Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 16 ~ Nggak Enak


__ADS_3

...



...


06:30


Hari ini Ava sengaja berangkat pagi karena ada PR MTK yang belum ia selesaikan.


Ava menggeser buku tugas MTK milik Safira untuk di salinnya. "Fir, nomor 1, 15, 6, sama 30 belum, ya? " tanya Ava yang masih menyalin tugasnya.


Safira menoleh ke arah Ava. "Belum,"


"Eh, tanya Dino sama Revan aja, mungkin mereka udah. Atau enggak tanya Maudi aja dia, 'kan, lumayan orangnya." saran Safira. Ava bangkit untuk mencari contekan.


"Maudi, lo udah PR nya nomor 1, 15, 6 sama 30? " tanya Ava pada ceweK yang namaNya Maudi. Kata teman sekelas sih ada yang bilang Maudi itu sombong, tukang pamer, dan suka membeda-bedakan. Apalagi di tambah mulutnya yang kalau ngomong suka nggak ada ahlak.


...



...


...(Maudi Rara Sekar)...


Dia kalau berteman itu sukanya geng-gengan. Yaaa kayak sekarang ini dia ngumpul sama cewek-cewek sejenisnya, bergaul sana-sini sama anak cowok biar keliatan sangar dan famous. Tapi itu semua nggak berhasil karena dia tetap nggak jadi anak famous, malah pada di katain kayak anak murahan.


Tapi Ava sih tidak tahu pasti itu hanya katanya. Ava juga belum membuktikan atau merasakannya sendiri, mungkin ini kesempatannya. Bahkan Ava saja belum berbicara dengan semua teman sekelasnya, tapi kelebihannya Ava sudah hafal nama dan wajahnya. Hanya kurang tahu sifat dan perilakunya saja, tapi lambat laun Ava pasti mengerti.


Maudi menatap teman-temannya, lalu beralih ke Ava. "Enak banget lo mau nyontek! Gue yang mikir lo tinggal nulis?"


Ava langsung melotot, ternyata apa yang di katakan teman-teman nya benar. "Kalau nggak mau ngasih tahu, mendingan tu mulut lo, lakban!" Ava langsung pergi ke meja Dino dan Revan.


Ternyata Dino, Revan, Games, Lia, Fatiha, Rahma, Alnira, Abi, Dario juga tengah menyalin PR entah buku siapa itu yang mereka bawa.


"Eeeh Ava, sini duduk ikutan nyalin keburu ada guru nanti!" suruh Dino menyuruh Ava duduk separuhan di bangku yang sama. Ava langsung duduk di samping Dino.


"Din, liat punya lo dong. Itu nggak jelas tulisannya kayak cekeran ayam, punya lo bagus," pinta Ava. Dino langsung menyingkirkan tangan kirinya yang menutupi buku.


"Widih, enak banget lo, Din?" ledek Revan iri. Dari tadi Revan memperhatikan kedua orang itu. Dino hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Ava, di sini jadi anak emasnya kelas ini, yaa, padahal biasa aja nggak pintar-pintar banget." celetuk Fatiha cewek manis berlesung satu. Ava tidak kesal mendengarnya, karena itu memang benar, dan nadanya santai tidak seperti Maudi si nenek lampir itu.


"Yaaa ... karena pada naksir gue, kali?" Ava terkekeh pelan.


"Nih, punya gue udah!" ucap Revan dan Games bersamaan sambil menyodorkan buku PR mereka.


Yang ada di sana pun langsung menatap secara bergantian ke arah Ava, Revan, dan Games.


Seluruh kelas yang sudah tahu kalau Dino dan Revan sangat sangat menyukai Ava, tapi kalau Games mereka tidak tahu, bahkan Games saja tidak pernah berinteraksi dengan Ava. Saat teman-temannya membahas tentang Ava, Games justru tidak pernah sama sekali ikut membahas, dan hanya menjadi pendengar. Tapi Games tiba-tiba saja bersikap seperti itu kepada Ava, jadi mereka semua terkejut.


Revan menyodorkan bukunya lagi. "Nih, ambil aja." Ava langsung mengambil buku Revan dan menyalinnya.


Selama Ava menulis Ava sangat tidak nyaman, karena Ava merasa bahwa Games terus menatap dan mengawasi gerak-geriknya. Setelah selesai Ava langsung kembali ke tempat duduknya, tanpa mengucapkan terima kasih.


Tadi Ava sempat melirik Games sekilas dan benar Games dari tadi senyum-senyum sambil menatapnya.


Ava memberikan buku PR nya ke Safira untuk di salin. "Kenapa, lo? Kok kayak nggak enak gitu?" tanya Safira yang melihat wajah Ava gelisah.


"Itu, lo liat deh kebelakang. Tempatnya Dino sama Revan. Games dari tadi liatin gue mulu," Ava langsung menoleh dan Safira juga melihatnya. Games juga masih melirik-lirik Ava.

__ADS_1


Safira mulai menyalin. "Udah, nggak usah di ladenin kalau yang kayak gitu. Biarin aja. Lagian, lo pasti nggak sadar,"


Ava menautkan kedua alisnya. "Nggak sadar apa?"


"Nih yaa ... dari pertama kali lo masuk ke sini, gue perhatiin dia selalu liatin lo, dari jauh atau dekat. Gue nggak mau kasih tahu lo karena takut nya lo, nggak nyaman!" Safira menegaskan dua kalimat terakhir.


"Jadi, sekarang lo udah tahu, tinggal nikmatin aja sensasinya,"


Ava menyenggol siku Safira. "Iish, lo jahat banget. Tapi masa, sih? Jadi takut, gue ...."


"Udah, tenang aja nggak usah takut, 'kan, ada gue." ujar Safira bangga sembari menepuk dadanya beberapa kali.


Ava menatap ke belakang lagi, dan Games masih menatapnya dari jauh. Ava bergidik ngeri melihatnya.


***


09:15


Bel istirahat telah berbunyi. Ava ingin makan ia sudah sangat lapar, apalagi Safira yang dari tadi hampir mati karena kelaparan.


"Eeh, Kak Aras! Ngapain di sini?" tanya Ava saat melihat Aras menyenderkan bahunya di depan pintu kelas Ava.


Safira menyenggol siku Ava. "Gue, mau ke kantin dulu, ya." safira langsung menggandeng Lia yang lewat.


Maudi dan segerombolannya lewat di belakang Ava. "Ekhem, Ava nggak sadar diri." itulah ocehan Maudi yang sangat tidak jelas. Setelah itu mereka langsung pergi.


"Ke kantin bareng, yuk?" ajak Aras. Ava langsung mengangguk.


Dari jauh Ava bisa melihat Bagus, Rio, Syarifa, Agnes, Justin, Okta, Raina, dan Alan dengan hoodie hijau tua yang ada di paling belakang. Mereka berjalan bergerombol, mungkin mereka juga akan ke kantin.


Ava berniat memamerkannya pada Agnes bahwa Aras sudah menjadi miliknya.


Bukan.


Saat Agnes lewat Ava mengangkat alisnya sambil tersenyum. Agnes hanya memutar bola mata malas sebagai jawaban.


Alan berhenti sebentar di antara Aras juga Ava. Menatap kedua orang itu bergantian.


Baik tatapan Aras maupun Alan saling menunjukkan ketidak sukaannya.


Alan berjalan mendahului teman-temannya, dan teman-temannya hanya bisa diam membiarkan cowok itu. Semenjak Alan kenal Ava, Alan dan Justin lebih sering bermain dengan ke enam orang itu.


Ava kesal kenapa cowok itu selalu menunjukkan wajah datar dan juga bicara tanpa nada suara akhir-akhir ini Tapi entah kenapa Ava suka sifat Alan yang seperti itu. Ia tidak suka jika Alan terlalu banyak bicara apalagi cerewet.


***


Aras dan Ava duduk saling berhadapan. Aras tidak akan membiarkan siapapun mengisi bangku yang kosong di mejanya, karena Aras mau hanya ada dirinya dan juga Ava.


Dan tentu saja mereka berdua yang menjadi pusat perhatian saat ini, nama Ava sudah tidak asing lagi tentunya. Aras sengaja mengajak Ava makan di kantin ini yang kebanyakan di isi oleh anak cowok, juga Aras dan teman-temannya yang setiap hari makan di kantin ini.


Ava sedikit tidak nyaman dan risih dengan ada nya cowok-cowok disini yang tidak bisa menjaga matanya. Ava terus melirik ke segala arah sambil mengaduk-ngaduk jus alpukat miliknya.


"Ava," panggil Aras membuka suara. Setelah dari tadi hanya diam saja.


"Aah iya, Kak!" pusat mata Ava saat ini ada di puncuk rambut Aras.


"Gue, ngajak lo kesini karena gue pengen ngomong sama lo, dan nggak akan ada yang ganggu,"


"Iya, gue tahu kok," Ava mangguk-mangguk sambil meminum jusnya.


"Alan, itu pacar lo, ya?"

__ADS_1


"Aah enggak, dia bukan siapa-siapa. Dia itu cuma teman doang ..." jawab Ava dengan cepat. Ava tidak mau Aras salah paham.


"Gue saranin, yaa, lo jangan dekatd-dekat, sama Alan. Gue liat orangnya kayak tempramen gitu?"


"Tempramen?" tanya Ava mengulang, kali ini tanpa sadar nadanya sedikit meninggi, "... emang, lo tahu apa tentang dia?" lanjut Ava sedikit tidak suka.


"Iya, bisa di liat dari tatapan matanya,"


Setelah menunggu akhirnya pesanan mereka datang. Aras langsung memakannya.


Ava manundukkan kepalanya sedikit. "Ooh, gitu, yaa?"


***


09:25


Aras tadi memasangkan earphone ke telinga Ava yang tersambung di hp Aras. Membiarkan Ava mendengarkan lagu sembari Aras berbincang dengan anak buahnya, agar Ava tidak mati kebosan.


Tiba-tiba Alan datang dan langsung melepas earphone dari telinga Ava lalu menarik tangan Ava menjauhi Aras. Siswa lain yang di sana langsung terkejut.


"Woi! Gue belum selesai sama, Ava!" teriak Aras menunjukkan kemarahannya.


Ava yang tidak tahu kenapa sikap Alan seperti ini ia bingung dan marah. Alan sudah membuat dirinya malu di depan orang banyak.


"Alan, lepasin!" teriak Ava terus memberontak mencoba melepaskan cekalan Alan, tapi ia tetap tak bisa menandingi Alan.


Alan terus menyeret Ava dan membiarkan cewek itu berbuat semaunya.


"Alan, sakit. Lepasin ..." Ava menendang kaki kanan Alan, sehingga pertahanan Alan sedikit goyah tadi.


"Ternyata benar, ya, kata kak Aras, lo itu tempramen jadi orang!" seketika Alan langsung berhenti di dekat kelas Ava. Alan melepaskan cengkraman tangan cewek itu. Ia memegangi bekas cengkraman Alan.


Alan membalikkan badannya menatap Ava tajam. Sedangkan yang di tatap menunjukkan sorot mata kemarahan dan nafas yang tak beraturan.


Alan mendekat kan dirinya ke arah Ava. "Lo, mau bolos? Bel udah bunyi." setelah mengatakan hal tersebut, cowok itu langsung pergi meninggalkan  Ava.


Ava melihat ke sekelilingnya, ternyata sudah sangat sepi. Kenapa dirinya bisa tidak mendengar bel, atau mungkin karena ia terlalu asik dengan Aras, dan juga sedari tadi ia mendengarkan lagu dengan earphone.


Ava menatap kepergian Alan yang terus berjalan. Gadis itu mengedipkan matanya saat Alan menutup pintu kelasnya dengan sangat kencang.


Nafas Ava tak beraturan, ia memikirkan Aras yang tadi di tinggalnya, pasti saat ini Aras marah padanya.


"Jaketnya juga belum gue kembaliin, orangnya malah ngambek duluan."


"Eeh, ngapain di sini? Ayo masuk." Bu Erna selaku guru Ekonomi menepuk pundak Ava.


Ava sedikit terkejut dengan hal itu. "Aah. Iya, Bu." Ava mengikuti Bu Erna dari belakang.


...***...


...Jadi ... siapa yang tempramen di sini? Aras? Atau malah Alan?...


...Kalian ada di Tim mana, nih? Alan atau Aras? (Alan & Ava atau juga Aras & Ava?)...


...***...


...Ditulis tanggal 4 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 18 Februari 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2