Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 34 ~ Kentut


__ADS_3

...



...


Cowok itu membalikkan badannya kemudian menatap Ava sambil tersenyum.


Jangan salah kira, ternyata itu bukan Alan, Aras, Dino ataupun Revan, karena itu hanyalah pengantar pizza biasa.


"Ini Mbak, ada kiriman pizza," ujar cowok itu sambil menyodorkan plastik putih tersebut.


"Perasaan, saya nggak pesan deh, Mas? Salah alamat kali?"


Cowok itu mengecek ponselnya. "Tapi, ini benar kok Mbak alamatnya,"


"Mungkin, Agnes kali, ya?" Menerima sodoran plastik putih itu.


"Ya sudah, saya pergi, ya Mbak." pengantar pizza itu beranjak pergi dari sana.


Saat Ava ingin menutup pintu cowok itu kembali lagi.


"Mbak, tunggu dulu! Saya ada salam dari yang pesan pizza itu. Katanya, 'Jangan ngambek-ngambek, makan yang banyak biar kenyang'."


Kening gadis itu berkerut. "Ooh makasih, yaa, Mas."


Pengantar pizza itu pergi dari sana. Membawa serta sang kuda besi.


Ava menutup pintu dan langsung ke kamar Agnes. "Nih, pizza pesenan, lo!"


Kedua gadis remaja yang tengah menonton film itu langsung mendongak.


"Gue nggak pesan pizza kok, Va," pungkas Agnes.


"Lo, 'kan, Na, yang pesan? Pake acara nitip salam segala lagi?" tukas Ava sangat yakin.


Sang gadis yang ditanyai langsung menggeleng cepat. "Nggak, Ava. Dari tadi hp gue ada di kamar, pas gue lagi chat-an sama Justin "


Gadis itu semakin bingung. Jika bukan kedua sahabatnya, lantas siapa lagi


"Lha terus yang pesan pizza sebanyak ini siapa dong?"


Hp Ava berbunyi, Agnes dan Ana sama-sama saling menatap gadis di depannya.


"Itu, nada dering, lo?" tanya mereka berdua bersamaan.


Ava terkekeh pelan. "Hehe, iya. Tadi sore gue coba ganti."


Tak salah jika keduanya merasa heran, karena nada dering yang gadis itu pasang adalah lagu Alone Pt. II kolaborasi antara Alan Walker dan Ava Max.


Beruntung sekali, karena Ava memang mengidolakan keduanya. Eh tahu-tahu malah Alan Walker dan Ava Max kolaborasi. Auto jungkir balik seperti orang gila gadis itu.


Ava langsung berlari menuju kamarnya. Meletakkan pizza mnya tepat di atas meja. Ternyata ada telpon dari nomor tak dikenal.


"Hallo, ini siapa, ya?"


"Ini gue, Alan. Pizzanya udah sampai?"


"Jadi, pizzanya lo yang kirim?"


"Iya. Jangan ngambek-ngambek lagi, dan maaf gue sibuk banget. Habis pulang sama teman-teman tadi, gue langsung ngerjain tugas yang numpuk,"


Sang gadis menjauhkan hp nya dari telinga, lalu terkikik pelan penuh haru. Dirinya sangat senang karena cowok itu perhatian padanya.


Ava kembali menempelkan benda pipih itu ke dekat telinga.


Tapi pertanyaannya, darimana Alan tahu kalau Ava tengah marah dan kesal sekarang?


"Nggak papa kok. Tapi, tahu dari mana kalau gue lagi ngambek?"


"Walaupun gue nggak tahu keadaan lo, tapi gue tahu perasaan lo,"


Kata-kata cowok itu yang terdengar kalem dan tenang diam-diam membuat hati Ava semakin tidak karuan arahnya kemana.


Yaah walaupun Ava tidak tahu kalau Alan berhohong, semoga saja gadis itu tetap tidak tahu kalau Agnes yang memberi tahu akan hal itu.


"Lo, apaan sih? Nggak jelas banget!"


"Yaudah, jangan lupa di makan, yah. Gue mau lanjut ngerjain tugas lagi,"

__ADS_1


"Iya, yang semangat yah belajar nya,"


"Good night."


Tut


Tut


Tut


Dua kata saja yang di ucapkan sang pujaan hatinya berhasil membuat sang gadis bergidik ngeri saat mendengar hal itu. Tak pernah terpikirkan sama sekali akan mendapat ucapan tersebut. Bagaikan setruman hebat yang mampu menembus ulu hati.


Ava meletakkan hp nya di meja rias kemudian langsung meloncat-loncat kegirangan di atas bad kasur.


Di sisi lain, tepatnya di depan pintu kamar Ava, ada Ana dan Agnes yang sedari tadi menguping pembicaraan Ava dengan Alan di sambungan telepon. Kedua gadis remaja itu saling bertos- ria kegirangan. Ikut senang mengetahui hal itu berhasil.


***


06:45


Kali ini, ketiga gadis remaja itu berangkat lebih siang, karena tadi Ava lupa di mana meletakkan dasi sekolahnya.


Mulai hari ini dan seterusnya Ava putuskan untuk memakai helm yang di berikan Alan. Selama di koridor, gadis itu tetap mengembangkan senyumnya. Ia seperti tidak ada beban dan tidak merasa bersalah atas kejadian kemarin saat Ava menolak Aras mentah-mentah di depan seluruh siswa SMAN Tri Bakti.


"Gila kali yaa itu cewek, kayak nggak ada dosa sama sekali?"


"Kalau gue jadi kak Aras sih gue bakal kirim pasukan buat ngeroyok Ava sama si cowoknya."


"Pengen gue tabok itu mukanya si Ava. Sok jual mahal dan ngeselin banget."


Mungkin seperti itu lah hinaan yang Ava dengar di sepanjang koridor menuju kelasnya.


Tatapan horror pun mulai dilayangkan untuk tiga gadis tersebut. Tentu, yang paling menyeramkan adalah tatapan yang dilayangkan untuk gadis bernama Ava. Karena Agnes dan Ana adalah sahabat Ava, jadi mereka ikut dibenci.


Bisa di bilang, sebagian lagi membenci Ava, dan sebagian lagi masih mengagumi Ava seperti dulu. Jika di hitung mungkin perbedaannya 55:45.


Itu tidak masalah bagi mereka bertiga. Sebisa mungkin ketiga gadis itu tidak akan perduli dan tetap bersikap biasa saja, walaupun cercaan dan hinaan pedas yang di lontarkan para siswa dan siswi serta kakak kelas yang terkenal famous sejak dulu.


Saat sampai di tangga kelas X Ips, Ava berhenti sebentar dan merangkul kedua sahabatnya. "Maafin gue yah, gara-gara gue kalian jadi ikut dijauhi ..."


Ava dan Agnes sama-sama menggeleng.


"Iya, Va. Lagian omongan mereka mah nggak ngaruh. Sebut aja kentut. Ada bau tapi tak ada wujud."


Gadis yang tengah dirundung kegelisahan itu diam dan membenarkan apa yang sahabatnya katakan.


Setelah merasa lega, mereka bertiga langsung masuk ke dalam kelas masing-masing. Tak lupa pula lambaian tangan sebagai tanda perpisahan.


Ava duduk di kelasnya, tatapan horror pun juga tak luput dari mereka yang di sana. Bukan semuanya sih, sebagiannya lagi lebih memilih tidak perduli dan tetap bersikap biasa saja.


Dan bisa gadis itu lihat dengan jelas, Maudi dan geng nya pun menatap Ava sangat tajam. Dirinya sudah merasa seperti target yang diintai dan hanya tinggal menekan ketika perintah sudah diluncurkan. Ia bisa mati kapan saja dan di mana saja.


Harusnya di saat seperti ini adalah saat yang paling bagus untuk melihat siapa orang yang tetap bertahan berteman dengannya dan yang pergi karena merasa yang paling benar.


Seorang teman tentu bisa pergi dan datang kapan saja baik saat dibutuhkan maupun saat membutuhkan. Tapi, seorang sahabat tidak akan pernah pergi walau dalam keadaan seburuk apa pun itu. Benar, bukan?


Tadi, saat mata Ava bertemu dengan Dino dan Revan yang duduk di pojok, mereka sama-sama pura-pura membenci Ava. Dirinya yakin tidak akan lama kedua cowok itu pasti kembali ke sifat mereka yang dulu, karena semua teman dekat mereka justru lebih memihak padanya.


Ava tidak mempermasalahkan dirinya yang kini dibenci banyak orang, tapi gadis itu akan sangat merasa bersalah jika teman dan orang yang ia sayang kini juga menanggung semua masalahnya. Apalagi mereka juga ikut dibenci dan dijauhi.


Sembari menunggu Safira datang, Ava mengambil earphone dari saku seragam yang selalu ia bawa kemana-mana, dan langsung disambungkan ke hp nya untuk mendengarkan musik sembari membaca novel online.


***


Safira dan Ava kini akan pergi ke kantin, tapi sepertinya gadis itu ingin membasuh wajahnya sebentar.


"Fir, lo duluan aja. Gue mau ke toilet sebentar,"


Safira menganguk mengiyakan. "Hmm, lo hati-hati aja, ya." Setelah mengatakan itu, Safira pergi, sedangkan Ava masuk ke dalam kamar mandi.


Gadis itu mencuci telapak tangan bekas coretan bolpoin yang tak sengaja menempel dengan air mengalir. Setelah benar-benar bersih, Ava mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya.


"Semoga aja masalah ini cepet cepat hilang deh. Lama-lama panas kuping gue dengar omogan tu human-human nggak berguna."


***


Di sisi lain, tepatnya di kantin paling pojok bagian kiri ada Alan, Dino, Revan, Justin, Bagus, Tiana, Ana, Agnes, Okta, dan Syarifa menunggu kedatangan Ava.


Jangan tanya kenapa ada Revan dan Dino. Mereka berdua ingin meminta maaf pada Ava karena sudah mengabaikan gadis itu dan ikut membencinya juga. Mereka berdua hanya kesal karena ternyata Ava lebih memilih Alan. Hanya itu saja dan tidak ada maksud apa-apa.

__ADS_1


Agnes melihat jam tangannya. "Ava mana, sih? Kok lama banget? Itu dia cuci tangan apa mandi?"


"Tunggu aja." jawab Safira.


***


Ava membasuh wajahnya beberapa kali agar ia kembali segar. Selama dan setelah pelajaran sejarah gadis itu tiba-tiba mengantuk seiring berjalannya waktu.


Tapi tiba-tiba saat Ava kembali bercermin, tepat di belakangnya sudah ada Maudi dan teman-temannya yang melipat tangan di depan dada.


"Sialan! Main keroyokan lo?" batin Ava geram.


Gadis itu berusaha tetap tenang di situasi yang sekarang bahwa ia seorang diri, karena dirinya memang tidak takut kepada Maudi.


Ava membalikkan badannya. Menatap Maudi remeh sambil melipat tangannya di depan dada.


Sang musuh mendekat ke arah Ava, dan di ikuti antek-anteknya dari belakang.


"Lo tuh jangan sok jual mahal yah jadi orang! Nggak ngaca dulu lo?"


"Kalau di lihat-lihat lo tuh nggak ada apa-apanya. Cantik? Enggak. Pintar? Enggak. Modis? Enggak. Body goals? Juga enggak. Mana sih yang di lirik kak Aras dari lo?"


"Tapi kok, kak Aras bisa yaa suka sama cewek murahan kayak, lo?"


"Udah? Datang-datang kok langsung marah-marah. Nanti cepet tua, keriput terus mati gimana?" ledek Ava. Gadis itu berdiri tegap. Menatap tajam tak kalah dengan gadis di depannya, "... bahkan, gue sama lo pun masih tinggian gue. Ingat yah, nggak semua itu bisa di lihat dari luar. Melihat itu nggak cuma pakai mata, tapi juga pakai perasaan. Buat apa good looking kalau attitude nya nggak di jaga? Sama aja nggak berguna. Modal tampang doang attitude nggak punya. Lebih nggal guna lagi kalau tampang udah jelek dan ngga punya attitude. Benar, bukan?"


"Lo ngomong sama diri sendiri?" kekeh Maudi.


Gadis itu mencuci tangannya lagi, tidak memperdulikan Maudi yang melotot ke arahnya sampai mata gadis itu hampir saja keluar dari kelopak mata.


"Kak Aras terima-terima aja tuh. Tapi, kok kalian yang sewot? Siapanya sih?" Menatap Maudi lebih nyalang, "... apa lo melotot-melotot? Mau gue colok?"


"Wah! Nantangin kita dia, Di!"


"Iya, Di. Udah hajar aja! Jangan kasih ampun!"


"Gass lah!"


Ucap teman-teman Maudi yang mulai mengompori sang bos. Maudi yang mulai terpancing pun mencekal kerah seragam Ava.


"Berani ya, lo sama gue?"


"Berani lah, 'kan, sama-sama makan nasi. Jangan sok ngelawan kalau lo lihat gue aja masih dongak,"


"Eeh! Lo jangan sok berkuasa, ya? jadi orang!"


"Ngomongin diri sendiri?" Dengan berani dan entengnya Ava membalikkan kata-kata gadis di depannya.


Dengan kasar Maudi langsung menarik kancing baju Ava, sehingga membuat kancing kedua bagian atas seragam gadis itu copot. Mendorong Ava kasar yang membuat kepala dan badannya membetur dinding. Tangan kanan Maudi mulai di layangkan ke arah pipi gadis di depannya.


Dengan sigap, Ava menahan tangan Maudi. Menggenggamnya dengan sangat erat. Menatap tajam bak elang yang sudah mendapatkan mangsanya. Kalau Ava mau, diri nya bisa mematahkan tangan Maudi dengan sangat mudah.


Tidak sampai di situ saja, karena merasa dipermalukan di depan anak buahnya, tangan kiri Maudi pun di layangkan kembali.


Lagi-lagi Ava menahan tangan Maudi. Dirinya langsung mengguyur wajah gadis itu dengan air, yang membuat gadis itu menjerit karena terkejut


"Ava! Make up gue luntur!"


Sedangkan Ava langsung kabur dari sana, sebelum Maudi dkk bertindak merugikan dirinya lebih baik Ava pergi dari sana.


Bugh


"Aduh!" Meringis sembari mengelus jidat.


Saking cepatnya Ava keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat ada orang yang lewat di depan kamar mandi, jadilah ia menabrak dada orang tersebut.


...***...


...Kira-kira siapa yang ditabrak, Ava?...


...Jawab di kolom komentar yah, dan selalu tungguin kisah mereka selanjutnya....


...***...


...Ditulis tanggal 25 Juni 2020...


...Dipublish tanggal 14 Maret 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2