
...
...
"Kalian? Ada apa ke sini?" tanya Ava saat Bagus dan Justin datang.
"Gue mau jujur sama lo, Ava. Gue udah nggak tahan memendam ini semua selama tiga tahun," ungkap Bagus dramatis.
"Gue juga, Ava. Gue udah nggak sanggup lagi nyembunyiin hal itu selama tiga tahun," tutur Justin lebay.
"Apa apa sih? Kalau cerita yang jelas dong!" tegas Safira tak ingin berbasa-basi.
Bagus maju mendekati Ava, mengikis jarak sampai setengah meter. "Jadi, sebenarnya dari awal itu Alan nggak pernah ngelirik atau natap lo saat lo pertama kali datang ke kelas. Itu cuma akal-akalan gue aja untuk menjodohkan kalian berdua, karena saat itu juga gue udah berhasil menjodohkan Justin dan Ana. Gue pikir dengan cara itu, lo sama Alan bisa dekat seperti mereka berdua."
"Tanpa disangka, Alan ternyata juga penasaran dan ada ketertarikan sama lo, jadi dia deketin lo. Karena tanpa sadar secara nggak langsung, gue yang udah ngebuat hubungan kalian berdua kayak gini dan menyebabkan masalah yang amat besar dan semakin merumit seiring berjalannya waktu. Gue nggak berani ngomong karena gue takut kalau kalian semua bakal ngebenci gue. Terutama lo, Ava."
Baru saja Safira ingin mendamprat Bagus, Justin sudah lebih dulu maju mendekati Ava untuk bercerita.
"Waktu gue main ke rumah Alan, dia cerita semuanya tentang lo. Termasuk alasan dia ninggalin lo."
Flashback On
Alan melirik sekilas Justin yang ada di sampingnya. Ke dua orang itu sekarang ada di kamar Alan dan tengah main game bareng.
"Justin," panggil Alan di tengah-tengah permainannya.
"Hmm," gumam Justin tanpa menoleh.
"Gue mau ngomong soal alasan gue ninggalin Ava."
Pernyataan Alan sontak membuat sang empu mengarahkan fokusnya pada sang sahabat. "Kenapa?"
Karena Justin berhenti, Alan pun juga ikut berhenti.
"*Gue suka sama Ava cuma karena penasaran doang, nggak lebih dari itu. Selain rasa penasaran gue sekarang udah hilang, gue nggak mau ninggalin dan hancurin apa yang udah gue bangun dari nol. Lo tahu gimana perjuangan gue sampai bisa masuk sana dan ikut berbagai macam turnamen."
"Gue nggak mau kalau nanti pada akhirnya gue hanya menelantarkan dan mengabaikan Ava, karena gue masih terlalu fokus sama permainan gue. Lo juga tahu kalau gue udah gamers akut. Gue rela nggak masuk sekolah dan nggak ngikutin tes demi bisa turnamen di luar kota. Jadi, daripada nanti Ava semakin sakit hati karena itu, lebih baik gue menjauh dan nggak berurusan lagi sama dia*."
Kening Justin nampak berkerut. "Lo, yakin? Lo mau bilang apa sama Ava nanti? Lo nggak mau coba dulu gitu? Siapa tahu aja Ava mendukung lo?"
"Gue sangat yakin. Gue akan mencari alasan apa pun itu supaya gue bisa jauh dari dia. Mungkin, itu adalah keputusan terbaik dari yang paling baik. Seharusnya, dari awal juga gue nggak pernah pernah penasaran sama dia, kalau akhirnya bakal kayak gini. Selain itu juga kita semua tahu kalau sebenarnya Ava nggak terlalu sreg sama anak gamers. Gue percaya sama lo, jadi gue minta lo jaga rahasia ini. Okay?"
Justin diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Okay. gue akan jaga rahasia ini dan nggak akan memberitahu siapa pun."
Flashback Off
"Waktu lo depresi, gue udah ingin bicara tentang itu. Tapi, gue rasa itu bukan waktu yang tepat karena keadaan lo lagi sangat kacau. Jadi, gue terpaksa mengundur waktu dan mencari waktu yang tepat supaya nggak ada yang sakit lagi."
"Udah? Gitu doang?"
Revan, Safira, Sara, Justin, dan Bagus cengo melihat respon Ava yang sangat-baik baik saja tanpa memperlihatkan reaksi yang berlebihan.
"Itu reaksi lo setelah kita berdua ngasih tahu sebuah rahasia besar?" tanya Justin memastikan.
Yang ditanyai malah balik cengo. "Terus, gue harus kayak gimana? Jungkir balik? Salto? Kayang? Lari keliling rumah?"
"Ya, nggak gitu juga. Tapi, seenggaknya lo kecewa, nangis, sedih, marah, ngamuk, murung, terkejut, atau nganga gitu?" sungut Bagus.
Sang gadis hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur, sebenarnya Ava juga tidak tahu kenapa respon dirinya hanya seperti itu saja. "Eum ... gue rasa itu bukan reaksi di waktu yang kayak gini deh? Respon gue dengan hal itu, ya, cuma gini-gini aja. Nggak ada respon lain."
"Bisa-bisanya lo ngasih respon kayak gitu?" kagum Revan tak percaya.
Tentu saja mereka sangat terkejut saat respon Ava hanya seperti itu. Mereka pun juga tahu bagaimana cinta, sayang, dan perjuangan Ava untuk mendapatkan Alan lagi. Jangankan ke lima remaja itu, Ava pun juga bingung dengan dirinya sekarang.
Apa jangan-jangan ....
***
Sesuai dengan apa yang Ava katakan kemarin, gadis itu mengajak sebagian temannya untuk datang di seminar yang sengaja Ava lakukan di sekolah SMA nya dulu.
__ADS_1
Semua siswa yang berminat berkumpul di aula utama sekolah. Banyak sekali banner tentang buku dan penulis yang sama sekali tidak diketahui terpajang di seluruh sudut sekolah. Hari ini gadis itu pasti akan menggemparkan sekolah.
"Pada nggak sabar untuk ketemu sama penulis rahasia itu?" tanya seorang siswa perempuan yang bertugas sebagai MC.
"IYA!"
"MANA, KAK?! UDAH NGGAK SABAR NIH!!"
"MANA WOI?! MANA?!"
"AELAH! CEPETAN KALI!!"
Jeritan dan celetukan terus menggema saat sang bintang utama tak kunjung memperlihatkan batang hidung. Peserta seminar ini lebih banyak perempuan dari pada laki-laki. Maklumlah, 'kan, para kaum hawa sukanya ngehalu. Selain itu juga semua perserta banyak yang membawa buku milik gadis itu.
"INI DIA!!"
Seorang perempuan datang dari arah belakang kemudian dengan sangat anggun naik ke atas panggung seraya terus mengembangkan senyumnya tanpa henti.
Gadis itu melambaikan kedua tangannya. "Hai!"
Untuk beberapa saat seluruh siswa di sana langsung terkejut bukan main saat mengetahui kalau Ava lah penulis favorit mereka.
Perasaan Ava mulai tak enak saat ada remaja perempuan sekitar kelas XII berdiri dari duduk kursinya.
"WOI LAH! KAK, AVA, 'KAN? WIH KEREN! UUUUU KEREN, KAK! KEREN BANGET! NGGAK NYANGKA GUA! TERNYATA SELAMA INI DIA ADA DI SEKITAR KITA! DAN ALUMNI DI SEKOLAH INI! WOI LAH! TEPUK TANGANNYA WOI!" teriak remaja perempuan itu sambil mengangkat sebuah novel dengan kedua tangannya. Remaja itu kembali duduk seperti semula.
Saat suara gadis itu menggema di seluruh aula, suara ribuan tepukan tangan menggema di sana. Ava bahkan sampai terharu akan hal itu. Hampir seluruh siswa SMA Tri Bakti berkumpul di sini.
MC perempuan yang diketahui bernama Maifa memberikan microfon pada Ava. Keduanya sama-sama duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada sekitar enam kursi yang akan ditempati oleh orang-orang penting di sana.
"Hai lagi semuanya!" sapa Ava lagi lebih semangat.
"Hai, Kak!" jawab para peserta.
"Pasti kalian semua nggak nyangka yah kalau saya yang nulis novel yang saat ini kalian peluk?"
"IYA, KAK! NGGAK NYANGKA BANGET!"
"KAK, NYANYI DONG! KITA JUGA KANGEN SAMA SUARA, KAKAK!"
"KAK, KASIH TIPSNYA DONG SAMPAI BISA SUKSES!"
Gemuruh pertanyaan mulai menggema dan terdengar di telinga gadis itu.
"Ok, tenang dulu semuanya! Sebelum ada sesi tanya jawab dan pembahasan novel saya juga akan mengundang sahabat dan beberapa teman saya yang ikut andil dalam bagian kisah ini." Menatap ke arah samping. "Silahkan."
Tiga gadis remaja perempuan datang dengan melambai dan langsung duduk di samping kanan dan kiri Ava. Maifa memberikan tiga microfon kepada tiga gadis tersebut.
"Perkenalkan, nama saya Sara Putri Andrea dan saya sahabat Ava sekaligus bertugas sebagai managernya," ujar Sara sedikit gugup.
"Perkenalkan, nama saya Safira Oktaviana dan saya sahabat Ava sekaligus editornya nanti saat Ava kembali dengan beberapa ceritanya. Masih ingat dengan saya nggak?" ucap Safira.
"MASIH DONG, KAK?"
"SANGAT MASIH, KAK!"
"MASIH!"
"Perkenalkan, nama saya Maudi Rara Sekar dan saya temannya Ava. Kalau dengan saya, kalian masih ingat?"
"MASIH, KAK!"
"IYA, MASIH!"
"Sekedar informasi kalau kalian ingin tahu, kalau Kak Maudi adalah orang pertama yang memberikan vote di cerita saya saat saya pertama kali mempublish cerita ini. Jika berkenan tolong berikan apresiasi pada beliau."
Suara tepukan tangan kini lagi-lagi bergemuruh. Dan, untuk pertama kalinya Maudi merasa sebahagia ini karena sangat terdengar diistimewakan.
"Ok, perkenalan dan basa-basinya udah, jadi sekarang adalah sesi tanya jawab dan pembahasan, sebelum nanti gantian kakak-kakak ini yang bertanya sama kalian dan main game sama-sama. Ada yang mau bertanya?" tawar Maifa menatap para peserta.
Semua yang ada di sana mengangkat tangan tinggi-tinggi. Jelas, mereka sangat ingin tahu dan banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.
__ADS_1
"Ok, kamu yang berkepang dua," tunjuk Ava pada seorang gadis yang duduk di tengah tengah.
Gadis itu berdiri. "Kak, cerita ini diadaptasi dari kisah nyata atau hanya imaginasi belaka?"
Ava menatap teman dan sahabatnya sekilas.
Iya, ini dari kisah nyata, ungkapnya dalam hati.
Ava menatap ke depan seraya tersenyum. "Kisah ini hanya karangan belaka tanpa campuran apa pun. Tapi, juga terinspirasi dari sahabat dan teman saya di SMA."
Satu gadis yang duduk di bagian kanan berdiri lagi. "Kak, kenapa Kakak memilih sekolah ini sebagai tujuan pertama seminar, Kakak?"
"Pertanyaan yang cukup bagus. Itu karena sekolah ini adalah inspirasi saya dalam membuat cerita. Selain itu juga karena sekolah ini sangat istimewa bagi saya."
Remaja laki-laki yang duduk di paling depan berdiri. "Kak, cast cowok yang ada di cerita ini terinspirasi dari siapa? Dari teman, sahabat, pacar, atau mantan pacar?"
Ava tersenyum penuh arti, lebih lebar dari sebelumnya. "Kalau untuk itu kalian bisa mencari tahu dan menebaknya sendiri, karena saya pun juga tidak tahu."
Kini, gantian remaja laki-laki yang duduk di paling belakang berdiri. "Kak, gimana sih rasanya patah hati sampai bisa mendeskripsikan Ava yang patah hati karena Alan? Apa Kakak pernah merasakannya? Terus, apa akibatnya?"
Dan, saat itu juga selurus siswa menatap remaja laki-laki itu dengan ekspresi sangat cengo diiringi tawa yang sangat tak bisa dikondisikan.
"BHHAAAKS! BERBOBOT SEKALI, YA, PERTANYAAN ANDA INI?!"
"LAH? INI SEMINAR BUKU WOI!"
"SEPERTINYA PERTANYAN ITU BISA DIPERTIMBANGKAN?!"
Ava dan yang ada di sana pun juga ikut tertawa.
Tapi, bagi Ava semua pertanyaan itu bagus. "Ok. Akan saya jawab pertanyaannya. Rasanya patah hati pasti sangat sakit, saking sakitnya terkadang kita nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak ada mood sama sekali. Tanpa sadar juga, itu membunuh kita secara perlahan baik secara batin maupun fisik. Karena kita nggak ada mood dan berakhir kita juga jarang atau bahkan bisa nggak makan. Iya 'kan?"
Seluruh peserta di sana juga lantas langsung tertawa, membenarkan apa yang di katakan gadis itu.
"Jujur, saya pernah merasakan patah hati dan saya juga yakin kalau di sini juga banyak yang pernah merasakan patah hati. Menurut saya, patah hati itu sangat sakit, tapi juga memiliki efek yang sangat baik."
"Kenapa baik, Kak? Kan, rasanya sakit!" celetuk siswa laki-laki yang duduknya di sebelah kanan.
"Saat kita merasakan yang namanya patah hati, kita otomatis menjadi tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Jati diri kita akan langsung muncul ke permukaan dan sadar akan kesalahan fatal yang baru saja kita buat bahkan sampai menjatuhkan harga diri kita sebagai wanita."
"Kita akan tahu apa yang sebenarnya kita sukai dan tahu di mana pashion kita sebenarnya. Patah hati juga bisa menjadi jalan kesuksesan kita di masa depan, karena kita akan terus mencoba membuktikan ke orang yang telah membuat kita sakit hati, kalau berkat sakit hati yang mereka beri, kita dapat berdiri sendiri seperti ini."
"Tidak perduli sudah gagal berkali-kali tapi kita tetap mencobanya sampai kita bisa dan sukses lalu membuktikan ke mereka. Patah hati juga membuat diri saya sendiri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, belajar dari pengalaman. Selain itu, kita juga pasti akan menyibukkan diri dengan apa yang kita sukai agar sedikit melupakan rasa sakit itu."
Pertanyan demi pertanyaan sudah Ava jawab satu-persatu, baik yang berbobot maupun yang tidak.
Ava membisikkan sesuatu pada Maifa.
Gadis itu berdiri dari kursi. "Baik. Tolong minta waktunya sebentar untuk sedikit lebih tenang karena ada satu teman lagi dari Kak Ava yang akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Silahkan masuk!"
Safira bangkit dari duduk saat ada seorang laki-laki memakai hoodie warna coklat yang datang dari arah belakang panggung sambil membawa sebuket bunga mawar merah.
Cowok itu tersenyum sangat manis kemudian berdiri tepat di depan Safira. "Hai!"
"Lo, ngapain di sini?"
...***...
...Tinggal beberapa part lagi kita sudah ending beneran loh!...
...Gimana tanggapan kalian saat sudah baca sampai sini?...
...***...
...Ditulis tanggal 30 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1