
...Siapa yang setelah hari raya ini BB nya naik? Kalau naik kalian samaan sama Aku. Soalnya Aku tiap malam makan, minum, dan nyemilnya juga ngebut banget....
...Kalau BB Aku naik, itu yang paling kelihatan bukan di badan, tapi malah ke pipi gitu. Badannya sih tetap pada semula, tapi pipinya jadi chubby. Nggak papa sih, karena cewek yang berpipi chubby itu paling banyak digemari sama kaum Adam. Tahu kenapa? Karena bisa diunyel-unyel, sayangnya Aku nggak punya pacar sih, jadinya ku unyel-unyel sendiri aja. Nggak papa, justu Aku sangat bahagia kok....
...***...
...
...
Tepat pada hari senin ini, seluruh siswa melaksanakan Mid Semester pertama selama menjadi murid SMAN Tri Bakti.
Untuk satu minggu ini karena paksaan dan permintaan Ava, Agnes dan Ana pergi dan pulang sekolah menggunakan bus, jadikan Ava jadi tidak sendirian.
Kejadian beberapa hari yang lalu benar-benar tidak ada yang tahu kecuali para pihak yang bersangkutan, mereka semua tutup mulut dan menyimpan kejadian itu sendiri sehingga pada akhirnya hanya akan menjadi misteri. Semua luka-luka yang di dapat pun juga sudah memudar karena segera diobati, dan untungnya hal itu tidak mengundang rasa curiga yang mendalam.
Pihak sekolah sendiri juga sudah memberi kesempatan kepada Sintia dan Dinda agar mengikuti Mid Semester sampai mereka mendapat raport nanti.
Tentu, yang menjadi sorotan adalah sang pemeran utama di cerita ini, rambutnya yang pendek sebahu membuat kesan garang menjadi hilang, ditambah dengan pipi chubby yang dimiliki gadis itu semakin menambah kesan imut di wajahnya. Goresan di leher Ava juga tidak terlihat karena tertutup oleh plester yang warnanya hampir sama dengan kulit.
Ruangannya diacak dan satu kelas dibagi menjadi empat bagian, seperti kelas X bersama dengan kelas XII atau kelas XI Ips, Bahasa, dan, Ipa. Begitu pun kelas XI dan kelas XII. Sistemnya sama karena untuk meminimalisir adanya kebiasaan menyontek antar para siswa dan siswi.
Ruangan Ava sendiri ada di kelas XI Ips 2 dengan cowok bernama Muhammad Irham kelas XII Ipa 4 sebagai teman sebangku Ava. Saat sudah selesai mengerjakan semua soal, gadis itu kembali memeriksa lembar jawabnya untuk memastikan semua lengkap tanpa ada yang tertinggal.
"Ayo, Va!" seru Lia yang berjalan kedepan mengumpulkan lembar jawab saat melewati tempat duduk Ava.
Gadis yang diajak bicara pun mendongak sambil tersenyum. "Iya, duluan aja." Kembali memeriksa lembar jawab.
Saat dirasa sudah selesai, Ava maju ke depan mengumpulkan lembar jawab, mengambil tas lalu kembali ke mejanya untuk mengambil barang-barang seperti clipboard plastik berwarna biru, bolpoin, dan juga pensil.
"Duluan ya, Kak," pamit Ava dengan seulas senyuman sebelum meninggalkan kelas.
"Yoi," jawab Irham santai sambil mengancungkan jempol.
Sebelum Ava benar-benar keluar dari kelas, tak lupa pula ia menyalimi dua guru yang bertugas sebagai pengawas hari ini, Bu Asih dan Pak Asep.
Iya, Asih dari film berjudul 'Asih', dan Asep dari film berdujul 'Mata Batin'. Awokawokawok, bercanda.
Kedua tangan Ava sontak memberi jarak saat ia menabrak dada seseorang di depan pintu kelas, gadis itu tak perlu mendongak, karena ia pun juga sudah tahu siapa orang tersebut dari parfum yang digunakan.
Bau parfum yang tercium sangat manis layaknya permen, buah-buahan, dan gulali. Siapa lagi pemilik parfum tersebut jika bukan cowok itu? Saat para cowok di luaran sana memilih bau parfum yang manly agar terkesan maskulin atau mint agar terkesan tegas dan khas, Alan justru memilih bau parfum yang sangat manis. Itu adalah salah satu alasan kenapa Ava betah dekat-dekat dengan Alan, dan gadis itu sangat merindukan bau manis tersebut.
"Sorry," kata Ava tanpa mendongak,angsung berjalan di sisi kiri menuju teman-temannya yang sudah koar-koar sambil melambaikan tangan di depan kelas XI Ips 3.
Sedangkan cowok yang tak sengaja ditabrak Ava hanya melirik sekilas lalu menyusul teman-temannya yang sudah berkumpul duduk lesehan di teras mushola.
***
"Lancar? tanya Safira saat Ava duduk di sampingnya.
"Lancarlah dia, Bahasa Pancis dan Ekonomi mah dia udah fasih," puji Ana bangga.
"Nggak juga sih."
"Gue nggak ada Bahasa Prancis, tapi gue ada Bahasa Inggris," tutur Agnes.
"Ya iyalah, 'kan, lintas minat lo beda sama kita," timpal Ava yang sesekali melirik ke arah mushola.
"Woi!!" teriak Revan sambil melambak dari arah kantin, cowo itu melambai kemudian berlari pada gadis di kelas XI Ips 3.
"Jangan lari! Di sana licin, tadi aja gue hampir kepeleset!" peringat Syarifa.
Brug
Brak
Mata Revan langsung membelalak sempurna diiringi rintihan dan sakit yang tertahan. Baru saja diingatkan untuk tidak berlari, cowok itu malah benar-benar terpeleset dalam keadaan terlungkup dan masa depannya terkena batu.
"Aaaaawwww!" ucap kelima gadis itu secara bersamaan.
__ADS_1
Para gadis remaja yang melihat itu langsung ngilu sendiri.
"Pecah nggak tuh?"
"Masa depan dia!"
***
Teman-teman yang lain pada nongkrong di gazebo, sedangkan Ava dan Safira memilih makan di kantin untuk menambah energi agar otak bekerja dengan baik saat mengerjakan. Seperti biasa, tempat duduk paling pojok sebelah kiri.
Sedari tadi melihat Ava yang diam saja menatap lurus ke depan membuat Safira penasaran, gadis itu juga ikut menatap ke belakang arah sorot mata Ava. Safira dan Ava tempat duduknya bersebrangan.
Safira menghembuskan nafas kasar saat tahu kalau di tempat duduk paling depan ada Alan yang duduk bersama Justin, Bagus, Arim, dan entah yang satunya siapa, Safira tidak mengenalnya.
"Belajar, Ava. Belajar." Safira mengingatkan sembari menepuk punggung tangan gadis di depannya.
Ava sedikit tersentak, tapi kemudian tersadar dan tersenyum. "Iya, gue usahain dan gue belajar. Ini aja udah mau move on, dikit lagi kok."
"Move on apanya? Lagian, gue tahu kok kalau move on itu nggak gampang. Makan gih, karena pura-pura bahagia dan tertawa di depan banyak orang itu juga butuh tenaga."
Gadis yang diceramahi mengangguk. Baru saja meminum sedikit jus alpukatnya, Ava langsung tersedak saat melihat Natalie yang tiba-tiba datang lalu memeluk Alan dari belakang.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk!" Menutup mulutnya.
Dengan insting kemanusiaan yang tinggi, Safira langsung bangkit dan menepuk-nepuk punggung Ava. "Lo gimanan sih? Minum aja nggak bisa, apalagi move on?"
Sebagian besar siswa yang di sana langsung menoleh karena mendengar suara batuk-batuk, tak terkecuali Alan sendiri yang langsung menoleh lalu menepis kasar kedua tangan Natalie dari lehernya, ia tahu dan sangat sadar bahwa sedari tadi Ava selalu menatapnya.
Natalie menatap arah mata Alan.
Ava lagi! Ava lagi! Gue nya kapan coba? batinnya.
Setelah batuknya sedikit mereda, Ava bangkit dan beranjak pergi ke kamar mandi.
"Gue ke kamar mandi dulu. Kalau ko pergi, nitip bayar dan bawain tas gue, Okay?"
Safira hanya mengangguk mengiyakan.
***
Brugh
Saat di belokan, lagi-lagi Ava menabrak seseorang.
Gadis itu mendongak. "Ma-maaf Kak Aras, gue nggak sengaja."
"Iya, nggak papa kok."
Menutup mulut dengan tangan kanan. "Uhuk ... uhuk ...."
"Lo, nggak papa?"
"Iya, nggak papa kok. Pas minum keselek tadi."
"Kenapa? Kok bisa sampai keselek gitu?"
Ava diam tidak ingin menjawab, kepalanya menoleh ke arah lain dan matanya bergerilya ke sana ke mari.
Melihat Ava yang sikapnya agak berbeda dari sebelumnya, Aras yakin kalau gadis ini sedang tidak baik-baik saja atau sudah terjadi sesuatu.
"Yaudah, nggak usah dijawab kalau nggak mau." Berjalan pergi melewati Ava, tapi sebelum benar-benar pergi dari sana, Aras membisikkan sesuatu. "Lo semakin cantik, saat rambut lo pendek." Aras pergi dari sana sambil tersenyum dengan dengan kedua tangan ditenggelamkankan ke dalam saku.
Tanpa sadar, yang tadinya Ava ingin ke kamar mandi, gadis itu justru tidak bergeming dan mematung di tempat. Diam-diam pipinya bersemu merah seperti tomat, rasa kesalnya hilang seketika.
"Ehem," dehemnya menahan batuk, menyentuh dada. "Kok, deg-degan gini, ya?"
***
Kedua pasangan yang tak diketahui publik itu saat ini ada di rooftop, tempat kesukaan mereka di sekolah untuk berduaan. Tanpa paksaan dan tanpa ragu, Dino sudah menceritakan kejadian yang dialami Ava dari awal sampai akhir, itu karena Maudi adalah pacarnya dan ia harus terbuka, dan gadis itu juga sudah tidak jahat lagi. Jadi, tidak apa-apa juga kalau Maudi tahu.
Maudi menangkup kedua pipi Dino, raut wajahnya terlihat khawatir. "Lo, benaran nggak papa, 'kan?"
__ADS_1
Dino memegang kedua tangan Maudi, menggenggamnya dengan sangat erat. "Iya, gue nggak papa kok."
"Syukur deh kalau gitu, jangan sampai lo kenapa-napa!"
Bukannya menjawab, Dino malah menatap Maudi sambil tersenyum yang membuat gadis di depannya salah tingkah.
"Maudi ..." lirih Dino.
"Iya?"
"Lo, jangan tinggalin dan ngehianatin gue, ya, karena saat ini, gue udah sepenuhnya ngasih kepercayaan dan seperempat hati gue untuk lo."
"Iya, gue janji. Gue udah bilang sama lo, kalau gue hanya butuh satu orang untuk tetap sama gue dalam keadaan apapun, dan gue milih lo untuk jadi apapun. Teman, sahabat, keluarga, dan pacar."
"Lo tahu kenapa cuma seperempat? Dan sisanya lagi enggak?"
Maudi menggeleng pelan. "Enggak. Kenapa emangnya?"
Dino mengarahkan kepala gadisnya untuk bersandar di bahu. "Karena sebagiannya itu milik Tuhan, dan seperempatnya lagi milik orangtua gue."
Maudi menatap Dino tidak suka. "Kenapa milik Tuhan cuma setengah? Harusnyakan penuh, karena lo berdoa sama Tuhan! Yang ngabulin permintaan umatnya itu Tuhan! Lo beribadah untuk Tuhan! Dan, yang nyiptain alam semesta termasuk lo itu adalah Tuhan!"
Dino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal diiringi kekehan. "Ya ... karena gue ibadahnya juga setengah-setengah. Lagian, kalau untuk Tuhan itu penuh, nggak ada ruang buat lo dan buat orangtua gue."
Maudi mencubit pinggul Dino, membuat cowo itu mengelus meringis. "Kok dicubit, sih?"
"Itu nggak benar! Kalau ibadah itu jangan setengah-sengah dong! Tuhan aja ngabulin permintaan nggak setengah-setengah! Jangan takut kalau nggak ada ruang untuk gue dan untuk orang tua lo, karena pasti ada ruang khusus di sana yang udah disiapin sama, Tuhan!"
"Kok lo jadi ngegas gini, sih? Kayak orang rajin ibadah aja?"
"Emang gue rajin ibadah tahu! Karena di setiap doa-doa gue itu selalu terselip kalimat 'Tuhan, kirimkan seorang teman, agar saya tidak sendirian' baik dalam hati maupun diucapkan."
"Sekarang lo udah dapat teman? Apa lo ibadahnya bakal setengah-setengah?"
Tidak tahu kenapa ia merasa kesal terhadap Dino sekarang, pertanyaan dan pernyataan cowok itu seperti meremehkan.
Maudi menabok lengan Dino. "Ya ... enggak lah! Justru kita harus semakin giat dalam beribadah dan melantunkan nama-namanya! Itu sebagai rasa syukur kita atas apa yang Tuhan kasih dan lakuin ke kita!"
"Iya! Nanti ibadahnya dikencengin. Buat Tuhan semua deh ruangnya. Ngegas mulu perasaan? Lo lagi haid, yah?"
"Nggak tahu juga, kesal aja gitu denger lo ngomong."
"Ya udah. Sini peyuk abang Dino!" seru Dino dibuat-buat, merentangkan kedua tangan dengan semangat.
Maudi diam sejenak karena agak, sedikit, merasa jijik, tapi beberapa detik kemudian, gadis itu membalas rentangan tangan Dino, memeluknya sangat erat. Tenggelam dalam kehangatan yang mendalam, sangat nyaman dan menenangkan.
Tak bisa dipungkiri kalau Maudi masih belum bisa percaya saat Tuhan benar-benar memberikan seorang teman untuknya, sesosok laki-laki yang menyebalkan tapi sanggup membuat hati Maudi begitu senang.
Jujur, apa yang dirasakan Maudi juga dirasakan Dino, bedanya, Dino berdoa untuk dikirimkan seorang bidadari berwujud manusia yang selalu ada di sisinya dan menerima semua kekurangannya.
***
11:40
Hari pertama Mid Semester pertama akhirnya selesai sepuluh menit yang lalu. Ana, Ava, Agnes, dan Lia masih nongkrong di teras mushola sembari menikmati suasana sekolah yang sepi akan lalu lalangnya para siswa. Tak heran jika saat sedang istirahat, banyak para siswa yang pada betah duduk di mushola atau kelas di samping mushola, karena tidak bisa dipungkiri kalau hawanya sangat nyaman, enak, edem, dan sejuk.
Mereka membicarakan apapun yang dapat dibahas mulai dari fashion, makanan, idol K-pop, drama, film, hobi, kesukaan, dan masih banyak lagi.
Saat mereka tengah membicarakan tentang kerennya cast drama china New Meteor Garden 2018, tiba-tiba saja ada seorang gadis bertubuh agak besar, dengan kulit putih yang langsung merengek.
...***...
...Jreeeeng! Makin gemas aja, ya, sama pasangan yang tidak diketahui publik. Tanggapan kalian tentang mereka berdua apa? Sekalian tanggapannya untuk chapter ini juga?...
...Ayo tebak! Kira-kira siapa gadis itu? Jawabannya ada di chapter selanjutnya. Terus ikutin dan jangan sampai ketinggalan keseruan jalan ceritanya....
...Ditulis tanggal 06 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 19 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....