
...
...
Ava masuk ke dalam rumahnya dan terus mengembangkan senyum tanpa henti. Aras sangat baik kepada Ava. Cowok itu selalu memperlakukan Ava special di matanya, dan juga sangat romantis.
Jujur sebenarnya Aras bukan tipe Ava. Bahkan sangat terlampau jauh dari kriterianya . Tapi entah kenapa Ava suka semua yang di lakukan Aras kepadanya.
"Assalamu'alaikum ..." salam Ava saat memasuki rumah.
Ava melebarkan pandangannya, ternyata Ana dan Agnes tengah menonton drakor Suspicious Partner di ruang tamu.
Ava duduk di antara Ana juga Agnes. Meletakkan paper bag di meja. Agnes duduk bersila menghadap Ava. Meletakkan ponselnya di bawah lulut lalu menelpon seseorang.
Ana mendekatkan tubuhnya ke Ava. Menatap Ava yang tengah senyum-senyum sendiri. "Wah! Wah! Ada yang kesem-sem nih abis jalan? Udah di tembak belum?" ledek Ana, tapi masih tak ada jawaban dari Ava.
Ana dan Agnes saling tatap. "Ekhem! Ekhem! Yang lagi kesem-sem sampai nggak sadar kalau ada temannya di sini!"
"Woi!" teriak Ana dan Agnes tepat di telinga Ava. Sedangkan Ava menjauhkan wajah Ana dan Agnes dari kedua telinganya.
Ava mengurut dadanya. "Gila! Kalian berdua ngapain, sih? Gue denger kali, nggak budek!"
Agnes memutar bola mata malas. "Yaa kalau dengar kenapa nggak di jawab?"
"Yaa ... namanya juga orang senang! Nggak boleh di ganggu!"
Ana menonyor kepala Ava. "Iya, tapi, 'kan, kita juga pengen denger cerita lo, Ava!"
Ava mensejajarkan duduknya. Bergantian menatap Ana dan Agnes. "Nih yaa ... yang pertama! Gue belum di tembak sama kak Aras, tapi kak Aras udah nyatain perasaannya ke gue. Kedua, iya gue lagi kesem-sem. Siapa yang nggak kesem-sem coba seharian jalan-jalan romantis?"
Agnes menatap barang belanjaan Ava di meja. "Itu 5 barang juga di beliin, kak Aras?" Ava mengangguk sambil tersenyum.
Gadis itu mengambil satu paper bag berisi makanan. Di sana ada 3 jenis makanan mahal yang tadi di belikan Aras. Ava membagikannya satu persatu pada Ana dan Agnes.
...
...
...
...
...
"Wooa! Ini makanan mahal juga di beliin, kak Aras? Nggak main-main woi dia! Ini makanan setahu gue harganya sekitar 1-2 juta! Totalitas banget!" jelas Ana terkagum-kagum.
Agnes menatap Ava. "Ini lo nggak makan malam apa gimana? Sampai di bungkusin segala?"
Ava menggeleng pelan. "Nggak! Gue cape, jadinya gue nggak mampir. Pengertian banget, yah, dia?"
Ana berpikir sebentar. "Jadi, lo seharian ini kemana? Padahal yang paling romantis itu saat makan malam loh. Kayak kemarin-kemarin waktu lo makan malam di restaurant mewah, terus dansa bareng lagi,"
Ava menghela nafasnya. "Gue di ajak ke restaurant mahal juga pas pagi-pagi, abis itu gue di ajak ke danau di tengah padang rumput ilalang sambil main ayunan. Yang kata dia cuma gue cewek yang di ajak kesitu. Istimewa nggak, tuh?"
Ava menggoda Agnes dan Ana dengan menoel dagu mereka, sedangkan kedua cewek itu menyingkirkan tangan Ava dari dagu mereka.
"Abis itu, kita ke toko buku beli 5 novel ...." Ava mengambil novel dan di perlihatkan kepada kedua sahabatnya, "... terus kita ke mal, beli baju, sepatu sama hoodie, dan yang terakhir gue jalan-jalan sama dia keliling Jakarta." Ava membuka tas nya dan mengambil sesuatu, lalu memberikannya kepada Agnes dan Ana, "... nih, tadi gue di mal sempet photo box sama, kak Aras. Tadi nya kak Aras mau nyewa fotografer gitu biar bagus, tapi gue nggak mau dan gue bilang foto di situ lebih cute. Akhirnya dia mau deh, terus kita foto dengan gaya yang unyu-unyu!"
Ana menampakkan wajah memelas, pura-pura ingin menangis. "Aaaaa Ava! Gue jadi pengen, kapan sih Justin ngajak, gue?"
Agnes juga melakukan hal yang sama seperti Ana. "Iya gue juga mau kayak lo, Ava!"
__ADS_1
Ava bangkit mengambil foto yang di pegang Ana dan Agnes, lalu berniat membawa semua barang-barangnya ke kamar. "Hahaha kasin banget lo berdua,"
"Itu makanan mahal, jadinya di makan jangan di buang. Mubazir!" lanjut Ava mengingatkan. Menaiki anak tangga satu persatu, dan kemudian hilang dari balik pintu kamar.
"Udah belum?" tanya Ana setelah memastikan situasi aman.
"Lo udah dengar semuanya, 'kan? Yaudah sabar-sabar aja. Kita bakal bantuin lo kok. Besok sekitar jam 9 Lo kerumah, gue." ucap Agnes pada orang di sebrang telpon, "... udah dulu, yaa, takutnya Ava balik lagi." lanjut Agnes berbicara seperti berbisik.
Tut
Tut
Tut
Sambungan telpon langsung terputus dari sana.
Ava meletakkan barang-barang beserta makanan di samping bad kasur, lalu melihat foto dirinya dan Aras satu persatu.
Ava beralih mengambil baju, hoodie, novel, dan sepatu. Menatap semua barang-barang mewah pemberian Aras.
Ava bahkan belum pernah membaca 3 novel pemberian Aras, dan hari ini diri nya di belikan 5 novel lagi. Jadi, totalnya ada 8 novel yang Aras belikan untuknya.
Ava mengecek ponsel nya, tapi tidak ada nontifikasi dari Aras, malah yang teratas ada nontifikasi dari Alan.
+62 8254 ×××× ××××
Pesan ini telah di hapus
'Its Me'
^^^Ava^^^
^^^Lo chat gue apaan, kok lo hapus?^^^
Tak butuh waktu lama, langsung ada jawaban dari Alan.
+62 8254 ×××× ××××
^^^Ava^^^
^^^Ooh gitu? Yaudah. Udah, yaa, gue mau chatan sama Safira, kapan-kapan gitu gue bakal cerita sesuatu sama lo^^^
+62 8254 ×××× ××××
Hmm.
Ava tidak jadi mandi dan lebih memilih menceritakan ini semua kepada Safira karena Ava tidak mau menyimpan kebahagiaannya sendiri.
Ava nenelpon Safira sambil terus memakan-makanan yang di belikan Aras tadi, sambungan telpon akhirnya tersambung ke Safira.
"Apaan? Ganggu aja lo lagi makan!"
"Gue juga lagi makan. Gue mau cerita ke lo tentang hari ini ...."
"Cerita apaan?"
Dan malam ini Ava bercerita panjang lebar soal Aras dan dirinya dengan sedetail detailnya. Ava juga bercerita tentang semua kejadian di sekolah yang belum sempat ia ceritakan. Tak lupa lupa pula menuangkan keluh kesahnya kepada cewek yang hobi makan itu.
***
Sedangkan di sisi lain, ada cowok yang saat ini tengah frustasi mengacak-ngacak rambutnya. Sesekali menyetel musik sekeras mungkin sambil berjoget-joget tidak jelas di atas kasur. Pesona yang selama ini ia punya hancur seketika.
Siapa lagi kalau bukan Alan. Cowok itu tau apa yang akan di ceritakan Ava, karena tadi Agnes menelponnya. Semua perkataan yang dikatakan Ava kepada kedua sahabatmya juga di dengar oleh Alan.
Dan Alan tidak mau itu terjadi. Alan akan membuat Ava lupa menceritakan itu. Siapa yang mau coba mendengarkan ocehan Ava tentang cowok itu dua kali. Seakan akan cowok itu begitu sempurna di mata Ava. Yaah walaupun kenyataannya memang seperti itu.
Alan merebahkan dirinya di bad kasur. Menghentak-hentakkan kakinya sekeras mungkin. Menyetel lagu dengan volume maksimal lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
***
__ADS_1
09:00
Sesuai yang di katakan Agnes tadi malam. Alan pergi kerumah Ava untuk mengajak cewek itu jalan. Harusnya tadi malam Alan ingin mengajaknya. Tapi Alan terlalu gengsi untuk mengatakannya. Juga karena mood Alan yang sudah hilang. Alan juga takut kalau Ava menolak ajakannya.
Jika Alan langsung datang kerumahnya maka Ava tidak ada pilihan lagi. Gadis itu tidak akan tega kepadanya karena sudah datang ke rumah.
"Eeh Alan, udah datang toh?" tanya Ana saat Alan sudah ada di depan pintu celingukan mencari seseorang, "... masuk, Lan ..."
"Ava dimana?" tanya Alan santai.
"Haha gue kerjain aja!" batin Ana tersenyum jahat. "Ava ada di belakang lagi nyantai. Lo ke sana aja."
Tanpa mengatakan apapun. Alan langsung pergi menyusul Ava. Sedangkan Ana tersenyum jahat melihat kepergian Alan.
Ava yang sedang berenang terlonjak kaget saat melihat kedatangan Alan yang celingukan. Mata Ava membelalak sempurna. Gadis itu langsung berenang di pinggir dinding kolam.
"Alan jangan ke sini!" teriak Ava sangat panik.
Alan yang melihat Ava menurunkan sedikit kepalanya kedalam air tau apa yang di maksud gadis itu. Alan langsung membalikkan badannya.
"Sialan, Ana! Ngerjain dia gue!" geram Alan dalam hati. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sedangkan di sisi lain ada kedua orang cewek yang bersembunyi tengah menguping pembicaraan kedua orang itu, sambil terus menahan tawa.
"Lo ngapain kesini? Yang ngasih tahu gue ada di sini siapa?" tanya Ava ketus.
"Mau ngajak lo jalan. Kata Ana, lo di sini lagi nyantai,"
"Dasar Ana sialan!" murka Ava menonjok pelan dinding kolam.
Ava langsung menggeleng. "Gue nggak mau!"
"Lo tega, Va? Gue udah jauh-jauh datang kesini,"
Ava berpikir sebentar. "Kalau di pikir-pikir kasian juga, tapi kalau kak Aras tahu pasti marah ..."
"Alah, dia nggak bakal tahu kok kalau nggak ada yang bilang. Lagian nanti dikira nggak menghargai orang?"
"Yaudah, gue mau. Diam di situ jangan gerak-gerak!" ancam Ava berjalan di pinggir dinding kolam dengan cepat.
Naik ke permukaan kolam dengan cara berjongkok karena Ava tidak mau kalau Alan sampai melihat tubuhnya. Ava lansung memakai bathrobe dengan cepat lalu mengambil handuk, dan memeluknya dengan erat.
"Merem! Jangan lihat-lihat! Awas kalau lo buka mata! Lo mati di tangan gue!" ucap Ava saat hampir mendekati Alan.
"Iya, gue tutup mata kok. Janji nggak bakal nakal sebelum lo masuk ke kamar." jawab Alan sedikit salting. Jantungnya kini berdegup kencang. Alan takut kalau setan-setan membisikkan dan menyuruhnya membuka mata.
Setelah mendapat jawaban dari Alan. Ava langsung berlari tunggang langgang secepat kilat. Tetesan air dari rambutnya mengenai lantai dan Ava tidak ada waktu mengeringkan rambutnya.
Brak
Setelah mendengar Ava menutup pintu kamar dengan keras. Alan langsung berbalik ke arah kolam dan membuka mata. Mengelus dadanya pelan. "Untung gue kuat iman. Kalau nggak bisa berabe nih."
Ava masih berdiri di balik pintu. Tadi ia lupa caranya bernafas karena saking deg-degan dan panik.
...***...
...Karena draft cerita Aku udah tinggal 10 chapter lagi, jadi akhir bulan December 2020 Aku targetin udah selesai semua....
...Kan, jadinya tinggal di up rutin satu persatu. Kalian tunggu aja, yah, info selanjutnya. Nanti, pasti Aku kasih tahu....
...***...
...Ditulis tanggal 18 Mei 2020...
...Dipublish tanggal 24 Februari 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1