Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 27 ~ Harus Berbuat Apa?


__ADS_3

...



...


Ava diam setelah mendengar cerita dari Alan. Semua temannya yang ada di sana pun ikut menatap Ava. Menunggu reaksi gadis itu.


"Lan, lo pasti ngarang, 'kan?" Ava menatap Alan tidak percaya. Ia merasa kalau saat ini cowok itu tengah mengada-ngada, " ... lo pasti cemburu karena gue lebih dekat dengan Kak Aras, 'kan?"


Cowok itu berdiri kemudian menatap gadis yang disayanginya lekat-lekat. "Gue nggak bohong. Mungkin yang terlihat nggak seperti ekspektasi yang lo bayangin, Ava ...."


Justin memberikan ponselnya pada Ava yang di sana sudah ada video bukti-bukti yang ia ketahui itu ponsel milik Alan.


"Ini apa?" tanya sang gadis.


"Lo putar aja, biar lo percaya ..." titah Justin. Berusaha tetap tenang dan menguasai keadaan.


Ava mengikuti arahan Justin. Safira ikut mendekat untuk melihat video yang tengah di putar.


Mata Safira membelalak sempurna saat apa yang di ceritakan Alan ternyata benar. Bukannya Safira saja, Ava yang melihat itu pun sangat syok dan serasa ingin menangis. Mata gadis itu berkaca-kaca dan dadanya terasa sangat sesak. Bersiap mengeluarkan kristal bening meluncur di pipi mulusnya.


"Ini juga lo harus liat. Yang ngempesin ban motor Alan itu juga kak Aras sama teman-temannya." Justin menggeser layar ponsel lalu mengganti video lainnya.


Dan yang di katakan Justin memang benar adanya. Itu rekaman cctv yang memperlihatkan dengan jelas ada Aras, Gilang, dan Uki diam-diam mengempeskan ban motor Alan saat tak ada satupun orang di parkiran.


Ava terdiam, ia sepertinya ingat sesuatu. "Jadi, kemarin ban motor Alan yang ngempesin kak Aras sama teman-temannya? Yang nonjokin Alan sampai babak belur gitu juga mereka?"


Ava memberikan ponsel yang ia pegang kepada Alan, lalu berjalan cepat keluar dari belakang sekolah. Tidak mengindahkan berbagai macam penuturan yang dilontarkan teman-temannya.


Sedangkan Alan? Cowok itu hanya diam saja sambil menyorot getir atas kepergian Ava. Membiarkan gadis itu menenangkan hati dan memutuskan semuanya.


***


Gadis itu kini tengah duduk di taman sekolah. Sendirian. Video dan cerita Alan tentang Aras tadi seperti tamparan keras untuknya. Ia tidak habis pikir dengan Aras. Kenapa dia bisa seperti itu hanya untuk mendapatkan dirinya?


...



...


Ava ingin menangis, tapi entah kenapa air matanya tidak bisa keluar. Apa Aras pantas untuk ia tangisi? Dan, kenapa ia harus menangis kalau Aras saja bukan siapa-siapanya? Gadis itu hanya berkaca-kaca saja.


"Gue mau ngomong sama, lo!"


Sang gadis terkejut tatkala Aras datang menghampirinya dengan sangat tiba-tiba, apalagi dengan nada yang tidak biasa. Itu terdengar antara ketus, dingin, dan marah. Tatapannya pun terlihat berapi-api.


"Kak Aras!" Ava berdiri di depan Aras yang kini menatapnya tidak biasa. Nafas cowok itu juga sedikit tersenggal.


Aras menatap gadis di depannya dengan sorot maya tajam. "Va! Lo kok tega, yaa, sama, gue? Lo jalan sama Alan di belakang, gue?!"


"Kak, gue bisa jelasin sama lo! Maksud gue bukan itu ..."


"Jangan nyela omongan gue! Dan lo cukup dengerin!" tanpa sadar saat itu juga nada suara Aras meninggi.


Membuat Ava terkesiap di tempat, karena baru kali pertama dirinya di bentak oleh seorang laki-laki. Ayah nya saja belum pernah membentaknya. Tapi, Aras sudah berani melakukan itu?


Aras mengeluarkan tangan yang tadi ia tenggelamkan ke dalam saku. Dengan sangat kurang ajarnya menunjuk wajah gadis di depannya. "Lo nggak cukup sama, gue? Lo kurang apa saat sama, gue? Gue nggak tahu jalan pikiran lo, Va?! Lo jelas-jelas tahu kalau gue suka sama lo! Harusnya lo tahu itu dan bisa jaga perasaan, gue!"


Sebelum Aras melanjutkan kata-katanya, Ava langsung memotong, karena dirinya tidak mau Aras salah paham tentang hal ini. "Bukan gitu maksud gue, Kak! Gue tuh cuma kasian sama Alan! Karena dia udah datang jauh-jauh kerumah, gue! Kalau gue tolak, itu sama aja gue nggak ngehargain orang!"


Aras berdecak tidak percaya. Menatap ke arah lain lalu menatap Ava lagi. "Itu bukan alasan yang jelas bagi, gue! Lo pasti juga suka, 'kan, sama, Alan?"


"Kok, Kak Aras nggak percaya sih sama, gue? Harusnya kalau Kak Aras suka sama gue, Kak Aras juga bisa percaya sama gue!" tutur Ava tak kalah dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Gimana gue bisa percaya sama lo, kalau lo aja udah jalan berkali-kali sama cowok ingusan itu, 'kan?!" bentak Aras lagi karena emosinya yang kini mulai memuncak di ujung ubun-ubun.


"Kok, lo malah bentak gue, sih? Lo sadar nggak, kalau lo gitu ke gue malah bikin gue tambah marah sama, lo?" Panggilan untuk Aras yang selalu ada embel-embel, 'Kak' kini hilang dan berganti dengan kata, 'Lo'.


Nama kesayangan, nama ejekan, dan nama ciri khasnya masing-masing akan berubah menjadi nama panggilan saat seorang wanita benar-benar marah atau kesal. Terbukti, 'kan?


Aras sengaja terkekeh. "Tambah marah? Harusnya gue yang marah sama lo, Ava! Bukannya, lo?"


Gadis itu diam sambil bersedekap dada, tidak ingin meladeni Aras lagi dan lebih memilih menatap ke arah lain. Saat ini ia enggan menatap cowok di depannya. Ava sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Aras.


"Tapi, darimana Kak Aras tahu kalau gue sering jalan sama Alan di belakang dia? Pasti ini ada yang ngasih tahu? Tapi siapa?" batin Ava bertanya pada diri nya sendiri.


Sedangkan Aras kini mulai mengatur nafas dan juga emosinya. Mencoba bicara baik-baik dengan Ava tanpa emosi, karena Aras juga tahu kalau dengan emosi masalah tidak akan selesai.


Aras memegang kedua lengan Ava. "Ok. Gue minta maaf karena udah bentak lo tadi. Kita lupain masalah ini, dan sebagai permintaan maaf, nanti malam lo jalan sama gue. Lo mau, 'kan?"


Ava berpikir sejenak sebelum memutuskan. Sepertinya itu bukan ide yang buruk, Aa juga ingin sekalian bicara dengan Aras tentang Alan, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat.


Ava mengangguk mengiyakan ajakan Aras. "Iya." Jelas, padat, dan singkat.


Tapi, setelah mengatakan itu Ava langsung pergi meninggalkan Aras di taman. Sendirian. Karena bel masuk sudah menggema di seluruh sudut sekolah.


***


19:25


Sesuai perjanjian tadi pagi. Ava kini ada di depan rumah. Menunggu kedatangan Aras.


Agnes dan Ana berdiri di ambang pintu. Menatap Ava yang dari tadi pagi hanya melamun. Mulai jarang bicara setelah tahu insiden tentang Alan.


Auranya pun terasa gelap dan suram. Sorot matanya tak ada tanda-tanda kehidupan yang memancar. Kosong. Tidak seperti hari-hari sebelumnya saat Ava yang begitu ceria dan selalu excited.


Tin


Tin


"Aah, iya! Gue pergi, bye." Melambaikan tangan sebentar.


"Iya! Hati-hati dan have fun yaa! Jangan mikirin apa-apa!" suruh Ana memberitahu. Ava hanya mengangguk pelan, itupun karena terpaksa.


Agnes menatap Ana sendu. "Gue nggak tega ngeliat Ava kayak gitu."


Ana mengangguk. "Iya. Kayak sengsara gitu hidupnya? Tapi yaudah lah biarin aja." Kedua gadis itu langsung masuk ke dalam rumah.


***


Ava langsung masuk kedalam mobil Aras, karena Aras tidak menyambut atau membukakan pintu untuknya. Cowok itu langsung menjalankan mobilnya ke suatu tempat yang sudah dia pilih.


***


Di sini Ava dan Aras saat ini. Tepatnya di restaurant mahal. Selalu saja begitu dan akan selalu seperti itu. Aras sangat memanjakan Ava untuk hal-hal seperti ini.


"Ini gue sewa hanya untuk kita berdua. Jadi, lo bisa pesan apa aja," ucap Aras menatap Ava yang dari tadi diam saja. Seperti tidak nyaman.


Ava mengangguk pelan. "Iya, Kak. Tapi, gue mau ke toilet dulu sebentar. Kak Aras pesan aja dulu, samain aja pesanannya. Tapi gue minumnya jus alpukat."


"Iya, lo tenang aja." setelah Aras mengatakan itu, Ava langsung beranjak pergi ke kamar mandi.


***


Ia menatap dirinya dipantulan cermin. Di sana Ava hanya mencuci tangan saja, karena tadi hanya sebuah alasan untuk sekedar memantapkan diri. Ia ingin sekali membasuh wajah, tapi jika ia melakukan itu maka make up yang membalut wajahnya akan luntur.


Ava selalu totalitas saat berkencan dengan Aras, karena Ava tidak mau membuat cowok itu malu. Dengan notabenya adalah cowok yang sangat tampan, hal itu membuat Aras banyak digilai para wanita di luaran sana. Bahkan para ibu-ibu serta janda.


Setelah puas berkaca, Ava kembali ke ruangan yang sudah Aras sewa lalu duduk di depannya lagi. Ternyata cowok itu sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Ava meminum jus alpukatnya sedikit, lalu beralih menatap spaghetti dengan saus di atasnya. Ava tidak tahu itu saus apa karena baunya yang agak berbeda dari saus spaghetti yang biasa ia makan, tak ayal karena ini restaurant mahal.


...



...


"Gimana, ya, cara ngomongnya? Kalau sekarang, kayaknya bisa ngerusak suasana?" bermonolog di dalam hati. Bingung harus bicara dan mulai dari mana.


Aras menatap Ava heran. "Ava, ayo makan jangan diam aja."


Gadis itu mengangguk lalu mengambil garpu dan memakan spaghetti di depannya. Bukan spaghetti doang sih pesanannya, ada sekitar tiga lagi, tapi mungkin itu makanan pembukanya.


Sepertinya ada yang aneh dengan spaghetti yang Aras pesankan. Wajah dan lehernya mulai terasa tidak enak. Seperti terasa gatal dan panas.


Ava diam tidak menyelesaikan makannya dan mulai menggaruk-garuk kecil di area leher. Tapi lama kelamaan rasa gatal itu mulai menjadi-jadi. Di barengi rasa panas pula.


"Kak Aras ..." lirih Ava.


Aras menoleh dan terkejut melihat Ava menggaruk-garuk seperti itu. "L-lo kenapa?"


"Ini sausnya saus apa sih, Kak?" tanya Ava masih dalam keadaan menggaruk.


"Ini shrimp sauce spaghetti. Emangnya kenapa?" Raut wajah Aras terlihat tenang, tapi di dalamnya sangat panik.


Mata Ava langsung membelalak sempurna. "Gue alergi udang, Kak!"


"Hah?! Lo alergi udang? Sumpah gue nggak tahu lo alergi udang, Va! Kok lo nggak ngasih tahu gue sih sebelumnya?"


"Lah! Salah sendiri lo nggak nanya!"


Aras langsung bangkit dan membawa Ava keluar menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


***


"Alerginya tidak parah, karena langsung di bawa ke sini. Ini silahkan tebus obat dan salep agar bintik-bintiknya berkurang." ucap sang dokter sambil memberikan secarik resep obat pada Aras.


Ava mendudukkan dirinya di atas ranjang. Menatap Aras yang kini menatap dirinya dengan bayang-bayang rasa bersalah yang amat sangat.


Sayangnya bukan merasa kasihan, Ava justru sangat dongkol dan kesal terhadap cowok itu.


Ia juga bingung harus mengambil keputusan saat ia sangat mendambakan seorang Aras selalu ada di sisinya. Tapi di lain sisi, menurut Ava apa yang Aras lakukan sudah sangat keterlaluan sampai melukai seseorang hanya karena seorang perempuan. Dirinya.


***


Selama perjalanan pulang, gadis itu hanya diam dan membiarkan Aras terus berkicau. Kali ini ia sama sekali tidak berniat membalas kicauan Aras seperti sebelumnya, yang di mana ia selalu senang dan antusias.


Ava hanya menatap ke arah jalanan yang ramai dengan lalu lalangnya kendaraan. Entah kenapa kali ini rasanya sangat berbeda. Terasa membosankan dan melelahkan.


Cowok itu memberikan paper bag berisi obat dan ada kado untuk Ava yang sudah ia siapkan dari rumah. Aras yakin kalau Ava akan suka dengan kado yang ia berikan. Itu juga sebagai permintaan maaf atas kesalahpahaman hari ini.


Ava keluar dari mobil Aras berjalan dengan gontai. Beranjak masuk ke dalam pekarangan rumah. Tidak memperdulikan kicauan Aras yang meminta maaf padanya.


...***...


...Haloyoh! Gimana ini nanti nasibnya si Aras?...


...Hari ini kalian makan apa, soalnya Aku mau tahu? Karena hari ini Aku makan hati liat dia sama yang lain....


...***...


...Ditulis tanggal 26 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 28 Februari 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2