
...
...
19:26
Saat ini ketiga cewe itu tengah menonton tv di ruang tamu. Bukan.
Lebih tepatnya Ana yang sedang chatan dengan Justin, dan Agnes yang chatan dengan Iqbal. Sedangkan tv nya di biarkan tetap menyala.
...
...
...(Ana)...
"Ava, lo kenapa, sih? Dari tadi nggak bisa diam mulu, bukannya lo abis kencan, yaa, sama, kak Aras? Harusnya lo senang dong, bukannya malah gini?" kesal Ana yang melihat Ava bolakbalik mengubah posisi duduk.
"Nggak papa." Ava bangkit lalu pergi ke kamarnya, tak lupa pula ia mengunci pintu kamar.
"Aaaaa, Alan! Lo bisa bikin gue mati tahu nggak lama-lama!" teriak Ava menjatuhkan dirinya di atas bad kasur, "... gimana nih? Mana gue udah ngehapus chat Alan."
Ting
Ting
Hp Ava berbunyi di atas laci. Ia berharap semoga dewi fortuna memihak padanya kalau itu Alan yang mengirimkan pesan.
Ava bangkit membuka WhatsApp nya lalu berteriak sekencang-kencangnya, karena ternyata Alan yang mengirimkan pesan, bisa dilihat dari pop-up tertera tulisan, 'Its Me'.
+62 8254 ×××× ××××
Tenang aja, gue nggak bakalan nyebarin kok,
'Its Me'
^^^Ava^^^
^^^Beneran, Lan?^^^
^^^Makasih banget^^^
+62 8254 ×××× ××××
Tapi lo jangan senang dulu, gue punya syarat.
"Hah syarat apaan, sih? Pake syarat-syarat segala, ribet ah!"
^^^Ava^^^
^^^Lha, kok pake syarat sih, Lan? Nggak mau ah^^^
+62 8254 ×××× ××××
Yaudah kalau nggak mau, gue bakalan tega nyebar foto lo sama Aras tadi.
"Hiih Alan jahat banget sih, tega banget!"
^^^Ava^^^
^^^Lo punya fotonya?^^^
^^^Yaudah deh apa syaratnya?^^^
+62 8254 ×××× ××××
Punya lah, tadi gue sempqt foto
Besok gue kasih tahu
Ava langsung menutup hp dan menghapus bekas chat Alan. Merebahkan tubuhnya lagi, memeluk guling lalu perlahan-lahan memejamkan mata. Mempersiapkan dirinya karena besok Alan akan menyiksanya.
***
09:00
Dua murid laki laki dan perempuan kini ada di depan pintu kelas X Ips 4.
Alan menatap Ava dari bawah ke atas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan yang di tatap tengah sibuk membersihkan kuku jari.
"Ikut gue." kata Alan. Ava mengikuti Alan dari belakang.
Alan duduk di bangkunya sedangkan Ava duduk di samping Alan, lebih tepatnya di tempat duduk Justin.
Di lain sisi, ada Bagus, Rio, Syarifa, Agnes, Ana, Justin dan teman-teman lainmya tengah melihat apa yang di lakukan kedua orang itu.
...
...
...(Bagus)...
...
...
...(Justin)...
Alan menyodorkan buku gambar, hp dengan gambar kepiting, serta alat tulis lainnya pada Ava. "Ini tolong, lo gambarin gue, kepiting ..." pinta Alan datar menekankan kata, 'Kepiting'.
...
__ADS_1
...
Ava menghembuskan nafas kasar. "Kenapa harus kepiting, kenapa nggak kambing laut aja?"
"Karena horoskop gue Cancer, bukan Capricorn ... " Alan menonyor kepala Ava, "... udah gambar aja! Ini syarat pertama, lo."
Ava berdehem pelan, mulai menggambar apa yang Alan mau.
Setengah jam berlalu ....
Alan selalu mengamati apa yang Ava lakukan. Menatap Ava yang menggoreskan pensil ke bidang datar berwarna putih tersebut
Kata Agnes, Ava itu jago sekali menggambar sedari kecil, gambarannya pun selalu detail, bagus juga rapi.
...
...
...(Agnes)...
Di sisi lain ada Agnes yang dari awal memotret kebersamaan Alan dan Ava dengan kamera milik Rio dari berbagai pose. Mulai dari Alan yang diam diam tersenyum, Alan yang menatap Ava, lalu Ava yang memukul Alan dengan pensil, sampai Ava yang terlihat kesal karena Alan terus menggangunya.
"Udah belum, sih?" tanya Alan yang mulai bosan. Mencoret-coret mejanya dengan sebuah kata yang tidak Ava sadari.
"Belum, lo pikir gampang apa? Lo ngasih objeknya susah banget!" picing Ava dengan nada tajam tanpa menatap Alan.
"Katanya lo bisa gambar? Kok lama banget?"
Ava menoleh dan menatap Alan kesal. kenapa orang di sampingnya ini hobi sekali protes.
"Yaa, gambar itu harus pake perasaan, nggak asal-asalan, harus detail!" Ava kembali melanjutkan kegiatannya. "Kurang capit nya nih, lo mau kepitingnya buntung? Lama-lama tangan lo gue buntungin!"
"Lo punya perasaan sama, gue?" tanya Alan frontal.
Ava menoleh ke arah Alan. "Sama gambarnya! Bukan sama, lo! Heran, jadi orang dodol banget!"
Ingin rasanya Ava mencakar wajah Alan.
Alan tertawa renyah, menoel pangkal hidung Ava. "Yee, segitunya banget lo, bercanda kali."
Ava tertegun baru pertama kali dirinya melihat Alan tertawa selebar itu, biasanya dia hanya tersenyum.
"Kok kayak ada yang manis, yaa? Tapi apa?" perlahan lahan Ava tersenyum mengikuti Alan.
Dan tak lupa pula Agnes langsung menjepret momen langka itu.
"Hey!" Alan menepuk kedua tangannya di depan Ava.
"Udah bel, masuk sana! Nanti pulang sekolah kasih ke, gue."
Ava langsung menyesali apa yang ia perbuat tadi, sesegera mungkin Ava membereskan barang barang Alan, dan membawa buku gambarnya.
***
15:15
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Ava menunggu Alan di depan pintu kelas X Ips 3.
"Ava," panggil Agnes sambil senyum-senyum yang di tahan.
"Nes, lo sama Ana pulang duluan aja, gue masih ada urusan sama, Alan." Agnes mengangguk.
Ava menatap Alan jengah, bahkan sangat jengah.
"Ava!" Panggil Aras yang tiba-tiba datang bersama Gilang dan juga Uki.
...
...
...(Aras)...
"Eeh, Kak Aras, ada apa?"
Aras menatap Alan sekilas. "Makan bareng, yuk! Gue traktir."
Sebelum Ava menjawab, Alan sudah menjawabnya duluan. "Ava mau makan sama, gue ..." Langsung menarik tangan Ava menjauhi Aras, "... syarat kedua, lo makan sama, gue." ucap Alan datar, masih menyeret Ava.
"Maaf, Kak Aras!" teriak Ava sambil mensejajarkan kakinya dengan langkah kaki Alan.
"Gila. Nggak tahu siapa kita, Ras, dia." ujar Uki. Menatap punggung Alan yang mulai menjauh.
...
...
...(Uki)...
"Iya, Ras. Kayaknya kita harus ngasih pelajaran sama tu cowo." sambung Gilang, masih dengan gayanya yang kalem.
...
...
...(Gilang)...
Sedangkan Aras hanya menatap kepergian Ava dengan sebuah dendam yang terpendam untuk Alan.
***
Alan dan Ava saat ini ada di kedai penjual sosis bakar, dan menunggu pesanan mereka datang.
Tak lama Mas penjual sosis itu datang membawakan dua porsi sosis bakar, yang setiap satu porsi nya berisi lima sosis, juga dengan dua gelas es teh.
__ADS_1
...
...
Ava menyodorkan es teh nya pada Alan.
"Kenapa? Marah? Atau nggak mau?" tukas Alan.
"Nggak mau," jawab Ava cepat.
"Kenapa?" tanya Alan.
...
...
...(Ava)...
"Gue lagi pms, nggak bisa minum es nanti kalau darahnya beku gimana?"
"Mas, pesan teh anget satu, yaa," pinta Alan pada penjual sosis itu.
"Iya, Mas."
Teh anget pesanan Ava datang, dan Ava langsung meminumnya sedikit. Ia terbiasa meminum sedikit minuman sebelum makan.
Ava makan dengan lahap karena sosisnya benar 'enar enak. Ava menambahkan bumbu pedas pada sosisnya, karena pada dasarnya ia sangat menyukai makanan pedas.
Alan senang bisa bersama Ava, tanpa ada gangguan, dengan begini pasti Ava akan jatuh di pelukan Alan secara perlahan.
Alan menuangkan sedikit kecap pada sosisnya, karena ia terlalu banyak menambahkan bumbu pedas.
Alan mengambil tisyu, dan Ava melihatnya, Ava langsung senyum-senyum sendiri. "Sweet banget." batinnya.
Ternyata benar ....
Alan akan membersihkan mulut Ava yang belepotan, buktinya Alan mendekatkan diri nya pada Ava.
Ava hanya diam, dan melihat apa yang ingin Alan lakukan.
Alan semakin dekat dengan Ava. Alan menatap Ava lekat lekat yang tengah tersenyum manis padanya. Dan ....
Plungg
Seketika Ava lansung diam, senyumnya tiba-tiba hilang, bersamaan dengan Alan yang kembali duduk lalu memakan sosisnya.
"Iissh, ko kok nggak romantis banget, sih?" Ava langsung marah-marah, sampai-sampai abang penjual sosis menoleh.
"Apa?" tanya Alan tidak paham dengan ucapan Ava.
"Tadi, kirain lo mau ngelapin gue, soalnya lo dekat-dekat ke, gue?" Ava langsung ngegas. Untung saja di sini hanya ada mereka berdua, jadi Alan tidak perlu malu.
"Lo nggak liat tadi tangan gue ketetesan kecap?"
"Gue ambil tisyu itu buat ngelapin tangan gue, lha tempat sampahnya ada di belakang, lo."
Wajah Ava langsung berubah sangat muram. Ava kembali memakan sosisnya dengan tidak sabaran. Sedangkan Alan ia hanya tersenyum tak bisa di artikan.
...
...
...(Alan)...
"Dasar." gumam Alan pelan.
***
16:28
Setelah makan sosis dan berjalan jalan sebentar. Alan mengantar Ava pulang dengan mengikuti Ava dari belakang karena itu syarat terakhir Alan.
Ava membuka helm nya. "Udah pulang sana! Udah sore, nanti nyokap lo nyariin!"
Alan mengangguk, tapi sebelum Alan pergi Ava menganggilnya. "Lan, janji, yaa, jangan lo sebar fotonya,"
"Gue, nggak pernah punya fotonya, Va. Gue cuma manfaatin ucapan lo, saat lo bilang ke gue, kalau gue jangan nyebarin tentang kejadian itu," jawab Alan lirih. Cowo itu sangat merasa bersalah pada Ava.
Ava berjalan mendekati Alan. "Maksud, lo? Lo bohongin gue gitu?"
Alan mengangguk pelan tanpa ekspresi.
"Iis jahat lo! Gue sampe nggak enak sama kak Aras dan lo malah bohongin, gue? Lo mau tanggung jawab kalau gue gagal jadian sama, kak Aras?" Ava meninggikan nada suaranya, memukuli lengan Alan dengan brutal.
"Kenapa harus nyebut nama, Aras terus?"
"Kenapa lo nggak nyebut nama gue, Va?"
Alan hanya diam dan membiarkan Ava berbuat sesuka hatinya. Tapi detik berikutnya cowok itu memegang kedua tangan Ava, menghentikan Ava yang memukuli lengan kanannya.
Alan menatap kedua manik mata Ava, yang juga Ava tengah menatapnya dengan kesal. Alan tahu Ava marah.
Perlahan-lahan Alan melepaskan cengkramannya. "Itu tebusan karena lo nggak jadi beli novel sama gue. Gue pengen sekali-kali gitu jalan berdua sama lo, dan nggak ada yang ganggu ..."
"Apa, lo tahu? Kalau gue suka sama, lo?" tanya Alan dengan nada lirih.
Setelah mengatakan itu Alan langsung menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumah Ava.
Ava masih terdiam di tempat, menatap kepergian Alan yang semakin jauh dari jangkauan matanya, mencoba mencerna ucapan Alan tadi.
...***...
...Ditulis tanggal 2 Mei 2020...
...Dipublish tanggal 18 Februari 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....