
...
...
"Ava!"
Degup jantung Alan berdebar sangat cepat, mata cowok itu melotot seperti ingin copot dari tempatnya karena melihat Ava dibawa oleh dua orang kekar membawa topeng rajut warna hitam, kemudian dimasukkan kedalam mobil.
Alan menjalankan motornya kemudian langsung terlibat kejar-kejaran dengan mobil itu.
"Woi berhenti lo! Pacar gue mau lo bawa ke mana?" teriak Alan mencoba menghentikan mobil tersebut, tapi sayangnya mobil itu malah melaju lebih cepat.
Wah, bisa gawat ini kalau sampai Ava tidak selamat dan pulang dalam keadaan tidak bernyawa, bisa-bisa nanti ia juga pulang dalam keadaan tidak bernyawa karena Ana dan Agnes yang membunuhnya.
Sedangkan Ava saat ini tengah memberontak tidak karuan. Semua sudah gadis itu lakukan agar bisa terlepas dari dua penculik yang mengapitnya. Mulai dari menendang, memukul, menggigit sampai pura-pura mati. Tapi hal itu justru membuat Ava lelah sendiri, jadilah gadis itu berleha-leha sebentar untuk memulihkan tenaganya.
Dasar, ya, gadis gila! Diculik kok malah santai-santai gini?
Ada tiga orang di dalam mobil, yang satu menyetir dan yang dua mengapit Ava. Sayangnya gadis itu tidak bisa melihat siapa penculik itu karena ke tiga orang tersebut memakai topeng rajut warna hitam.
Saat tahu Ava kelelahan, kedua penculik itu langsung mengikat tangan dan kakinya, kemudian menutup kepala Ava dengan karung kecil. Seberusaha apapun Ava berontak, tetap saja kekuatannya tidak mempan dan tidak sebanding.
Sampai mobil itu berhenti di gudang kosong pun Alan masih setia mengikuti dari belakang. Cowok itu tidak akan membiarkan Ava dalam bahaya.
***
Alan turun dari motornya, cowok itu mengambil asal batang kayu yang berserakan di depan gudang untuk berjaga-jaga. Berjalan pelan-pelan dan bersembunyi adalah taktik Alan karena penculik itu bisa datang dari mana saja.
Cowok itu langsung berlari ke arah Ava saat melihat tangan, tubuh, dan kakinya diikat di sebuah kursi, mulut gadisnya itu pun juga dilakban.
Dengan cepat Alan melepas ikatan yang melekat pada tubuh sang gadis. Ava menggelengkan kepalanya untuk memberi kode pada Alan seolah berkata, Jangan ke sini! Tapi sayangnya cowok itu tidak mengerti dan tetap berusaha melepas ikatannya.
"Iya, iya lo nggak usah khawatir, gue akan nolongin lo dan bawa lo pergi dari sini, Ava."
Ish Alan kok ogeb banget sih jadi orang! Nggak peka-peka deh! batin Ava teramat kesal.
Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja, Ava kembali menunjuk bekakang Alan dengan dagunya sangat tidak santai. Bahkan, mata Ava pun hampir copot karena kesal Alan tidak paham-paham dengan kode yang ia berikan.
"Apa sih, Ava? Jangan melotot-melotot gitu, nanti kalau mata lo copot gimana?"
Di belakang Alan ada tiga penculik tadi yang sudah siap memukul Alan, karena masing-masing dari mereka membawa batang kayu berukuran lebih besar dari yang Alan bawa.
"Auleuan!" teriak Ava tidak jelas, sambil tetap melotot ke arah belakang.
Yaa maklum sajalah, 'kan, mulut Ava dilakban jadi dia tidak bisa berbicara.
Alan yang mulai sadar dengan kode gadisnya itu pun langsung mengambil batang kayu kemudian dipukulkan di kepala secara bergantian ke arah tiga penculik tadi.
Alan terkekeh sebentar karena ke tiga penculik tersebut meringis kesakitan.
"Eeh sialan lo bocil yah!" cibir salah satu penculik itu.
Alan berlari ke luar agar lebih leluasa saat berantem, 'kan, nanti nggak lucu kalau Ava yang malah kena gamparan kayu itu. Tapi ada satu penculik yang menjaga Ava agar Ava tidak kemana-mana.
Di serang dua orang sekaligus itu bukanlah hal yang mudah, karena jika Alan sibuk dengan yang satu nanti yang satunya lagi malah bisa menyerangnya kapan saja. Jadi cowok itu menggunakan waktu sebaik mungkin saat yang satu lengah Alan akan menyerang yang satunya.
Alan memukul secara bergantian ke arah penculik yang bertubuh gempal dan juga yang bertubuh kecil. Lalu menendang perut penculik yang bertubuh gempal sekuat tenaga hingga tersungkur jatuh ke tanah.
Tidak lupa dengan penculik yang bertubuh kecil, Alan memukul kepalanya sehingga mau tidak mau ada darah segar keluar dari pelipis penculik tersebut. Pertarungan tidak berhenti begitu saja karena dua orang itu kini saling bekerja sama untuk melumpuhkan Alan.
Tidak kehabisan akal, Alan mengambil segenggam tanah kering yang kemudian dilemparkan tepat di mata ke dua penculik tadi. Di saat lengah, cowok itu mengambil satu batang kayu lagi kemudian segera memukulkan dua batang kayu tersebut secara bertubi-tubi dan secara bergantian ke arah dua penculik itu. Alan bahkan tidak memberi kesempatan pada penculik itu untuk melawan.
"Stop! Stop! Kita nyerah!" ucap penculik bertubuh gempal, dan penculik yang satunya juga mengangguk.
Cowok itu berhenti memukul tapi tatapannya sungguh sangat tajam bak elang yang mengamuk karena mangsanya yang lepas. Detik berikutnya kedua penculik itu berlari tunggang-langgang ke arah mobil.
Alan tersenyum miring. "Nggak sia-sia dulu waktu SD - SMP gue ikut eskul silat, karate, dan taekwondo."
Sebanyak itu? Waw Alan keren banget dah.
***
"Ava!!" teriak Alan langsung masuk ke dalam gudang. Dirinya hampir lupa dengan gadisnya itu.
Alan berjalan ke arah Ava dengan sangat santai, bahkan tatapan cowok itu pun biasa saja, tapi entah kenapa penculik itu seperti ketakutan. Atau mungkin juga tadi penculik tersebut melihat teman-temannya kalah di tangan Alan.
Sang cowok mendekat dan melepas ikatan yang melekat pada tubuh Ava tak terkecuali lakban di bibir gadis itu juga, sedangkan penculik itu tidak melakukan apa-apa dan hanya menatap Alan dan Ava.
Alan merangkul pundak Ava yang kini sudah berdiri di sampingnya. Sedangkan tangan kiri cowok itu memegang batang kayu yang ditumpukan di pundak
"Mas nya nggak mau kabur juga? Soalnya tadi teman-temannya udah pada kabur bawa mobil." Nadanya sedikit mengejek.
__ADS_1
Penculik itu terlihat bimbang, perlahan-lahan memundurkan dirinya ke ambang pintu, kemudian menjatuhkan batang kayu yang dipegang lalu keluar kabur terbirit-birit mengejar mobil dan teman-temannya tadi.
Alan menjatuhkan batang kayu tersebut setelah itu langsung memeluk Ava dengan sangat erat. Sang gadis juga sama membalas dan memeluk Alan dengan sangat erat.
"Makanya kalau ngomong itu di jaga. Lo bilangnya diculik, nah sekarang lo diculik benerankan," cibir Alan tanpa melepas pelukannya.
Ava mengangguk ."Iya, nggak lagi deh. Kapok."
Salah gue juga sih sebenarnya, karena doa gue tadi. Nggak nyangka, mujarab banget, batin cowok itu setengah tersenyum.
"Tapi, lo nggak kena pukul, 'kan?" Ava bertanya lagi.
Alan menggeleng. "Enggak kok. Lo juga nggak papa, 'kan?"
Ava mengangguk. "Iya tadi diikat doang, nggak di apa-apain."
***
Di tempat yang sama tapi di sisi yang berbeda ada gadis berambut gelombang yang tengah menatap penuh amarah ke arah Alan dan Ava yang bepelukan.
"Kurang ajar kalian. Awas aja." Gadis itu pergi dari sana lewat pintu belakang.
***
Karena sudah sangat sore jadi mereka putuskan untuk pulang. Tubuh kedua remaja itu juga sangat lemas dan hampir kehabisan tenaga.
Tas Alan yang tadi tertinggal juga sudah diambil lagi. Untungnya tidak hilang.
Ting
Ting
Hp Ava berbunyi dan itu artinya ada pesan masuk. Setelah gadis itu lihat ternyata itu dari sang peneror.
+62 8966 ×××× ××××
Kapan-kapan akan kucoba lagi saat tak ada pangeranmu yang menemani.
Dahi Ava berkerut. Maksudnya? Apa dia yang nyulik gue tadi? pikir Ava dalam hati.
Kepala Ava mendekat ke arah Alan. "Lan, jangan bilang siapa-siapa, ya, soal ini, terus jangan lapor polisi juga."
"Kenapa gitu? Itu udah perbuatan yang melanggar hukum."
Karena Ava berkata sangat lirih dan memohon, jadi cowok itu tidak tega untuk menolak.
Akhirnya Alan mengangguk menyetujui. "Iya, janji."
***
Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, adik perempuan Dino yang bernama Dura dan masih duduk di bangku SMP kelas dua meminta dibelikan bakso mercon langganan keluarga mereka.
Cowok itu memberhentikan motornya tepat di depan kedai martabak telur karena ponselnya berdering, kemudian mengeluarkan ponsel dan beranjak membuka pesan dari sang adik.
"Mau beli berapa, Mas?"
"Saya nggak mau beli, Bang. Cuma mau parkir soalnya hp saya bunyi."
"Ya udah, kalau nggak mau beli silahkan pergi aja! Sama aja sama yang tadi! Ganggu!" usir penjual martabak tersebut.
Anak setan✔
Bang, nggak jadi beli bakso. Beliin martabak telur aja, mama juga mau katanya. Beliin tiga porsi, nanti tetangga sebelah mau dikasih juga.
^^^Dino^^^
^^^Iya.^^^
Dino itu tipe kakak yang pengertian dan sayang kepada adik perempuan satu-satunya itu. Walaupun Dura tergolong ke dalam gadis yang menyebalkan, jahil, dan nakal tapi gadis itu selalu menurut apa kata orang tua dan saran serta peringatan dari sang kakak.
Walaupun Dura tidak terlalu pintar seperti kakaknya, tapi itu semua tidak masalah asalkan sopan dan santunnya dijaga, itu sudah sangat cukup membanggakan keluarga. Itulah prinsip dan pesan yang diajarkan serta diwariskan Malik pada anak-anaknya.
Pokoknya semuanya yang Dura inginkan akan diberikan dan dilakukan Dino selagi cowok itu mampu dan bisa. Selain itu juga karena Dino menggantikan peran ayah untuk Dura. Malik- Papa sekaligus suami Chelsea yang meninggal sekitar empat tahun yang lalu karena kecelakaan sebuah pesawat.
Itulah penjelasan singkat mengenai Dino dan keluarganya.
Cowok itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemudian menyalakan mesin motor sportnya
"Harusnya sih saya beli tiga porsi karena ini tadi adik saya yang minta. Tapi, karena Abang nya galak dan udah diusir, nggak jadi. Bye, Bang." Menjalankan motornya dari sana.
"Mas! Sini, Mas! Saya khilaf tadi! Mas! Balik woi!"
Teriakan dan panggilan penjual martabak tersebut sama sekali tidak digubris Dino. Cowok itu malah tertawa sembari membelokkan motornya ke penjual martabak langganan keluarga Dino.
__ADS_1
Perjual martabak itu yang tadi kesal lantas membuang kemudian menginjak topinya beberapa kali.
"Sama aja!"
Kayaknya Revan dan Dino adalah saudara kembar yang berpisah selama bertahun-tahun?
***
19:06
Agnes dan Ana sudah berdandan sangat cantik dengan pakaian casual mereka. Ke dua orang itu lantas ke kamar Ava untuk menyuruh gadis itu dandan juga.
Ava masih kepikiran tentang hal tadi sore. Alan dan dirinya juga sepakat untuk tidak memberi tahu siapa-siapa.
Tapi yang Ava pikirkan saat ini adalah, Ada urusan apa peneror itu dengan dirinya? Sehingga tega untuk menculik Ava.
"Ava!"
Teriakan Agnes di ambang pintu langsung membuyarkan lamunan gadis tersebut.
"Apaan?"
"Lo ganti baju yang cantik, yang rapi, dan yang bagus kita tunggu di bawah. Okay?"
"Mau ke mana?"
"Woi! Mau ke mana?"
"Ribet banget. Gue capek!"
Setelah mengatakan itu Agnes dan Ana langsung turun ke bawah, tidak menghiraukan segala pertanyaan yang Ava lontarkan.
"Woi! Mau apa sih pakai dandan segala?!" Ava berdecak sebal, turun dari atas bad kasur kemudian segera mengganti bajunya.
***
Ava memakai dress warna merah di atas lutut yang memamerkan kedua lengan sekaligus bahunya, rambut panjang nan lebatnya pun juga dibiarkan tergerai.
"Woi mau ke mana, sih? Pakai ditutup segala?" tanya Ava yang dari tadi tidak bisa diam, karena kedua mata Ava ditutup dengan kain panjang berwarna merah.
Ana menabok pelan mulut sang sahabat. "Udah ih lo diam aja. Nanti lo juga tahu."
"Lo abis makan sama terasi, ya, Na? Baunya gini banget?" cibir Ava tanpa dosa.
"Ah elah biarin aja!" jawab Ana bodo amat dengan bau tangannya.
Agnes yang tengah menyetir mobil dan mendengar itu pun hanya terkekeh. "Punya teman kok gini banget perasaan."
***
Saat sampai di tempat tujuan, Ana dan Agnes memapah sahabatnya untuk masuk ke dalam tempat tersebut.
"Hati-hati jalannya, nanti jatuh," peringat Agnes sebelum hal itu terjadi.
Ava mencebikkan bibir. "Yaa makanya copot dong penutup matanya!"
"Lo ogep, ya, jadi orang, kalau dicopot nanti nggak jadi surprise dong!"
"Udah, udah jangan ribut," ucap Agnes menghentikan pertengkaran kedua sahabatnya yang sedari tadi tidak mau akur.
Saat sudah di ambang pintu, Ana perlahan membuka penutup mata Ava.
Gadis itu terlihat memfokuskan pandangan matanya karena sedikit memburam. Dan, barulah saat mata gadis itu kembali normal, dirinya langsung menutup mulut lalu ternganga tidak percaya akan apa yang ia lihat saat ini.
...***...
...Tunguin dong! Jangan pada kabur!...
...Readers be like \= Maksa banget, Thor kayaknya?...
...Author be like \= Iya, emang. Karena kalau nggak dipaksa pada nggak mau....
...Enggak! Canda zeyenk. Jangan baper. Okay!...
...Pada kuat nggak puasanya? Jangan sampai dibatalin, dosa. Godaan di bulan ramadhan emang banyak, mau beli jajan ini dan itu tapi nggak ada duit. Ada sih, cuma kurang banyak aja. Wkwkwkwk...
...***...
...Ditulis tanggal 27 September 2020...
...Dipublish tanggal 15 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....