Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 18 ~ Menyerah


__ADS_3

...



...


09:18


"Fir, lo tunggu di sini sebentar, yaa, soalnya gue mau ke kelas Alan dulu." Safira mengangguk.


Saat ini ia tengah menonton drakor 100 Days My Prince, sebagai pecinta Exo hal itu wajib di lakukan Safira.


Ava ke kelas X Ips 3 sambil membawa paper bag warna hitam. Ava mencari keberadaan cowok itu tapi tidak ada. Teman-temannya di sana pun sudah tidak ada.


Jadi Ava putuskan untuk meletakkan paper bag berisi jaket Alan di tempat duduk cowok itu.


Ava menoel noel lengan Gentar, cowok humoris yang duduk di depan Alan, juga cowok paling pintar di kelas X Ips 3. "Apaan sih, Va?"


"Minta selembar kertas sama bolpoin,"


Gentar memberikan secarik kertas juga bolpoin pada Ava.


Ava menuliskan sesuatu ke benda tipis itu lalu menyelipkannya ke dalam paper bag, berharap semoga Alan menemukan dan membacanya.


Ava mengembalikan bolpoin Gentar lalu pergi. "Makasih, Gentar." Ava berucap sangat manis sebelum dirinya pergi dari kelas X Ips 3.


Ava mengetuk-ngetuk jendela, memberi kode pada Safira untuk keluar. Mereka berdua pergi ke kantin, sekaligus juga ada yang ingin Ava lakukan.


"Kak Aras!" panggil Ava saat dirinya berpapasan dengan Aras di jalan menuju kantin.


Aras hanya menatap Ava datar, menungu cewek itu melanjutkan kata-katanya.


"Kak, maaf yaa soal kemarin. Gue sama Alan nggak bermaksud gitu kok, sumpah!" Ava membentuk jarinya dengan huruf V.


Di sisi lain ada Safira yang tengah sangat kesal, bagaimana tidak kesal dirinya saat ini seperti orang yang tengah mengganggu orang pacaran, terbukti jika ada siswa yang lewat menatap Safira sambil menunjuk dirinya.


"Lama-lama, Ava gue tabok di sini juga kalau nggak cepat."


"Ok. Gue bakal maafin lo, tapi ada syaratnya ..."


"Apa, apa? Bakal gue lakuin asal, Kak Aras, mau maafin, gue,"


Dari arah belakang Ava, Aras melihat ada Alan dan segerombolan temannya keluar dari perpustakaan dan ingin pergi ke kantin. Ini kesempatan Aras untuk membalas dendam pada Alan.


Aras merangkul pundak Ava yang membuat tubuh sang empu langsung mematung di tempat, tidak bisa berkata-kata. Jantung Ava sudah berdegup kencang tidak karuan, jika tak ada Aras mungkin dirinya sudah tergeletak lemas di atas paving.


Aras membisikkan sesuatu. "Nanti malam jalan sama gue tepat jam 20:20,"


Bebarengan kejadian itu Alan dan teman-temannya lewat  Aras berharap Alan akan sedikit sakit hati dengan itu.


Tapi yang Aras dapat hanya Alan yang tetap biasa biasa saja sambil mengobrol dengan Justin, terlihat seperti tidak melihat apa-apa dan sangat santai.


Agnes menyenggol siku Alan tapi Alan hanya memberikan anggukan juga senyuman.


"Iya, gue mau, Kak!" Ava langsung mengangguk cepat. Ia senang Aras mengajaknya jalan dan juga mau memaafkannya. Jadi Ava bisa menyelesaikan rencananya.


"Ava, udah belum? Yang lainbya udah pada lewat tuh." tanya Safira tidak sabaran, sambil berpura-pura memainkan kuku-kuku jarinya.


Aras menoel hidung Ava sebelum cowo itu pergi dari hadapan Ava dan Safira


"Yuk!" Ajak Ava, sambil menggandeng tangan kiri Safira dengan semangat.


***


Ava berpikir sebentar, apakah ia akan memberi tahu tentang Aras atau tidak. Ava ingin nanti malam terlihat spesial di mata Aras, mungkin teman-temannya bisa memberi saran.


Ava meminum jus alpukat nya sedikit. "Agnes ..." panggil Ava pelan seperti berbisik. Agnes menoleh sambil berdehem.


"Nanti malam gue mau jalan sama, Kak Aras, lo sama Ana bantuin gue, yaa. Soalnya gue mau keliatan spesial malam ini, tapi lebih spesial dari sebelum-sebelumnya,"


Agnes terdiam sebentar, lalu menatap Alan. "Aah ... iya, iya, gampang itu mah."


Merasa ada yang tidak beres. Rio menatap ke arah Ava dan juga Agnes. "Woi, kalian ngomongin apaan, sih? Sampe bisik-bisik segala?"


"Aah itu ... apa? Ava mau jalan sama kak Aras, dia minta tolong ke gue sama Ana buat nyiapin yang spesial, malam ini ..." Agnes menekankan dua kata terakhir, supaya Alan bisa mendengar dan sedikit peka akan hal itu.


Bagus dan Justin saling tatap, lalu menatap Alan yang tetap biasa biasa saja mendengar itu, tidak melakukan reaksi yang berlebihan, kecuali memakan snack kentang goreng dengan tenang.

__ADS_1


Bagus menggebrak pelan meja kantin, yang membuat penghuni di sana langsung menatap Bagus bingung. "Haaaa! Ava, gue mau tanya sama lo, boleh?" Ava mengangguk.


"Menurut lo, siapa yang paling ganteng, Alan atau kak Aras?"


"Kak Aras, karena gue suka sama dia, kalau sama Alan, gue nggak suka ..." jawab Ava enteng, tanpa merasa ada beban atau bersalah.


"Kalau, yang paling baik?"


"Dua-duanya baik, gue di jajanin terus,"


"Kalau, yang tempramen?" Ava terdiam sebentar, karena mengingat kejadian kemarin.


"Eeum ... nggak ada. Dua-duanya lembut ..."


"Kalau, yang paling romantis?"


"Kak Aras. Dia romantis banget,"


"Kalau, yang paling seru?"


"Alan yang paling seru, dia kayak bunglon suka berubah berubah,"


"Maksudnya?"


"Yaa ... dia itu unik, kadang cuek, kadang uring uringan, kadang humoris, bawel, nyebelin juga, tapi akhir-akhir ini dia cuek dan suka uring-uringan nggak jelas," jelas Ava sambil menatap Alan jengah.


"Jadi cewek jujur banget, dah?" batin Alan.


Bagus mangguk-mangguk sambil tersenyum dan menatap Alan yang di lihatnya saat ini tengah sedikit tersenyum.


Tiba-tiba Bagus punya pertanyaan yang menarik, dan pertanyaan itu tak akan bisa terelakkan dan terbantahkan, bahkan semua orang pun tahu. "Ok. Pertanyaan terakhir,"


"Siapa, yang paling manis?"


"Yah, kalau itu sih nggak perlu di tanya lagi!" sahut Agnes, Syarifa, Syafira, Rio, Justin, Okta, dan Raina bebarengan sambil menatap Alan yang masih diam, "... dah pasti, Alan!" lanjut mereka serempak. Ava mengangguk, setelah itu mereka tertawa.


"Ngapain lo tanya tanya-tanya, itu?" tanya Ava penasaran, ingin tahu alasannya.


"Gue rasa, ada kemiripan sama mereka berdua?"


...



...


Alan bangkit dari tempat duduk nya membayar makanan dan minuman yang ia makan, lalu pergi dari sana. Tidak mau mendengar lebih banyak tentang Ava yang selalu memuji dan membela Aras.


"Tuh, 'kan, uring-uringan lagi dia, nya?"


"Ava, kalau gue bilang lo yang bikin Alan uring-uringan, lo percaya?"


Ava langsung tersedak gorengannya atas perkataan Agnes. "Karena gue? Perasaan, gue nggak ngapa-ngapain?"


"Karena, lo jadi cewek terlalu jujur,"


Ava menghabiskan jus nya, lalu beralih menatap Agnes. "Bukannya jujur itu perbuatan terpuji, yaa?"


"Tapi kadang ada jujur yang bisa juga nyakitin perasaan orang, dan itu lebih baik di pendam dan nggak di ucapkan. " sambung Justin ikut menjawab pertanyaan Ava.


"Aah, udah lah. Gue bingung, lagian nanti Alan juga bakal baik-baik lagi, percaya deh sama, gue." Ava kembali memakan gorengannya.


Sedangkan di sisi lain Safira yang tidak mengerti apa yang di maksud teman-temannya hanya menggaruk jidatnya yang memang benar-benar gatal karena di gigit nyamuk.


Satu cewek yang bernama Safira itu memang kudet karena tidak tahu apa-apa.


***


Saat Ava kembali ke kelas bersama Safira


Ada paper bag tadi yang ia berikan pada Alan.


Ava membukanya di dalamnya masih ada hoodie Alan, tapi ada kertas origami berwarna biru di dalamnya. Ava mengambil dan membaca surat itu.


Nggak usah lo balikin, buat lo aja. Terserah mau lo apain, kalau lo balikin, gue nggak akan maafin lo.


Ava terdiam setelah membaca surat dari Alan. Ava kembali mengecek paper bag tersebut, tapi sudah tidak ada suratnya berarti Alan sudah mengambil dan membacanya.

__ADS_1


"Kenapa, Va?" tanya Safira yang melihat Ava terdiam begitu membaca surat itu.


"Aah, nggak papa." Ava memasukkan paper bagnya ke dalam laci, dan memasukkan surat dari Alan ke saku seragam.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi, Ava baru kembali ke kelas tadi karena hoodie Alan ketinggalan di laci.


Ava menyuruh Ana dan Agnes untuk pulang duluan. Sedangkan Aras menunggu Ava di parkiran.


Tapi saat di perjalanan ke parkiran Ava berpapasan dengan Maudi yang membawa pop-ice rasa kopi. Maudi sengaja berjalan dekat-dekat dengan Ava.


Alhasil seragam Ava terkena tumpahan pop-ice karena Maudi sengaja menumpahkannya.


"Ups! Nggak sengaja," ucap Maudi sambil menutup mulutnya, pura-pura terkejut.


"Lo udah gila, yaa, kayaknya? Buta lo mata lo?! Segede ini nggak liat?" kemarahan Ava langsung mengebu-gebu.


"Iya, Gue buta emang. Kenapa? Harusnya lo sadar diri dong, jadi orang kok kegatelan banget!"


Ava langsung maju satu langkah mendekati Maudi. "Maksud lo apa, ngomong gitu?"


Maudi tertawa jahat sama nenek lampir. "Lo, udah deketin kak Aras, tapi lo juga deketin Alan anak kelas sebelah!"


Ava terkekeh pelan. "Eeh, asal lo tahu, yaa, Nenek Lampir! Itu terserah gue. Lo juga bukan siapa-siapa Alan ataupun kak Aras, jadi lo nggak berhak akan semua itu!"


Setelah mengatakan itu Ava langsung mengambil sisa pop-ice di tangan Maudi, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Maudi.


Maudi langsung menganga tidak menduga akan mendapat serangan itu dari Ava.


"Minum tuh pop-ice, lo!"


Ava membuang wadahnya lalu segera pergi dari sana. Untung saja tidak ada yang melihat kejadian tersebut, kalau ada pasti akan jadi perbincangan hangat di sekolah.


Ava menolehkan kepalanya ke samping. "Lo, nggak akan pernah bisa menang lawan, gue." gumam Ava, berharap Maudi bisa mendengarnya.


***


Ava putuskan untuk mengganti seragamnya dengan hoodie pemberian Alan. Kalau tidak maka tubuh bagian atas Ava akan kelihatan karena Ava hanya memakai bikini polkadot warna biru dan tanktop warna putih


Ava segera menyusul Aras di parkiran, takut cowok itu lama menunggu.


"Baju lo, kenapa? Nggak panas apa pake hoodie?" tanya Aras saat Ava sudah di depannya.


"Tadi ada hobbit yang nggak sengaja numpahin minumannya. Ngga panas kok, malah rasanya adem gitu,"


Aras menatap jaket Ava penuh selidik. "Itu ... jaket siapa? Jaket, lo?"


"Aaah ini ... ini jaket gue. Jarang gue pake soalnya, akhir-akhir ini cuacanya, 'kan, dingin." bohong Ava, mencari alasan yang sedikit masuk akal, agar Aras percaya.


Di sisi lain ada cowo yang dari tadi menyaksikan interaksi Ava juga Aras.


Cowo itu menatap secarik kertas yang ia pegang.


Dear Alan.


Alan, ini makasih, yaa, hoodienya, lo udah bantuin gue. Kalau soal kemarin pas di rumah gue, lo lupain aja kalau lo malu ingat-ingat. Gue juga nggak akan ngungkit-ngungkit lagi kok. Jangan nangis dan jangan uring-uringan mulu, kalau ada masalah lo bisa cerita ke gue, atau ke siapapun asal lo nyaman.


^^^From Ava cewek yang paling cantik.^^^


"Gue nyerah, Va. "


Cowo itu meremas kertas yang ada di tangannya, lalu membuang kertas itu ke sembarang tempat setelah itu pergi dari sana.


...***...


...Masih pagi nih, udah pada makan belum? Udah pada mandi belum? Atau ada yang masih tidur, belek nya jangan lupa di bersihin, awokawoawok....


...***...


...Ditulis tanggal 8 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 19 Februari 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2