
...Neng Ani beli bolpoinnya dua...
...Nah, yang satu dikasih ke Raya...
...Selamat pagi buat kalian semua...
...Dan semoga selalu bahagia, ya...
...Receh banget pantun Saya. Tapi it's okay lah. Jadi mohon dimaklumi, ya....
...***...
...
...
"Karena gue nggak mau di cap sebagai 'Teman nusuk dari belakang' gue jauhin si Aniq dengan alasan, "Nanti Melly sakit hati" tapi Aniq nya malah bilang gini, "Gue bakal jauhin Melly dan nggak dekat-dekat sama dia asalkan lo nggak jauhin gue".
"Tapi, ya, gue udah nggak perduli lagi karena gue emang nggak ada rasa sama Aniq, dan tanpa gue duga hal itu malah bikin Aniq jadi rusak. Kata Havin yang dijadiin tempat curhatnya, Aniq itu jadi frustasi. Mulai minum-minuman alkohol terus buat ngilangin sejenak rasa sakit itu dan dia juga suka nangis sendirian."
"Dan, itu malah bikin gue nggak tega. Di sisi lain gue pengen banget minta maaf sama Aniq, tapi di sisi lain gue juga nggak mau karena itu akan malah membuat masalah jadi runyam."
"Gue yakin saat itu teman-teman yang tahu masalah itu dan Melly nya sendiri pasti pada ngomongin tentang gue. Karena gue masih ingat dengan jelas mereka yang saat itu nyindir dan natap sinis ke gue. Dan, sampai sekarang pun mereka semua kecuali Agnes, Ana, dan Sara nggak ada yang tahu kejadian dan alasan gue sebenarnya."
"Jadi, mereka tahunya, ya, gue nyomblangin Melly sama Aniq tapi malah gue yang jatuh cinta sama Aniq dan jadi sama dia." Air mata Ava tidak sederas tadi, gadis itu mengusap hidungnya sekilas karena keluar hingus tadi.
"Yang ke lima, gue waktu MPLS hari ke dua itu entah kenapa gue kangen banget sama teman-teman dekat gue gitu. Karena ada jamkos jadi, ya, gue putusin buat vidio call-an sama Nila. Dia cewek yang agak sangat sedikit banget mengidap Hapephobia (takut terhadap sentuhan) dan sukanya bahas film, drachin, drakor, buku, dan bahas lainnya sama gue."
"Terus setelah sama Nila gue mencoba memvidio call Marshal. Saat itu gue mikir kalau, Kenapa ini ditolak mulu panggilannya? Dan beberapa hari kemudian Marshal ngeblock nomor gue sama Agnes.
"Awalnya gue nggak tahu karena apa, tapi setelah dikasih tahu Nila akhirnya gue tahu kalau saat itu Marshal lagi pelajaran dan dia hampir dikeluarin dari kelas karena perbuatan gue itu. Kenapa Agnes diblock juga? Karena Marshal ngiranya Agnes juga ikutan dan beberapa hari sebelumnya gue sama Agnes juga vidio call-an sama Marshal."
"Yang gue dengar, hal itu semakin membuat Firdhi benci ke gue karena udah ngeganggu dan nyusahin sahabatnya. Saat itu juga gue langsung ngechat Marshal banyak dan panjang lebar."
"Intinya di chat itu gue bilang kalau gue nggak mau kehilangan teman kayak dia yang baik, karena, 'kan, gue juga udah kehilangan lima teman yang itu tadi karena sikap buruk gue."
"Tapi Alhamdulillah banget, si Marshal ngebuka blockan nomornya dan dia mau maafin gue. Sama kayak Melly tadi Marshal balasnya dikit tapi gue maklum sih karena dia masih marah sama gue. Pada akhirnya gue sadar juga kalau gue tuh ngechatnya sampai kayak ngejatohin harga diri gue gitu, jadi gue udah nggak mau jatuh di lubang yang sama."
"Tapi nggak papa jugalah yang penting si Marshal udah maafin gue. Sedihnya, ya, dari ke tujuh orang tadi cuma Marshal yang masih mau bertahan temenan sama gue. Tapi nggak tahu juga sih kalau Marshal ngelakuinnya karena terpaksa, itu bisa aja. Jadi ke enam orang tadi udah lama lost contact sama gue." Ava sedikit terkekeh bercampur tangis.
"Mungkin masih sangat banyak kesalahan gue yang lain yang bahkan nggak gue sadari. Masih banyak orang yang udah gue bikin sakit hati, tapi lima hal itulah yang membuat gue sampai sekarang belum bisa maafin diri gue sendiri sepenuhnya."
"Hal yang paling mau gue ulang, ya, saat-saat itu tadi. Gue mau memperbaiki semuanya agar nggak serumit saat ini dan berakhir gue kehilangan semuanya. Hal yang paling gue nggak suka itu saat gue minta maaf sama mereka sampai-sampai gue ngejatohin harga diri gue sejatuh jatuh-jatuhnya." Ava menarik nafasnya dalam-dalam, dan berharap agar air matanya tidak keluar lagi.
"Gue tahu kesalahan gue itu nggak akan pernah bisa dapat maaf atau maaf yang tulus dari mereka-mereka yang udah gue sakitin hatinya. Gue tahu kalau yang gue lakuin itu cuma mengejar kesenangan duniawi tanpa mikirin perasaan orang lain, dan gue juga tahu kalau kesalahan gue masih banyak dan nggak cuma itu aja."
"Tapi, cuma satu harapan gue," Ava menjeda kalimatnya, gadis itu meremas baju. Memejamkan mata sebentar kemudian menatap teman-temannya sambil tersenyum, "... dari hati gue yang paling dalam, kalau gue masih diberi kesempatan gue mau memperbaiki semuanya dan gue harap orang-orang yang pernah gue sakitin baik di sengaja maupun yang nggak di sengaja maafin gue dengan setulus hati mereka, tanpa beban, tanpa paksaan, dan tanpa rasa kasihan yang di tujuin buat gue. Udah cuma itu aja sih."
Ava mengangguk beberapa kali sambil tersenyum menatap ke arah dua sahabatnya. Ana dan Agnes menghampiri Ava kemudian memeluk gadis itu.
Bagi diri Ava sendiri, apa yang ia lakukan saat itu sudah termasuk pembullyan. Ia merasa kalau dirinya itu seperti pelaku pembullyan terhadapnya dulu dan tidak ada bedanya. Tapi, terlepas dari itu semua Ava hanya ingin memperbaiki diri menjadi yang lebih baik lagi, dan bisa mendapat maaf dari orang-orang tersebut dengan ketulusan hati mereka.
***
Alan bosan karena dari tadi cowok itu hanya bermain game. Tenggorokannya juga rasanya kering, jadi ia putuskan untuk turun ke bawah menyusul teman-temannya.
Alan menatap Ava yang dipeluk Ana dan Agnes. "Ada apa?" Menuruni anak tangga satu-persatu.
__ADS_1
Cowok itu ternyata masih belum sadar dan tahu kalau Ava habis menangis. Karena tidak mau mengganggu mereka semua, jadi Alan mengambil sendiri minuman yang tersedia di dalam kulkas.
Setelah melihat isi kulkas tersebut, wajah Alan langsung berubah datar dan menunjukkan kemarahan. Alan menutup pintu kulkas dengan cukup keras, mengambil hoodie warna cremnya yang disampirkan di dinding sofa kemudian berniat pergi dari sana.
Kira-kira apa, ya, yang membuat Alan sangat marah setelah melihat isi kulkas?
Ava yang melihat Alan berjalan tergesa-gesa itupun langsung melepas pelukan Ana serta Agnes dan langsung menghadang Alan dengan merentangkan kedua tangannya di depan cowok itu.
"Lo kenapa? Mau ke mana? Dan jelasin ke gue!" todong Ava dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Teman-teman Ava yang ada di dalam rumah pun segera keluar karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Alan masih menatap Ava dengan sorot mata kemarahan. Ava bingung apa yang terjadi dengan Alan saat ini, karena jujur ia belum pernah melihat Alan semarah ini padanya atau pada siapapun itu.
Apa jangan-jangan Alan nemu kotak itu? batin Ava hanya menebak-nebak saja, siapa tahu benar dan Ava bisa menjelaskan itu secara rinci pada cowok di depannya ini.
Tapi detik berikutnya Alan menepis kasar tangan Ava yang menghadang jalannya. Ava tidak akan tinggal diam dan lantas memeluk Alan dari belakang dengan sangat erat, karena dengan cara itulah cowok itu bisa berhenti dan mematung di tempat.
Dan, yang Ava perkirakan memang benar terjadi, cowok itu berhenti di tempatnya, perlahan-lahan emosinya mulai meredam, tubuhnya melemas seketika, serta degup jantung berdebar tidak karuan.
Alan memejamkan mata, berbalik dan saat ini Ava masih memeluk dirinya. Gadis cantik itu mendongak menatap cowok idamannya.
"Lo kenapa? Apa yang bikin lo tiba-tiba marah sama gue? Apa lo nemu sesuatu di kamar gue yang salah dan bikin lo marah?" Raut wajah Ava menunjukkan ketakutan dan ke khawatiran.
Sedangkan cowok di depannya masih menatap Ava datar. Walaupun kemarahannya itu sudah mulai mereda. "Lo minum alkohol?"
Pertanyaan Alan membuat raut wajah Ava kebingungan setengah mati. Dan kenapa Alan bisa bertanya seperti itu padanya.
"Ava minum alkohol, Nes?" tanya Bagus menatap ke arah Agnes.
Agnes menggeleng dengan cepat. "Ya, nggak lah, yakali Ava minum begituan. Liat bentuknya aja dia nggak pernah!" Nada Agnes sedikit meninggi.
Bukannya Ana membenci Bagus tapi karena pertanyan Bagus seperti menyudutkan Ava bahwa gadis itu peminum.
"Ya, nggak tahulah! Mungkin mata Alan katarak kali tadi!" jawab Ana tidak santai.
Bagus langsung pura-pura tidak mendengar dan tidak tahu apa-apa.
Ava menggeleng. "Enggak kok, gue nggak pernah minum. Kenapa lo tanyanya gitu?"
"Di kulkas lo."
Ava diam sejenak, mencoba mencerna ucapan Alan barusan. Detik berikutnya gadis itu langsung sadar dan menarik tangan Alan untuk masuk kedalam rumah.
Teman-teman yang lainnya hanya mengikuti dari belakang.
Ava mengambil gelas, membuka kulkasnya kemudian menuangkan minuman yang ada di botol kaca.
Ava berbalik lalu menatap Alan yang ada di depannya. "Minum," suruh Ava. "Udah minum aja."
Alan mengambil gelas tersebut kemudian meminum isinya. Di sana wajah Alan langsung berubah 180 derajat yang asalnya datar dan marah, kini berubah tersenyum kaku.
Ava tersenyum meledek. "Apa itu?"
Kini cowok manis itu hanya mencengis sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "T-teh."
"Bahahahahahahahahahaha!!" Semua yang di sana kecuali Ava dan Alan langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat perut mereka keram sendiri karena kelakuan Alan yang sangat tidak jelas.
"Gue pikir itu alkohol, jadi, ya, gue marah karena nggak suka," ungkap Alan terus terang, cowok itu menatap gadisnya tidak enak.
__ADS_1
Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum. Ava rasanya ingin sekali mencubit pipi Alan karena saat ini ekspresi dan kelakuan cowok itu sangat menggemaskan.
"Lo ingat nggak waktu kemah penyambutan kelas X? Di sana juga ada yang kayak gini, bahkan Rio pun juga salah paham tentang itu," jelas Ava mendekati Alan. "Hari-hari ini gue suka minum teh, karena kalau gue pengen itu harus bikin dulu dan gue malas. Jadi gue kepikiran bikin gituan dengan botol bekas sirup karena gue juga nggak punya botol plastik. Paham, 'kan?"
"Udah gila lo, Lan!"
"Sumpah kali ini Alan ngelawak kayaknya!"
"Bego banget sih Lan, lo?"
"Sekalinya ngelawak lucu banget dia!"
"Aduh! Udah yuk balik, biarin mereka ngomong berdua."
Ke empat orang itu lantas langsung pergi sambil menetralkan tawa yang tidak berhenti-berhenti.
Alan mengangguk pelan. Ava yakin pasti cowok itu saat ini tengah menahan rasa malunya. Ava kembali memeluk Alan. Sedangkan Alan sendiri saat ini tengah memberanikan diri menatap Ava.
"Lo habis nangis?" tanya cowok di depan Ava sembari mencoba mengalihkan perhatian.
Ava mendongak. "Suruh Justin aja deh yang cerita. Gue capek cerita dua kali, mana ngabisin dua chapter lagi. Dan, itupun kayak baru setengahnya belum semua. Ditambah kelakuan lo yang nggak jelas kayak gini."
Alan jadi malu sendiri karenanya, tidak tahu kenapa tiba-tiba ia jadi seperti itu. Mungkin spontan saja dan Alan berniat melawak.
***
Ava kini ada di kamarnya, tengah menatap foto-foto teman-temannya yang saat itu sering sekali foto bersama-sama. Karena semua kejadian yang diceritakan Ava tadi terjadi saat kelas sembilan.
Alan, Bagus, dan Justin sudah pulang sejak satu jam yang lalu, sedangkan Ana dan Agnes menonton tv di ruang tamu.
"Gue harap keajaiban datang menghampiri kalian dan juga datang menghampiri gue," ucap Ava pelan. "Dan, gue berharap suatu saat atau suatu hari nanti kalian bisa mewujudkan harapan gue itu." Ava mengusap ponselnya pelan sambil menitihkan air mata.
"Saat hari itu tiba, gue pasti akan menjadi gadis yang paling bahagia, itu pasti."
Entah mereka bertiga sadar atau tidak. Tapi Ava, Ana, dan Agnes sedari pagi belum mandi, sampai Alan dkk datang dan pulang pun juga mereka belum mandi.
...***...
...Gimana tadi malam taraweh pertamanya? Seru nggak? Di masjid tempat Aku agak banyak jamaahnya karena, 'kan, udah ada sedikit kelonggaran dari pemerintah....
...Hari ini puasa pertama di bulan ramadhan loh, semoga nggak berat dan bisa sampai buka puasa nanti. Kira-kira di sini ada yang udah nyetok persediaan buat bulan ramadhan?...
...Gimana puasa pertamanya? Nggak ada halangan dan lancar-lancar aja, 'kan?...
...***...
...Haha akhirnya masalah Ava sudah tuntas dibahas sampai dua chapter....
...Yuk ikutin terus ceritanya dan jangan bosan-bosan kalau baca....
...Jangan lupa aminin harapan Ava biar dia lega dan senang. Okay?...
...***...
...Ditulis tanggal 24 September 2020...
...Dipublish tanggal 13 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....