Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 44 ~ Lebih Baik Seperti Itu


__ADS_3

...



...


Alan menggeleng pelan, setelah itu tersenyum. "Lo nggak salah sama sekali. Kalian nggak salah, itu hanya masalah waktu dan kalian butuh itu."


Gadis di hadapannya tersenyum setelahnya. Ia lega bisa berbagi cerita dengan Alan. Setidaknya, hati dan perasaan Ava sedikit lega.


"Udah ah. Gue nggak mau cerita lebih banyak lagi, dan lo hanya perlu tahu intinya aja. Lagian, lo nggak akan tahu gimana rasanya karena lo sama sekali nggak pernah dibully dan ada di posisi gue."


Saat gadisnya berkata seperti itu, Alan spontan menangkup wajah Ava dengan kedua tangannya, kemudian mengusap pipi gadis itu yang sudah dibanjiri air mata sehingga beranak pinak kemana-mana.


Cowok itu menatap Ava yang ada depannya begitu lekat. Masuk lebih dalam ke dunia gadis di depannya ini, dan ikut merasakan rasa sakit yang diderita Ava selama kurang lebih tujuh tahun lamanya.


"Gue emang nggak pernah dibully dan mengalami hal itu, tapi gue ngerasain apa yang lo rasain. Rasa sakit yang selama ini lo kubur dalam-dalam. Rasa sakit yang di kasih teman-teman lo. Kalian bertiga itu, gadis yang kuat dan akan selalu begitu." Alan harap, dengan ia mengatakan hal itu, gadis di depannya bisa sedikit lebih lega dan semangat.


Ava memegang tangan Alan yang menangkup pipinya. "Makasih, Lan." Memeluk cowok di depannya dengan sangat erat dan penuh haru. Saat itulah Ava menangis di dekapan Alan sepuasnya sampai segukan tidak berhenti-berhenti.


Sedangkan cowok yang mendekap sang gadis mengelus punggung Ava pelan. Memeluk Ava sangat erat, kemudian mencium pucuk kepala Ava yang tertutup rambut hitam panjang nan lebat.


For your information, kalau kalian ingin tahu, bahwa jika seseorang itu menangis sampai sesegukan tanpa mau berhenti, itu berarti rasa sakit yang orang itu rasakan amat sangat dalam dan amat sangat sakit. Seseorang itu tidak akan menangis sampai seperti itu kalau tidak ada orang yang menyakitinya sampai terlalu keterlaluan. Paham?


Ting


Ting


Ponsel gadis itu berbunyi. Sembari menunggu Ava berhenti menangis untuk meluapkan semua perasaannya yang dipendam, Alan yang membalas pesan dari Agnes.


Agnes


Ava, lo buruan turun! Kita udah nunggu lo di gerbang.


^^^Ava^^^


^^^Sebentar.^^^


Agnes


Iya, gue tungguin.


Alan menatap Ava yang masih terisak di dalam dekapannya. "Ava."


"Iya ..." jawab gadis itu lirih. Masih sibuk menangis, meratapi nasibnya tujuh tahun lalu.


"Gue ..."


***


"Lo kenapa, Va? Kok mata lo agak merah gitu?" tanya Agnes saat Ava dan Alan sampai di gerbang sekolah.


Gadis itu beralih menatap Alan yang kini tengah tersenyum padanya.


"Nggak papa. Tadi kena angin sore," jawab Ava lembut, tak lupa menyunggingkan seulas senyuman hangat. Mencoba menutupi rasa sakit yang mungkin kedua sahabatnya masih merasakan itu semua, walaupun tidak diperlihatkan.


Memang, tadi sebelum kedua remaja itu ke bawah, Ava sempat membasuh wajahnya agar tidak terlihat habis menangis. Dan untungnya cara itu berhasil, mata merah dan sembab perlahan-lahan hilang.


Ava kembali menatap cowok yang ada di sampingnya sambil mengulas senyuman. Mereka berdua sama-sama saling tatap, seolah berkomunikasi hanya dengan tatapan mata.


Makasih Alan, karena udah mau jadi pilar yang kokoh, buat gue, batin Ava.


Sedangkan Alan membatin, Kalau gue mampu dan sampai pada tahap itu, gue akan berusaha nyembuhin rasa sakit lo, Ava.


***


19:06


Selesai sholat, Alan langsung pergi ke kamarnya, tak lupa pula mengunci pintu. Cowok itu hanya tidak mau ada yang datang tiba-tiba di saat ia memikirkan sesuatu.


Alan menatap langit-langit kamarnya. Kedua tangan diletakkan di belakang kepala sebagai tumpuan, posisi yang amat sangat nyaman untuk menikmati kesunyian kamarnya di malam hari.


Jika kalian ingin tahu, tak ada satu hari pun Alan tidak memikirkan Ava. Hal itu seolah sudah menjadi candu bagi cowok itu saat pertemuan pertama dirinya di kelas X Ips 3, kelasnya sendiri.


Alan masih memikirkan tentang jawaban Ava tadi. Tak disangka masa lalu Ava begitu suram dan sedikit tidak bahagia. Wajar saja kalau gadis itu belum sepenuhnya memaafkan mereka, cowok itu bisa mengerti perasaan dan hal itu


Flashback On


Alan menatap Ava yang masih terisak di dalam pelukannya. "Ava."

__ADS_1


"Iya," jawab Ava samar. Masih sibuk menangis, meratapi nasibnya enam tahun lalu.


"Gue ..."


Gadis itu mencoba berhenti menangis, kemudian menatap cowok yang saat ini berusaha berbicara dengannya.


"Ada apa, Lan?"


"Sebegitu bencinya kah lo sama mereka? Gue pengen lo coba maafin mereka, karena nggak baik menyimpan dendam terlalu lama terhadap orang itu. Apalagi, 'kan, mereka teman lo dan kejadian itu udah tujuh tahun yang lalu."


Ava terdiam, meresapi ucapan Alan yang Ava rasa hal itu menyudutkan dan memperlihatkan bahwa ia dan ketiga sahabatnya lah yang salah.


Gadis itu menghembuskan nafas kasar. Mengambil paper bag dan juga tasnya, kemudian berdiri menatap Alan dengan sorot mata tidak sejutu dengan apa yang cowok itu katakan. "Gue nggak ngebenci atau pun dendam sama mereka! Tapi gue cuma butuh waktu untuk ngelupain atau sekedar mengurangi rasa sakit yang mereka kasih!" tegasnya, menekankan setiap kata yang terlontar.


Cowok itu bangkit, berusaha tetap tenang dan tanpa emosi menghadapi sikap gadisnya yang terkadang terlalu emosional, terlihat rapuh, dan gampang sekali mengeluarkan air mata. Karena sebelumnya ia emosi dan itu malah hampir menghancurkan hubungan yang kedua remaja itu jalin.


Ava berbalik sambil mengusap bekas air matanya kasar. Berjalan beberapa langkah dan berniat meninggalkan Alan.


Kaki Ava tiba-tiba saja terhenti, dirinya menoleh dan menatap Alan lagi.


"Memaafkan itu sangat lah mudah, semua orang bisa melakukannya. Karena kita hanya perlu mengucapkan sebuah kalimat yang berarti bagi mereka, namun tidak berarti bagi kita yang mereka sakiti .*Tapi, hanya dengan mengucapkan kalimat tersebut dan mengatakan kalau kita memaafkan mereka, belum tentu kita benar-benar lupa dan bisa menyembuhkan rasa sakitnya."


Ava berbalik dan menatap lurus ke depan lagi, "Seperti kata lo tadi kalau gue cuma butuh waktu, jadi gue nggak bisa menjamin rasa sakit itu akan hilang dan terlupakan dalam waktu yang singkat. Lagi pula, nggak ada yang mau menyimpan perasaan itu terlalu lama, termasuk gue juga," ungkapnya agar cowok itu mengerti maksud Ava*.


Tapi sebelum gadis itu benar-benar pergi dari sana, ada seseorang yang berteriak memanggil namanya sehingga mau tidak mau Ava mengurungkan langkahnya.


"Ava!" teriak Alan berjalan mendekati gadisnya, kemudian berdiri tepat di samping sang pacar. "Maaf, kalau gue menyinggung hati lo, tapi seenggaknya basuh wajah lo dulu. Gue hanya nggak mau teman-teman lo lihat kalau lo habis nangis."


Tanpa menatap cowok di sampingnya, gadis itu mengangguk mengiyakan. "Iya."


Flashback Off


Alan mengubah posisinya menjadi duduk. Mungkin, rasa sakit yang dirasakan Ava amat sangat dalam, sampai-sampai gadis itu tidak janji untuk melupakan kejadian itu dan mereka semua yang terlibat.


Cowok itu membuka laci di samping bad kasur, kemudian menatap buku gambar yang saat ini ia pegang, lebih tepatnya menatap gambar 'Kepiting', yang digambarkan Ava untuknya. Itu pun karena paksaan Alan, mungkin jika bukan karena paksaan dan ancamannya, gadis itu tidak akan mau melakukan hal itu. Atau mungkin saja, saat ini Alan dan Ava tak akan bersama seperti ini.


Tentu kalian tahu siapa yang akan bersama dengan Ava jika Alan tak datang di kehidupan gadis itu.


Alan tersenyum lebar nan manis yang menampakkan sederet gigi putihnya yang rapi.


Ting


Ting


Ana? Agnes? Bagus? Syarifa? Justin? Safira? Rio? Tiana? Okta? Tidak, itu tidak akan terjadi karena Alan bahkan akan membuat perhitungan pada siapa saja yang berani menyebar nomor ponselnya ke orang tanpa izin. Cowok itu hanya tidak mau diganggu dan privasinya harus tetap terus terjaga.


Nggak boleh dekat-dekat❌


Lan, besok lo mau nggak ngajarin gue ngerjain PR Ekonomi?


Kalian tahu tidak? Kalau itu adalah nomornya Natalie. Alan sengaja mengganti namanya, agar cowok itu selalu ingat pesan Ava.


^^^Alan^^^


^^^PR itu harusnya dikerjakan sendiri.^^^


Tak lama, pesan Alan langsung dibalas Natalie.


Nggak boleh dekat-dekat❌


Tapi gue, 'kan, nggak bisa ngerjain sendiri. Kok lo sekarang berubah, sih? Sebelum-sebelumnya lo selalu mau kalau gue mintain bantuan.


Cowok itu terdiam. Memang benar apa yang di katakan Natalie barusan. Saat gadis itu meminta bantuan, Alan sama sekali tak pernah menolak, jadi wajar saja jika Natalie merasa ada yang aneh dengan dirinya.


Kan tidak mungkin juga kalau Alan bilang bahwa Ava melarangnya karena cemburu. Bisa-bisa kalau Ava tahu, gadis itu akan semakin tidak percaya dan membatasi pergaulannya.


^^^Alan^^^


^^^Kalau ngga kbisa itu belajar.^^^


Nggak boleh dekat-dekat❌


Iya, gue tahu, tapi belajarnya, 'kan, sama lo. Plis mau, yah?!


^^^Alan^^^


^^^Gue pikir dulu.^^^


Nggak boleh dekat-dekat❌

__ADS_1


Yes! Makasih, Alan!


Hanya sebatas itu chat Alan dengan Natalie. Benar? Iya hanya sebatas itu saja dan tidak lebih.


Cowok itu memasukkan buku gambar ke dalam tas, kemudian mengirimkan Ava pesan untuk mengabari gadis itu jika sedang menunggu kabar darinya.


Ah, cowok itu terlalu percaya diri dengan asumsi dan pemikirannya yang bak Dewa.


Setelah mengirimkan pesan pada Ava, Alan beralih bermain game. Karena sejak kenal dengan Ava, cowok itu bahkan membatasi bermain game, tidak sesering sebelum Alan mengenal gadis itu. Waktunya lebih banyak untuk Ava daripada dengan hobinya.


***


Kini, di malam dan waktu yang sama, Ava yang tengah konser di kamar mandi sambil menyanyikan lagu So Far Away - Martin Garrix & David Guetta Feat Jamie Scot terhenti saat melihat layar ponselnya menyala yang ia letakkan tepat di samping wastafel.


Ting


Ting


Gadis itu meletakkan pasta gigi yang ia gunakan sebagai mikrofon, kemudian membasuh wajahnya dengan air mengalir.


+62 8254 ×××× ××××


Maaf soal yang tadi. Besok gue jemput lo, soalnya pulang sekolah gue mau ngajak lo jalan. Gue mau tidur dulu.


'It's Me'


Sangat terlihat bukan perbedaannya? Saat bersama orang lain, cowok itu membalas pesannya sangat singkat. Berbeda saat bersama orang terdekatnya seperti Justin dan Ava, cowok itu membalasnya dengan cukup panjang namun bisa menjelaskan semuanya.


Tapi, kenapa Alan berbohong pada Ava? Kan, cowok itu bisa bilang kalau ia sedang bermain game.


Bagaimana perasaan Ava kalau tahu Alan membohonginya? Cowok itu bahkan tidak menceritakan soal Natalie yang tadi mengiriminya pesan.


Kita berpikir positif saja. Mungkin, Alan hanya tidak mau menyakiti gadis nya saja.


Ava langsung kesemsem sendiri, tanpa membalas chat Alan. Gadis itu kembali melanjutkan konsernya yang tertunda. Gadis itu tahu kalau Alan lebih suka berbicara secara langsung daripada lewat media sosial.


Ava sudah tidak sabar, ingin segera tahu kemana Alan akan membawanya jalan-jalan. Selain itu juga karena besok adalah hari pertama Alan dan Ava berangkat sekolah bersama selama mereka dekat.


Ting


Ting


Gadis itu kembali menoleh karena ponselnya yang menyala lagi.


"Apalagi coba? Katanya suka ngomong langsung? Ini kok chat terus? Kangen kali, ya?" monolog Ava sembari menatap pantulan dirinya di cermin.


Gadis itu mengambil ponselnya kemudian melihat siapa si pengirim pesan.


Tidak, itu bukan pesan dari Alan, karena pesan cowok itu masih tertera di layarnya dan belum ia hapus.


+62 8966 ×××× ××××


What are you doing? Having fun?


Ah, don't do it without me, wait for me because I'll be right over to you. Okay?


Kening Ava berkerut. Ah, pesan apa lagi ini? Apakah ia sekarang sedang di teror?


"Siapa, sih ini? Kok sekarang ada yang ngechat nggak jelas kayak gini? Kemarin juga ada, dan sekarang?"


Dalam hati, gadis itu berdecak sebal saat sekarang ada beberapa orang asing yang mengganggunya dengan mengirimkan sebuah ketikan berupa tulisan. Tunggu dulu! Apakah ini juga nomor yang sama dengan si pengirim pesan beberapa waktu lalu? Okay, mari cari tahu bersama-sama.


...***...


...Bagaimana kabar kalian semua? Udah lama banget Aku nggak menyapa kalian loh....


...Kira-kira itu siapa yang kirim pesannya? Yang kalian curigai aja deh....


...***...


...Tanggal 13 April 2021 nanti udah puasa, siapa coba di sini yang nggak sabar buat sholat taraweh?...


...Aaaaaaaaaa! Pokoknya Aku udah nggak sabar banget buat menyambut Bulan Ramadhan walaupun tahun ini pasti berbeda!...


...***...


...Ditulis tanggal 15 Agustus 2021...


...Dipublish tanggal 02 Maret 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2