
...
...
Zero duduk beristirahat sejenak di bawah pohon pisang, membiarkan ketiga temannya yaitu Fahri, Reza, dan Amin melawan sang penjaga, sedangkan Gilang yang tengah sibuk merekam.
"Woi! Bantuin dong!" teriak Amin disela-sela pertarungannya melawan penjaga botak saat melihat Zero duduk lesehan.
Mengibas ngibaskan T-shirt yang membalut tubuhnya. "Capek gue! Gerah juga! Nggak ada tukang bakso yang lewat apa, ya?" balasnya lebih kencang.
***
Di tempat lain yaitu di dalam bangunan, sedari tadi Ava terus bertanya untuk mengulur waktu, pasalnya kedua iblis tersebut akan menyakiti dan memotong rambutnya. Ia tentu tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Semua pertanyaan baik yang penting atau tidak penting ia tanyakan, dan bodohnya lagi Dinda dan Sintia menjawab pertanyaan Ava.
"Jadi, yang menyelinap ke ruang guru dan ngeretas cctv hanya karena ingin mengambil buku Bahasa Prancis gue itu Sintia? Terus, titik kemarin yang kabur dan dikejar Kak Aras itu, Kak Dinda yang lari? Gimana caranya?"
"Gampang. Sebelum Aras ada inisiatif untuk ngelacak nomor itu, gue lebih dulu sembunyiin hp nya di dalam gudang, lebih tepatnya di dalam radio yang udah rusak, selalu seperti itu. Aras nggak akan nemuin karena dia nggak mungkin nyari satu-satu sedangkan pak Susanto di jam-jam itu lagi patroli."
"Setelah pelajaran selesai, dan gue tahu Aras ngelacak nomor itu, gue langsung ambil hp tersebut terus kabur nyusul Sintia ke toilet cewek yang dekat kantin. Makanya sistem pelacak di laptop Aras titiknya jalan, saat gue berhenti titiknya pun juga berhenti." Menunjuk ke arah Sintia yang tengah tersenyum bangga. "Sampai di sana, Sintia langsung mengotak atik laptopnya untuk ngganggu sistem laptop Aras dan menggilangkan sensor pelacak yang kalian cari."
"Hp dan nomornya kalian apakan sampai membuat sensor kalian hilang di sistem pelacak, Kak Aras? Dan, kenapa kalian memilih kantin untuk tempat pemberhentian?"
Dinda mempersilahkan Sintia untuk menjawab, gadis itu terkekeh sebentar. "Pertanyan yang bagus. Kita nggak sebodoh itu untuk mancing lo ke sini pakai nomor yang sama. Kita buang nomor dan hp nya ke dalam toilet, terus ganti deh yang baru. Untungnya itu hp bekas, gila apa kita pakai hp masing-masing?! Lo punya otak nggak, sih? Kalau kita milih tempat sepi, kalian bakal cepat nemuin kita! Setidaknya itu untuk menghalau penglihatan kalian."
Ava menyadari sesuatu.
Jadi, saat itu gue nggak salah lihat kalau Kak Dinda tiba-tiba datang dari belakang dengan nafas yang sedikit terlihat tersengal dengan menyungging sebuah senyum smirk? pikirnya dalam hati.
Saking asiknya ketiga gadis itu mengadakan sesi tanya jawab dadakan, mereka sampai tidak mendengar suara keributan di luar bangunan.
***
Aras dan Alan mengendap-ngendap dari belakang bangunan untuk menyerang sang penjaga yang badannya paling kekar dengan tongkat baseball di tangannya.
Aras memberi kode pada Alan untuk memukul punggung penjaga itu bersama-sama sekeras dan sekuat tenaga menggunakan balok kayu yang berserakan di sekitar bangunan.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Bugh
Bugh
Bukannya tumbang, penjaga tersebut justru menoleh dengan sangat santai, seakan-akan badannya terbuat dari besi baja yang sangat kuat sehingga tidak merasakan sakit. Aras dan Alan hanya cengengesan, keduanya mundur perlahan saat penjaga itu mendekati mereka.
Pertarungan pun tak bisa terelakkan saat sang penjaga itu mengayunkan tongkat baseball ke arah kedua bocah SMA tersebut, kedua cowok itu saling bekerja sama. Saat Aras sedang menyerang penjaga itu, Alan memukul dan menendang semua bagian tubuh penjaga tersebut, begitupun sebaliknya.
Tak mau ketinggalan aksi, dari jarak yang cukup dekat tapi di balik semak-semak Uki yang sedang merekam dengan ponsel miliknya, hampir tidak bisa menahan emosi saat Aras terkena pukulan tongkat baseball penjaga itu tepat di pelipis Aras yang membuat cowok itu tersungkur.
"Kak Aras masuk aja! Biar gue yang urus!" teriak Alan yang sedang menahan tongkat baseball menggunakan balok kayu saat tongkat tersebut hanya berjarak beberapa senti dari kepala Alan.
Aras yang nafasnya tersenggal mengagguk lalu mengajak Uki bersamanya. Pintu depan tidak bisa dibuka, jadi Aras beralih ke pintu belakang.
"Bisa dibuka," gumam Aras, cowok itu akhirnya bersyukur karena ada pintu lain. "Uki, lo rekam dari jendela di sana aja, lebih aman," kata Aras menunjuk jendela di sisi lain bangunan.
Uki mengangguk. Saat ia akan pergi, cowok itu lebih dulu menepuk bahu Aras pelan. "Ras, hati-hati."
"Iya, lo juga hati-hati."
***
"Dino! Revan! Bagus! Justin! Bantuin Alan dong! Dia mau mati tuh!" tegas Syarifa sambil menunjuk kedua manusia yang ada di samping bangunan tengah saling menyerang.
Ke empat cowok itu dengan sangat berani langsung mengambil balok kayu sebagai senjata. Walau mereka tidak suka Alan, tapi cowok itu masih mau membantu menyelamatkan Ava.
Ke empat laki-laki tersebut lantas memukul punggung sang penjaga tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Dalam keadaan masih menekan tongkat baseball, penjaga itu menoleh dengan tampang super seram.
Balok kayu yang mereka bawa di tumpukan tepat di atas bahu masing-masing.
"Hey, Boy!" seru Revan dengan gaya sok cool- nya.
***
Di tempat yang cukup jauh dari bangunan Gilang, Zero, Fahri, Amin, dan Reza tengah duduk lesehan di bawah pohon pisang sambil mengibas-ngibaskan T-shirt karena berkeringat. Sesekali juga tertawa melihat nasib ke ketiga penjaga yang saat ini sudah terkulai lemas tak berdaya dalam keadaan babak belur, tubuh, kaki, dan tangan terikat. Tidak banyak luka yang mereka dapat, hanya di bagian pelipis dan sudut bibir. Tentu, yang tidak mendapat luka sama sekali itu Gilang dan Zero. Kalian tahu apa tugas mereka.
Molyvdos itu sudah tidak perlu diragukan lagi kekuatannya, di setiap pertarungan pun mereka selalu menang. Ini mah hal kecil dan bukan tandingan mereka. Bahkan, pembunuh bayaran pun akan mereka tebas habis sampai tuntas tidak tersisa. Mungkin.
Sok-sokan aja dulu, nanti juga meninggal.
Senjata berupa tongkat baseball pun juga sudah dimasukkan ke dalam karung untuk diamankan. Di dalamnya juga ada celurit. Tali yang dibuat mengikat ketiga penjaga tersebut juga tergabung ke dalam karung tersebut.
Tapi, ke empat orang lainnya seperti tidak asing dengan benda-benda tersebut, sebab kata Zero yang tadi ditugaskan mencari tali, ia mendapatkannya di antara rerumputan.
Mungkinkah itu milik para pengangon sejenis sapi, domba, kambing, kerbau dan yang lainnya?
"Bondo tah nyowo?" canda Reza seraya menodongkan celurit ke arah Fahri.
(Harta atau nyawa?)
Fahri sendiri yang terkejut menepis kasar tangan reza. "Ish! Gila lo? Kalau ada malaikat lewat gimana? Lo nya enak cuma dipenjara, lah gue hilang dari dunia!"
"Yeu ... dasar, Nol!" hina Fahri.
"Nikahi Aku Fahri," balas Zero menirukan gaya bicara bicara Maryam di salah satu film religi.
Amin, Gilang, dan Reza hanya bisa menyaksikan, sesekali ikut tertawa melihat kedua temannya yang sedang saling gelud.
***
"Sin, coba lo cek ke belakang!" suruh Dinda yang saat ini sudah menggenggam sebuah pisau.
Sintia mengambil tongkat baseball untuk jaga-jaga dan Dinda kembali menutup mulut Ava dengan lakban.
Perlahan tapi pasti, Dinda menarik kencang rambut Ava, lalu mengarahkan pisaunya untuk memotong rambut gadis itu. Ava yang tak bisa berbuat apa-apa hanya meringis dan menahan tangis akibat tarikan rambut tersebut sangat membuat kepalanya pening dan juga perih. Kulit kepala gadis itu serasa ingin copot dari tengkorak. "Dengan begini, lo nggak akan cantik lagi. Nggak akan ada yang suka dan memuja lo lagi."
Tuhan, tolong kirim seseorang untuk menyelamatkan saya, doa Ava dalam hati.
Uki sangat bersyur karena masih ada sedikit celah untuk dapat melihat suasana di dalam ruangan tersebut, buru-buru menata dan mengatur ponselnya dalam mode rekam.
Uki juga merasa ngilu saat melihat Dinda yang perlahan tapi pasti memotong surai rambut panjang Ava. "Aras lagi jalan buat nolongin lo."
***
Sintia berjalan perlahan sambil terus mengamati sekitar. "Ah! Gue lupa ngekunci lagi?!" kesalnya setelah mengecek bahwa pintu tidak terkunci.
Dan tanpa Sintia sadari dari arah belakang sudah ada Aras yang ancang-ancang memukul dirinya.
"Sorry," ucap Aras sebelum gadis di depannya menoleh ke belakang, Aras sudah lebih dulu memukul bahu Sintia, sehingga membuat gadis itu pingsan di tempat.
Jujur, Aras paling tidak bisa memukul wanita, tapi untuk kali ini ia terpaksa karena keadaannya sudah berbeda.
Aras menendang tubuh Sintia, untuk memastikan benar-benar pingsan, cowok itu menghembuskan nafas kasar. Saat mendengar suara samar-samar yang diduga suara Ava, Aras langsung berlari menyusul sumber suara.
***
"Dinda!" teriak Aras saat sampai di ruangan tempat Ava disekap.
Masih sibuk dengan pisau tajamnya yang menyayat leher Ava, lalu hendak menyayat pipi gadis itu juga sedangkan Dinda sendiri menjawab seraya tersenyum sinis, "Hey, Boy."
__ADS_1
Melihat air mata gadis yang ia cintai terbuang sia-sia membuat hati Aras terasa makin sakit dan juga ngilu saat darah suci dari leher Ava mulai mengalir turun ke dada.
"Lepasin Ava! Gue mohon, Din. Apapun bakal gue lakuin asal lo lepasin Ava."
Dinda berdecak, mata gadis itu mulai berkaca-kaca. "Buat apa gue lepasin dia kalau sekarang aja lo masih belain dia?! Buat apa?!"
***
Di sisi lain tanpa Dinda sadari karena terlalu sibuk beragumen dengan Aras, ada ke lima cowok yang tengah mencoba menendang pintu besi yang cukup tebal. Siapa lagi jika bukan Dino, Revan, Bagus, Justin, dan Alan.
Entah suatu keberuntungan atau ketidaksengajaan, ke lima cowok SMA itu bisa mengalahkan sang algojo, yang saat ini sudah terkulai lemas tidak berdaya di atas tanah dengan posisi ditindih ke empat gadis remaja. Tidak banyak luka yang remaja laki-laki itu dapat, hanya ada memar di bagian wajah akibat hantaman tongkat baseball.
Para gadis remaja itu sibuk menelpon polisi dan ambulan terdekat menggunakan ponsel Safira.
Brak
Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, pintu tersebut langsung jebol.
"Kalian di sini aja biar gue yang masuk ke dalam, takutnya nanti kalau banyak orang yang masuk Kak Dinda malah semakin kalut dan lebih nekat."
Sebelum Alan benar-benar masuk, Dino lebih dulu mengghentikan. "Lan." Melemparkan tongkat baseball dan untungnya Alan sigap menangkap benda tersebut.
"Thanks." Kemudian masuk ke dalam bangunan.
Selagi melaksanakan penyelamatan Ava, ke empat cowok tersebut langsung meluncur ke lokasi keberadaan ketiga penjaga lainnya.
***
Aras sudah membuang balok kayu tersebut ke sembarang arah atas permintaan Dinda.
"Kenapa, lo jadi kayak gini?" Matanya menatap kedua manik mata Dinda.
"Dia udah ngerebut lo dari gue, Ras! Dia juga yang udah merebut singgasana, gue!"
Saat Aras maju, Dinda dengan berani menodongkan pisaunya. "Jangan mendekat! Atau gue tusuk kepala, Ava?!"
"Nggak ada yang merebut gue dan singgasana lo, Din. Gue dan lo masih sama seperti dulu."
Dari arah belakang, tanpa Dinda sadari, ada Alan yang berjalan mengendap-ngendap mendekati mereka, cowo manis itu mengisyaratkan Aras agar tetap melanjutkan aksinya.
"Gue pernah bilang ke lo, kalau lo bisa berubah, gue akan mencoba membuka hati gue buat lo, Din. Apa itu kurang jelas?"
Dinda berdecak meremehkan, tidak percaya. Gadis itu melihat bayangan seseorang di belakangnya, yang sontak membuatnya semakin murka.
"Aaarrggghhh! Bullshit!" Berbaik lalu mengarahkan pisau ke belakang.
Karena kesigapan Alan, cowok itu langsung menepis pisau yang diarahkan ke kepalanya sehingga terlempar ke jauh membentur dinding.
Selagi Alan dan Dinda saling adu jotos, Aras justru sibuk melepas semua ikatan yang ada di tubuh Ava, tak lupa pula melepas lakban di mulut gadis itu. Aras memeluk Ava dengan sangat erat dan penuh cinta saat gadis di dekapannya ini terkulai lemas tanpa tenaga. "Lo aman sama gue sekarang."
Saat Dinda lengah kerena panik mendengar suara sirine polisi, Alan memanfaatkan kedaan dengan cara memukul bahu Dinda, yang membuat gadis itu langsung jatuh pingsan tidak berdaya.
Memutar tongkat baseball sampai akhirnya ditumpukan di atas bahu. "Sorry."
***
Saat gadis bernama Sintia itu bangun dari pingsan dan mendengar suara sirine polisi, ia langsung kabur lewat pintu belakang, tanpa menyadari ada Uki yang sudah stand by.
Bugh
Uki memukul tepat di bahu bagian kiri setelah Aras yang tadi memukul di bagian kanan, gadis itu pingsan lagi.
"Lelah hayati, ya Tuhan!" Mendongan ke atas sambil merentangkan kedua tangan kemudian mengantongi ponselnya setelah selesai merekam kejadian yang terjadi barusan.
...***...
...Kenapa senjata di sini kebanyakan tongkat baseball? Karena menuru Aku keren aja sih, dan terinspirasi dari Herley Quinn di film Suicide Squad....
...Ditulis tanggal 02 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 17 Mei 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....