Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 93 ~ Difitnah


__ADS_3

...



...


Sedari tadi gadis bernama Zara Dhea Maulida atau biasa dipanggil Zara itu terus merengek meminta diantar pulang ke rumahnya. Dia gadis yang dirumorkan  suka sama Bagus, tapi Bagus nya cuma menganggap teman.


Ana, Agnes, dan Ava tidak bisa apa-apa karena mereka berangkat dan pulangnya juga naik bus, selain itu juga Lia membonceng temannya yang bernama Maira.


"Ayo dong anterin, plis?" mohon Zara dengan raut wajah yang dibuat semelas mungkin.


Ava, Ana, dan Agnes hanya bisa tersenyum kaku. Sedangkan Lia sendiri sudah agak kesal karena Zara terus memaksa. Mereka sih sebenarnya kasihan, tapi harus bagaimana?


"Mau nganter gimana? Orang kita aja nggak bawa motor. Kita naik bus tadi pagi, rumah kita, 'kan, juga berlawanan arah. Masa kita ngantar lo naik bus sampai kerumah, lo? Kalau udah sampai rumah lo, terus nanti kita balik lagi gitu?" ungkap Ana mewakili diiringi candaan.


Ava menyenggol siku Lia. "Anterinlah, 'kan, lo bawa motor."


Lia menatap Ava. "Ya ... 'kan, gue sama Maira. Bensin gue juga udah mau habis, dan rumah dia jauh. Satu minggu udah dijatah segini bensinnya."


Zara duduknya semakin mendekat ke arah Agnes, menyatukan kedua tangan. "Ayo dong, plis anterin pulang ... gue nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi."


"Emang, lo nggak ada yang bisa jemput? Kakak? Adek? Ibu? Bapak? Atau tetangga gitu?" tanya Agnes.


Zara menggeleng pelan. "Baterai hp gue habis, dan nggak bawa charger."


Ava dan Ana langsung saling tatap, tidak tahu harus memberi saran yang bagaimana lagi.


"Tadi, lo ke sekolah naik apa? Nebeng siapa gitu yang sekiranya lewat atau yang searah sama rumah, lo?" Giliran Lia yang bertanya.


"Di antar sama bokap, gue. Siapa? Udah pada pulang semua, dan gue juga nggak kenal kalau ada. Malu kalau tiba-tiba minta diantar pulang."


"Emang, bokap lo nggak tahu pulang Tes Mid Semester jam berapa? Atau lo juga nggak ngasih tahu? Terus, biasanya lo nebeng sama siapa?"


"Sama teman sih, tapi dia udah pulang."


Ana menjentikkan jari. "Naik bus, 'kan, bisa?"


"Kalau naik bus turunnya masih jauh dari rumah, rumah gue, 'kan, di dalam gitu, nggak dipinggir jalan. Ayolah, plis tolongin gue."


Ava bingung juga, gadis itu menggaruk belakang kepalanya yang memang gatal. "Ya gimana, ya? Naik bus nggak bisa, nebeng teman udah pada pulang, dan lo juga malu kalau minta diantar pulang, nelpon orang lain juga hp lo mati. Kalau lo mau pinjam hp, kita bertiga juga nggak bawa hp karena dilarang dan ada pemeriksaan. Lia bawa tapi nggak ada kuota atau pulsanya.  Gimana, ya? Gue jadi bingung sendiri?"


"Eum ... gimana kalau kita antar lo ke halte? Siapa tahu ada yang lo kenal dan bisa dimintai pertolongan? Atau ada yang bawa hp, nanti lo bisa pinjam untuk nelpon orang tua, kerabat, kakak, atau adik gitu?" saran Agnes dengan cara yang sekiranya paling baik karena sudah sangat mentok.


***


Lia sudah pulang bersama Maira. Ana, Agnes, dan Ava masih menungu bus di toko sebrang sekolah, ketiga gadis itu tengah mengamati Zara yang tengah menelpon seseorang menggunakan hp gadis lain yang duduk tepat di samping Zara untuk mengabari salah satu keluarganya.


Barulah setelah selesai, Zara mengembalikan hp tersebut pada sang pemilik. Beberapa menit kemudian, ada bus yang berhenti tepat di depan mereka, jadilah ketiga gadis tersebut langsung masuk dan tidak tahu lagi bagaimana keadaan Zara selanjutnya.


***


19:56


"Gimana, ya, keadaaan Zara tadi? Pulangnya sama siapa? Terus sampai di rumah apa belum?" celetuk Ava saat ketiganya menonton drakor Master's Sun di ruang tamu.


"Ya kita udah kasih semua saran, tapi, 'kan, dia nggak bisa semua dan nggak mau. Bingung mau bantu yang kayak gimana lagi."


Ketiga gadis tersebut sama-sama menghembuskan nafas kasar.


***


08:30

__ADS_1


Karena Agnes sudah selesai mengerjakan Tes, jadi ia menunggu Syarifa di gazebo sambil memandangi lingkungan sekitar.


"Maksud lo apa ngelabrak Zara?" tanya Bagus yang tiba-tiba datang dengan amarah yang membludak-bludak.


Tentu, hal itu membuat kening Agnes berkerut. Memangnya kapan ia melabrak Zara? Dan, apa juga alasan Agnes melabrak Zara? Sungguh sangat tidak masuk akal.


"Maksud lo apa? Gue sama sekali nggak ngelabrak Zara kok. Kapan gue ngelakuinnya coba?"


"Halah! Nggak usah ngelak deh! Kemarin Zara udah cerita semua ke gue kalau lo ngelabrak dia pas pulang sekolah! Lo bilang ke dia untuk jauhin gue, 'kan? Urusannya sama lo apa kalau dia dekat sama gue? Toh lo juga nggak nganggap gue ada dan sebagai pacar lo!"


Atas bentakan Bagus ke Agnes, para siwa dan sisiwi yang lewat di lingkungan sekitar langsung menoleh ke arah kedua sejoli yang tengah tidak akur tersebut. Bagus tidak perduli, sedangkan Agnes dibuat malu diri.


Agnes yang tadinya duduk santai di gazebo, turun dan menghadap Bagus. "Apaan sih? Lo jangan nuduh sembarangan! Nggak ada yang ngelabrak Zara! Dia itu malah-"


"Halah!" potong Bagus cepat sebelum Agnes melanjutkan kalimatnya. "Mau alasan apa lagi?"


Agnes semakin dibuat kesal dengan hal itu. "Gue nggak bohong atau alasan, ya! Gue emang nggak ngelabrak dia! Kok, lo malah percaya sama dia sih ketimbang pacar lo sendiri?"


Bagus mendekat dengan sorot mata penuh kemarahan. "Iya gue lebih percaya dia, karena dia sahabat gue! Awas aja kalau lo sampai ngelarang atau ngancam dia untuk jauhin gue. Lo bakal terima akibatnya!" tegas Bagus sebelum pergi meninggalkan Agnes sendirian.


"Terserah! Terserah lo mau percaya atau enggak! Yang penting gue sama sekali nggaj pernah ngelabrak dia! Lo tanya aja sama Lia! Dia saksinya! Dan dia juga ada di sana kemarin!" teriak Agnes, tapi sama sekali tak digubris Bagus.


Tubuh gadis itu melemas, rasanya ingin jatuh, matanya mulai berkaca-kaca, dan dadanya terasa sangat sesak saat Bagus lebih percaya pada Zara ketimbang pada pacarnya sendiri. Agnes tahu kalau Bagus sudah tidak percaya dan tidak perduli padanya, tapi dengan sekuat tenaga walau hubungannya di ambang kehancuran, ia masih mau mempertahankan hubungan tersebut.


Bukan karena apa-apa tapi gadis itu tidak mau yang memutuskan Bagus lebih dulu, karena Agnes ingin cowok itu yang memutuskannya lebih dulu, selain itukan Agnes takut dan percaya dengan adanya karma. Kalau Agnes nanti punya pacar, pasti Agnes yang akan diputuskan pacarnya jika ia yang memutuskan Bagus lebih dulu. Hanya itu? Iya, hanya itu.


Agnes juga sebenarnya ingin segera putus dari cowok itu karena lelah bertengkar dengan Bagus, baik saat langsung ataupun lewat chat. Ia juga tidak habis pikir dengan Zara yang sangat tega memfitnahnya seperti ini. Apa motif Zara sampai tega berbuat jahat padanya? Kalau alasannya adalah Zara ingin memiliki Bagus, ya, ambil saja sana, toh juga rasa sukanya pada Bagus sudah sepenuhnya hilang.


Agnes ingin mengamuk, tapi ia tahu tempat, jadi tidak ia lakukan. Gadis itu hanya menatap kepergian Bagus yang mulai menjauh dengan memendam perasaan kesal, marah, jengkel, dongkol, dan bingung, pokoknya campur aduk.


"Ada apa? Tadi gue dengar lo dimarahin sama Bagus. Ada apa sih?" todong Syarifa memegang lengan Agnes.


Agnes bungkam dan tidak menjawab, ia membutuhkan sedikit waktu.


***


Ke mana Alan pergi, di situ pasti ada Ava. Tapi, ke mana Alan pergi, di situ pasti ada Natalie.


Contohnya seperti saat ini, Ava tahu kalau Alan duduk di samping koperasi tengah mengobrol dengan seorang kakak kelas. Kebetulan tidak ada Natalie, Bagus ataupun Justin.


"Tadikan kita udah makan di kantin, masa jajan lagi di koperasi?" rengek Safira berniat menolak.


"Gue pengen minuman koperasi, lo temenin dong. Gue bayarin deh," bujuk Ava.


Diiringi dengusan, Safira menjawab, "Yaudah. Iya, gue temenin, tapi gue bayar sendiri. Awas aja kalau lo yang bayarin."


Ava langsung menganguk semangat, mempercepat langkah dan menyeret tangan Safira agar cepat sampai di koperasi sebelum Alan pergi. Tentu gadis itu menolak dibelanjakan, karena Safira bukan tipe gadis yang suka memanfaatkan ketulusan saat berteman, tapi kalau dipaksa dan kepepet sih mau-mau saja.


***


Saat sampai di koperasi, mata Ava dan Alan bertemu sekilas. Dari luar sih Ava tetap biasa saja menjaga imagenya, tapi asal kalian tahu saja kalau di dalam hati yang paling dalam, Ava sangat ingin berteriak kegirangan, dan jantungnya berdebar sangat kencang. Kalau perlu, ia akan berjoget di tengah lapangan.


Nggak papa sedikit, daripada nggak sama sekali, ucap Ava dalam hati.


"Apa lo liat-liat? Mau gue colok?" sinis Safira.


"Udah," bisik Ava melerai sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi.


"Kenapa tu cewek?" tanya sang kakak kelas yang diketahui namanya Clay saat Ava dan Safira sudah masuk ke koperasi.


"Biasa. Kekurangan gizi." Bangkit dari duduk, menepuk pundak Clay. "Gue cabut." Pergi dari sana.


Kalau Safira dengar, pasti udah ditonjok habis-habisan nggak ada ampun, atau malah dicincang dikasih ke buaya.

__ADS_1


***


"Ava!"


Gadis yang namanya dipanggil sontak menoleh kebelakang, Ava ingin ke kelas tadi, karena ia minum kebanyakan, jadi sebelum masuk ia ke kamar mandi dulu. Kan, nggak lucu kalau ngompol atau nahan pipis di dalam kelas, tidak baik juga untuk kesehatan.


"Iya, ada apa, Kak?"


Aras nampak sedikit ragu. "Lo, nanti malam ada waktu?"


Ava menggeleng. "Nggak ada. Kenapa? Mau ngajak gue jalan?" tebak Ava tepat sasaran.


"Hehe, iya. Ke pasar malam, mau nggak? Tenang, gue nggak akan ninggalin dan komen apapun tentang lo kayak waktu itu. Gue janji."


Gue emang nggak berniat melupakan Alan dari hidup gue, tapi mungkin ini adalah salah satu cara supaya hati gue bisa sedikit terobati.


"Iya, mau deh, Kak."


Aras akhirnya bisa tersenyum lebar, sedangkan Ava semakin senang karena Aras mau memperbaiki semua kesalahannya.


***


Sembari menunggu Aras menjemputnya, Ava meluangkan waktu untuk menonton tv di ruang tamu bersama Ana dan Agnes sambil memakan kacang mede.


"Nes, lo kenapa sih? Kok dari tadi pagi murung terus? Ada masalah apa? Cerita dong," tanya Ava membuka pembicaraan.


"Iya, kita nggak suka kalau salah satu sahabat kita ada yang sedih."


Agnes menatap bergantian ke arah Ava dan Ana. "Kelihatan banget, ya, kalau gue lagi murung?"


Ava dan Ana mengangguk. "Banget," jawab mereka berdua bersamaan.


Agnes nampak mengatur nafasnya. "Jadi, sebenarnya itu ...."


***


Beberapa menit kemudian ....


Ava bangkit dari duduk dengan emosi super membara setelah mendengar cerita Agnes. "Benar-benar tu orang, ya! Bisa-bisanya tu cewek ngefitnah lo? Dan, Bagus malah percaya tanpa mendengar penjelasan lo?"


"Stop!" Agnes menahan tangan Ava saat gadis itu beranjak keluar rumah. "Nggak usah lo susulin Bagus, itu bakalan percuma karena Bagus udah percaya banget sama Zara. Kalau lo marah-marah sama dia, Bagus bakalan tambah marah dan nyalahin gue, jadi plis ... tahan emosi lo, kali ini aja. Lagian, kebenaran itu akan terungkap jika Tuhan sudah berkehendak, dan Tuhan pasti nggak akan tinggal diam gitu aja."


"Iya, benar apa kata Agnes, Ava. Niat lo emang baik untuk ngebela Agnes, tapi untuk sekarang, lebih baik biarin Agnes nyelesaiin masalahnya sendiri."


Tin


Tin


Agnes melepas cekalannya dari tangan Ava, menatap Ava dengan tatapan memohon. "Biarin sekali ini aja gue menyelesaikan masalah gue sendiri walau nantinya gue bakal sakit hati. Lo pergi aja senang-senang sama kak Aras dan nggak usah mikirin tentang gue. Lo juga perlu menyembuhkan hati lo yang terluka."


Ava memang begitu orangnya, setelah masa lalu tentang pembullyannya dulu, gadis itu malah jadi sering ikut campur masalah orang lain yang ia rasa sudah keterlaluan dan menyudutkan orang tersebut. Ia akan marah saat sahabat atau temannya dimarahi orang lain, dibentak, dicaci maki, dibully, dan dijauhi.


Ava melakukan itu karena ia tidak mau orang lain bernasib sama seperti dirinya dulu, dan seperti ada tarikan atau bisikan yang menyuruhnya melakukan hal tersebut, walaupun ia tidak dibutuhkan dan tidak dimintai bantuan, mengalir begitu saja hanya dengan melihatnya.


"Tapi, kedua orang itu tuh udah kelewatan sama lo, Agnes! Gue nggaj bisa tinggal diam kalau sahabat gue diginiin!"


...***...


...Tanggapan kalian kalau ada orang yang sejenis Zara gitu gimana? Respon kalian bakal gimana? Marah itu pasti. Siapa sih yang nggak marah saat difitnah dan dihianati kayak gitu, fake banget kesannya....


...Ditulis tanggal 08 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 20 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2