapan lo? Terus, gimana perasaan lo, saat itu benar terjadi?" Menatap ke arah Ava, raut wajahnya mulai berubah serius.


Ava mendekat ke arah Alan, meletakkan kepalanya di bahu kiri cowok itu. "Gue nggak akan lepasin lo semudah dan secepat itu, karena gue nggak akan pernah rela kalau hal itu terjadi."


"Kenapa lo tiba-tiba nanya itu? Gue nggak suka kalau lo ngomong gitu, seakan-akan lo kayak mau pergi jauh. Nggak usah mikirin nanti bakal gimana, kita jalanin aja dulu yang sekarang," lanjut Ava dengan nada sangat serius, menekankan kata perkata agar cowok itu juga tidak berbicara sembarangan lagi.


Jujur, ada rasa sakit dan nyeri di hatinya saat Alan mengatakan hal itu, tapi Ava tahu kalau Alan tidak bermaksud seperti itu, karena cowok itu juga hanya bertanya dan Ava hanya perlu menjawab pertanyaan itu.


Alan merangkul pundak gadisnya. "Yaa ... gue nggak bermaksud gitu. Gue cuma mengantisipasi aja kalau semisal hal itu benar terjadi. Lagian, nasib orang mana ada yang tahu."


Jawaban Alan barusan membuat Ava geram, karena gadis itu sangat tidak suka kalau cowok itu berbicara seperti benar-benar akan meninggalkannya.


Ava menatap Alan sengit. "Kalau lo ngomong kayak gitu lagi, gue yang bakal beneran pergi dari hidup, lo," ancam gadis itu tidak main-main dengan ucapannya.


"Iya, nggak lagi deh."


Flashback Off


Tidak mau memikirkan hal itu lagi, Ava mengambil handuk dan langsung pergi ke kamar mandi. Menyegarkan dan membersihkan tubuhnya dari lelah dan letih seharian ini.


***


Ava kini ada di supermarket untuk membelikan Ana pembalut. Agnes tidak mau dan lebih memilih menonton drakor di laptopnya.


...



...


Sekalian juga sih Ava membeli camilan dan teh seduh, karena akhir-akhir ini ia ingin meminum teh hangat.


Setelah membayar dan membawa barang belanjaannya, Ava keluar untuk segera pulang. Tapi sebelum itu terjadi, ia melihat ada orang yang ia kenal sedang kesusahan membawa barang belanjaannya.

__ADS_1


Ava menyebrang jalan untuk membantu orang itu. Sebenarnya Ava sangat malas, tapi sebagai manusia yang baik hati dan berjiwa sosial ia akan menolongnya.


Ava membantu memunguti belanjaan orang itu yang jatuh ke tanah, sedangkan orang itu langsung menatap ke arah Ava.


"Eeh Ava, kok lo di sini?" tanya Natalie sedikit terkejut, akan kedatangan Ava.


Sambil terus memunguti Ava menjawab, "Tadi jajan di supermarket sebrang sana."


Kedua remaja itu sama-sama berdiri, tangan kiri Ava membawa barang belanjaan Natalie sedangkan tangan kanannya membawa barang belanjaannya sendiri.


"Makasih ya Va, karena lo udah bantuin gue."


Gadis itu mengangguk pelan. "Rumah lo di mana? Gue antar pulang sekalian."


"Beneran? Kebetulan juga gue tadi naik taxi. Sekali lagi makasih yah, Ava."


"Hmm."


Keduanya lantas pergi ke motor Ava yang terparkir di depan supermarket tadi.


Ava menjalankan motornya sesuai dengan arahan yang dilontarkan Natalie. Di sepanjang jalan, Natalie terus saja memuji sekaligus membahas tentang Alan, dan hal itu tentu sangat membuat kuping Ava panas.


Duh! Ni cewek bisa diam nggak, sih? Bahasnya kok Alan mulu? Nggak tahu apa kalau calon pacarnya ada di sini? gerutu Ava dalam hati saking kesalnya.


Natalie turun dari motor Ava saat sudah sampai di pekarangan rumahnya.


...



...


Ava memberikan barang belanjaannya pada sang pemilik yang tadi diletakkannya di depan dan di terima gadis itu dengan senang hati.


Tapi tiba-tiba, ponsel Natalie berdering. "Ava bentar yah, lo jangan pulang dulu."


"Iya halo, ada apa?"


"-_-"


"Iya, gue udah nyelesaiin tugas gue kok tenang aja. Lo nggak perlu khawatir, besok kita bahas lagi."


Di sisi lain, Ava yang sudah sangat ingin pulang, malah disuruh Natalie menunggu. Karena terlalu lama, jadinya Ava menjalankan motornya menjauh dari Natalie dan juga rumah gadis itu itu.


"Iya, udah beres kok!" tegas Natalie lagi.


"Bagus," ucap orang yang ada di sebrang sana.


Mengetahui Ava sudah tidak ada di hadapannya, Natalie jadi merasa tidak enak, karena membuat gadis itu menunggu terlalu lama. "Makasih, Ava udah diantar pulang!" teriaknya saat melihat Ava yang mulai menjauh dari sana.


Gadis itu itu tersenyum senang, kemudian masuk ke dalam rumahnya.


***


Saat sampai di rumah, Ava meletakkan barang belanjaannya di ruang tamu dan memberikan pembalut pada Ana yang sudah menunggu di kamar mandi samping dapur.


"Lo lama banget sih, Va!" protes Ana tapi sama sekali tidak digubris Ava, karena gadis itu masih sangat kesal.


Mood Ava langsung hilang seketika. Natalie sungguh tidak tahu diri, pokoknya Ava kapok dan tidak mau membantunya lagi.


Ava mendudukkan dirinya di atas bad kasur sembari masih saja menatap gelang pemberian Alan tadi sore.


Ting


Ting


Ponsel gadis itu bergetar dan bisa Ava lihat ada nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan misterius.


Ava sangat sadar bahwa itu adalah nomor yang juga pernah mengirimkan pesan sebelumnya saat Ava tengah makan bersama sahabatnya di ruang makan dan kemarin saat ia tengah konser di kamar mandi.


+62 8966 ×××× ××××


Are You Ready? Because I'am ready.


"Apaan sih ini? Gedek tahu nggak gue lama-lama dapat pesan dari lo mulu!" Menunjuk-nunjuk benda pipih di genggamannya.


...***...


...Bagaimana man-teman? Kecurigaan kalian semakin kuat atau bagaimana tentang pelaku peneroran tersebut?...


...Kira-kira, siapa gadis berambut lurus dan berambut gelombang itu?...


...Dan, siapa orang yang disewa Dinda untuk memata-matai Ava?...


...Mari cari jawabannya dengan terus baca cerita ini! Part selanjutnya pasti lebih seru dari part sebelumnya!...


...***...


...Ditulis tanggal 23 Agustus 2020...


...Dipublish tanggal 05 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2