
...
...
08:34
Ketiga gadis itu hari ini tengah bersantai sambil menonton drakor di salah satu stasiun tv nasional.
Mereka bertiga sudah selesai bersih-bersih rumah, tapi belum mandi. Tidak tauh kapan mandinya atau bahkan seharian ini tidak akan mandi.
Tin
Tin
Ava, Ana, dan Agnes saling tatap. Siapa kira-kira pagi seperti ini datang kerumah mereka? Ah bukan, ini bukan rumah mereka, lebih tepatnya rumah orang tua Ava.
Agnes menyuruh Ava keluar untuk mengecek. Dan setelah gadis itu lihat ternyata ada Justin, Bagus, dan juga ada Alan.
Ava langsung berlari sambil tersenyum memeluk Alan. Sedangkan cowok itu hanya diam dan tidak membalas pelukan Ava. Mungkin masih marah tentang kejadian kemarin.
Dalam keadaan masih memeluk Alan, Ava menatap kedua cowok tadi. "Kalian ke dalam aja dulu, gue mau ngomong sama Alan bentar."
Dan langsung diangguki Bagus serta Justin.
Ava beralih menatap Alan. "Maafin gue yah, Lan. Gue tahu kok gue salah, janji nggak akan ngulangin lagi." Ava mengacungkan jari kelingking.
Alan menatap gadis di depannya datar. Tapi sedetik kemudian Alan membalas tautan jari Ava. "Iya, gue maafin kok. Kalau gue nggak maafin lo, nggak mungkin juga gue mau diseret dan dipaksa dua mahluk yang tak diketahui namanya itu ke sini."
Ava pun juga senang karena cowok itu sudah mau memaafkannya. Sejak tadi malam pula Ava memikirkan Alan. Bukan, lebih tepatnya Ava lebih banyak memikirkan pesan teror yang setiap hari mulai menghantuinya.
"Ya udah yuk masuk," ajak sang gadis. Keduanya pun langsung masuk ke dalam rumah.
***
Ana tengah menyiapkan camilan di dapur. Sedangkan Agnes sendiri yang sekarang sudah jadi pacarnya Bagus tengah duduk berdua di sofa. Justin? Jangan tanyakan cowok itu karena saat ini ia duduk lesehan di balik sofa sambil bermain game dan hanya beralaskan karpet warna abu-abu.
"Va," panggil Alan.
Ke duanya juga duduk lesehan di karpet.
"Apa?"
"Gue udah ke sini beberapa kali, tapi sekalipun gue nggak pernah lihat orang tua kalian?"
"Udah pada mati semua, yah?" timpal Justin spontan.
Alan langsung menendang kaki Justin, dan hanya di balas cowok sialan itu dengen kekehan.
"Jadi, dulu Mama Papa kita bertiga itu sahabatan, terus kita bertiga dari kecil udah bareng-bareng. Kemana-mana selalu bareng pokoknya, dan udah kerasa kayak keluarga besar gitu. Kita dari kecil udah tinggal di Jakarta, karena Papa dan Mama kita bertiga sama-sama ngebangun usaha dari nol sampai bisa sukses kayak sekarang dan bangun perusahaan di Amerika, jadilah mulai dari SMP kelas dua tinggal di sana."
"Berarti kalian bisa Bahasa Inggris dong, karena sekolahnya di sana?" sahut Justin sebelum Ava melanjutkan ucapannya.
"Dengerin dulu kenapa, sih? Nanti baru tanya kalau udah selesai!" damprat Ava kesal karena di potong omongannya.
Alan tekekeh melihat sang sahabat di marahi gadisnya, tidak tahu saja kalau Ava tidak suka jika ada yang menyela atau memotong ucapannya, karena Alan pun juga pernah dipelototi.
"Ya udah iya maaf. Lanjut deh."
"Kita sih bisa Bahasa Inggris walaupun terkadang sering lupa kosa katanya. Kita justru Home schooling yang di mana gurunya itu orang Indonesia juga. Mungkin Mama sama Papa kita takut kalau nanti kita bertiga kenapa-napa, karena kita bertiga sama-sama anak tunggal."
"Satu tahun Home schooling ngebuat kita jadi bosan, karena benar-benar jarang keluar rumah. Kalau butuh apa-apa nyuruh pembantu, udah gitu temennya dikit lagi cuma sekitar tiga sampai empat karena di perkomplekan gitu. Jadi pas mau kelas sembilan itu kita bertiga mutusin untuk balik ke Idonesia."
"Awalnya sih Mama Papa kita nggak nyetujuin, tapi karena kita paksa jadi mau deh. Dulu sebelum Mama Papa gue pindah ke komplek bareng sahabatnya itu, kita bertiga yaitu gue, Mama, dan Papa tinggal di sini. Komplek yang dulu kita tinggalin udah dijual buat nambahin modal, jadinya rumah ini nggak dijual karena kalau Papa atau sahabat Papa yang lainnya balik ke Indonesia atau ada urusan pulangnya yaa pasti ke sini."
Semuanya mendengarkan cerita Ava dengan hikmat sama seperti layaknya amanat. Agnes, dan Bagus juga malah ikut duduk lesehan di karpet karena penasaran. Tak terkecuali Ana yang ada di dapur pun ikut mendengar walau samar-samar.
"Pas kita bertiga pindah ke sini, awalnya sih ada pembantu, tapi cuma bertahan tiga bulan, karena kita nggak mau lama-lama ada pembantu jadi kita pecat deh. Dan, mulai hari itu kita udah terbiasa hidup mandiri. Beruntungnya saat di Amerika kita udah di ajarin Mama kita masak, jadi kita nggak perlu khawatir tentang hal itu karena udah nyiapin plain dan bekal untuk tinggal di sini."
__ADS_1
"Kalau urusan bersih-bersih sih kita udah bisa, dan setiap bulannya kita juga pasti di transfer uang buat bayar ini itu, uang saku, dan lain-lain. Terus kalau misalkan kayak ada pengambilan raport itu salah satu Mama kita biasanya ada yang pulang untuk ngambil raport itu, tapi kalau nggak bisa ya terpaksa kita ambil sendiri."
"Kenapa lo nggak ngerengek minta sekolah di sana aja?" tanya Justin.
Ava terdiam sebentar kemudian berkata, "Mungkin karena pergaulan di sana sedikit bebas gitu daripada di Indonesia. Kalau di Indonesia menurut gue masih ada penjagaannya dan bahkan sangat ketat, karena ini dan itu semuanya serba diatur dan ada pasal hukumnya."
"Udah, udah. Ceritanya nanti dilanjut lagi, dan sekarang kita makan dulu!" sahut Ana yang membawa nampan berisi camilan, gorengan, dan juga es tes manis.
"Lan, lo nggak makan?" tanya Agnes saat melihat hanya cowok itu yang tidak makan.
Alan menggeleng. "Enggak, perut gue sedikit begah. Akhir-akhir ini pencernaan gue nggak lancar."
"Modal tampang manis doang pencernaan nggak lancar," sarkas Ana santai.
Ava berpikir sebentar, setelah itu berdiri dan berjalan menuju dapur.
***
Tak lama kemudian gadis itu datang membawa sepiring nasi dan lauk pauknya.
"Nih makan, kalau abis makan gue jamin pencernaan lo bakal lancar banget." Ava menyodorkan makanan itu pada Alan.
Terlihat jelas bahwa di raut wajah Alan menandakan keraguan yang mendalam. Takut kalau Ava meracuni dan membunuhnya. "Lo, kasih apaan emang?"
Gadis yang ditanya cengengesan tidak jelas. "Udah makan aja. Percaya deh sama gue."
Alan mengambil makanan yang disodorkan Ava dengan ragu-ragu.
Cowok itu sesekali mencium makanannya, mencoba memastikan bahwa Ava tidak memasukkan apa-apa, walau ia sudah sangat yakin ada apa-apa di makanan ini.
Karena sudah terdengar jelas dari apa yang diucapkan gadisnya tadi.
Alan memakan satu suapan, mengunyahnya pelan-pelan, kemudian menatap Ava penuh selidik.
Tapi setelah cowok itu menunggu beberapa menit, ternyata tidak terjadi apa-apa dengannya.
Mungkin apa yang dikatakan Ava benar adanya, bahwa gadis itu tidak berniat membunuh atau meracuni Alan, jadilah cowok itu kembali melanjutkan makannya.
Di sisi lain, semua teman-teman yang ada di sana pada menatap Ava penuh selidik, sengit, dan kecurigaan yang sangat amat mendalam. Tapi dilihat dari wajah gadis cantik itu tidak terlihat bahwa Ava menyembunyikan sesuatu.
Tapi detik berikutnya setelah suapan yang ke tiga, Alan merasa ada yang aneh dengan perutnya, karena perlahan-lahan perut cowok itu terasa nyeri.
"Yey berhasil!" sorak Ava kegirangan sembari bertepuk tangan.
Alan meletakkan makanannya, dan memegang perut kemudian menatap Ava. "Lo apain gue, Va?"
"Gue nggak ngapa ngapain lo kok," jawab gadis itu terlihat sangat jujur dan tidak melakukan kesalahan apapun.
"Lan, lo kenapa?"
"Alan, lo kenapa, sih?"
"Lan, lo kenapa, Lan?"
Pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya sama sekali tidak dihiraukan oleh cowok itu.
"Ava jujur, lo kasih apa ke makanan itu?" tanya Alan menatap Ava yang hanya cengengesan sambil menahan rasa sakit. Tubuhnya juga sedikit lemas. "Kamar mandinya di mana?" tanya cowok itu lagi saat Alan sudah sudah tidak kuat menahan sakit.
"Itu di sana!" Ana menunjuk kamar mandi di samping dapur.
Dengan gerakan cepat Alan langsung berlari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Teman-teman yang ada di sana langsung berdiri dan menatap Ava seolah ingin tahu dan mendengar penjelasan dari gadis itu.
Bagus menghampiri Ava kemudian melontarkan pertanyaan, "Ava lo apain Alan?"
Belum sempat sang gadis menjawab Alan sudah keluar duluan, tapi detik berikutnya cowok itu masuk ke dalam kamar mandi karena perutnya sakit lagi.
"Ava! Lo kasih Alan apa?" kini giliran Justin yang bertanya, cowok itu menekankan setiap kata.
__ADS_1
"Gue kasih Alan obat pencahar, karena tadi, 'kan, Alan bilang pencernaannya nggak lancar, yaa ... gue pikir dengan itu bisa jadi lancar," jawab Ava polos, tanpa rasa berdosa, dan dengan nada yang sangat menggemaskan.
Saking menggemaskannya semua yang ada di sana ingin mencabik-cabik habis tubuh gadis yang pura-pura polos itu.
Teman-temannya pun langsung menepuk jidat. "Astaga, Ava! Lo udah gila, ya?! Iya sih langsung lancar, tapikan ada obat lain juga!" teriak Bagus, Justin, Agnes, dan Ana bersamaan.
"Gue waras kok! Kalau gue gila, nggak mungkin dong gue di sini." Ava mencebikkan bibirnya. Menatap semua teman-temannya kesal karena hinaan itu.
Mungkin saat ini jika Alan mendengarnya, cowok itu pasti bersumpah serapah dalam hati untuk gadisnya.
Agnes memegang kepalanya. Gadis itu sangat frustasi sekarang karena kelakuan ceroboh Ava. "Lo ambilin obat yang bentuknya kapsul ada di rak paling atas sama air putih." Nada bicara Agnes terlihat gugup.
Dengan segera tanpa bantahan, Ava melaksanakan apa yang diperintahkan Agnes.
Dan saat Alan keluar dari kamar mandi Ava lansung menyodorkan obat dan juga air putih. "Nih minum obatnya."
Dengan segera cowok itu langsung meminum obat tersebut, karena lemas jadilah Ava menuntun Alan untuk duduk di sofa.
***
Deru nafas cowok itu memburu, badannya sangat lemas, matanya sayu, dan terasa berkunang-kunang, tenaga Alan rasanya sudah habis.
Cowok itu menatap Ava yang ada di sampingnya. "Lo kasih gue racun, Va?" tanya Alan yang berniat menyindir. Tapi masih dengan nada yang pelan dan lirih.
Ava menggeleng, lalu tersenyum kaku. "Gue nggak ngasih racun, tapi gue ngasihnya obat pencahar supaya pencernaan lo lancar."
Alan hanya diam, dan tidak merespon selain itu karena tenaganya sudah habis. Tega-teganya Ava melakukan itu padanya.
Gadis itu bisa mendengar bahwa Alan menghembuskan nafas kasar. Pasti cowok itu akan marah lagi padanya.
Mungkin otak Ava sekarang mengecil jadi gadis itu tidak bisa berpikir atau mungkin juga Ava lupa meminum obatnya.
Sedangkan teman-teman yang lainnya pun hanya bisa menatap Ava penuh kekesalan sambil tersenyum kecut.
Jika mereka bisa dan mau mulai sekarang Ava bukan lagi sahabat dan teman mereka. Sayangnya, mereka terlalu sayang pada Ava jadilah mereka tidak akan melakukan hal itu. Selain itu juga karena Ava yang paling kaya di sini.
***
Saat ini Safira sedang bersantai di kamar dan tengah menonton MV baru dari boy band Korea kesukaannya di laptop. Sekeliling kamar gadis itu ditempeli stiker berukur cukup besar.
Tapi juga ada foto berukuran besar di sisi dinding lain yang dengan sangat apik di balut dengan frame warna coklat tua beserta kaca bening.
Karena Safira penggemar K-pop jadilah ia mengoleksi semua barang-barang yang berhubungan dengan idol atau boy band kesukaannya. Persis seperti Agnes tapi Safira lebih lengkap dan lebih banyak.
Setelah selesai gadis itu meletakkan laptopnya di atas bad kasur kemudian menuruni anak tangga satu persatu menuju dapur.
Di meja ada berbagai macam masakan tapi Safira sedang ingin makan mie ramen sekarang. Untungnya ia masih menyimpan satu di rak dapur paling atas. Gadis itu menyiapkan air untuk merebus mie dan menungkan semua bumbunya ke dalam mangkuk.
"Lagi ngapain?" tanya Semi- Mama Safira yang datang sembari memegang rotan panjang di tangannya.
"Masak mie. Kenapa?"
Semi tersenyum smirk dan mendekati anak keduanya itu. "Nyali kamu gede, ya Safira? Saat ada banyak lauk tersaji di meja tapi malah masak mie?"
Yang bisa dilakukan Safira hanyalah tersenyum miris diiringi langkah kaki mundur. Walaupun gadis itu garang, tapi ia juga takut kepada Semi yang jauh lebih garang darinya.
...***...
...Lama-lama karena terlalu cinta sama Alan, Ava jadi lola....
...Abis ini Safira pasti dijadikan geprek sambal merah sama Semi....
...***...
...Ditulis tangggal 19 September 2020...
...Dipublish tanggal 11 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....