
...Terkadang sesuatu yang sangat biasa dan tidak pernah kita hiraukan justru akan menjadi sangat luar biasa di kala ia membuka jati diri yang sebenarnya. Begitulah caranya, menunjukkan kalau ia berkuasa dan tidak tinggal diam di saat sesuatu itu meninggalkan dirinya termenung sendirian di sebuah bangunan....
...Aku udaah nggak sabar buat ngerayain hari raya idul fitri tahun ini, walaupun tahun kemarin dan tahun ini nggak semeriah tahun dua ribu sembilan belas dan tahun-tahun sebelumya, tapi Aku masih tetap bersyukur sih karena masih bisa kumpul-kumpul sama keluarga, karabat, dan sanak saudara lainnya....
...Semoga sih kedepannya masih bisa berkarya dan memberikan yang terbaik buat para readers tercinta. Kalian udah ada yang nyiapin jajan hari raya nggak? Pasti salah satunya ada yang zonk. Iya, 'kan? Wkwkwkwkwk, ngakak banget gitu....
...***...
...
...
"Lan."
"Iya, Va?"
"Boleh nggak kalau gue peluk lo untuk sekali ini aja? Untuk yang terakhir ini?"
Gadis itu mengangkat kepala, menatap dengan seulas senyum lemah yang mengembang.
"Bo-boleh."
Setelah Alan mengatakan itu Ava langsung memeluk Alan dengan sangat erat, ia berharap Alan tak akan pergi meninggalkannya lagi setelah ini. Sayangnya, itu hanya harapan dan angan yang tidak akan pernah terwujud.
Tangan Alan berhenti di udara saat tangannya terulur untuk membalas pelukan Ava.
Aras pergi dari sana, hatinya juga cukup sakit melihat itu. Rasanya ia ingin menyerah dan mencari gadis lain, tapi ia pun juga tak punya kuasa saat Tuhan selalu mengarahkan pikiran dan hatinya pada Ava. Jika dilihat dari kejadian tadi, mungkin Aras sama sekali tidak ada harapan, tapi bukan tidak mungkin kalau Tuhan berpihak padanya dan membalikkan hati Ava.
Aras ingin memukul sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya.
"Iya. Nanti kalau tugas kalian udah selesai, pasti gue bayar-" Ponsel Dinda langsung terjatuh saat Aras menyenggol bahunya. "Aras!"
Yang dipanggil pun menoleh dengan sangat malas. "Apa?"
"Lo nendang tangan gue! Tuh hp gue sampai jatuh! Lo jalan pakai mata, nggak sih?"
"Salah sendiri lo berdiri di tengah jalan. Kebetulan mata gue lagi diservis." Melenggang pergi dari sana dengan sangat santai, tanpa merasa bersalah.
Dinda memungut hp nya yang sekarang kacanya sedikit retak, mengusapnya perlahan. Ternyata, sambungan telepon masih tersambung.
"Udah dulu, entar gue kasih tahu lagi." Memutuskan sambungan telepon, mengikuti ke mana Aras pergi. Secara diam-diam tentunya.
***
Ternyata Aras ada di taman belakang sekolah, meninju pohon berkali-kali sampai membuat daunnya yang sudah mengering berjatuhan. Semua nama-nama binatang sudah Aras ucapkan.
Dinda hanya mengintip dari balik pintu, tapi Aras dengan kepekaan dan matanya yang tajam tahu kalau sedari tadi gadis itu mengintip dan mengikutinya.
Cowok itu menatap punggung tangannya yang mengeluarkan darah segar, tanpa membersihkannya lebih dulu, ia langsung duduk di bangku besi berwarna putih.
"Ngapain lo di sini?" tanya Aras datar, menatap lurus ke depan.
Dinda langsung keluar dari balik pintu, berjalan perlahan menyusul Aras dan duduk di bangku yang sama.
"Kenapa? Patah hati lagi? Atau dicampakkan lagi?"
"Bukan urusan lo." Menopang dagu, masih menatap lurus ke depan.
Dinda sedikit menggeser tubuhnya mendekati Aras, berniat menepuk punggung cowok itu, tapi Aras menepis tangannya lebih dulu, membuat Dinda ngilu dan sebal sendiri menghadapi sikap Aras.
"Lebih baik lo sama gue aja, pasti dijamin lo nggak akan sakit hati. Gue akan selalu ada buat lo, kapan pun dan di mana pun," bujuk Dinda, nada bicaranya berubah manja dan sangat manis.
Aras menoleh, menatap tidak percaya. "Gue emang nggak sakit hati, tapi nantinya pasti bakal sengsara." Beranjak dari sana.
Sebelum Aras benar-benar pergi, penuturan Dinda membuat langkahbya terhenti sejenak.
"Gue diam bukan berarti gue kalah atau mengalah, waktunya semakin dekat. "
Terdengar seperti sebuah peringatan, tapi Aras tak perduli akan hal itu, ia kembali berjalan keluar sampai akhirnya menghilang dari balik pintu.
Gadis itu menyeringai, menelpon orang yang sama saat hp nya terjatuh tadi.
__ADS_1
"Nanti malam aja. Kalian siapin waktu dan tempat yang perfect, hubungi dia juga. "
Saat sambungan telepon itu terputus, gadis itu hanya duduk memandangi batang tubuh pohon yang di mana ada sedikit darah Aras menempel di sana.
***
Sekarang Dino ada di rooftop karena di suruh Maudi, gadis itu terlalu keppo dengan keadaan Ava.
"Jadi, gimana keadaan Ava sekarang?" Maudi membuka suara, bisa di bilang gadis itu tidak suka dengan keadaan canggung, sama seperti Ava.
"Ava udah lebih baik. Setelah mereka pelukan, Ava langsung nyuruh Alan pergi, karena Ava udah merasa lega dan ikhlas melepas Alan sepenuhnya. Rindunya udah terobati, Alan juga udah minta maaf sama Ava," jelas Dino panjang lebar.
Maudi mengangguk. "Oh," jawabnya tak setimpal dengan penjelasan Dino.
"Respon lo cuma itu?"
"Lha terus mau gimana?"
"Ya panjang dikit, kek?"
"Ya udah iya. Jadi, secara nggak langsung masalah selesai?"
Dino mengangkat bahu. "Nggak tahu juga, mungkin belum. Ava juga harus menyembuhkan luka di hatinya, udah terlalu banyak dia di sakiti sama Alan."
"Kenapa lo seperduli itu ke, Ava?"
Dino langsung menoleh, menatap sorot mata dan wajah maudi yang berubah. "Lo cemburu, ya?" Menusuk-nusuk pipi gadis itu dengan jari.
"Enggak! Siapa juga yang cemburu? Gue cuma pengen tahu aja." Menepis tangan Dino, menatap pemandangan area sekolah dari atas.
Cowok itu membuang nafas, ikut menatap pemandangan. "Ava orangnya baik, ceria, mudah bergaul, keras kepala tapi tidak pantang menyerah, dan suka tertawa. Sebab itulah gue suka sama dia, "Beralih menatap Maudi yang kini telah menatapnya. "Kalau bukan karena Ava, kita juga nggak akan kayak gini, dan terus memendam perasaan masing-masing dan nggak akan tahu akhirnya gimana."
Gadis itu akhirnya tersenyum, mulai sekarang ia akan terus percaya pada Dino, bahwa cowok itu hanya mencintainya. Wajar saja jika Dino sangat membela Ava, karena gadis itu adalah temannya.
Dino menggeser tubuh, mengarahkan kepala Maudi untuk bersandar di bahunya. Sama-sama menikmati pemandangan dari atas rooftop tanpa ada yang mengetahui.
Kedua orang itu akan saling bersama di balik layar dan menjaga rahasia sampai lulus nanti, sesuai dengan rencana Ava dan syarat yang ia tentukan.
***
Menciptakan rasa sakit memang mudah, tapi menyembuhkannya itu yang susah. Pasti akan butuh waktu bertahun-tahun lamanya, apalagikan Ava dan Alan satu sekolah, berdampingan lagi kelasnya. Setiap hari gadis itu pasti akan bertemu atau berpapasan dengan Alan.
Ava tersenyum menatap langit-langit kamarnya. "Sakit? Iya. Lega? Iya. Kecewa? Iya. Sedih? Iya. Marah? Iya. Frustasi? Iya. Bingung? Iya. Ikhlas? Harus berusaha." Bangkit lalu mendudukkan dirinya di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sepertinya lo udah gila, Va? Lo membuat semua teman lo kesusahan dan repot, lo menganggap seakan akan mereka nggak pernah ada di sisi lo dan bantuin lo. Mereka terus membantu dan nyemangatin lo sampai-sampai mereka lupa kalau mereka juga punya kehidupan sendiri. Lo merengut semua kebahagiaan dan menyeret mereka ke dalam kehidupan lo yang sengsara, penuh tekanan, penuh teka-teki, dan penuh penderitaan."
Menelungkupkan kepala dan terisak tangis tertahan. "Lo harus membalas perbuatan mereka, Va! Apapun yang terjadi, mereka berhak hidup tenang dan bahagia tanpa diiringi masalah yang lo buat." Mengangkat kepala lalu mengusap air matanya sampai kering.
"Lo harus membuat harapan dan kerja keras mereka nggak sia-sia. Belajar ikhlas, jangan egois, dan menghargai orang-orang yang selalu ada serta kerja keras mereka. Lo nggak akan tahu kalau belum coba, karena hidup lo bukan sepenuhnya tentang Alan."
***
20:45
+62 8555 ×××× ××××
Lo datang ke lokasi ini, gue tunggu karena gue mau ngomong penting sama lo.
[Location]
Jangan sampai ketahuan Ana sama Agnes, karena gue tahu mereka nggak akan ijinin lo pergi setelah kejadian ini.
'It's Me'
Ava mondar mandir membaca pesan yang dikirimkan Alan, ia bingung harus datang atau tidak. Di sisi lain ia ingin belajar untuk mengikhlaskan, tapi di sisi lain ia juga penasaran akan apa yang Alan katakan nantinya.
Jujur, itu karena Ava masih sangat berharap pada sesosok cowok bernama, Alan.
"Datang enggak? Datang enggak? Datang enggak?" Berpikir sejenak. "Datang aja deh, daripada penasaran. Toh mungkin Alan cuma mau ngomong sebentar. Tapi, kenapa Alan ngajaknya malam banget? Biasanya nggak kayak gini? Alah, mungkin karena belum ada waktu yang tepat kali?"
Selagi Ava mempersiapkan diri, ia juga sudah memesan taxi online, karena kalau pakai motor pasti akan langsung ketahuan oleh Ana dan Agnes.
Tidak lupa juga menyetting bantal dan guling di atas bad kasur sehingga menyerupai dirinya yang tengah tidur dengam selimut yang membalut seluruh tubuh.
__ADS_1
Setelah siap, Ava langsung menuruni anak tangga perlahan-lahan supaya tidak ketahuan. Ana dan Agnes sedang menonton drama korea di ruang tamu, jadi ia lewat pintu belakang.
"Maafin gue Ana dan Agnes. Sekali ini aja gue pengen dengar Alan ngomong sesuatu." Menutup pintu belakang dan berjalan mengendap-ngendap.
Setelah benar-benar keluar dari kawasan rumah, Ava langsung masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya di depan gerbang.
"Sesuai aplikasi ya, Pak."
"Iya, Neng."
Taxi itu melaju menuju tempat yang sudah dishare Alan.
***
Beberapa hari yang lalu setelah pulang sekolah, Aras langsung ke rumah Ava untuk mengambil pisau misterius tersebut untuk mencari informasi lebih dalam. Cowok itu menatap dan mengamati pisau tersebut dengan detail dan teliti, benda tersebut tak akan pernah lepas dari matanya yang tajam.
Semenjak kejadian itu juga Ava sudah tidak pernah menerima pesan misterius dari sang peneror.
Sama seperti Ava, Aras juga tidak memegang pisau tersebut dengan tangan telanjang, terlebih tangannya masih sedikit mengeluarkan darah karena tidak diobati sama sekali, hanya dibasuh dengan air saat mandi tadi. Di kedua tangannya ia memakai sarung tangan medis yang terbuat dari karet untuk menghindari menempelnya sidik jari di barang bukti.
Aras sudah melacak nomor ponsel tersebut, tapi hasilnya nihil. Saat ia mencoba melacak di mana tempatnya, titik tersebut malah langsung hilang, atau laptopnya yang tiba-tiba error, macet pula. Selalu saja ada gangguan dan gangguan itu seakan tahu apa yang akan Aras lakukan.
Saat mata Aras tengah menyusuri pisau tersebut, cowok itu langsung terkejut saat ia baru menyadari kalau di ujung gagang pisau tersebut itu ada logo huruf yang sangat ia kenali 'AC'. Bahkan, seluruh sekolah pun juga tahu logo tersebut. Logonya yang terbilang sangat kecil membuat Aras tidak menyadari keberadaan itu sebelumnya. "Bodoh banget gue, ya, Tuhan!"
Kedua kaki Aras yang tadinya naik di atas sofa kini perlahan-lahan turun, otaknya langsung mengingat-ingat dan mulai menyadari sesuatu. Lagi-lagi jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, ada perkataan seseorang yang kini mulai terngiang-ngiang jelas dan menenuhi pikirannya.
"Iya. Nanti kalau tugas kalian udah selesai, pasti gue bayar-"
"Gue diam bukan berarti gue kalah atau mengalah. Waktunya semakin dekat."
"Kenapa gue nggak menyadari itu dari awal?"
Hp Aras yang ada di bad kasur berdering menggema di kamarnya, ternyata itu dari Agnes.
Aras menyimpan pisau tersebut di dalam laci, dan tidak lupa melepas sarung tangan. Melemparnya ke sembarang arah, setelah itu segera menggeser tombol hijau. Terdengar suara isakan dari sebrang sana.
"Kenapa, Nes?
"Ava, Kak!"
"Iya, Ava kenapa?"
"Ava nggak ada di kamarnya, dan kita nggak tahu ke mana dia pergi, kita takut kalau hal kemarin terjadi lagi. Gue udah coba telpon berkali-kali tapi nggak diangkat!"
"Iya! Iya! Gue akan bantu nyari dan kirim pasukan, kalian tenang aja! "
Cowok itu langsung mematikan sambungan telepon, dan mencoba menelpon seseorang, sayangnya orang yang ia telpon juga tidak aktif.
"Sial!" Dipakainya jaket kulit warna hitam, dan mengambil kunci motor, bersiap untuk memulai peperangan.
***
"Apa benar ini alamatnya? Masa tempatnya di sini?" Ava menatap sekelilingnya, hanya ada perkebunan dengan jalan setapak yang gelap serta sepi.
"Tapi, kata pak supir tadi benar di sini lokasinya?"
Ava menatap lurus ke depan, karena melihat sebuah bangunan, ia mulai sadar dan mengenali tempat itu. "Inikan tem-"
Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang membekapnya, perlahan-lahan penglihatan gadis itu mulai buram dan tubuhnya melemas saat menghirup aroma menyengat dari kain yang membekapnya.
...***...
...Ada yang tebakannya benar? Kalian udah tahu siapa pelakunya? Pada menduganya nggak?...
...Ayo! Ayo! Kalian gas bacanya! Jangan kasih kendor! Kuy kita marathon sama-sama!...
...***...
...Ditulis tanggal 28 November 2020...
...Dipublish tanggal 15 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....