Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 71 ~ Sekarang Giliran Gue


__ADS_3

...Mari kalian absen dulu. Tempat tinggal kalian? Nama kalian? Dan, status kalian?...


...Lagu favorit kalian apa?...


...Punya idola? Dan siapa?...


...Kalian suka makan pedas?...


...Udah mau ending loh, pokoknya happy reading aja....


...***...


...



...


Setelah membuka pintu rumah Ava langsung memundurkan kaki beberapa langkah dari pintu, matanya membulat sempurna, menganga tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat di depan pintu.


Ada dua kotak di sana, kotak berwarna biru isinya tikus yang kepalanya terpenggal, sedangkan kotak berwarna putih isinya tubuh boneka beruang yang sudah termutilasi menjadi beberapa bagian.


...



...


...



...


Perlahan-lahan Ava mendekati kedua kotak itu, mengamatinya satu-persatu, masing-masing kotak ada suratnya dan dilumuri darah pula.


Ava membaca surat di kotak berwarna biru.


Sudah temukan hadiahmu? Ini untukmu yang mengambil milikku.


Setelah itu Ava membaca surat di kotak berwarna putih.


Sudah temukan hadiahmu yang satunya? Ini untukmu yang membuat dia berpaling dariku.


Apa ini maksudnya? Dan siapa yang dimaksud? Kedua pertanyaan itu yang saat ini ada di pikiran Ava.


Karena tidak mau ada yang melihat Ava buru-buru membuang itu di tempat sampah depan rumah. Pergi mengambil korek api di dapur lalu membakar hadiah yang entah tidak tahu dari siapa.


Apa gue harus bilang sama teman-teman? Atau justru enggak? pikirnya memilih pilihan yang tepat, agar nantinya tidak menimbulkan keriuhan dan kekhawatiran yang mendalam.


Ava kembali ke dalam rumah, karena takut jadi Ava mengunci semua jendela dan pintu yang ada di rumahnya, karena saat ini ia hanya seorang diri di rumah.


Gadis itu memeluk lututnya sendiri sambil memikirkan sesuatu. Pasti ada rasa takut yang ia rasakan, tapi rasa penasaran akan semua ini lebih besar.


Ava tidak boleh lengah karena teror ini semakin eksrem dan tidak manusiawi.


Apa sang peneror itu yang ngirim? Niat banget kayaknya mau neror? heran Ava menaikkan satu alisnya.


Gadis itu terdiam.


Alan? Safira? Maudi? Games? Natalie? Justi? Bagus? Lia? Itulah nama-nama yang saat iki kembali muncul mengitari otaknya.


Alan? Nggak mungkin.


***


"Tumben bawa bekal? Buat siapa?" tanya Ana yang duduk di samping Ava yang tengah menata nasi goreng dan lauk pauknya ke dalam kotak makan.


Gadis itu tersenyum lebar, seperti tidak terjadi apa-apa. Ava lebih memilih tidak menceritakan semuanya pada kedua sahabat maupun teman-temannya. Sekali lagi Ava ingatkan, ia takut kalau ada yang tahu masalah ini, mereka semua akan ikut terseret ke dalam permainan, jadi lebih baik Ava saja yang mencari tahu dan hanya ia saja yang ikut bermain sampai selesai.


"Ada lah," jawab Ava sambil memasukkan kotak bekal tersebut ke dalam tas setelah beberapa detik terdiam.


***


"Okay anak-anak, karena gambar petanya belum pada selesai, jadi dikumpulkan minggu depan saja, ya," kata Pak Chakim yang berdiri di depan meja guru setelah memberesi buku-bukunya yang ia bawa di atas meja.


"Iya, Pak!!" sahut semua siswa kelas X Ips 4 dengan sangat semangat dan terlihat gembira.


"Ya sudah, silahkan istirahat semuanya." Setelah mengatakan itu Pak Chakim keluar dari kelas.


"Fir, lo ke kantin aja dulu."


Gadis yang diajak bicara pun menoleh. "Kenapa gitu?"


"Gue ada urusan sebentar, nanti gue nyusul kok."


Safira mengangguk lalu berdiri. "Ya udah, gue duluan yah."


Setelah Safira pergi Ava menuju kelas X Ips 3 dengan kotak makan di tangannya. Gadis cantik itu buru-buru menghampiri Alan yang tengah menelungkupkan kepalanya. Di sana tidak ada Natalie yang menemani, jadi itu adalah kesempatan bagus untuk Ava.


***

__ADS_1


Ava mengetuk tangan Alan dengan jari telunjuknya. "Alan."


Cowok itu mendongak dengan lesu dan seperti biasa dengan wajah datar, yang Ava lihat di sana wajah Alan sedikit pucat. Apakah cowok itu sakit? Karena jika benar, bekal Ava lah yang akan menjadi obat penyembuh Alan. Mungkin saja.


Gadis itu sudah mengumpulkan semua niat dan percaya diri yang ia miliki, yakin kalau semua yang akan ia lakukan nantinya, akan membuat cowok itu kembali padanya.


"Berjuang atau menyerah? Tentu, gue bakal berjuang." Itu keputusan yang Ava ambil tadi malam setelah berpikir matang-matang


Ava duduk di samping Alan. "Ini buat lo, jangan dibuang, sayang. Buatnya gampang sih, tapi sepenuh hati."


Alan menatap Ava yang tersenyum lebar dan kotak bekal di sampingnya secara bergantian. Masih diam, tapi detik berikutnya cowok itu memasukkan bekal yang Ava berikan ke dalam laci dan Alan kembali ke posisinya sebelum Ava datang menghampirinya.


Gadis di sampingnya langsung tersenyum lebar sangat senang, Ava sangat bahagia kali ini, saat Alan masih mau menerima apa yang ia berikan.


"Pergi."


Walau Alan mengatakannya samar-samar, tapi Ava tentu masih bisa mendengarnya, tidak apa-apa diusir yang terpenting tujuannya sudah terlaksana sesuai rencana.


Ava berdiri menatap kepala Alan. "Ya udah, kalau kamu sakit makan bekal dari aku aja, nanti pasti sembuh." Tak ada jawaban dari Alan.


Eh ... tapi? kenapa Ava jadi pakai panggilan Aku-Kamu, bukan lagi pakai panggilan Gue-Lo?


Tanpa pikir panjang gadis itu langsung pergi ke kantin dengan senyum bahagia yang tak kunjung hilang dari bibir.


Bahkan tadi saat melewati Natalie pun, Ava masih tersenyum tanpa wajah jutek yang selalu ia tujukan untuk Natalie. Sebahagia itukah, Ava?


***


Natalie datang dan duduk di samping Alan, meletakkan bubur ayam dan air mineral di samping Alan.


...



...


"Alan, ini pesenan lo tadi."


Cowok itu lagi-lagi mendongak dengan wajah pucatnya. Hari ini tiba-tiba, Alan rasanya tak enak badan, mungkin kelelahan karena terlalu sering bermain game dan begadang terus.


"Itu, bekal dari siapa?" tanya Natalie saat melihat kotak bekal di laci Alan.


Cowok itu mengambil bekal tersebut lalu memberikannya pada Natalie. "Kasihin ke, Arim."


Oh Tuhan ... tega sekali Alan melakukan itu, padahalkan itu bekal yang Ava buat dengan sepenuh hati hanya untuk Alan. Bagaimana perasaan Ava nanti saat gadis itu tahu kalau apa yang ia berikan pada Alan justru diberikan pada orang lain dengan sangat santainya.


Sakit? Kecewa? Sedih? Marah? Murung? Tentu, pasti itu semua yang akan Ava rasakan jika gadis itu tahu. Berdoa saja semoga Ava tidak tahu dan tidak akan pernah tahu.


Arim menerimanya dengan senang hati. "Wah enak nih kayaknya?" girang cowok itu saat mencium aroma lezat nasi goreng. "Tapi, gue makan nanti aja elah, masih kenyang. Thanks ya, Nat."


Natalie mengangguk lalu duduk di kursinya, tidak mau mengganggu Alan yang sedang makan. Menoleh dan menatap ke Alan di belakangnya.


Gadis itu terdiam lalu menatap lurus ke depan.


Ada yang nggak beres.


***


Seperti biasa Ava, Ana, Agnes, Safira, Syarifa, Bagus, Justin, Dino, dan Revan mereka semua duduk di kursi dan meja yang sama, bagian belakang paling pojok kiri.


"Susah banget gue bikin petanya. Mana ukuran peta, garis, dan bentuknya harus sama persis dengan yang ada di Atlas masing-masing. Pak Chakim pake ada gituannya segala. Kenapa gambar nggak gambar aja, sih?!" gerutu Justin yang sedari tadi kesal tidak jelas gara-gara tugas dari pak Chakim yang katanya sangat susah.


...



...


"Namanya juga Guru Georafi. Ukurannya diperbesar dari yang ada di Atlas, Justin," tutur Agnes meminum jus jambu miliknya di meja. "Lo tinggal garisin satu-persatu yang ada di Atlas dengan ukuran yang udah ditentuin sama pak Chakim, terus kalau udah lo tinggal garisin juga di kertas manila dengan ukuran yang juga udah ditentuin sama pak Chakim."


"Kalau udah gitu lo ikutin deh garis bentuk petanya di kertas manila sesuai garis dan ukuran tadi yang udah lo buat di Atlas. Setelah itu kalau gambarnya udah pas dan sesuai sama gambar yang ada di Atlas, bekas garis-garis di kertas manila itu tinggal lo hapus aja, abis itu lo tinggal kasih deh lambang beserta Profinsi di bawah gambar petanya. Gampang!"


Justin mengerucutkan bibirnya, penjelasan Agnes sama sekali tidak membantunya, malah hal itu semakin membuatnya pusing. "Penjelasan lo kebanyakan kata 'kalau'. Ingat, pengulangan kata itu nggak baik, dan masalahnya itu gue nggak bisa ngitungnya! Gampang buat lo yang otaknya encer! Alan aja nggak bisa bikin kok!"


"Ya udah, nanti gue bikinin deh!" seru Ana yang pusing mendengar ocehan ngegas Justin.


"Beneran, nih?"


Ana mengangguk pelan. "Iya."


Safira dan teman-teman lainnya langsung melempari Ana dan Justin dengan popcorn yang dipegang Syarifa.


"Huuu ... bucin ... huuuuu!"


"Woi kalau bucin mah nggak usah di sini!"


"Bucin lo pada, ya!"


"Kek eeg lo pada, ya!"


"Woi popcorn gue habis nanti!"

__ADS_1


Beberapa detik kemudian Ava baru sadar akan apa yang dikatakan Justin tadi, itu kesempatan yang sangat bagus untuk Ava.


Gadis itu tersenyum dalam hati.


Gue bakal lakuin apapun buat lo, Alan.


Berucapnya pun dalam hati.


Terima kasih, Tuhan, karena sudah memberi saya kesempatan.


***


Bel istirahat kedua berbunyi lagi, sama seperti sebelumnya Ava menyuruh Safira dan teman-teman lainnya ke kantin lebih dulu.


Ava mengintip di jendela kelas X Ips 3, orang yang ia cari tidak ada di sana. Gadis yang biasa menemani orang itu juga tidak ada, tapi Ava menemukan sesuatu yang janggal. "Kayak bekal yang gue kasih ke Alan, tadi?"


Buru-buru Ava masuk ke dalam kelas, gadis itu menghampiri Arim yang dengan lahapnya memakan bekal.


...



...


"Arim, kalau boleh tahu itu bekal dari siapa?"


Arim yang tengah makan pun mendongak. "Tadi dikasih Alan. Daripada mumbadzir, yaudah gue terima dengan senang hati. Enak gini kok Alan nggak mau makan? Kenapa emangnya, Va?"


Ternyata tebakannya tadi benar kalau itu kotak bekal Ava, dan Alan dengan sengaja memberikannya pada Arim.


Ava tersenyum kecut. "Nggak papa, cuma tanya aja." Gadis itu berbalik lalu berdiri di depan pembatas kelas X Ips 3.


Mata gadis itu berkaca-kaca menahan tangis. "Sebenci itukah lo sama gue, Alan?"


Di sisi lain ada cowok yang menatap Ava penuh rasa iba. Saat ini cowok itu belum berani menemui Ava karena kejadian kemarin, takutnya jika ia mendekati Ava sekarang gadis itu akan semakin membencinya. Iya, cowok itu Games yang menatap Ava di ambang pintu kelas X Ips 4.


Gue, ada di sini Ava, berdiri jauh di belakang lo. Nggak bisakah lo liat gue sebentar dan sesekali panggil nama Gue walau itu hanya berlaku sekejab saja.


Huhu! Kenapa Games jadi sadboy gini? Berdoalah semoga, Tuhan, memberi Games kesempatan untuk bahagia bersama Ava, walau sedetik saja pun itu tidak apa-apa.


***


"Alan, tunggu!" panggil Ava saat di parkiran.


Natalie dan Alan sama-sama menoleh.


"Kenapa tadi lo kasih bekalnya ke, Arim?"


Pertanyaan Ava pada Alan juga menjawab semua pertanyaan dan ke janggalan yang tadi Natalie rasakan.


Oh, ternyata itu bekal dari, Ava? Tapi bagus deh, karena Alan udah ngasih itu ke Arim.


Natalie langsung berteriak senang dalam hati.


"Itu lo kasih buat gue, jadi itu udah jadi milik gue. So, gue berhak dong kasih ke siapa aja?"


"Ya ... iya. Tapikan itu gue buat khusus untuk lo."


Bukannya menjawab Alan malah mengajak Natalie berjalan menuju motor Alan yang terparkir tak jauh dari berdirinya mereka tadi.


Untuk kesekian kalinya ucapan Ava membuat Alan bungkam, terkejut sekaligus mamatung di tempat.


"Dulu lo berjuang mati-matian buat ngedapetin gue. Sekarang, ijinin gue untuk berjuang buat ngedapetin, lo!"


"Oh, ups! Gue nggak perlu izin sama lo, Alan karena ini hidup gue, jadi gue yang berhak nentuin semuanya!"


"Kisah ini juga milik gue dan peran utamanya adalah gue, jadi gue juga berhak ngelakuin apapun yang gue mau tanpa harus izin terlebih dahulu, entah ke siapa pun itu!"


Gue harap apa yang lo ucapkan itu nggak benar-benar lo lakukan, batin Alan.


Mata seorang cowok yang sedari tadi diam-diam mendengarkan sontak terpejam mencoba untuk sabar, mencoba untuk tidak lepas kendali, dan mencoba membuat hatinya tak perduli lagi. Sayangnya hal yang ia lakukan selama ini untuk jauh kepada Ava sia-sia saja, jadi Alan putuskan untuk lebih bekerja keras lagi supaya tujuan utamanya tercapai.


Saat cowok baru saja menoleh dan akan menjawab, gadis itu sudah tidak ada di sana. Natalie pun tentu semakin geram di buatnya.


Gue nggak akan ngebiarin itu terjadi. Nggak akan pernah, batin gadis itu dengan nafas yang sudah menggebu-gebu.


...***...


...Apa komentar kalian tentang chapter ini? Jawab di kolom komentar yah!...


...Kalian setuju nggak sama keputusan Ava? Jawab di kolom komentar, yah!...


...***...


...Ditulis tanggal 25 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 29 April 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2