Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 80 ~ Sebuah Titik


__ADS_3

...



...


"Eh, kemarin gue tuh kayak mimpi aneh tahu nggak, di depan rumah ada darah berceceran dan ada pisau yang juga dilumuri darah. Tapi, abis itu gue lupa lanjutannya apa, nanti dah gue coba ingat-ingat lagi," curhat Ana disela-sela perjalanannya menuju kelas, dan hal itu langsung membuat Ava seketika mati kutu.


"Iya! Mimpi gue juga sama persis kayak lo! Dan, sangat terlihat nyata pula. Menurut lo aneh nggak sih, Va, kalau kita mempiikan hal yang sama?"


Nah, 'kan ... tiba-tiba dia ngeblank nggak bisa mikir, jadi, apa yang terlintas di otaknya itu yang ia ucapkan sebagai jawaban. "Ng-nggaklah! Pasti ada jawaban ilmiahnya. Lagian wajar, karena kalian tidurnya satu ranjang terus siapa tahu nyalur mimpinya gitu kayak serial kartun anak kembar yang botak itu. Udah ah, nggak usah dibahas! Seram dan jijik tahu."


Kedua sahabatnya hanya mengangguk percaya, untung saja mereka berdua gampang dibodohi.


Jangan sampai tahu, ya, Tuhan.


Harap-harap cemas dalam hati. Ia tak akan bisa membayangkan bagaimana syoknya jika kedua sahabatnya tahu yang sebenarnya.


***


"Karena tugas menggambar petanya sudah pada dikumpulkan, jadi kalian boleh langsung istirahat."


"Iya, Pak!" jawab seluruh siswa kelas X Ips 4 kompak. Setelah Pak Chakim keluar dari kelas, para siswa lantas langsung berhamburan satu-persatu menuju kantin.


"Fir, lo ke kantin duluan aja. Nanti gue nyusul, ada urusan sebentar soalnya."


"Alan, yah?" tebak Safira tepat sasaran.


Sedangkan gadis di sampingnya langsung tersenyum. "Iya, tahu aja lo."


"Dino! Revan! Kantin kuy!" teriak Safira tanpa menatap ke arah pojokan.


"Apa lo liat-liat? Gue emang ganteng, jadi nggak usah terpesona gitu!" celetuk Dino dengan sangat percaya diri saat Maudi memelototinya.


Maudi bergidik ngeri. "Idih nggak sudi, ya, gue liat wajah lo yang tidak senonoh itu!"


"Awas aja kalauo jatuh cinta nantinya." Setelah mengatakan itu Dino langsung mengekor di belakang Revan dan Safira yang sudah keluar kelas.


"Kayaknya minggu-minggu ini lo selalu berurusan sama dia? Lo ada sesuatu sama dia?" tanya Naomi penuh selidik, teman-teman lainnya pun juga pada menatap Maudi, penasaran akan jawaban gadis itu.


Muudi menghembuskan nafas panjang. "Enggak, gue nggak ada apa-apa sama dia. Mungkin, dia yang deketin gue? Ya udahlah nggak usah dibahas."


"Awas lo ya ... kalau lo berusan sama mereka, terutama sama Dino," ancam Reny, gadis yang tak pernah main-main dengan ucapannya.


Maudi mengangguk. "Iya, enggak kok.",


***


"Ava, ini pensil lo. Btw makasih tadi udah dipinjamin," ucap Games saat Ava akan beranjak dari duduknya.


Gadis itu menerima pensil tersebut lalu meletakkannya di dalam laci. "Iya, santai aja. Ya udah, gue pergi duluan, yah." Ava berjalan melewati Games yang masih setia berdiri sambil memandanginya.


"Sampai kapan yah kira-kira gue bisa bertahan memendam semua rasa suka gue ke lo, Ava?" gumam cowok itu seraya mengembuskan nafas panjang.


***


"Alan, yuk ke kantin bareng! Daripada ke kantinnya sama gadis menyebalkan ini." Saat mengatakan itu Ava melirik sinis ke arah Natalie.


"Apaan sih, lo? Orang Alan maunya sama gue! Lo tuh udah putus, jadi nggak usah deh deketin Alan lagi! Dia itu udah memilih gue!" ketus Natalie. Nah, kalau udah ngamuk gini, 'kan, lama-lama keluar sifat aslinya.


Alan tak ingin menanggapi pertengkaran kedua gadis yang sedang ribut pasal ke kantin bersama. Ia lebih memilih bermain game daripada harus lelah mengurusi mereka berdua.


"Iya, gue tahu kok Alan milih lo, tapi sebelum lo mati, gue masih ada banyak waktu dan banyak kesempatan untuk merjuangin Alan dan ngambil dia dari siapa pun itu. Termasuk, lo!"


Natalie tertawa meremehkan, baru saja ia akan membalas perkataan Ava, gadis itu sudah memotongnya duluan.

__ADS_1


"Eh-"


"Bentar, lo ngomongnya pending dulu, gue ada pesan masuk soalnya." Ava mengambil ponsnya dari dalam saku kemudian membuka pesan yang ternyata dari Aras.


Aras


Temui gue sekarang di taman belakang sekolah, ada yang mau gue omongin soal peneror itu.


Dalam hati gadis itu berdecak sebal karena ia harus membatalkan misinya dan membiarkan Natalie terus mendekati Alan. Tenang, hanya untuk hari ini saja, semoga.


"Udah, sana pergi yang jauh! Sekalian nggak usah balik lagi!" cibir Natalie saat Ava berlari ke luar kelas.


Sedangkan Alan sendiri menatap kepergian Ava yang tergesa-gesa. Walau ia terlihat tidak perduli sama sekali, tapi di lubuk hati yang paling dalam selalu ada sesuatu yang membuat dirinya penasaran terhadap kehidupan Ava, dan, hal itu juga yang membuat Alan sedikit tidak tega melaksanakan rencananya.


***


Bruk


Gadis cantik itu tersungkur ke lantai karena ada seseorang yang menjagalnya.


"Duh!" ringis Ava kesakitan saat lututnya ia buat sebagai tumpuan.


Ava bisa mendengar tertawaan sok manja dari beberapa gadis di belakangnya, dan ia yakin kalau itu adalah perbuatan Maudi dkk. Menyebalkan!


"Haha, kasihan sang putri buruk rupa jatuh, tersungkur ke lantai pula. Makanya kalau jalan tuh pakai mata!" hina Maria yang saat ini sudah berkacak pinggang di ambang pintu bersama yang lainnya juga.


"Mau ke mana, sih? Buru-buru banget kayaknya?" sinis Fera ikut menimpali.


Ava masih belum berdiri, ia malah menatap satu-persatu dari ke tujuh gadis yang menertawakannya. Hanya satu gadis yang tidak tertawa, yaitu Maudi yang malah tersenyum simpul ke arahnya.


Gadis berbibir tebal itu maju mendekati Ava, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo berdiri, gue bantu."


Ava menatap bergantian ke arah Maudi dan ke arah uluran tangan gadis itu. Detik berikutnya Ava menepis kasar tangan Maudi. "Nggak usah ngehina! Gue nggak butuh bantuan dari lo, Chienne!" Berdiri sendiri setelah itu berlari secepat kilat menuju belakang sekolah.


(Cari sendiri di gogle, karena kalau Aku ketik di sini pasti disensor pakai bintang. BTW, itu bahasa Prancis)


Saat ini ia tak ada waktu untuk mengurusi ke tujuh gadis menyebalkan itu karena ia harus segera menyelesaikan misi keduanya, lalu disusul melaksanakan misi pertamanya yang bahkan belum ada kemajuan sama sekali. "Kalau nggak buru-buru, gue jamin kalian bakal abis di tangan gue!" rutuk Ava disela-sela kegiatannya berlari menyusuri setiap lorong.


Ada rasa kemarahan yang bergemuruh saat Ava menghina dirinya tadi. Maudi serasa ingin segera menyingkirkan gadis itu, tapi ia harus sabar dan menunggu waktu yang tepat.


Vous en connaîtrez les conséquences parce que vous m'avez humilié devant mes serviteurs. J'attends juste le bon moment pour ressentir la sensation, janji Maudi tidak main-maim dalam hati.


(Artinya\= "Lo bakalan tahu akibatnya karena lo udah mempermalukan gue di depan budak-budak gue. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja supaya lo bisa ngerasain sensasinya")


***


Saat gadis itu berlari menyusul Aras, dari jauh ia sudah melihat ada Dinda dkk yag bersandar di salah satu lorong bangunan kelas XI dan ia sangat yakin bahwa Dinda akan menghadangnya karena Ava juga yakin masih ada dendam yang belum terbalaskan. Iya, kejadian di depan kamar mandi saat Aras datang menyelamatkannya dari sang singa betina lapar yang akan memangsanya.


"Mau nyusul Kak Aras kok banyak banget sih cobaannya?" heran gadis itu yang mulai mengambil ancang-ancang berlari sekencang dan sekuat tenaga saat Dinda dkk benar-benar menghadangnya.


Ava memejamkan dan meletakkan kedua tangan di depan dada sebagai perisai lalu menabrak jejeran Dinda dkk yang sontak hal itu langsung membuat Dinda dan kedua temannya terjatuh ke lantai secara bersamaan.


"Sialan lo, ya! Dasar bocah tengil!" umpat Dinda meringis kesakitan saat merasakan bahu kanannya terasa sedikit nyeri akibat tabrakan Ava.


"Woi jangan kabur lo!"


"Awas nanti kalau kita ketemu!"


Ava menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang, lalu menoleh ke depan lagi sambil tersenyum bangga, karena ternyata ia cukup berani melawan sang kakak kelas sendirian, tiga pula. "Salah sendiri ngalangin jalan orang."


***


"Kak Aras!" panggil Ava saat ia sudah sampai di belakang sekolah.


Yang dipanggil tadinya sibuk dengan laptopnya kini menoleh saat Ava sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Jadi, gimana?" tanya Ava to the point, nafasnya masih tersenggal-senggal.


"Pisaunya nggak ditemukan sidik jari, kata om gue yang perkerjaannya detektif, kemungkinan besar si peneror itu pakai sarung tangan atau apapun yang bisa nutupin jari."


Setelah mendapat penjelasan panjang, Ava sedih dan mulai putus asa. "Kemarin jendela gue juga kebuka, yang berarti peneror itu menyusup masuk dan mengirim sebuah pesan. Terus gimana dong? Misi ini gagal?"


"Enggak, gue bakal terus bantuin lo. Justru, tadi saat jam pertama sampai istirahat gue itu nyari signal dari nomor si peneror itu. Dan setelah gue cari-cari dan ikutin denah tempatnya, ternyata signal itu berasal dari gudang sekolah. Tapi anehnya, gue sama sekali nggak nemuin apapun, di sana hanya ada radio kecil, kipas angin, AC, kursi, meja, dan alat serta perlengkapan bangunan sekolah yang udah nggak kepakai."


"Tapi, kemungkinan besar di sana juga tempat persembunyian si peneror itu."


Aras mengangguk menyetujui apa yang Ava katakan barusan. Ia tidak boleh menyerah karena hanya dengan ini ia kembali mendapatkan hati Ava, jadi hal ini hanya tentang mendapat hati Ava lagi? Bukan, bukan hanya itu tujuannya.


"Kak! Titiknya bergerak!" seru Ava saat ia melihat dari laptop Aras.


"Kita kejar, ini kesempatan kita!"


Kedua orang itu lantas langsung mengikuti kemana titik itu pergi. Aras cukup kesusahan karena ia harus memastikan jalan dan arahnya benar, belum lagi ia membawa sebuah laptop.


Mereka berdua mulai menyusuri koridor kelas XII, kiridor ruang guru, labolatorium, lab TIK sampai akhirnya mereka sampai di kantin. Keduanya sama-sama berhenti dan mengamati sekitar kantin karena titiknya pun berhenti di sana. Mengamati setiap siswa dan siswi yang sekiranya mencurigakan ditambah dengan nafas yang tersenggal. Kenapa begitu? Sebab, sang pembawa signal juga pasti berlari menghindari kejaran mereka berdua.


"Jadi orang tuh jangan ceroboh, kalau tumpah gimana?" sinis Natalie dari arah belakang saat tangan Ava tak sengaja menendang nampan milik Natalie.


"Orang nggak sengaja juga!" balas Ava tak kalah ketusnya.


Natalie mendesis lalu pergi dari sana.


"Ava, titiknya tiba-tiba hilang!"


"Jadi, kita kehilangan jejaknya dong?" Gadis itu memijit pelipisnya. "Sia-sia kita lari malah kita sendiri yang berhasil dipermainin."


Dan, dari arah belakang juga tiba-tiba ada Dinda yang langsung menjauhkan Aras dari Ava. "Aras! Lo ngapasin sih dekat-dekat sama gadis sialan ini? Dia udah nabrak gue tadi, sampe bahu gue sakit dan nyeri!"


Wajah Ava langsung berubah tersinggung saat Dinda mengatakan hal itu. Memang benar kalau ia menabrak Dinda dan kedua temannya, tapi intonasinya seolah mengatakan bahwa Ava sangat menjijikkan.


"Udah deh, lo ngga usah pegang-pegang gue, mendingan lo jauh-jauh dari gue. Lagian, Ava nggak mungkin nabrak lo kalau lo nggak nyari gara-gara duluan sama dia. Nggak akan ada asap kalau nggak ada api."


Ava terkekeh pelan, dalam hal ini pun Aras masih membelanya. Sementara ia menepikan masalah tadi dari orang lain, dan tidak membiarkan siapapun itu mengetahuinya.


"Ava!" panggil Safira seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi dari arah pojok kantin.


Daripada melihat Dinda yang menggelayut manja di lengan Aras, sedangkan Aras terus melepaskan tangan Dinda dari tangannya, lebih baik ia menyusul semua teman-temannya untuk merehatkan diri sejenak dari kejar-kejaran tadi.


"Kak Aras, gue mau nyusul teman gue dulu. Soal yang tadi itu nanti kita bicarain lagi. Okay?"


Aras mengangguk pelan kemudian tersenyum manis. "Iya."


Ava melangkahkan kakinya dengan cepat menjauh dari Dinda dan juga Aras sebelum ia kena semprot Dinda lagi, 'kan, ribet harus berurusan dengan ratu sekolah.


Tapi, baru beberapa langkah dari sana, gadis itu berhenti. Ia seperti merasakan sebuah kejanggalan yang tersembunyi.


...***...


...Gimana perasaannya setelah kalian baca chapter ini?...


...Makin bingung dan makin berbelit-belit nggak sih?...


...***Di sini udaah ada yang pernah nonton film Five Feed Apart, nggak? Kalau udah ada yang nonton, coba sini cerita sama Aku. Jujur, Aku nangis kejer banget nonton itu, kalau nggak salah Aku mulai nangis saat si ceweknya bikin perjanjian sama si cowok untuk minum obat bareng sampai endingnya, mereka berusaha untuk sembuh bersama....


...Ini nanti juga Aku pengen nonton lagi, nggak pernah bosen Aku nontonnya, selalu terngiang-ngiang. Film yang judulnya The Fault in Our Stars juga nggak kalah keren dan bikin nangis bombay banget, cus yang belum nonton segera nonton, karena dijamin nggak akan bikin nyesel***....


...***...


...Ditulis tanggal 12 November 2020...


...Dipublish tanggal 07 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2