Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 38 ~ Sedikit Berlebihan


__ADS_3

...



...


Ava kini tengah mengintip kebersamaan Alan dan gadis yang diketahui bernama Natalie dari luar jendela.


Safira dan teman-teman lainnya sudah pergi ke kantin lebih dulu. Rencananya, Ava akan mengajak Alan untuk ke kantin bersama, tapi cowok itu malah berduaan di kelas bersama dengan Natalie.


"Ekhem. Nggak tahu malu banget jadi orang? Ngintip-ngintip segala lagi!" sindir Maudi yang baru saja keluar dari dalam kelas bersama budak-budaknya.


Ava membalikkan badan kemudian melipat tangan di depan dada. "Ngapain lo ngurusin hidup gue? Emak gue aja enggak pernah kayak gitu. Kuker banget!"


(Kuker\= Kurang kerjaan)


Maudi memberikan serangan dengan tatapan sinisnya. Tapi itu sama sekali tidak membuat Ava bergeming. Gadis itu malah semakin tertantang. "Apa lo lihat-lihat? Belum pernah ngerasain di colok pakai bolpoin, yah?"


"Dih! Siapa coba yang ngeliatin lo? Belum pernah di tabok pakai samurai, yah? Kalau katarak mah katarak aja kali! Nggak usah ngajak-ngajak!" Tepat setelah mengatakan itu, Maudi dan teman-temannya pergi dari sana


"Lo yang katarak!" teriaknya seraya mendengus kesal, "... bilim pirnih di tibik pikii simirii, yih?" ejeknya menirukan gaya dan nada bicara Maudi.


Ava kembali menatap ke jendela. Bisa ia lihat bahwa di sana Natalie menyodorkan buku pada Alan. Sedangkan cowo itu terlihat menerimanya dengan senang hati kemudian entah menjelaskan tentang apa.


"Itu ngitung apaan, sih? Kok lama banget?" gerutunya sangat tidak sabar


Tak lama kemudian, Alan keluar bersama dengan Natalie.


Bukannya apa-apa, tapi sepertinya Natalie suka kepada Alan. Bisa dibuktikan saat cowok itu berjalan di sampingnya, Natalie terus saja menatap ke arah Alan sambil terus mengembangkan senyuman.


"Alan, makasih ya." ucap Natalie menampakkan senyum termanis miliknya.


Sedangkan Ava dengan berani memelototkan matanya ke arah gadis yang menurutnya genit tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Entah karena takut atau bagaimana kepada Ava, Natalie mrmutuskan buru-buru pergi dari sana. Mungkin saja itu terjadi.


Ava melipat kedua tangannya di depan dada saat Alan berdiri di depannya. Menurunkan kedua tangan lalu berjalan beriringan menuju kantin.


"Ngapain aja tadi? Itu namanya Natalie, 'kan? Dia suka sama lo? Atau dia lagi pdkt sama lo? Dia caper, ya, sama lo? Lo suka, 'kan, sama dia? Dan, kayaknya dia juga suka sama lo?" todong gadis di samping Alan hanya dengan satu tarikan nafas saja.


Alan merangkul  pundak Ava agar jaraknya sedikit lebih dekat. "Ngajarin dia ekonomi. Iya, namanya Natalie. Gue sama sekali nggak tahu kalau dia suka sama gue dan kayaknya dia nggak lagi pdkt sama gue. Kalau caper kayaknya juga enggak karena gue sukanya sama lo," jawab Alan dengan nada yang tenang namun diam-diam menekankan setiap kata.


Ava melepaskan rangkulan cowok di sampingnya, kemudian menunjuk tepat pada wajah Alan. "Awas, ya, kalau lo suka sama dia! Gue nggak mau lo dekat-dekat sama dia lagi, karena gue nggak suka sama dia. Soalnya dia terlihat seperti orang yang kayak suka merebut cowok orang," tuduhnya yang mulai menunjukkan rasa cemburu yang berlebihan.


Ava hanya tidak mau Alan diambil orang lain, karena ia sudah terlalu sayang pada cowok itu, jadi sebisa mungkin gadis itu akan menjaga apa yang sudah ia miliki.


Cowok di sampingnya berhenti melangkah yang kemudian membuat Ava mau tak mau juga ikut berhenti. "Nggak baik nuduh orang tanpa bukti, bisa jadi fitnah nanti ..." menoel gemas hidung gadis di sampingnya.


Ava mendekatkan wajahnya ke Alan. "Lo, kok kayak ngebelain dia gitu sih? Gue tuh ngomong apa adanya, gue liat tadi dia senyam-senyum liatin lo. Apa jangan-jangan lo juga suka sama dia?"


Cowok itu mengernyitkan dahi, tidak terima akan apa yang diucapkan sang gadis, karena semua itu tidak benar. "Bukannya gitu, Ava. Gue cuma nggak mau kalau lo nuduh orang yang jelas-jelas tidak melakukan hal yang lo pikirkan,"


Ava memutar bola matanya malas. "Bodo amat!" teriaknya tepat di depan wajah Alan. Kibasan rambut badai gadis itu juga mengenai wajah sang pangeran.


Alan menghela nafas pelan. Menatap gadisnya yang sudah duduk berkumpul bersama teman-teman lainnya. "Harusnya, lo nggak kayak gini."


***

__ADS_1


"Ok, Anak-anak! Sampai di sini ya pembelajaran kita hari ini. Semoga bermanfaat dan mudah di pahami. Kalau ada yang belum paham silahkan tanyakan di grup yaa!" tutur Pak Chakim selaku guru mata pelajaran Geografi sebelum pelajaran hari dan di jam ini benar-benar berakhir.


Tapi, biasanya Ava dan Safira memanggilnya dengan sebutan, 'Cha Eun-kim Oppa' dan hal itu terinspirasi dari idol korea yang kalau nggak salah namanya, 'Cha Eun-wo'.


Walaupun Pak Chakim jarang masuk kelas, tapi sekalinya masuk, pembelajaran yang disampaikan langsung bisa dipahami dan diterima para siswa dan siswinya. Pak Chakim juga sangat berjiwa anak muda. Tahu apa yang dilakukan siswanya di umur yang sekarang, karena umur Pak Chakim juga masih sekitar 30 an.


Sebab itu lah Safira dan Ava tak pernah meninggalkan pelajaran atau pun tugas yang diberikan sang guru. Pak Chakim juga menjadi guru favorit nomor dua setelah Bu Dini selaku guru Bahasa Prancis.


Sebagai contoh saja, misalnya untuk anak kelas X itu sedang masa-masanya mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan mengamati bagaimana cara kerja di sekolah. Kelas XI itu lagi masa-masanya mereka nakal dan mulai brandal karena mengikuti pergaulan atau melihat dari situasi yang sebelumnya mereka amati. Masa-masa itu juga sebagai ajang dari segala ajang yang ada di kehidupan sekolah. Kelas XII itu adalah masa di mana mereka tidak akan berani melakukan apapun, istilahnya mereka akan menjadi siswa yang bisa berubah sangat baik dan tobat mendadak. Karena apa? Ya kalau mereka melakukan sesuatu apapun itu yang berbau negatif, nilai pelajaran, sikap, perilaku, dan poin mereka yang harus di pertaruhkan. Selain itu juga dalam keadaan tersebut para siswa akan melakukan berbagai macam cara supaya nilai ujian mereka tetap pada tingkat baik. Kalau tidak begitu, terpaksa, hasil kelulusan yang harus dipertaruhkan.


"Iya, Pak!" jawab seluruh siswa kompak seraya memasuk kan alat tulis mereka ke dalam tas masing-masing.


Pak Chakim menunjuk ke arah Mahmud sang ketua kelas yang paling kalem dan Bambang wakil ketua kelas yang paling alim di kelas X Ips 4. "Kalian berdua, kembalikan buku paket ini ke perpustakaan, ya."


"Iya, Pak!" jawab Bambang dan Mahmud bersamaan. Keduanya bangkit dari duduk kemudian mengambil satu persatu buku paket Geografi yang sudah dikumpulkan setiap satu barisan di meja paling depan.


"Ava sebagai bendahara dua, kamu ambil lks di koprasi ya. Dan, untuk Safira bisa ikut saya ke kantor, sekalian bawa buku kasnya juga."


Kedua gadis remaja itu sama-sama mengangguk kemudian berjalan mengekori Pak Chakim dari belakang.


"Ava, lo masih bete sama, Alan?" tanya Safira hati hati, takut menyinggung perasaan gadis itu.


Gadis yang ditanyai mengangguk. "Iya. Nggak tahu kenapa gue kayak punya feeling kalau Natalie bakal ngerebut Alan dari gue. Takut aja gitu rasanya,"


Safira mengulum bibir sebentar. "Ya ... menurut gue Alan ada benarnya juga sih. Lo, 'kan, juga belum tahu gimana sifat Natalie yang sebenarnya. Nanti kalau lo salah nuduh malah lo yang bakal malu,"


Gadis terdiam sebentar. Sebenarnya sih ucapan Safira ada benarnya juga. "Tapi ..."


Safira menepuk pundak sahabatnya beberapa kali sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya. "Pikirin dan bicarain baik-baik. Jangan terlalu dikekang, nanti malah bikin nggak nyaman. Okay?"


"Apa, gue juga terlalu ngatur dan ngekang Alan, yah?"


***


Ava celingukan ke kanan dan ke kiri setelah keluar dari koprasi. "Ini kenapa berat banget? Tiga puluh enam  lks cuma gue yang bawa. Nggak ada orang yang bantuin apa gimana, sih ini?"


Pelan-pelan gadis itu berjalan agar barang bawaannya tidak jatuh. Lebih baik dirinya lewat jalan depan ruang guru karena jaraknya lebih dekat, daripada harus putar balik lewat di depan lapangan basket utama. Kan, jaraknya juga akan semakin jauh.


"Kamu, Ava, 'kan?" tanya Bu Dini. Dia guru paling seksi dan cantik di sekolah ini yang mengajar Bahasa Prancis. Di tambah lagi dengan Bu Dini masih berumur 20 -an dan belum menikah. Jadi, bukan tidak mungkin jika Bu Dini menjadi santapan bahan gombalan dari para siswa laki-laki.


Ava menoleh. "Iya, Bu saya Ava. Ada apa, ya?"


"Kamu belum mengumpulkan tugas dari saya. Tadi jam pertama sudah saya kasih waktu sampai istirahat kedua untuk di kerjakan. Kalau kamu tidak niat, lebih baik kamu tidak usah ada di kelas saya nanti,"


Ucapan guru cantik nan sexy itu membuat Ava membulatkan mata. Bagaimana bisa itu terjadi? Padahal tadi ia sudah menempatkan buku tugasnya tepat di atas buku Safira.


"Maaf Bu, tapi saya sudah mengumpulkan, bahkan saya taruh di atas buku Safira," terangnya sedikit panik.


"Tapi sudah saya cek beberapa kali dan tetap tidak ada. Karena waktu pengumpulannya sudah habis, nilai kamu saya kosongi. Lain kali coba di cek dan diteliti supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi."


Walaupun Bu Dini terlihat menawan, tapi sifat asli guru perempuan itu sangat tegas dan disiplin. Bu Dini tahu kapan waktunya bercanda dan kapan waktunya serius.


Baru saja Bu Dini ingin masuk ke dalam ruang guru, Ava sudah memanggilnya lagi.


"Sekali lagi, mohon maaf, Bu. Lain kali saya akan mengumpulkan tepat waktu Tapi kalau boleh tahu, yang mengumpulkan buku tugasnya siapa?"

__ADS_1


Guru perempuan itu tampak berfikir sebentar, kemudian menjektikkan jarinya. "Aah, namanya Maudi kalau nggak salah saat saya melihat name tag nya tadi,"


Rahang gadis itu otomatis langsung mengeras. Dalam hati ia mengerang murka dan suara gemerlatuk gigi-gigi rapinya mulai terdendengar samar.


"Yasudah, Bu. Terima kasih banyak." Setelah Ava mengatakan itu, Bu Dini masuk ke dalam ruang guru. Sedangkan Ava sendiri berjalan cepat menuju kelasnya, tidak sabar ingin memberi pelajaran pada nenek lampir itu.


Bruk!


Baru saja saat gadis itu ingin berbelok dari arah ruang guru menuju gedung kelas X, Ava menabrak seseorang dan jadi lah semua lks nya jatuh berserakan di lantai.


Ava mendongak, mencoba melihat siapa yang tak sengaja ia tabrak. "Kak Aras! Ma-maaf, Kak. Gue nggak sengaja!"


Cowok itu ikut berjongkok. Membantu Ava memunguti lks. "Nggak papa kok. Lo bawa lks segini banyak emang nggak berat?"


Gadis itu hanya terkekeh pelan. Suasananya menjadi canggung dan tidak nyaman.


"Berat sih," jawab Ava jadi salah tingkah sendiri di buatnya.


Terasa baru pertama kali kenal, bertemu, dan berbicara, tapi tiba-tiba langsung akrab saja.


Di sisi lain, tepatnya jauh di belakang Ava dan Aras, ada orang yang tak sengaja lewat kemudian dengan rasa penasaran memperhatikan keduanya dengan intens. Ada rasa cemburu saat melihat kedua orang itu kembali berinteraksi seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Keduanya sama-sama bangkit. Aras membawa lks lebih banyak di tangannya daripada pada Ava.


"Mau gue bawain sampai kelas?"


Gadis itu terlihat berpikir. "Kalau nolak malah tambah nggak enak. Lagian, ini juga berat, jadi ... nggak papa lah cuma bantuin doang. Toh, Alan nggak akan marah ..." Ava mengangguk pelan, "... kalau nggak ngerepotin sih mau." lanjutnya bersuara.


Aras tersenyum riang. "Sama sekali nggak ngerepotin kok."


Gadis di sampingnya tersenyum kaku menanggapi hal tersebut. Keadaan saat ini terasa aneh dan malah semakin aneh. Kedua remaja tersebut berjalan beriringan menuju kelas X Ips 4.


***


Ava meletakkan lks yang ia pegang dan yang Aras pegang di meja guru.


"Kak Aras, makasih yaa, udah di bantuin,"


Lagi-lagi cowok itu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Dan, hal itu sangat membuat Ava semakin tidak enak hati.


"Iya. Yaudah, gue balik yah." pamit Aras sebelum benar-benar pergi dari sana.


...***...


...Yang masih bertahan di tim kalian yang sebelum nya coba angkat tangan tinggi-tinggi!...


...***...


...Ditulis tanggal 18 Juli 2020...


...Dipublish tanggal 22 Maret 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2