
...Nah, gimana? Senang nggak kalau hari raya idul fitri ini Aku update? Anggap aja ini sebagai THR- nya deh....
...***...
...
...
Hari ini Ava putuskan untuk sekolah saja, karena ia tahu akan sangat bosan di rumah sendirian, selain itu juga karena takut sesuatu yang lebih buruk tejadi.
Hari ini kedatangan beberapa mahasiswa dari UGM yang diutus untuk memberi bimbingan dan mengajar anak kelas X beberapa bulan ke depan. Ganteng dan cantik? Tentu.
Seorang mahasiswa cantik berkerudung berdiri di depan kelas X Ips 3, Farishka Arbeliana dari jurusan Agama.
"Ada yang mau ditanyakan nggak selain nama, jurusan, kota, dan umur, karena udah tadi?"
Cowok yang duduk di paling belakang mengangkat tangan. "Sudah ada pawangnya apa belum, Kak? Kalau belum, mau nggak sama saya? Kebetulan juga saya masih jomblo."
Pertanyaan itu sontak mengundang keriuhan di kelas X Ips 3. Farishka terkekeh mendengar pertanyaan itu, ia sudah menduga kalau itu yang akan ditanyakan pertama kali.
"Woi! Anisa lo ke manain? Masuk jurang?" gemas Aryo, teman sebangku cowok yang bertanya tadi.
Anisa itu gadis tercantik di kelas X Bahasa, rambutnya panjang sedikit dan bergelombang, kulitnya aestetic banget, dan punya satu gigi gingsul di sebelah kanan.
"Ya, jadi istri pertamalah! Kak Farishka jadi istri kedua!"
Sambil terkekeh Farishka menjawab, "Kebetulan belum ada, masih sigle alias jomblo. Eum ... sepertinya jangan, karena kamu masih di bawah umur."
"Cieeee baru pertama kenal udah panggil Aku-Kamu an aja?" celetuk Justin dari arah pojok.
Siswa di sana langsung riuh lagi, dan Fariska hanya bisa terkekeh sekaligus tersenyum malu. Sepertinya ia harus banyak bersabar untuk menghadapi anak didiknya beberapa bulan ke depan.
"Ya, terus kalian mau panggil apa, nih?"
"Panggil 'Sayang' aja, gimana? Biar lebih akrab gitu?" goda cowok yang tadi duduk di paling belakang, Fahmi. Dia memang cowok spesies langka yang hanya ada di Indonesia.
Fariska cengo di tempat, bingung harus menjawab apa. Anak-anak ini memang harus mendapat bimbingan khusus.
"Yeu dasar buaya! Udah tahu jelek, mana mau Kak Farishka sama, lo!"
"Uang jajan nggak dikasih aja nggak mau sekolah, lo! Pake sok-sok an nikahin anak orang!"
"Takda ottak kau hah?! Takda ottak?! Ottak kau di mana hah?!"
"Iya dah iya! Terima aja dinistakan, karena umur mah nggak ada yang tahu."
For you information, walaupun Fahmi itu orangnya nggak terlalu ganteng, tapi mantannya itu bening-bening, bejibun lagi. Tapi memang benar apa kata orang, sejelek apapun orang itu, kalau mempunyai pesona dan kharisma yang kuat, para gadis perawan pun nggak akan bisa nolak dan malah ngantri supaya mendapat giliran.
"Di sini ada yang pacaran satu kelas nggak?"
"Mereka, Kak!" Serempak para siswa di sana langsung menunjuk ke arah Bagus dan Agnes.
Bukannya senang mereka malah saling memasang wajah merengut diiringi mata memincing.
Farishka mengulum senyum.
Kenapa mereka?
***
Karena tadi Aras mencari Ava di kelas tidak ada, jadi ia lebih memperluas pandangan, mencari gadis itu di kantin.
Setelah melihat Ava yang duduk sendirian di bagian paling pojok sebelah kiri, Aras duduk di depannya, menyodorkan kotak berukuran medium penuh coklat rasa vanila.
"Buat gue, Kak?"
"Iya, buat lo. Kok, sendirian? Biasanya ada yang lain juga?"
"Yang lain pada belum keluar. Dino sama Revan dipanggil Cha Eun-kim oppa keruangannya. Safira lagi mesenin makanan. Kak Aras ada perlu, apa?"
Mata aras menyipit. "Cha Eun-kim oppa? Ada guru baru dari korea, ya?"
Ava sendiri terkekeh, mana ada yang tahu kalau itu adalah pak Chakim karena hanya ia dan Safira lah yang tahu.
__ADS_1
"Pak Chakim maksudnya."
Cowok itu ber oh-ria kemudian tersenyum manis.
Aras mengisyaratkan Ava untuk mendekat. "Kemarin, setelah pulang, lo bilang ke gue kalau penculik itu udah tiga kali ini mau nyelakain, lo?" Ava mengangguk pelan, Aras melanjutkan. "Dan lo bilang kalau bukti yang paling jelas itu ada di stiker kupu-kupu di bagian kaca belakang mobil?"
Ava mengangguk lagi lalu menjawab, "Iya, kenapa? Kak Aras tahu mobil dengan stiker itu?"
"Gue kayak pernah lihat, tapi lupa di mana. Nanti deh gue bakal ingat-ingat lagi. Pisau kemarin masih lo simpan, 'kan?"
Belum sempat Ava menjawab, sudah ada Safira yang datang membawa dua porsi bakso dan dua jus.
Membagikan jatah milik Ava. "Eh ada, Kak Aras? Kenapa serius banget? Tadi gue sempat denger samar-samar tentang pisau. Pisau apa, sih?"
Ava dan Aras langsung saling bertukar tatap deg-degan harus menjawab bagaimana.
"Ee ... anu, apa namanya? Di lab gue praktek tentang anatomi, terus kemarin Ava nemuin pisau yang dibuat membelah katak. Kan, sempat jatuh terus hilang," bohong Aras, berharap alibinya dipercaya.
Safira mengangguk mengiyakan, melahap satu bakso yang kecil. "Ooh, kirain apaan? Kak Aras nggak pesan? Makan bareng aja gimana?"
Sedangkan yang ditanya menatap ke arah Ava yang sudah memberi kode dengan gelengan, seolah mengatakan Ja-nga-n.
"Lain kali aja deh. Bye semua!" Melambaikan tangan sebelum hilang dari belokan pintu masuk kantin.
Dalam hati Ava harap-harap cemas, ia sangat takut tadi jika Safira mendengar apa yang mereka bicarakan.
Mengambil hp di saku seragam lalu mengirim kan pesan pada seseorang.
^^^Ava^^^
^^^Kak, makasih ya coklatnya, dan makasih udah bantu sekaligus jaga rahasia.^^^
Memasukkannya lagi ke dalam saku, mulai memakan bakso yang ada di atas meja.
***
Setelah keluar dari toilet tiba-tiba arah pandangan Ava langsung tertuju pada Alan yang menggendong Natalie.
Karena sadar dan merasa ada yang menatap, Natalie menoleh ke belakang, ia tersenyum miring saat Ava ternyata menatapnya bersama Alan. Gadis itu juga yakin kalau Ava akan merasakan desiran rasa sakit yang hebat.
Apa yang Natalie harapkan benar terjadi, dada Ava langsung terasa amat sangat sakit, benar-benar sakit dan bukan sekedar kiasan semata. Matanya memanas mengeluarkan cairan bening yang identik dengan rasa asin.
Ia benci Natalie yang semakin hari semakin dekat dengan Alan, Ava bahkan terlalu sibuk mengurusi si peneror sampai ia melupakan Alan begitu saja.
Mengusap air mata yang mulai bercabang di area pipi. "Lo liat aja nanti."
Ting
Ting
Ada pesan masuk, ternyata itu balasan dari Aras.
Aras
Iya sama-sama. Minggu depan udah Mid Semester Pertama, jadi lo harus fokus dulu ke sana. Masalah si peneror, gue akan cari cara yang lebih cepat supaya gampang nemuinnya.
^^^Ava^^^
^^^Iya Kak, makasih selama ini udah bantuin. Gue nggak akan ngecewain kak Aras.^^^
Gadis itu tersenyum manis. "Dia semakin baik. Tapi, nggak tahu kenapa gue ...."
***
Ava menyuruh teman-teman yang lainnya menunggu di depan gerbang. Setelah bertanya pada pada Agnes kapan jadwal Natalie piket, ternyata hari inilah jadwal gadis itu. Sepertinya Dewi Fortuna tengah berpihak kepada Ava kali ini.
Menyusuri seluruh koridor, sampai akhirnya berdiri di depan kelas X Ips 3, menatap gadis yang sedang mengepel tanpa kaki yang terlihat pincang atau berjalan terseok-seok.
Sesuai dugaan, Natalie memperoleh jatah paling belakang, berarti gadis itu yang akan pulang paling akhir.
Perlahan tapi pasti, Ava mendekati gadis licik itu, mendorongnya secara kasar sampai tersungkur jatuh ke lantai bersama pel yang ia pegang tadi.
Gadis itu mendongak, bangkit, menatap sengit. "Maksud lo apa dorong-dorong gue, kayak gitu?"
Ava maju mendekati Natalie tanpa rasa takut sedikit pun. "Lo tanya? Lo pura-pura kaki lo sakitkan, supaya bisa digendong, Alan?"
__ADS_1
"Engga kok, tadi beneran sakit karena jatuh. Alan yang bawa gue ke uks untuk diobatin," bela Natalie.
"Halah! Bullshit! Gadis kayak lo tuh emang nggak bisa dipercaya! Inget yah! Selama gue masih hidup, gue nggak akan pernah ngebiarin lo dekat sama Alan!"
"Kenapa nggak boleh? Artinya lo udah ngambil hak sebagai sesama manusia."
"Cih! Gue nggak suka pelajaran ppkn, karena ujung-ujungnya membahas tentang gak manusia! Hak yang harusnya punya gue aja lo ambil!! Lo juga bukan guru ppkn! Gue bisa biarin Alan sama orang lain, tapi nggak sama gadis licik kayak lo! Alan itu terpaksa sama lo karena Alan ingin gue jauh dari dia! Sayangnya, rencana itu nggak mempan buat gue! Jangan pikir lo menang kali ini untuk ngedapetin Alan! Apapun bakal gue lakuin supaya Alan balik sama gue! Kalau perlu, gue gunain Budaya Indonesia!"
Dengan sangat polosnya di keadaan seperti ini, Natalie malah sempat bertanya, "Budaya Indonesia?"
"Iya! Guna-guna, susuk, pelet, dukun, dan santet sekalian! Mau lo, gue santet online?! Apapun. Apapun bakal gue lakuin!" Ava pergi dari sana, tak lupa juga untuk menabrak bahu Natalie secara kasar, ditambah dengan tatapan mata yang tajam memancarkan sorot kecemburuan serta ketidakterimaan.
Itu ia dapat dari hasil membaca novel online tadi pagi, sekali-kali dramatis sedikitkan tidak apa-apa.
Setelah Ava pergi dari sana dan sempat berdebat kecil dengan gadis itu seputar Alan, Natalie menunjukkan smirknya. "Lo pikir gue buta sampai nggak liat kedatangan lo tadi? Gue nggak segoblok itu kali, yang hanya diam tanpa melawan. Gue licik? Emang iya," monolog Natalie dalam hati.
***
Setelah makan malam Ava langsung ke kamar, membuka lemari mini dan mengambil sebuah pisau yang sudah dibungkus plastik bening. Ia mendudukkan dirinya di kursi meja belajar.
Ava tentu tidak memegangnya dengan tangan telanjang, di kedua tangannya ia memakai sarung tangan rajut warna biru muda dengan ornamen nada-nada lagu.
Menatap pisau yang pernah menusuk (maaf) pantatnya sangat tajam dan detail. "Lo di mana sekarang?"
***
Tengah malam tiba-tiba saja Ava terbangun karena habis mimpi buruk soal Alan yang pergi meninggalkannya di tengah hutan sendirian saat malam hari, kemudian cowok itu juga tiba-tiba hilang dari pandangan.
Gadis itu bangkit untuk menyalakan saklar lampu kemudian berdiri tepat di depan lemari pakaian.
Ava membuka lemari tersebut dan mengambil boneka beruang besar yang masih berpakaian hoodie over size navy.
Ava mendudukkan dirinya lagi di atas sofa sembari memangku boneka tersebut.
"Alan, gue ingin cerita sama lo. Boleh, 'kan?"
"Boleh."
"Gue takut kalau nanti peneror itu nggak ditemukan. Gue takut kalau gue bilang ke semua orang, orang yang tahu hal itu juga akan diburu. Gue juga takut kalau seandainya gue lapor polisi atau bilang ke orang tua, gue nggak akan pernah ketemu sama lo, sahabat dan teman-teman gue yang lainnya, karena Mama sama Papa pasti kirim gue, Ana, dan Agnes balik ke Amerika. Gue harus gimana kalau udah kayak gitu?"
"Cukup berdoa sama, Tuhan, dan berusaha semampu lo."
Ava memeluk sangat erat boneka beruang tersebut untuk menyalurkan semua kerinduannya. Gadis itu memejamkan matanya, kemudian membuka mata lagi. "Di sini nggak benar-benar ada lo, karena gue cuma bisa menghalu tentang lo, Alan."
***
Pagi-pagi sekali Alan mengirim pesan pada Agnes dan sebelum masuk kelas nanti Ava disuruh datang ke belakang sekolah dengan alasan Alan akan membicarakan hal penting dengan gadis itu.
Jadinya, Agnes hanya menyampaikan pesan itu pada Ava tanpa ada rasa curiga sedikit pun, dan dengan senang hati pula Ava menurutinya, ia berharap semoga Alan akan mengajaknya balikan.
Selama di koridor menuju belakang sekolah, tak henti-hentinya Ava bersenandung menyanyikan lagu My Person - Spencer Crandall, sambil menari-nari dan bermonolog kalau harapannya akan terwujud kali ini.
Kebahagiaan yang Ava rasakan saat bersama dengan Alan kini seolah muncul kembali, gadis itu sangat senang. Dan ksesempatan ini tak akan Ava sia-siakan, jarang-jarangkan mendapat kesempatan kedua.
Ava menyembulkan kepalanya di pintu masuk taman belakang sekolah, ternyata di sana sudah ada Alan yang berdiri tegap membelakanginya dengan kedua tangan di tenggelamkan ke dalam saku.
"Alan, Ini buat lo!" seru Ava super semangat sambil memberikan bekal yang tadi pagi sengaja ia siapkan khusus untuk Alan, tidak lupa juga bahwa gadis itu terus mengembangkan seulas senyuman yang sedari pagi tak pernah pudar.
Tak ada jawaban dari cowok di depannya, tapi dia membalikkan badan secara perlahan, menatap Ava sangat lekat. Awalnya sorot mata Alan biasa saja, tapi lama-kelamaan menjadi tak biasa.
Saking lekat dan tak biasa Alan menatap seperti itu, Ava terpaksa harus menghilangkan senyuman indah tersebut dari wajahnya, menatap Alan. "Lo ... kesurupan?"
...***...
...Rasanya nggak rela tahu kalau kita harus berpisah kalau nanti chapter- nya udah habis....
...Tapi, insyaallah nanti Aku akan sering-sering berkunjung dan menyapa kalian di sini....
...***...
...Ditulis tanggal 24 November 2020...
...Dipublish tanggal 13 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....