
...Harap tahan umpatan dan amarah kalian saat kalian semua sudah selesai membaca chapter ini!...
...Happy reading semuanya!...
...***...
...
...
Bel istirahat menggema di seluruh sudut sekolah, hal itu menandakan bahwa pelajaran telah usai. Tapi, belum sepenuhnya usai sih.
Ava tidak ingin keluar sama sekali dari kelas, bahkan tadi pagi saja Ava ingin ijin tidak masuk sekolah. Tapi, sayangnya Millica tidak mengijinkan.
Safira pergi ke kantin membeli makanan dan minuman untuk dimakan di kelas saja. Ava terus saja memikirkan kejadian kemarin saat Alan lebih memilih meninggalkannya sendirian.
Semua kata-kata Alan, semua pengakuan Alan, dan semua bentakan Alan kemarin masih terngiang-ngiang jelas di pikiran Ava.
"*Kalau jodoh itu nggak kemana, pasti nanti dipersatuin lagi kok, kalau nggak bisa bersama itu artinya dia nggak seimbang sama kamu."
"Anggap aja jodoh itu seperti kaki, jika yang satunya berat dan yang satunya ringan, pasti yang berat akan membuat tubuh kita miring, tapi kalau sama-sama berat atau ringan berdirinya juga akan sama."
"Tuhan bakal ngasih apa yang kamu butuhin, bukan apa yang kamu inginin. Jadi tenang aja karena sekarang jodoh kamu itu sedang berusaha sekuat tenaga untuk menemukanmu*."
Itu nasehat Millica tadi malam saat Ava bercerita tentang perasaan dan keluh kesah kemarin. Ava menceritakan pertemuan, hubungan, dan kejadian yang Ava dan Alan alami dari awal sampai akhir.
"Tapi, Ava sayang dan cinta benget sama Alan, Bunda. Yaa walaupun Ava masih bisa hidup tanpa dia, tapi Ava nggak mau kehilangan, Alan."
Itu juga jawaban yang Ava berikan semalam pada Millica.
Tiba-tiba saja Games duduk di samping Ava sambil menatap belakang kepala Ava. "Ava, kemarin lo nangis, ya, pas gue boncengin?"
Rasanya sungguh sangat muak mendengar suara Games saat itu juga. Dan, yang Ava ingin lakukan sekarang adalah mengusir Games jauh-jauh dari peradaban dunia ini. Itu kalau Ava bisa, 'kan?
"Pergi deh lo! Gue nggak ada urusan sama lo!" sentak Ava yang membuat Games bereaksi biasa-biasa saja, karena memang Ava pun sering berbicara kasar dan nada tinggi terhadap Games.
Ava menolehkan kepalanya saat mendengar Games melangkahkan kakinya keluar kelas. Ava mengangkat tubuhnya, arah pandangannya fokus menatap hamparan awan-awan indah yang menghiasi langit biru.
Mungkin gue kena karma kali, ya? Karena dulu gue udah ninggalin dan manfaatin Aniq waktu itu? Ternyata, gini, ya, rasanya patah hati karena orang yang kita sayang. Terus, apa kabar sama perasaan Aniq waktu itu dan saat ini? Pasti dia lebih sakit daripada yang gue rasain. Apa dia juga ngebenci dan dendam sama gue? Maafin gue ya, Aniq.
Itu pertanyaan yang saat ini terngiang-ngiang di pikiran Ava.
Sesaat kemudian ketenangan dan lamunan Ava buyar dengan adanya Alan dan Natalie yang tengah tertawa gembira lewat di depan Ava sendiri. Alan pun juga tadi sempat melirik tapi cowok itu kembali fokus pada Natalie di sampingnya.
Mata Ava rasanya memanas dan hatinya tidak kuat melihat semua ini, rasanya gadis itu ingin mati saja tapi ia juga tidak berani untuk bunuh diri. Belum juga hatinya sembuh, ini sudah sakit hati lagi.
Gadis itu menangis sesegukan dengan tangis tertahan tanpa suara sambil menelungkupkan kepalanya. Ia hanya tidak mau terlihat lemah ataupun cengeng di depan orang banyak.
Revan dan Dino masuk ke dalam kelas dengan memegang dua gelas es tehnya masing-masing. Revan dan Dino menghampiri Ava karena melihat bahu gadis itu naik turun.
Seketikan wajah Dino menjadi pusat pasi. "Ava, lo kenapa, Va? Digigit Games atau digigit nenek lampir?"
"Ava, kok lo nangis gini, Va? Jangan bilang ada yang menyakitimu nanti orang itu akan hilang," ucap Revan menirukan gaya dan ekspresi Iqbal Ramadhan di film Dilan 1990.
Safira yang datang membawa sekantung plastik putih berisi dua siomay, jus alpukat, dan jus jambu langsung meletakkannya di atas meja lalu menarik Revan agar menjauh dari Ava.
__ADS_1
Gadis itu mengusap rambut Ava pelan. "Ava! Lo di apain sama upin ipin ini? Lo dicakar? Dijambak? Diganggu? Atau diapain?"
Revan langsung menjitak kepala Safira, gadis itu meringis kesakitan dibuatnya. "Gue bunuh lo lama-lama! Nuduh mulu perasaan?"
Tiba-tiba saja Ava langsung memeluk Safira yang duduk di sampingnya. "Tadigueliatalansamanatalieketawabahagiaterusmerekajalanberdua."
"Iya, gue ngerti kok perasaan lo gimana. Lo yang sabar yah, kita akan selalu ada buat dukung lo."
Walaupun Ava berkata sangat cepat tanpa spasi, tapi Safira bisa dengan mudah mengerti apa yang dikatakan gadis itu.
Revan menunjuk Ava yang tengah menangis. "Ava kenapa sih? Coba jelasin dong! Kita berdua kayak orang lola linglung, bodoh dan nggak tahu arah gitu!"
Dino menyenggol lengan Revan. "Lo aja kali yang lola dan linglung. Kalau goblok mah jangan ngajak-ngajak atuh!"
"Syyuuuuuuuut!" Revan serta Dino langsung mengusap wajah mereka saat air liur Safira muncrat ke arah mereka.
"Muncrat woi!" teriak keduanya serempak.
"Biarin! Makanya jangan pada pulang duluan! Kan, jadi nggak tahu kejadiannya gimana! Udah ah, jangan dibahas lagi!" tambah Safira lebih ngegas.
Kedua cowok itu menghembuskan nafas kasar karena tidak tahu harus bagaimana lagi saat Safira terus marah-marah tidak jelas.
Di sini Revan dan Dino kan jadi serba salah. Ngomong ini salah, ngomong itu salah, ngomong ini-itu juga salah. Lebih baik nggak hidup aja kalau gitu mah.
Sekalian aja kalau mau benar terus, ganti gender jadi cewek aja sana. Kan, cewek di mana-mana selalu benar walau salah sekalipun.
***
Safira mendorong tubuh orang itu dengan kasar sehingga membuat orang itu sedikit terhuyung ke belakang. Tatapannya tenang tapi menunjukkan teka-teki di dalamnya. Di belakang orang itu juga ada gadis yang seolah-olah paling suci, lembut, dan teraniaya olehnya.
Safira dengan sorot mata penuh kemarahan serta dendam terselubung memberanikan diri melabrak dua orang yang sudah menyakiti sahabatnya itu di parkiran. Siapa lagi jika bukan Natalie dan Alan.
"Eh, Ava salah apa sih sama lo sampai lo manfaatin dan nyakitin dia? Dia pernah mukul, lo? Pernah bentak, lo? Pernah nyakitin atau ngehianatin, lo?" Safira menunjuk wajah Alan dengan menekankan setiap kata. "Nggak pernah, 'kan?! Tapi, gue heran aja cowok secuek dan sekalem lo bisa nyakitin hati cewek sampe segitunya! Nggak habis pikir gue sama lo, Lan!"
Safira menatap Alan yang masih diam dari atas sampai bawah. "Apa juga istimewanya lo sampai Ava mau sama, lo? Tampang aja biasa aja, pinter juga enggak malah goblok iya, lo!"
Natalie beralih berdiri di samping Alan. "Lo, 'kan, nggak ada urusan sama Ava. Tapi, kenapa lo ikut campur sampai segininya? Ava bahkan nggak keberatan dengan hal itu." Gadis itu memberikan pembelaannya karena ia tidak terima Alan disalahkan terus.
Safira semakin senang, ia mendapat alasan untuk semakin menyalahkan Alan. "Nggak keberatan mata lo siwer?! Dosa lo itu yang keberatan sampai jungkal-jungkal saking banyaknya!"
Ava, Bagus, Justin, Revan, Dino, Ana, dan Agnes berjalan bersama menuju parkiran luar sekolah, rencananya merekan akan hangout ke cafè bersama-sama, tanpa mengajak Alan tentunya karena Ava tidak mau Alan ada di sana, hal itu membuat hati Ava semakin sakit lagi.
"Ava, itu bukannya Safira, yah?" Dino berucap spontan. Ava langsung menatap arah yang ditunjuk Dino.
Tanpa pikir panjang Ava langsung berlari menyusul Safira.
Saat Ava datang, gadis itu menatap Alan sekilas lalu beralih ke Safira yang tengah marah-marah.
"Nggak tahu malu, ya, kalian berdua?! Gue jamin nggak akan ada kebahagiaan yang datang ke kalian kalau sampai kalian pacaran!"
"Udah Fir ayo, nanti kesorean." Ava menarik-narik lengan Safira. Memaksa gadis itu menjauh dan menghentikan pertikaian ini.
"Awas aja, ya, lo pada! Dan lo, *****, sialan! Gue nggak akan tinggal diam gitu aja, ya, karena lo udah ngerusak hubungan mereka berdua!" Ancam Safira tanpa malu karena saat ini merekalah yang menjadi tontonan seisi parkiran.
"Natalie nggak pernah ngerebut gue dari Ava karena gue emang udah suka Natalie dari awal masuk sekolah. Sayangnya, gue terlalu bodoh untuk penasaran sama Ava dan berakhir gue ninggalin Natalie demi dia yang sama sekali nggak berguna."
Natalie langsung menoleh menatap Alan tidak percaya akan apa yang cowok itu katakan. Alan membelanya?
__ADS_1
Hati Ava semakin sakit dan perih tercabik-cabik saat Alan dengan lantang mengatakan dan membela Natalie di depannya, Ava tentu tak habis pikir dengan hal itu.
Sedangkan dalam hati Natalie tersenyum bangga tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ava memang ingin menangis tapi ia tahu tempat. Gadis itu langsung menarik Safira ke parkiran luar sekolah saat Safira akan melayangkan pukulan ke wajah mengerikan Alan. Bukan lagi wajah manis yang terlihat.
"Udah Fir, gue nggak papa kok. Ayo pergi aja dari sini, malu dilihatin orang banyak."
Mendengar permintaan lirih sahabatnya membuat Safira mengalah dan mau menuruti apa permintaan Ava. Belum lagi mata Ava yang sudah berkaca-kaca sejak tadi.
Mendengar ancaman Safira sama sekali tidak membuat Natalie takut atau bergeming, ia justru semakin tertantang dan tertarik dengan hal itu.
Justin menghampiri Alan yang masih mematung di tempat. Sebagai sahabat tentu Justin akan tetap mendukung Alan, tapi, untuk saat ini sepertinya Justin lebih banyak mendukung Ava, karena bagaimana pun juga apa yang dilakukan Alan itu sangat salah dan tidak berperiperasaan.
"Ada apa lagi sih ini?"
"Nggak ada apa-apa," jawab Alan masih dengan nada dan sorot mata tenang.
Justin melirik Natalie sekilas yang saat ini tengah menggandeng lengan Alan. "Gue nggak membela siapapun, tapi kali ini gue masih banyak dipihak Ava. Lo harus minta maaf sama Ava secepatnya, Lan." Justin menepuk bahu Alan pelan. "Lo juga tahu dan sadar apa yang lo lakuin ke Ava itu jahat banget."
"Harusnya yang minta maaf itu pihaknya Ava dong! Karena merekakan udah nyakitin dan nyalahi Alan terus. Lo juga harusnya dukung Alan sepenuhnya dong! Bukannya malah dukung Ava!" Natalie ikut nyerocos juga dan hal itu semakin membuat Justin tidak suka padanya
"Diam deh nggak usah banyak bacot! Lo nggak usah ikut campur lagi karena lo sama sekali nggak dibutuhin di sini! Dan buat lo, Alan. Gue nggak suka dia yang terlalu berisik dan suka ikut campur masalah orang lain." Setelah mengatakan itu Justin langsung pergi menyusul teman-temannya yang parkir di luar sekolah.
Tentu Alan sadar apa yang ia lakukan terlalu jahat dan kejam, tapi, ia masih tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan mengalah ataupun minta maaf kepada Ava. Walaupun ia tahu, perlahan-lahan temannya akan memihak dan memilih Ava. Apapun itu Alan akan tanggung semua risikonya.
***
Saat akan memakai helm, mata Ava langsung tertuju pada Natalie yang duduk di belakang dengan melingkarkan tangannya di perut Alan. Gadis itu juga menyandarkan kepalanya di punggung Alan.
Daripada semakin sakit hati, jadi Ava memalingkan wajahnya. Sakit hati gadis itu semakin bertambah tidak sampai di situ saja, tapi juga saat Ava menatap helm yang ia pegang dengan kedua tangannya. Tentu, kalian tahu apa penyebabnya.
Iya, itu adalah helm pemberian Alan saat ia masih bersama cowok itu, dan tanpa sadar Ava lupa mengganti helm Alan dengan helmnya sendiri.
Setetes demi setetes air mata mulai membasahi pipinya, tapi Ava langsung mengehapus air matanya itu saat Safira yang ada di sampingnya dengan pelan menyentuh tangan Ava.
"Nggak papa kok. Nanti juga akan baik-baik aja." Itulah jawaban lirih sangat menyayat hati dari mulut Ava.
...***...
...Nyebelin nanget tahu nggak sih kalau sampai aja cewek sejenis Natalie di dunia nyata?...
...Aku jadi ngamuk dan kesal sendiri loh jadinya? Greget banget!...
...***...
...Ditulis tanggal 20 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 26 April 2021...
...***...
...Ini jwaban lengkap Aku soal sahabat \= Sahabat itu yang selalu ada di saat suka maupun duka, selalu menjadi pendengar yang baik tanpa membandingkan nasibnya, walaupun terhalang jarak tapi tidak pernah putus komunikasi, memberi kekuatan dan penopang agar menjadi kesatuan yang sangat kuat, membela dan memberi solusi satu sama lain saat kesusahan atau ada masalah, saling perhatian dan menghargai satu sama lain, menerima kekurangan atau kelebihan, mendukung dan menyemangati keputusan selagi itu tidak merugikan orang lain, saat diminati tolong ikhlas tanpa adanya imbalan ataau paksaan, memaafkankan dan berani menegur jika ada yang salah, serta masih banyak lagi....
...Kalau kalian punya sahabat nggak? Udah berapa lama? Dan ada berapa? Kalau aku cuma punya dua yaitu, si TNA dan si ANA....
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....