
...
...
Tadi, saat Ava turun ia langsung diserbu para penggemar barunya yang ingin mengajaknya berfoto. Aras dan Ava sekarang ada di belakang panggung berduaan tanpa ada yang menganggu, sedangkan para hadirin dan semua temannya pada makan prasmanan yang disediakan di aula utama sekolah.
Tapi, tiba-tiba saja Pak Matrio datang menghampiri keduanya dengan seringai mengerikan.
Aras dan Ava bangkit untuk menyalimi orangtua tersebut.
"Mama, mana?" tanya Aras.
"Lagi nemenin tamu undangan yang lain tadi," jawab Pak Matrio
"Jadi, ini gadisnya?" sindir sang ayah.
Ava langsung cengo, dahinya mengernyit bingung akan apa yang Pak Matrio katakan barusan.
Pak Matrio terkekeh sebentar. "Iya, akhir-akhir ini Aras sering cerita tentang kamu. Dia hanya menyebut "Miracle" tanpa memberi tahu siapa nama asli gadis itu. Entah itu benar atau dilebih-lebihkan, tapi saya rasa anak saya memang sudah jatuh cinta pada kamu. Bisa kamu buktikan dengan menatap manik matanya."
Ava hanya senyum-senyum dipaksakan sebagai jawaban.
"Pih, diim ding! Bicir imit jidi iring!" cibir Aras tidak jelas karena cowok itu tidak mau membuka mulutnya.
Matrio menepuk bahu Aras beberapa kali. "Saya pergi dulu, kalian lanjutkan saja apa yang sudah kalian mulai." Pergi dari sana diiringi sebuah senyuman mengembang.
"Apa?" todong Ava saat Pak Matrio sudah tidak ada di sana.
Aras mencengis dengan jari membentuk huruf V. "Eum ... haus, 'kan? Bentar, gue ambilin minum." Cowok itu langsung kabur dari sana menghindari berbagai macam pertanyaan dari sang gadis.
"Dasar," gumam Ava kembali duduk di kursi.
"Buat lo," kata seseorang yang saat ini berdiri tepat di depan Ava.
Gadis itu mendongak, mencoba melihat siapa orang tersebut. Dan, saat tahu siapa orangnya, ia malah melongo. "Bu-buat gue?"
Orang itu mengangguk, kembali menyodorkan sebatang coklat. "Iya, ini buat lo. Gue tahu dan sadar kalau lo nggak suka sama gue. Bukan bermaksud apa-apa, tapi anggap aja ini sebagai hadiah ucapan selamat atas penampilan lo yang memukau tadi."
Ava bangkit menatap Games panik. "Bu-bukannya gue nggak suka sama lo, tapi-"
Dengan cepat, Games meraih tangan Ava dan meletakkan coklat tersebut di telapak tangan gadis itu. "Udah, terima aja dan sama-sama." Games berlalu pergi dari sana meninggalkan Ava yang masih cengo bercampur kikuk.
Gadis itu menatap coklat yang kini di pegangnya seraya memperlihatkan senyum samar. "Terima kasih."
Sebelum Ava berhasil mendudukkan dirinya lagi ke kursi, ada sosok laki-laki yang memakai hoodie sembari memasang wajah datar dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie berjalan mendekat ke arahnya.
Ava meneguk ludahnya dengan susah payah.
Aras bersembunyi di samping panggung saat melihat ada Alan yang datang menemui Ava.
Ava refleks memundurkan dirinya saat Alan mengulurkan tangan, keduanya sama-sama canggung.
"Selamat," ucap Alan masih menyodorkan tangannya, dan Ava masih belum membalas uluran tangan tersebut.
Karena tak kunjung dibalas oleh sang gadis, Alan menurunkan tangan dan membalikkan badan beranjak pergi dari sana.
Tapi, perkataan yang terlontar dari mulut sang gadis berhasil menghentikan langkah sang pangeran es.
"I hate you," jujur Ava dengan nada suara bergetar. Gejolak rasa itu masih terasa sangat jelas di hatinya, seolah-olah tak pernah hilang, berkurang, atau berpindah dari tempatnya.
"Maaf," gumam cowok itu sebagai jawaban tanpa menoleh.
"Apa lo tahu kalau lo bersikap kayak gini, lo akan semakin membuat gue kecewa, benci, marah, dan menghancurkan dinding kokoh yang selama ini gue bangun dengan susah payah?" Ava menggigit bibir bawahnya, ia menahan sesuatu agar sesuatu itu tidak jatuh membasahi pipi.
"Maaf," ujar Alan lagi kemudian melenggang pergi dari sana.
Ava menyeka air matanya kemudian duduk sambil mengusap wajah kasar.
Sedangkan di sisi lain, ada Aras yang mencoba mengatur mimik wajahnya agar terlihat biasa saja walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja karena ucapan Ava tadi.
"Lo, kenapa? Sakit?" tanya Aras saat sampai di sana dengan membawa dua botol air mineral.
Ava mendongak kemudian menggeleng. "Enggak papa kok. Gue baik-baik aja."
Tanpa basa-basi, Ava langsung merebut satu air mineral yang Aras pegang kemudian meneguknya dengan tidak sabaran karena kerongkongannya tiba-tiba kering.
"Besok malam di sini ngadain prom night. Lo mau nggak jadi pasangan gue?"
Air yang ada di mulut Ava lantas menyembur keluar bersamaan dengan apa yang Aras katakan barusan, mengusap bibir kemudian menatap bingung cowok di depannya.
__ADS_1
"Ma-maksudnya bukan pasangan beneran, cuma untuk gandengan aja," jelas Aras agar Ava tidak salah paham.
"Emangnya boleh kalau selain kelas dua belas ikut?"
"Bolehlah. Siapa pun boleh datang untuk memeriahkan. lo juga boleh ajak teman dan sahabat lo. Bebas."
Gadis di depannya langsung semangat tidak karuan. "Beneran? Yau udah, besok gue tunggu di rumah tepat pada jam 19:00."
Aras masih mematung tak berkutik dari tempat berdirinya setelah sang gadis pergi dari sana, tidak menyangka bahwa ternyata Ava mau menemaninya ke prom night.
"Yess! Wuuuuuuuw!" Seraya menaik turunkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah dengan sangat semangat.
Beberapa detik kemudian Aras menggoyangkan tangan dan pinggulnya menirukan salah satu gerakan boyband korea BTS Go Go Go.
***
Sepulang dari sekolah, Ava langsung merebahkan dirinya di atas kasur, gadis itu mengambil hp dari dalam tas saat terdengar suara "beb".
Nenek Lampir
Selamat yah atas prestasi barunya. Tadi keren banget, dan maaf karena nggak bisa ngucapin secara langsung
Ava senyum-senyum sendiri membacanya.
^^^Ava^^^
^^^Iya, terima kasih cantik. Nggak papa kok, gue sangat tahu situasinya.^^^
Gadis itu bangkit lalu meletakkan hp nya di atas laci kemudian duduk di kursi meja belajar.
Tangannya terulur mengambil sebuah bolpoin berwarna biru.
***
Sesuai janji, Aras menjemput Ava tepat pada jam 19:00, sengan segera mereka menuju ke sekolah. Yang biasanya Ava selalu kagum dan deg-degan karena visual serta penampilan Aras yang selalu memukai dan membuat anak perawan jejeritan, kali ini terasa dan terlihat biasa saja. Seakan hal itu bukanlah hal yang tabu, baru, dan istimewa lagi.
***
Suasana malam di sekolah sangat ramai, sangat mewah, dan sangat gemerlap cahaya berwarna gold. Hal itu semakin menambah ke aestetic- an tempat dan bangunan tersebut.
Setelah Aras membukakan pintu untuk Ava, cowok itu menekuk lengannya seraya menyeringai ke arah sang gadis. Dan, dengan senang hati Ava mau membalas dan menggandeng pasangannya malam ini. Hanya malam ini?
Ava terlihat simple namun elegan tanpa banyak manik-manik atau benda yang menempel di gaun serta tubuhnya. Sedangkan Aras nampak sangat **** dengan rambut acak-acakan, dua kancing atas kemeja terbuka, dan jas hitam yang juga tidak dikancingkan.
"Woaaaaa! Ratu dan pangerannya sudah datang!" teriak salah satu siswa laki-laki saat Ava dan Aras masuk ke dalam aula kedua yang ada di lantai dua.
Saat masuk ke dalam ruangan, yang terdengar adalah lagu terbaru Ikon berjudul, Why Why Why. Maklumlah, kebanyakan mereka pada suka K-pop.
Semua arah mata siswa dan siswi yang ada di sana tertuju pada kedua remaja tersebut. Laki-laki di samping Ava nampak biasa saja tapi gadis di sampingnya merasa tidak nyaman karena terus ditatap tanpa berkedip, terlebih arah pandangan para siswa laki-laki tertuju pada bahu Ava yang terekspos dengan jelas.
Gilang dan Uki menyusul sang sahabat yang baru saja datang, mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat atas kelulusan bersama.
"Satu universitas dong kita!" Uki sedikit meninggikan suara saat music DJ yang terputar lebih keras dan menggema di ruangan tersebut.
Sadar akan reaksi gadis di sampingnya yang sesekali bergidik dan mendekatkan tubuhnya ke arah Aras untuk mencari perlindungan membuat cowok itu sendiri sedikit agak geram.
"Siapa yang berani natap Ava dengan mata najis dan jelalatan kalian, maju sini hadapin gue!" ancam Aras tajam, perlu diingat kalau apa yang Aras katakan tidak pernah main-main.
Baik laki-laki maupun perempuan yang tadinya menatap Ava beralih menatap ke arah lain, termasuk Uki sendiri yang ada di samping Aras dan sempat menatap Ava karena terkesima. Tidak ada yang berani melawan sang most wanted.
Aras lantas membuka tuxedo dan memakaikannya untuk menutupi bahu Ava.
"Yuk, ke atas aja. Di sini banyak buaya." Cowok itu menggiring sang gadis menuju rooftop untuk menikmati pemandangan sekolah di malam hari.
***
"Kak, Aras mau sekolah di mana nanti?" tanya Ava setelah beberapa menit mereka bungkam tanpa ada yang memulai.
Kedua orang itu sekarang berdiri di depan pagar besi pembatas rooftop dengan angin dingin yang perlahan masuk menyeruak seluruh tubuh.
"Maunya sih di luar negri, tapi gue takut nggak bisa jagain lo, jadi gue pilih di UGM aja yang lumayan dekat."
"Kenapa lo jadiin gue alasan? Kalau mau sekolah di sana, ya, ke sana aja!" sewot Ava yang tidak suka.
Aras tertawa. "Bercanda. Jangan galak-galak gitu, nanti cantiknya nambah dan gue nggak kuat lihatnya."
Sang gadis lantas mencubit pelan lengan cowok di sampingnya, menatap ke arah lain karena pipinya yang mulai memanas bersemu merah karena malu.
Raut wajah ceria sang gadis digantikan dengan wajah serius dan sorot mata sendu.
"Nanti, kalau Kak Aras udah pergi dari sini, apa Kak Aras masih akan nunggu gue?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Ava saat tadi ia bersusah payah menahannya.
__ADS_1
Aras diam sejenak kemudian menoleh ke samping. "Iya, gue akan tetap menunggu lo sampai lo siap nantinya. Kenapa tanya?"
Gadis di sampingnya menggeleng pelan. "Gue takut membuat Kak Aras nunggu lebih lama kalau pada akhirnya Kak Aras bakalan sakit juga."
"Mencintai lo itu hobi gue. Menunggu lo itu pilihan gue. Dan, memperjuangkan lo itu kemauan gue."
Ava mengambil sebuah kertas yang sedari tadi ia simpan di dalam saku kemudian memberikannya pada Aras.
"Ini apa?" tanya Aras setelah menerima kertas tersebut.
"Buka aja."
Kak Aras ...
Gue tahu dan sadar kalau Kak Aras sayang sama gue, gue tahu kalau Kak Aras berusaha tetap tegar saat gue masih terjebak di dalam bayang-bayang masa lalu, gue tahu kalau Kak Aras selalu mengutaman gue lebih dulu daripada diri Kak Aras sendiri, gue tahu kalau Kak Aras berusaha tetap ada di sisi gue dan menjaga gue, dan gue juga tahu kalau Kak Aras rela menuggu kepastian dari gue sampai gue siap.
Alasan kenapa Kak Aras mau dan lebih milih gue pun masih belum diketahui, jadi mungkin gue bisa mencoba untuk pelan-pelan membuka hati untuk orang lain dan belajar menyembuhkan rasa sakit itu.
^^^Thanks for everything.^^^
Itu adalah surat yang Ava tulis kemarin setelah ia pulang dari acara wisuda kelas XII.
Aras menatap Ava tidak percaya kalau gadis itu mengizinkan Aras yang memulai lebih dulu.
Dengan tatapan super bahagia dan senyum lebar yang mengembang, Aras menatap sang gadis. "Jadi?"
"Kak Aras tentu tahu apa maksudnya."
Tangan Aras berhenti di udara saat ia refleks akan memeluk gadis di depannya saking semangat dan bahagia.
"Gu-gue boleh peluk nggak?"
Ava diam sejenak, ia tidak langsung menjawab. "Boleh."
Saat Ava mengatakan hal itu, Aras lantas langsung memeluk sang gadis erat-erat tanpa mau meninggalkan celah sedikit pun. Cowok itu menggoyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan seraya sedikit berputar.
"Makasih. Makasih banyak karena lo udah mau mengizinkan gue. Apa pun dan kapan pun itu gue akan selalu meminta izin saat gue ingin menyentuh lo!"
Tangan Ava terulur untuk membalas pelukan Aras, namun ia urungkan. "Tapi, kalau gue minta untuk jadi teman atau jalanin dulu seiring berjalannya waktu, apa Kak Aras mau?"
Pelukan Aras yang tadi sangat erat kini melonggar dan berhenti menggoyangkan tubuh Ava, itu hanya berlaku beberapa detik saja karena Aras kembali melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya.
"It's okay, Ava. Berani mencintai juga harus berani patah hati. Jadi, lo ngga perlu takut akan hal itu karena gue pun juga nggak pernah takut."
Malam ini tepat pada jam 19:25 di rooftop sekolah, bulan, bintang, angin, bahkah Tuhan sekalipun menjadi saksi kalau saat ini juga Ava memberikan izin pada Aras untuk membuka semua ruangan yang ada di hati gadis itu setelah Aras berhasil menyelesaikan misinya untuk menyatukan dan memperbaiki hati Ava kembali normal seperti semula.
...(End)...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...Canda!...
...Hayoloh! Siapa yang baper sama Aras? Siapa yang jadi oleng ke Aras dan ninggalin Alan?...
...***...
...Ditulis tanggal 24 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 29 Mei 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1