
...Pastikan kalian semua sudah pada makan, ya, karena marah-marah juga perlu banyak tenaga....
...Happy reading man-teman!...
...***...
...
...
18:34
Ava masih takut akan teror yang menghantuinya, jadi mulai sekarang gadis itu selalu mengunci kamar dan menutup gorden jendela. Bahkan, dirinya akan tidur tanpa mematikan lampu kamar.
Awalnya sih memang sangat menganggu dan tidak bisa tidur karena cahayanya yang dihasilkan, tapi Ava sangat yakin kalau ia akan terbiasa dengan hal itu.
Ting
Ting
Ava mengambil ponselnya yang ada di bawah bantal, karena sepertinya ada pesan masuk.
+62 8254 ×××× ××××
Besok, lo ada waktu nggak? Gue mau ngomong penting soalnya.
'It's Me'
^^^Ava^^^
^^^Iya, ada kok. Udah gitu doang?^^^
+62 8254 ×××× ××××
Iya, lagi mau ngegame soalnya. Boleh, 'kan?
^^^Ava^^^
^^^Boleh, tapi jangan lama-lama. Okay?^^^
+62 8254 ×××× ××××
Hmm
Gadis itu meletakkan benda pipih tersebut di bawah bantal lagi, kemudian menyusul Agnes di yang ada kamarnya.
***
"Nes, lo nonton apaan sampai tegang kayak gitu?" tanya Ava saat sudah duduk di samping sahabatnya.
"Nonton drakor Suspicios Partner," balas Agnes tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Lha? Bukannya minggu lalu udah tayang di tv, kok lo nonton lagi?"
Agnes menjeda drakornya kemudian beralih menatap gadis di sampingnya. "Bukannya sama kayak lo yang nonton Drachin New Meteor Garden 2018 sampai enam kali, itu karena apa?"
"Karena gue suka lah, kalau nggak suka mah nggak bakalan gue tonton!" jawab gadis itu rada ngegas.
Agnes kembali fokus ke layar laptopnya. "Yaa sama dong, gue nonton sampai dua kali ini karena gue suka."
"Itu lagunya enak banget. Judulnya apa?" tanya Ava lagi karena berniat mengganggu acara santai sang sahabat.
Agnes menghela nafas. Mencoba bersabar menghadapi Ava. "Judulnya How Do You Say, puas? Udah ah, pergi lo sana jangan ganggu gue. Mendingan lo beresin lemari lo yang berantakan itu!"
"Eeh, kok lo tahu lemari gue berantakan? Abis nyolong apaan lo di kamar gue?" tuduh Ava asal sambil menyipitkan kedua matanya.
Agnes menatap gadis di sampingnya dengan sengit. "Mata lo nyolong! Tadi pas lo sibuk mandi, gue ngambil topi bucket yang lo pinjam kemarin!"
Ava hanya mendengus malas sebagai jawaban dari penjelasan panjang yang dilontarkan Agnes.
"Eeh, tapi kalau seumpama kita bisa nyanyi kayak gitu keren deh. Manggung bertiga, terus nanti gue nyanyi sambil yang main gitar, lo sama Ana juga ikut nyanyi bareng."
"Udah, ah! Lo suka banget ngayal dan ngehalu. Suara lo tuh jelek tahu nggak, bikin kuping pengang!" hina Agnes tanpa rasa berdosa sama sekali.
Sedangkan gadis yang dihina hanya memutar bola mata malas, sedetik kemudian Ava pergi ke kamarnya.
"Iish! Dasar jailangkung, datang nggak diundang pergi nggak diantar!" ejek Agnes kembali fokus menonton drakor di laptop.
***
Ava membuka lemarinya, dan ternyata benar apa yang di katakan Agnes, isi lemarinya sangat berantakan dan tidak teratur.
__ADS_1
Gadis itu terdiam sebentar kemudian menatap rak paling samping, di sana ada lima hoodie berbagai warna yang Alan berikan.
Di paling bawah ada kotak kardus yang isinya semua barang-barang pemberian Aras termasuk foto mereka berdua saat di mal.
Ava duduk di atas bad kasur, mengambil ponselnya kemudian memesan sesuatu di online shop. Tidak tahu apa itu tapi yang pasti akan sangat berguna.
"Yes! Besok diantar deh!" soraknya setelah selesai memesan.
Ting
Ting
Ada pesan masuk lagi, dan ternyata itu pesan dari sang peneror.
+62 8966 ×××× ××××
Hai, apa Kau merindukanku? Sekarang Aku tahu rahasiamu karena Aku mencari tahu lewat dia yang ada di sana.
Lama kelamaan Ava jadi semakin geram dengan omong kosong yang dilontarkan peneror itu, jadi ia putuskan untuk membalas pesannya. Ia bahkan sama sekali tidak paham akan apa yang peneror tidak jelas itu maksud.
^^^Ava^^^
^^^Heh magadir! Lo gabut hah? Ganggu orang aja, lo!^^^
^^^Dasar nggak jelas!^^^
***
Sudah beberapa menit berlalu untuk menunggu jawaban dari sana tapi tetap tidak ada jawaban dari nomor itu. Karena bosan menuggu, akhirnya Ava putuskan untuk tidur saja dan bermimpi tanpa menghiraukan pesan misterius tersebut.
Ia hanya berharap kalau semua pesan dari nomor itu hanyalah mimpi dan saat bangun Ava bisa langsung bernafas lega tanpa rasa takut yang berlebih.
***
09:16
Dino di tugaskan untuk mengumpulkan tugas Bahasa Jawa ke Pak Joko di ruang guru.
Tepat saat di belokan koridor menuju ruang guru, tiba-tiba saja ada yang menabrak cowok itu sehingga buku-buku yang ia pegang jatuh ke lantai.
"Kalau jalan tuh lihat-lihat dong! Pakai mata kaki sih liatnya!" murka Dino tidak sempat melihat siapa pelaku tersebut.
Orang itu berjongkok kemudian membantu Dino memunguti buku tulis yang jatuh tadi.
Dino terdiam sejenak karena ia merasa suara itu sangat familier dan setiap hari didengarnya. Itu seperti suara dari gadis yang tempo hari selalu marah-marah dan beberapa hari terakhir ini selalu sendirian tanpa teman.
Cowok itu mendongak mencoba memastikan apakah tebakannya benar atau salah.
Dino sendiri dibuat cengo dan tertegun karena Maudi yang selama ini ia kenal dan wujudnya seperti nenek lampir bisa selembut itu jika berbicara. Gadis itu juga mau membantu dan tanggung jawab atas kesalahannya.
Mungkin saja karena Maudi belum tahu siapa yang ia bantu sekarang? Atau juga bisa jadi gadis itu sudah tobat menjadi anak baik?
Tapi beberapa detik setelahnya, cowok itu membuyarkan semua lamunan tersebut kemudian memunguti buku-buku yang tersisa dan berpura-pura tidak tahu sebelumnya. Dino hanya tidak mau berimajinasi lebih luas dan liar dengan hal yang tidak penting seperti itu.
Barulah setelah selesai, keduanya berdiri secara bersamaan.
"Lo?" seru Maudi yang baru sadar kalau cowok yang ia tabrak adalah Dino.
"Apa?"
"Gue kirain siapa tadi. Nih, ambil!" Menyodorkan buku yang ia pungut tadi dengan kasar.
Dino pun juga tidak mau kalah, cowok itu mengambilnya secara kasar juga. "Kalau jalan lihat-lihat makanya!" Pergi dari sana dan meninggalkan Maudi sendirian.
Tapi entah kenapa, baru saja akan masuk ke dalam ruang guru seperti ada yang menuntunnya untuk menoleh ke belakang. Cowok itu itu akhirnya menoleh ke belakang karena rasa penasaran, bisa Dino lihat sekarang, bahwa dari arah yang berlawanan ada enam teman Maudi yang berlari ke arah bosnya itu, kemudian masing-masing dari mereka memegang tangan Maudi agar tidak kabur lagi.
"Haha mau ke mana, lo?" pungkas Fera seraya tertawa mengejek.
"Ayo! Lo bayar makanannya, 'kan, lo bosnya Bebs. Jangan kabur gitu dong," sambung Dira memperingati.
Dino yang ada di ambang pintu ruang guru mengernyitkan dahi. "Bayar makanan?"
Bisa cowok itu lihat kalau sekarang Maudi menghela nafas kemudian mengangguk mengiyakan.
"Okay, gue akan bayar."
Dengan cepat Dino langsung buru-buru masuk ke dalam ruang guru, karena tidak mungkin, 'kan, kalau dirinya tercyduk menguping membicaraan mereka bertujuh.
"Ada yang aneh kayaknya?" gumamnya saat benar-benar susah ada di dalam ruang guru, tepatnya di balik pintu.
***
Ava pergi ke kelas Alan karena setelah gadis itu ke kantin, ternyata kata Justin cowok itu masih tidur di kelas. Selain itu juga karena tadi malam katanya Alan ingin berbicara sesuatu.
__ADS_1
Ava berhenti di ambang pintu saat melihat Natalie duduk di samping Alan sambil menatap cowok itu dengan senyuman manisnya.
Sedangkan Alan sendiri hanya menelungkupkan kepala sambil mendengarkan musik menggunakan earphone yang terpasang di telinga cowok itu.
Tenang Ava, mungkin Alan nggak tahu ada Natalie di sampingnya. Menyemangati dirinya sendiri dan mencoba tetap berfikir positif. Tapi udah berapa lama Natalie duduk di samping, Alan?
Setelah mengatur nafasnya, gadis itu tersenyum sambil menghampiri Alan.
"Alan!" panggil Ava tanpa menghiraukan Natalie di sana.
"Alannya lagi tidur, Va," jawab Natalie santai tanpa mengalihkan pandangan.
"Mendingan lo minggir deh, dan nggak usah dekat-dekat lagi sama Alan. Gue tahu kali kalau lo suka sama Alan, tapi Alan nya, 'kan, udah milih gue. Jadi, buat apa lo berharap?" jelas Ava sedikit menyombongkan diri.
"Gue cuma duduk di sini aja kok, nggak lebih dari itu. Kalau lo nggak percaya Alan tidur, nih gue liatin," balas Natalie masih dengan nada dan wajah yang tenang.
Ava memelototkan matanya tepat saat melihat Natalie menyingkap rambut depan yang menutupi mata dan dahi cowok itu.
Ava menepis tangan gadis itu dengan kasar. "Nggak usah pegang-pegang bisa nggak, sih?!"
Sisa siswa dan siswi yang ada di sana langsung menoleh dan menatap ke arah Ava. Tentu saja gadis itu tidak perduli karena sudah tersulut emosi. Kemarahannya sudah menggebu-gebu dan sampai di ubun-ubun, jadi tidak ada alasan untuk Ava perduli akan ia yang menjadi tontonan, bahan gosip atau bahkan bullyan. Karena Ava sendiri sudah pernah mengalami hal itu secara langsung.
Sedangkan Natalie sendiri malah bertingkah seperti orang yang paling teraniaya. Bagaimana tidak begitu, wajahnya saja sangat memelas, matanya berkaca-kaca, dan di tambah lagi tatapan matanya yang mengisyaratkan dirinya sebagai gadis polos.
"Nggak usah sok jadi polos dan sok paling suci!" sarkas Ava sembari mendorong-dorong pundak Natalie kasar.
"Ya nggak usah dorong-dorong juga kali. Kan, bisa di omongin baik-baik."
"Gue nggak bisa baik sama lo kalau lo aja berniat ngerebut Alan dari gue. Gue tuh sebenarnya nggak mau ribut sama lo hanya karena cowok, tapi lo sendiri yang udah nyulut emosi gue. Cari dong cowok lain yang masih single!"
Perlahan-lahan mata Alan terbuka. Ia sangat terganggu dengan suara keras yang yang terdengar.
Setelah nyawanya sudah terkumpul sempurna, Alan langsung berdiri karena dihadapkan dengan dua gadis di depannya. Cowok itu menatap ke arah Ava yang sudah menatapnya dengan tatapan sengit.
Tidak mau berlama-lama lagi, gadis itu langsung pergi meninggalkan ruang kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkan Alan yang masih diam dan Natalie yang masih setia berdiri di sana. Tidak tahu akan ke mana dan bersama siapa nantinya.
Sedangkan cowok itu tentu tidak tinggal diam, Alan berlari mengejar gadisnya karena ia juga tidak mau Ava salah paham lagi. Terlebih, cowok itu sudah berjanji untuk tidak berurusan dengan Natalie.
Saat Alan lewat untuk mengejar Ava, Natalie sedikit terhuyung ke depan karena cowok itu menyenggol bahunya. Bagi Natalie, itu tidak masalah dan bukan hal besar, tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah Alan semakin menjauh darinya. Karena sadar menjadi bahan tontonan, Natalie mengusap air matanya yang belum sempat turun.
Ini baru aja dimulai. Gue bakal bikin hubungan kalian hancur-sehancurnya. Kalau gue ngga bisa dapeti Alan, lo juga nggak bisa, Ava. Diam-diam tanpa diketahui siswa dan siswi lain, gadis itu menyunggingkan sebuah senyum smirk.
Sangat menyakitkan rasanya saat dicampakkan oleh orang yang kita suka, sayangi, dan cintai, dan rasa sakit itu tak akan pernah bisa terukur oleh apapun.
***
Mata Ava memanas rasanya, ingin menangis tapi ia tahu tempat, jadilah setiap mata gadis itu berkaca-kaca ia akan mengusapnya.
Alan menarik tangan Ava tapi dengan cepat tapi ditepis gadis itu.
"Dengerin penjelasan gue dulu, Va!"
"Gue sama sekali nggak tahu kalau di samping gue ada Natalie!"
Ava berbalik menatap Alan. "Penjelasan apa? Gue udah sabar yah saat gue liat lo berduaan sama Natalie, tapi kali ini gue nggak bisa sabar lagi. Kalau lo mau bilang gue cewek pencemburu, emang iya kayak gitu! Tapi gue ngelakuin itu bukan tanpa sebab, gue cuma nggak mau orang yang gue sayang dekat-dekat sama cewek yang gue nggak suka!"
Kali ini air mata Ava sudah tak bisa terbendung lagi, cairan bening terus mengalir dari pelupuk matanya. Rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Sedangkan Alan saat ini tengah memasang wajah takut, khawatir, dan rasa bersalah. Orang yang lalu lalang menatap Alan seperti habis tertangkap basah karena kasus penganiayaan dan pelecehan seksual. Jika dalam situasi seperti ini otaknya selalu mampet dan tak bisa berpikir jernih.
...***...
...Jangan tabok Aku!...
...Di chapter selanjutnya, Ava bakalan maafin Alan nggak?...
...Atau malah justru Alan yang marah ke Ava karena terlalu pencemburu?...
...Atau hubungan Alan dan Ava sampai di sini?...
...***...
...Di sini, kalian ada yang suka Drama China New Meteor Garden (2018) nggak? Kalau suka, 'kan, saaman sama Aku! Sampai nangis kejer!...
...Atau kalian lebih suka yang versi Korea nya, 'Boys Over Flower'? Atau malah kalian tetap setia sama Meteor Garden yang tahun 2001?...
...***...
...Ditulis tanggal 31 Agustus 2020...
...Dipublish tanggal 06 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....