Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 83 ~ Perjanjian Dan Rahasia


__ADS_3

...



...


Belum sempat membuka pintu, Maudi langsung dibuat menoleh saat Dino mengatakan itu dengan suaranya yang lantang dan menggelegar di seluruh ruangan.


Gadis itu menoleh sambil tersenyum samar. "Gue nggak butuh belas kasihan dari kalian semua, teru-"


"Tapi gue beneran mau menjadi teman, lo!" sela Dino cepat sambil melangkahkan kakinya mendekati Maudi. "Biarin gue menjadi orang yang lo percaya, biarin gue menjadi satu-satunya pelindung lo, dan biarin gue juga untuk membuat rasa suka itu menjadi rasa cinta ke, lo."


Maudi menatap mata Dino dan menelusuk lebih dalam, mencoba melihat apakah ada kebohongan yang terpancar di sana. "Lo nggak punya alasan buat suka sama gue. Sebelum lo dijauhi dan dimusuhin teman-teman lo karena gue suka sama lo, lebih baik gue menjauh dan melupakan rasa sederhana itu."


Dino mencengkram hangat kedua lengan Maudi. "Seorang teman nggak akan pernah memusuhi dan menjauhi temannya sendiri. Mereka akan mendukung sekaligus senang saat temannya bahagia."


"Dia punya alasan yang sangat jelas untuk suka sama lo." Ke dua orang itu langsung menoleh ke arah Ava. "Sebenarnya lo bukan gadis jahat, hanya saja ... lo memendam rasa iri yang berlebih, memikul semua masalah lo sendiri, dan terlalu lama kesepian. Gue percaya bahwa lo orang yang baik dan dapat dipercaya. Lo tahu kenapa gue bisa ngomong gitu?"


"Kenapa?"


"Ingat kejadian beberapa waktu yang lalu? Saat lo nolongin gue yang hampir aja ketabrak mobil karena gue melamun?" Maudi mengangguk pelan, Ava melanjutkan kalimatnya. "Kalau lo jahat, nggak mungkin lo nolongin gue waktu itu, sebab itulah saat itu juga gue selalu berpikir bahwa lo orang yang baik. Mungkin ... itu adalah hal yang sepele dan biasa, tapi kalau lo nggak nyelametin gue, itu akan menjadi hal luar biasa yang udah beda lagi ceritanya."


"Apa lo mau nerima gue menjadi temano, saat lo juga berharap bahwa gue yang akan menjadi satu-satunya teman lo?"


Maudi menatap Dino dengan mata yang kembali berkaca-kaca, ada rasa bahagia yang menghiasi hatinya saat apa yang ia harapkan terkabul, ditambah lagi cintanya yang kini terbalaskan. "I-iya. Gue mau!" Memeluk dan menangis di dada bidang cowok itu, dino membalas pelukannya dengan senang hati.


Di dalam lubuk hati yang paling dalam, apa yang dirasakan Maudi juga dirasakan Dino. Beruntungnya mereka saat rasa suka keduanya sama-sama terbalaskan.


Ava sendiri ikut terharu dan senang akan hal itu. Bisa dibilang juga kalau Ava adalah salah satu penyebab Maudi menjadi gadis yang menjengkelkan, kalau saja ia mengajak dan mengobrol dengan Maudi dari awal, gadis itu tidak akan kesepian lagi dan menanggung semuanya.


Itu artinya ... bukan Maudi yang neror gue, batin Ava yang sudah mencoret nama Maudi beserta nama Aras juga yang telah membantunya.


Sembari melepas pelukan Dino, Maudi bergantian menatap Ava dan cowok di depannya. "Tapi gue punya sedikit syarat."


Kening Ava berkerut. "Syarat apa?"


***


Saat ketiga orang tadi masuk ke dalam kelas dan duduk di mejanya masing-masing, mereka juga langsung disambut berbagai pertanyan dari teman sebangku mereka.


"Lo habis ke mana, sih? Gue nyariin lo ke mana-mana! Gue telpon juga hp lo malah di laci!" semprot Safira menatap gadis di sampingnya dengan perasaan jengah.


"Ngasih pelajaran sama tu nenek lampir yang udah bikin rok gue robek nempel di kursi karena di lem sama dia!"


Safira memasang wajah cengo. "Hah?!"


Di mejanya Maudi, teman-temannya juga saling melemparkan pertanyaan yang hampir sama secara bersamaan. "Kenapa tadi? Lo nggak diapa-apain, 'kan?"


Untuk menjawab secara singkat, gadis itu tak lupa memasang wajah super kesal dan berujar, "Gue digeret ke belakang sekolah. Di sana gue ya ... adu jambak dan adu bacot sama tu cewek. Malah Dino belain Ava dan misahin kita."


Ke enam gadis lainnya langsung berdecak sebal dan menghembuskan nafas kecewa. "Sialan!"


Dan di meja lain pula, Revan menanyakan pertanyaan yang hampir sama seperti pertanyaan lainnya. "Gimana? Kenapa tadi? Dan, lo nggak papa, 'kan?"


"Tadi pada tabok-tabokan di belakang sekolah, gue yang diajak Ava hanya sebagai penonton sih. Barulah setelah mereka lelah, pertandingan selesai."


"Terus, siapa yang menang?"


"Nggak ada yang menang sih, kekuatan mereka berdua sama kuatnya, seimbang."


Nah, itulah yang mereka bertiga ceritakan ke teman masing-masing tanpa mau membongkar kejadian aslinya.


Sebenarnya syarat apa sih yang tadi Maudi ajukan?


Dan, kenapa mereka bertiga harus berbohong? Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


***

__ADS_1


Saat Ava akan menemui Alan di istirahat ke dua ini, Justin malah menghadang Ava di depan pintu, tidak membiarkan gadis itu masuk.


Sudah mencoba dari berbagai sisi, tapi tetap saja gagal menerobos masuk.


"Aarrgghh! Minggir ih Justin!" Menghentakkan kakinya beberapa kali di lantai.


"Mendingan nggak usah masuk deh, Va!"


Sedangkan gadis di depannya ini menyipitkan kedua matanya. "Ada apa, sih? Lo nyembunyiin apa dari, gue?"


"Ng-nggak ada! Ya lebih baik lo pergi aja sana! Nyusul teman-teman yang lainnya di kantin!"


"Gue nggaj mau! Eh itu ada kecoa di sepatu lo!"


Tepat saat Justin menyingkir dari pintu, dengan segera Ava langsung berlari menerobos masuk ke dalam kelas.


Saat menyadari tak ada apapun, Justin sudah tidak menemukan Ava di hadapannya. "Sial!"


Tepat saat masuk ke dalam kelas, Ava bisa melihat dengan jelas ada Natalie yang tidur di pangkuan Alan, di pojok kelas pula.


Gadis itu menghela nafasnya, sepertinya Alan belum sadar akan kedatangan Ava karena cowok itu sedang bermain game.


Justin yang menyadari Ava sudah melihat itu hanya menghela nafas, kemudian menjauh menyusul Bagus yang duduk bermain hp di tempatnya.


Rasa kesal dan marahnya tiba-tiba hilang saat ia terpikirkan sebuah ide jahil.


"You, okay?" tanya Justin saat melihat Ava beranjak ke luar kelas.


"Yes, i'am okay!" jawab Ava yang akhirnya hilang dari pandangan keduanya.


"You, okay?" tanya Justin lagi, kepada Bagus yang akhir-akhir ini sering marah dan murung pada sahabat Ava, Agnes.


Bagus menggeleng lemah. "No. I'am not okay."


Akhir-akhir ini bagus sering berdebat dengan Agnes karena ia sudah lama curiga kalau Agnes selingkuh dengan cowok lain. Tapi, Agnes selalu menjawab "Tidak" karena memang Agnes tidak selingkuh dengan siapapun, itu hanya asumsi Bagus saja yang terlalu khawatir. Mungkin. Atau justru Agnes yang malah menyangkal dan berbohong?


Beberapa detik kemudian Ava datang membawa dua buah tutup panci berukuran medium yang terbuat dari besi. Entah dari mana ia mendapat benda itu?


Dan, tentu dibarengi dengan teriakan menggelegar dari mulut gadis galak itu. "Woi! Bangun! Bangun! Sekolah bukan untuk tidur! Mojok mulu kerjaannya!"


Tapi beruntungnya, Alan bisa terlepas dari jeratan gadis cerewet itu yang tadi memaksa agar diijinkan tidur di pahanya sebagai bantal. Masih dalam keadaan wajah datar, Alan mengambil ponselnya dan kembali bermain seperti tidak terjadi apa-apa. Ia lebih mementingkan game daripada harus mendengar ocehan perang dunia ke tiga yang akan terjadi sebentar lagi.


Natalie yang tadi tidur di pangkuan Alan langsung terlonjak kaget. "****!! Lo ngapain, ya, Tuhan?! Nggak ada kerjaan banget jadi orang?! Dosa apa gue sama lo selama ini?!"


Ava memutar bola matanya malas. "Lo tanya salah lo apa?! Banyak! Salah satunya Lo udah ngeper-ngeper ke, Alan! Atau lo mau hue sebutin satu-satu semua kesalahan, lo?!"


Natalie bangkit dan menatap Ava penuh kejengkelan yang amat sangat banyak. "Lo pikir gue kucing, pakai ngeper-ngeper segala?!"


"Alan! Nanti malam gue mau ke rumah lo," celetuk Ava tanpa mengindahkan pertanyaan Natalie, sebelum pergi gadis itu sempat menoleh kebelakang. "Lebih baik kalau bisa sih lo seperti itu aja." Menabrakkan kedua tutup panci tersebut tepat di depan wajah Natalie untuk terakhir kalinya lalu pergi dari sana.


Natali yang geregetan dengan sikap Ava langsung menendang meja di depannya. "Dasar gadis badung, sialan!"


"Ngapain lo ketawa-tawa?" bentaknya saat melihat Bagus dan Justin yang sedari tadi tak kuasa menahan tawa.


Natalie menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


Sabar Natalie, harus jaga images di depan Alan. Menjadi gadis yang lembut dan penuh perhatian.


Apa kalian menyadari kalau apa yang dilakukan Natalie sekarang mirip dengan apa yang Ava lakukan dulu saat ingin mendapatkan, Aras? Mungkin saja Natalie meniru strategi Ava. Tapi jika begitu, ia tahu dari mana?


***


"Udah yuk pulang!" seru Ana setelah keluar dari gedung sekolah bersama dengan motornya juga.


Ketiganya langsung pulang setelah menunggu Ana dan Justin yang mojok beberapa menit yang lalu di gedung sekolah, lebih tepatnya di kelas X Ips 5.


Ava yang biasanya menunggu sendirian di gerbang sekolah kini ditemani Agnes. Kalian tentu sudah tahu kalau hubungan Agnes dan Bagus sedang merenggang beberapa hari terakhir. Bisa dibilang hubungan mereka ada di ambang kehancuran. Ah, tidak! Itu terlalu kejam. Sedikit merenggang, itu saja sudah cukup.

__ADS_1


***


Diru mengendap-ngendap masuk kedalam kamar Dino, cowo itu sama sekali tidak sadar akan kedatangan sang adik karena menghadap ke arah yang berlawanan.


Dino senyum-senyum sendiri dan terkadang cekikikan.


"Aahhhs. Hhsssss ..."


"Eeemmmppphhh. Stoppp ..."


"Faster, Baby ..."


"Ohhhhh .... aaaahhhh ... hhhsssshhh ..."


Suara-suara tersebut masih bisa terdengar di telinga Diru walaupun samar, dan ia sangat tahu apa yang kakaknya sedang tonton saat ini.


Gadis kecil itu mengeluarkan ponselnya kemudian dari belakang mengambil foto sang kakak berserta tontonannya, tapi tepat saat ia mendapatkan foto tersebut ada suara jepretan kamera yang terdengar karena ia lupa mensilent- nya.


Gadis kecil itu tersenyum kikuk saat tertangkap basah oleh Dino yang menatapnya. "Hehehe. Kabur!" Gadis itu berlari secepat kilat menyusul Chelsea yang tengah mengambil hasil panen sayuran di belakang rumah.


"Woi jangan kabur, lo! Hapus woi!" peringat sang kakak yang mulai ketakutan.


"Gue bilangin sama mamah kalau Kak Dino nontonnya begituan!" ancam Diru setelah benar-benar keluar dari dalam kamar.


"Aaaiissshhh! Gue pake lupa ngunci pintu lagi! Nggak pakai earphone pula. Mampus, gue!" Melempar ponselnya ke atas bad kasur kemudian mengejar sang adik.


***


Belum sempat ia memasuki kebun belakang rumah, Dino sudah dihadang oleh seorang wanita dewasa yang saat ini sudah memegang sekop di tangan kanan dan cangkul di tangan kiri, sungguh terlihat menyeramkan ekspresi wanita tersebut.


Dino tersenyuk paksa. "Eum .. Dino bisa menjelaskan semuanya, Mah. Ini bukan yang seperti Mama pikirkan."


"Nggak, Ma. Jangan percaya sama omongan Kak Dino, Mama, 'kan, juga tahu kalau Kak Dino suks bohong, beda banget sama Diru yang selalu jujur," kompor Diru, gadis kecil itu berusaha meyakinkan Chelsea supaya memihak padanya.


Cowok itu kembali mundur beberapa langkah. "Hehehe. Ampun, Bunda ratu." Menunduk kemudian menyatukan kedua tangan.


***


Sebelum mandi, Ava berniat merebahkan dirinya sebentar di atas bad kasur.


"Aww!" ringisnya saat merasa ada sesuatu yang menusuk (maaf) pantat mulusnya yang dittutupi dengan hoodie. Kalian masih ingat? Kan, roknya tadi robek akibat ulah jahil Maudi dkk.


Sambil mengelus (maaf) pantatnya yang terasa sedikit sakit, Ava membuka selimut yang menutupi sebagian kasur. Dan betapa terkejutnya ia saat tepat di bawah ia duduk tadi ada pisau berukuran medium yang ujungnya sangat runcing serta terlihat sangat tajam.


Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih detail. "Itu, 'kan, pisau yang berlumuran darah kemarin?" Menjauh dan mudur beberapa langkah. "Ah! Tapi nggak mungkin! Kan, pisau kayak gitu pasti ada banyak yang jual. Dan, pisau itu selama inikan juga disimpan sama, Kak Aras."


Buru-buru Ava menelpon seseorang untuk menanyakan hal itu lebih jelas daripada ia harus dibuat penasaran. Ava tentu tidak berani menyentuh pisau tersebut sebagai barang buktinya, tapi setelah beberapa kali menelpon tak ada jawaban dari sana, hal itu membuat Ava mendadak gila. Gadis itu mondar-mandir karena ketakutan sambil menggigit kuku jarinya.


"Angkat dong, Kak!"


Beberapa saat kemudian panggilan tersebut akhirnya tersambung, tapi belum sempat Ava bicara, pihak sebrang sana sudah berbicara lebih dulu.


*I*ni siapa, ya?


Ava menjauhkan ponselnya saat yang menjawab panggilan tersebut bukanlah Aras, ia cukup mengenal bagaimana suara Aras, dan yang tadi itu bukan suara sang Kakak kelas tersebut.


...***...


...Hayoloh! Kira-kira siapa yang menjawab panggilan tersebut?...


...Apa, jangan-jangan peneror itu? Cus lanjut baca!...


...***...


...Ditulis tanggal 18 November 2020...


...Ditulis tanggal 10 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2