Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 74 ~ Pertemuan Yang Lengkap


__ADS_3

...Sepuluh hari lagi udah idul fitri loh. Siapa di sini yang pengen cepat-cepat ngerayain lebaran?...


...Apa emang cuma Aku yang kalau semakin dewasa dapat THR- nya semakin banyak?...


...***...


...



...


"Kak Aras ngapain di sini? Ini bukannya masih jam pelajaran? Atau Kak Aras ngebolos?" todong Ava dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Aras menggaruk tengkuk lehernya. "Hehe iya. Tapi, gue bolosnya demi lo kok."


Ava menunjuk dirinya sendiri. "Demi, gue?"


"Iya demi lo. Kan, lo lagi sakit."


"Kak Aras tahu gue sakit dari mana?"


Cowok di depan Ava ini mengangkat kerah seragam dengan bangga. "Apa sih, Va, yang nggak gue tahu tentang, lo?"


"Ya udah ayo masuk, Kak." Ava mempersilahkan Aras untuk duduk di sofa.


Cowok itu menyodorkan buah-buahan dan satu kantung plastik penuh camilan. "Buat lo, biar lo cepat sembuh."


Ava tentu menerimanya dengan senang hati, bukannya apa-apa tapikan kalau rezeki itu tidak boleh ditolak, pamali. Lagi pula Aras juga membolos demi menjenguk dirinya. "Maksih banget Kak, jadi ngerepotin aja nih. Kak Aras mau minum, apa?"


"Nggak ngerepotin sama sekali kok. Susu lo aja cukup."


"Hah apa? Susu gue?" heran Ava mengulang ucapan Aras, karena bagi Ava ucapan Aras tadi sangat ambigu, dan gadis itu juga sedikit kebingungan.


"Ma-maksudnya kalau ada susu di rumah lo, minumnya susu aja gitu." Aras gelagapan sendirikan jadinya.


Ava hanya mengangguk dan ber oh ria saja. Setelah kepergian Ava ke dapur, Aras menepuk kepalanya sendiri. "Dasar ogeb banget lo, Ras," gumamnya bermonolog.


***


Beberapa menit kemudian Ava membawa satu gelas susu putih dan kue kering rasa coklat yang dibelikan Agnes untuknya kemarin.


Aras meminum sedikit susunya lalu menatap ke sekeliling rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga, standar.


"Teman Kak Aras nggak ikut?"


Ngapain ikut? Ganggu momen aja!


"Nggak, soalnyakan mereka ada kesibukan sendiri."


Haha ternyata ucapan di hati dan ucapan di mulut berbeda. Kalian ada yang seperti itu?


"Sebentar ya, Kak." Ava beranjak pergi dari duduknya.


"Mau ke mana, Ava?"


Ava menoleh dengan cepat. "Mau ke kamar bentar. Kenapa, mau ikut?"


"Mau! Mau!" Dalam hati Aras langsung bersorak kegirangan lalu mengekor di belakang Ava, kapan lagi coba diajak ke kamar orang yang ia cintai.


Hal pertama yang Aras lihat dari kamar gadis itu adalah sebuah lukisan indah dua pasangan yang tengah saling tersenyum di samping jendela dengan sang gadis yang membawa pensil serta terdapat buku gambar berlukiskan kepiting di meja, sedangkan yang laki-laki tengah tersenyum sangat manis sambil menatap gadis di depannya yang juga sangat cantik dan menawan.


Apa kalian masih ingat momen itu? Saat apa itu? Dan, di chapter berapa itu?


Aras tentu sangat tahu siapa yang Ava lukis di kanvas putih tersebut, karena itu ... Alan dan Ava.


Rasa ingin menyerah? Rasa cemburu? Rasa kecewa? Rasa sedih? Semua itu yang Aras rasakan saat melihat lukisan tersebut, jadi karena tidak mau terlihat sedih di depan Ava, Aras berusaha menyembunyikan semuanya. Semua yang ia rasakan, karena ia tidak boleh menyerah sekarang.


"Lukisan lo keren," puji Aras dengan sedikit senyuman yang terukir di wajah.


Ava lantas membalikkan lukisan tersebut ke arah lain, gini-gini jugakan Ava menghargai ada dan perasaan Aras di sini. "Bukan apa-apa kok!"


"Lo suka anime nggak? Kalau suka nonton bareng, yuk! Gue punya banyak di laptop," tanya Aras dengan sangat yakin dan sangat semangat bahwa ajakannya tak akan ditolak Ava.

__ADS_1


"Kak Aras ternyata anak wibu, toh?"


(Wibu \= sebutan untuk orang yang menyukai, menggemari, dan pecinta Anime)


"Ah. Nggak juga, cuma suka aja gitu, jadi ... mau nggak?"


"Mau dong, ayo duduk di sini aja biar lebih leluasa." Ava menepuk bagian samping bad kasurnya agar Aras duduk di sana.


Tanpa adanya penolakan Aras langsung duduk di samping Ava dan mengeluarkan laptop berukuran cukup besar dari dalam tas. Sejak tadi malam hal ini sudah dipersiapkan Aras loh. Perjuangan dan totalitas bangetkan dia.


Walaupun tidak bisa nonton di luar, yang penting bisa nonton berdua di kamar. Apalagi kalau hujan dan ditemani camilan. Beuuh ... pasti nikmat banget.


Ava tertarik untuk menatap Aras yang ada di sampingnya, sudah sangat lama gadis itu tidak menatap wajah tampan Aras dengan jarak yang sangat dekat seperti saat ini. Yang Ava pikirkan sekarang adalah ia dan Aras sudah seperti sepasang suami istri yang duduk dalam satu ranjang.


Ava menggelengkan kepalanya.


Nggak, Ava! Enggak! Lo mikirin apa, sih?!


Saat Aras menoleh ke samping, tanpa sadar Ava pun masih menatap Aras, baik Aras maupun Ava, jantung mereka langsung berpacu sangat cepat seperti saling berlomba. Beberapa detik mereka bertatapan satu sama lain, dan tanpa sadar juga kali ini Ava mulai berani, tidak lagi merasa canggung lagi seperti sebelumnya.


"Kak Aras sekarang udah berubah banget, ya?"


Aras tersenyum tulus. "Berkat lo, Ava."


Setelah keduanya sadar akan apa yang mereka lakukan, Ava dan Aras sama-sama berdehem untuk membuang kecanggungan yang tiba-tiba datang. Setelah itu mulai menonton Anime Movie di laptop Aras.


***


Brak


Brak


Ava langsung turun ke bawah saat mendengar suara itu dari arah dapur, gadis itu lantas mengambil pisau kemudian secara perlahan-lahan mendekati pintu dapur. Tapi, sayangnya tidak ada apa-apa di sana, padahalkan Ava sudah mengunci semua pintu rumah dan jendela, 'kan, tidak mungkin ada yang bisa keluar-masuk begitu saja. Tapi, ia lupa untuk mengunci pintu masuk tadi setelah Aras datang.


Ava menunduk lalu berjongkok karena ia merasa menginjak sesuatu. Gadis itu mengambil kertas berwarna putih yang ia injak tadi, betapa terkejutnya saat melihat tulisan itu ditulis dengan darah yang masih baru, karena baunya amis dan masih terasa juga darahnya belum mengering. Ava meneguk ludahnya susah payah karena saking takutnya.


Jauhi dan kembalikan dia dariku!!


Itulah yang tertulis di kertas tersebut.


Ava langsung menoleh dan menodongkan pisau saat ada yang menyentuh bahunya.


"Weeeh. Tenang ... Ava. Lo kenapa? Kok pucat gitu? Dan, itu apa yang ada di tangan, lo?" Aras perlahan-lahan mengambil pisau yang Ava todongkan kearahnya, gadis itu hampir saja membunuhnya tadi.


Ava mengusap dahinya yang berkeringat. "Maaf Kak, hue nggak bermaksud gitu tadi! Enggak, bukan apa-apa kok!"


"Iya nggak papa. Tapi, kalau bukan apa-apa kenapa lo ketakutan gitu?"


Ava terdiam, lama-kelamaan kalau begini caranya ia akan gila dan ketakutan seumur hidupnya. Ava sudah putus asa dan tidak kuat seperti ini terus, menyembunyikan apa yang menimpanya sungguh sangat sulit.


"Apa, Kak Aras bisa gue pecaya?"


Aras meletakkan pisau tersebut di meja lalu mendekat ke arah Ava. "Tentu. Tentu lo bisa percaya, gue."


***


"Gue bakal bantu lo ngalacak siapa yang neror lo, jadi lo tenang aja karena semuanya akan baik-baik aja," ujar Aras setelah mendengar semua cerita Ava dari awal sampai akhir.


Kurang apa lagi coba Aras? Jago main alan DJ, hacker walaupun baru belajar, ketua tim basket, ketua geng terkeren se-Jakarta, jago main gitar, perhatian, pengertian, kaya raya, dan ganteng, calon CEO muda pula.


Tapi kembali ke awal lagi, yang membuat bahagia itu bukan harta, tapi ketulusan dan kenyamanan yang diberikan. Lebih baik jangan kita yang merasa nyaman kepada orang lain, tapi kita juga harus membuat orang lain nyaman saat berada di dekat kita.


Sedangkan gadis itu sedikit senang, lega, dan tenang akan apa yang Aras ucapkan, saat ini Ava hanya berharap kalau apa yang Aras ucapkan benar dan Aras juga bisa menjaga rahasia.


"Kak Aras harus janji nggak akan ngebocorin ke siapapun itu, termasuk sahabat Kak Aras sendiri."


"Iya Ava, gue janji nggak akan ngomong ke siapapun."


Ceklek


Pintu rumah terbuka dan langsung menampakkan sahabat serta teman-temannya yang datang membawa berbagai camilan di dalam kantung plastik. Ava cukup terkejut dan senang saat di belakang teman-temannya menyempil seseorang yang ia sayangi berdiri tegap dengan khas wajah datarnya. Iya, orang itu tentu saja Alan.


Aras berdiri dan menatap Alan tidak suka, ada sorot kebencian dan aura hitam yang Aras pancarkan, terlebih tadi Ava langsung tersenyum saat mengetahui Alan datang menjenguknya.

__ADS_1


"Sepertinya, aku mencium arroma-arroma ketegangan, kebencian, pertengkaran, dan kecemburuan di sini," celetuk Justin menirukan gaya bicara dan gesture Roy Kiyoshi. Bedanya, kali ini Justin melakukan itu dengan lebay dan dramatis.


Hal itu tentu mengundang kekesalan Ana, gadis itu menyenggol siku Justin. "Diam lo," bisiknya tepat di telinga Justin. Lagian jugakan keadaan lagi tegang gini, Justin malah dengan enaknya melawak.


Karena tidak mau suasananya lebih tegang, jadi mau tidak mau Agnes basa-basi molontarkan pertanyaan. "Kak Aras di sini dari kapan?"


Dan mau tidak mau juga Aras harus mengalihkan pandangannya ke Agnes. "Udah dari siang dan ini juga mau pulang."


"Kok pulang sih, Kak? Di sini aja nggak papa, yang lain juga pada baru datang," paksa Ava saat Aras beranjak pergi.


Saat Ava melarang Aras pergi, ada sedikit rasa aneh yang Alan rasakan. Seperti contohnya malas mendengar obrolan mereka berdua, sedikit sesak, kesal, dan ingin berteriak. Apa ia cemburu?


Enggak, Alan! Lo sama sekali nggak cemburu dan nggak perduli sama Ava!


Itu yang berkali-kali Alan ucapkan dalam hati saat merasakan hal tersebut.


Safira menoleh sekilas ke Alan, gadis itu terlihat cukup senang saat melihat raut wajah Alan berubah drastis dari sebelumnya. Apa cowo itu cemburu? Tentu tidak! Atau mungkin bisa jadi iya.


"Iya Kak, di sini aja. Masa kita baru datang Kak Aras udah pulang duluan, sih?" Safira ikut-ikutan melarang, karena ia hanya ingin memanas-manasi Alan saja.


"Nggak papa, udah sore juga. Lagian udah beberapa jam gue di sini." Aras memakai jaket kulit warna hitam miliknya. "Ya udah, bye semua." Sambil melambaikan tangan dan di balas semuanya dengan lambaian juga.


"Bye, Kak Aras."


Saat Aras melewati pintu ia sengaja berbisik ke Alan. "Temui gue di depan sekarang."


Beberapa detik kemudian Alan langsung berjalan keluar untuk menemui Aras di luar gerbang, dan tak memperdulikan panggilan dan teriakan yang ditujukan untuknya.


"Tu anak mau ke mana, coba?" tanya Bagus sinis.


"Udah ah, ayo duduk kalian."


Safira yakin sekali, karena Alan cemburu dengan Aras tadi, jadi cowok itu pergi menemui Aras. Gadis itu tersenyum smirk.


Pelan-pelan aja.


"Ck! Ck! Ketua Molyvdos minumnya susu putih?" cibir Revan setengah bercanda sambil mengangkat segelas susu di meja, cowok itu terkekeh.


"Mungkin aja kali, Van. Jangan suuzdan mulu, 'kan, empat sehat lima sempurna," bela Dino yang memang ada benarnya.


***


Alan berdiri di ambang gerbang dengan kedua tangan di dalam saku, sedangkan Aras sudah naik di motor sport hitam miliknya.


"Thanks, karena lo udah putus sama Ava jadi sekarang giliran gue yang ngebahagiain dia."


"Ava nggak akan mau sama lo, karena dia lebih milih gue." Dengan sangat enteng dan santainya Alan berbicara seperti itu. Apa Alan tidak ingat kalau ia sudah sangat menyakiti, Ava?


"Kalau lo nggak terima, kenapa lo mutusin, Ava? Apa alasan lo untuk itu? Harusnya kalau lo mau ngejaga dia, lo nggak akan memilih cewek lain yang bahkan nggak lo cintai sama sekali. Kalau sikap lo gitu terus, itu sama aja lo nyakitin Ava berkali-kali."


Alan cukup heran dengan semua orang yang mempertanyakan alasan apa yang ia berikan sehingga membuat Alan bisa putus dengan Ava. "Apa alasan lo sehingga lo bicara kalau gue nggak mencintai cewek yang sekarang sama, gue?" tanya Alan mengubah topik pembicaraan.


"Lagian ... pikiran dan hati manusia bisa kapan aja berubah. Bukan lo yang berhak ngatur dia, tapi Tuhan yang berhak akan semua itu. Awalnya gue nggak tahu apa-apa, tapi dengan cara mengamati dan mendengar gue bisa tahu semuanya. Siapapun itu berhak mencoba." Aras memakai helm lalu menatap Alan yang menatapnya juga. "Mata itu bisa menjelaskan semuanya, dan jangan suka mengubah topik pembicaraan." Setelah mengatakan itu Aras menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, pergi menembus jalanan ibu kota yang sangat ramai dan padat.


Alan masih berdiri dan mematung di tempat, ia sibuk mencerna dan memikirkan ucapan Aras tadi dengan baik.


Apa memang terlihat?


...***...


...Hoho bagaimana? Bagaimana tanggapan kalian di chapter ini? Jawab di kolom komentar, yah!...


...Apa tanggapan kalian tentang Ava? Alan? Dan, Aras di chaptet ini?...


...Terus kira-kira apa langkah dan keputusan selanjutnya yang diambil dari ketiga nama di atas? Nebak aja dulu di kolom komentar. Okay!...


...***...


...Ditulis tanggal 02 November 2020...


...Dipublish tanggal 02 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2