
...
...
Setelah turun dari bus, Ava menuju pekarangan rumahnya dengan gontai dan tanpa semangat. Dua hari terakhir gadis itu memang lebih memilih naik angkutan umum, hal itu ia lakukan agar tidak ada kesempatan bertemu atau berpapasan dengan Alan di parkiran.
Mata gadis itu sedikit sembab dan merah sehabis menangis sampai sesegukan, karena tadi saat ia menunggu bus di halte, Safira mengirim foto yang di mana ada Alan dan Natalie yang saling tersenyum di parkiran. Ava memang tidak tahu di mana rumah Alan, tapi Ava tahu kalau rumah kedua orang itu satu arah.
Saat gadis itu membuka pintu, anehnya semua ruangan gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari luar. Ava mendekati saklar yang berada tepat di samping pintu masuk untuk menghidupkan lampu.
"Surprice!!" Suara menggelegar itu menggema di seluruh ruangan, dan Ava sangat mengenal serta familier dengan pemilik suara itu.
Gadis itu menutup mulut dan membulatkan matanya sempurna saat ada wanita berumur sekitar tiga puluh tiga tahun dengan dandanan super fashionable dan terlihat awet muda membawa sebuket bunga mawar merah serta kue Red Velvet lengkap dengan buah-buahan, coklat serta taburan permen warna-warni di atas kue tersebut.
...
...
...
...
Wanita cantik nan manis itu meletakkan bunga beserta kue di atas meja, menghampiri Ava kemudian memeluknya dengan hangat. Membelainya penuh kasih sayang dan kenyamanan, Ava membalas pelukan wanita itu lebih erat.
Beberapa menit kemudian Ava melepas pelukannya, menatap wanita yang tengah tersenyum itu dengan sorot mata hangat dan penuh kerinduan yang mendalam.
Ava mencengkram pelan lengan wanita itu. "Bunda kapan sampainya? Kok tiba-tiba udah nongol di sini aja? Terus nggak ngabarin Aku, Ana, atau Agnes gitu? Kalau, Bunda, bilang, 'kan, Aku bisa ijin terus bisa jemput, Bunda, di bandara. Bunda pasti capek ngurusin semuanya sendiri, 'kan?"
Wanita itu tersenyum lebar melihat tingkah cerewet anak satu-satunya yang sama sekali tidak berubah dari dulu. Wanita itu menarik tangan Ava untuk duduk di sofa.
"Bunda sengaja nggak kasih tahu kamu, kalau, Bunda, kasih tahu nanti nggak jadi 'surprise' dong! Lagian Bunda, 'kan, udah bilang, kalau setiap tiga bulan sekali, Bunda, bakalan pulang untuk nengokin kalian. Bunda juga tahu kalian pasti capek karena pulang sekolahnya sore," jawab Millica- Bunda Ava dengan sangat panjang lebar dan penuh antusiasme.
Ava tersenyum lalu memeluk Millica dengan sangat erat. "Biasanya kalau, Bunda, pulang, 'kan, bilang-bilang. Tapi, nggak papa deh yang penting Bunda udah di sini, kangen banget rasanya kalau nggak ada Bunda!"
Millica mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
Bunda, Ava ingin bercerita semuanya sama, Bunda. Seperti sebelum-sebelumnya.
Ava membatin seperti itu karena jika Ava ada apa-apa maka dirinya akan bercerita panjang lebar pada Bunda nya itu. Bagi Ava, Millica itu seperti sahabat serta teman sejati yang selalu ada di sisinya. Tidak seperti kebanyakan orang tua lainbya yang terlalu serius mendidik, Millica itu tipe ibu yang gaul, sangat friendly, dan welcome pada orang atau teman Ava.
Millica juga sangat pengertian dan bijaksana dalam menghadapi sesuatu. Millica paling tidak suka dengan cowok yang memakai aksesoris emas atau yang lainnya di tubuh. Terkadang Millica juga bisa julid jika berbicara. Pokoknya 'Emakable' banget deh.
Agnes dan Ana langsung menganga saat melihat Millica di ruang tamu.
"Mama, Mill!!" teriak Agnes dan Ana sangat kompak, mereka berdua kegirangan saking senangnya.
Kedua gadis itu langsung berlari lalu memeluk Millica dengan sangat erat, penuh dengan kerinduan. Keluarga Ava, Ana, dan Agnes sangat dekat dari dulu, jadi ak heran jika banyak orang yang mengira mereka semua seperti keluarga besar.
Agnes serta Ana memang memanggil Millica dengan sebutan 'Mama Mill' karena Millica juga sudah seperti Mama mereka sendiri. Masing-masing dari mereka pun juga memanggil baik Ibu Ana, Ava, atau Agnes dengan sebutan 'Mama (sesuai dengan nama Ibu mereka)' jadi, jika dilihat secara kasat mata mereka mempunyai tiga Ibu. Tentunya hal itu pun juga berlaku bagi Ayah, Nenek, Kakek, Paman, Bibi, Sepupu, dan lain-lain sampai keturunan berikutnya.
__ADS_1
Agnes dan Ana pun juga menanyakan hal yang sama seperti Ava tadi. Jadi, Millica menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
"Udah yuk, ayo kita makan. Bunda- Mama udah masakin makanan buat kalian."
Agnes menatap Millica dengan kening berkerut. "Bunda-Mama?"
Millica terkekeh. "Iya, 'kan, Bunda panggilan dari Ava, kalau Mama panggilan dari Ana sama Agnes."
Ketiga gadis itu langsung mengangguk mengerti, mereka semua langsung menuju meja makan untuk makan bersama-sama.
***
Pagi ini sekolah dihebohkan dengan adanya video Ava yang berpelukan dengan Justin di gudang sekolah kemarin, dan hal itu membuat banyak siswa SMA Tri Bakti geram dengan kelakuan Ava. Tidak sedikit yang mencibir dan menghina tapi masih ada juga yang baik untuk tetap mendukung Ava dan berpikiran positif.
Ava dan yang lainnya pun belum tahu siapa yang sudah menyebarkan video tersebut. Benar jika Justin kemarin merasa ada yang memperhatikan dari jauh.
Ava belum sempat bertemu dan menjelaskan pada Alan. Gadis itu terlalu takut pada cowok itu, pasti sekarang Alan tengah kecewa dan marah besar padanya. Apalagi ditambah Ana yang juga marah kepada Justin dan juga Ava, dan hal itu semakin membuat hati Ava sakit tidak karuan. Maka dari itu, Justin dan Ava janjian dengan Ana bertemu di taman belakang sekolah agar semua masalah langsung teratasi. Ava tidak mau menumpuk berbagai masalah yang ia dapat.
Masalah dengan Alan dan sang peneror itu pun belum selesai sama sekali.
Setelah Justin menjelaskan semuanya pada Ana, gadis itu sedikit lega dan luluh, kemarahan dan kekesalannya perlahan-lahan menghilang.
Ana beralih menatap Ava di sisi kanannya, menggenggam jari-jemari Ava dengan perasaan sangat bersalah. Ia tidak bermaksud menuduh Ava yang tidak-tidak, hanya saja Ana tengah tersulut emosi.
Ava sebenarnya juga sakit hati saat Ana menuduhnya selingkuh di belakang Ana dan merebut apa yang sudah jadi milik Ana. Tapi, Ava memaklumi karena ia juga tahu kalau Ana orangnya memang seperti itu. Gadis itu terbilang cukup keras kepala untuk mendengar penjelasan orang lain dan hanya melihat dari sisinya saja, ditambah dengan ucapan pedas dari mulut Ana.
Gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya Ana lebih pengertian pada Ava, karena gadis itu memiliki banyak masalah di hidupnya. Belum lagi masalahnya dengan Alan belum selesai, dan ini, Ana malah menambah rasa sakit Ava.
Ana menatap Ava dengan mata berkaca-kaca. "Ava, maafin gue yah. Gue salah udah nuduh lo yang enggak-enggak. Maafin gue juga karena udah bikin lo sakit hati dan malah nambah beban hidup lo."
"Jauh sebelum lo minta maaf pun gue udah maafin lo, Ana. Lo tahu semua tentang gue Ana, harusnya lo juga tahu kalau gue nggaj bermaksud jahat sama lo. Minjam barang tanpa seizin lo pun gue nggaj berani Na, apalagi gue nyakitin sahabat gue sendiri." Ava berkata sangat lirih, bibirnya bergetar dan sedetik kemudian air matanya menetes membasahi pipi.
Hati Ana bergetar hebat saat Ava mengatakan hal itu. Apa yang dikatakan Ava seperti tamparan keras untuk Ana agar gadis itu tidak melakukan kesalahan yang sama, dan ini akan ia gunakan sebagai pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik kedepannya.
Gadis itu sangat merasa bersalah akan apa yang ia telah lakukan, bisa-bisanya ia menuduh dan tidak percaya pada gadis bernama Ava, yang notabenya adalah sahabatnya sejak kecil. Dengan kejadian ini berarti Ana belum sepenuhnya tahu, paham, dan mengerti mengenai Ava serta semua tentang gadis itu.
Tanpa aba-aba, Ana memeluk Ava dengan sangat erat. Menangis di bahu Ava adalah pilihannya. Sedangkan Ava sendiri mengelus kepala dan punggung gadis itu penuh kelembutan untuk menenangkan Ana. Justin pun juga melakukan hal yang sama seperti Ava, cowok itu menepuk pelan bahu Ana beberapa kali.
"Cuma satu yang perlu lo tahu. Lo itu bukan beban hidup gue, tapi lo itu salah satu sumber kebahagiaan di hidup gue, Ana."
"Makasih udah mau maafin gue, Ava." Ana masih saja menangis sesegukan di pelukan Ava. Gadis itu sangat, sangat, dan sangat merasa bersalah.
Dalam hati Ana berkata, "Gue janji Ava nggak akan ngulangin lagi."
Justin tidak mau merusak momen Ava dan Ana, jadi dia lebih memilih diam dan tetap mendengarkan.
***
Ava beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, sedangkan Ana sudah diantar Justin ke kelas.
Dinda dkk datang menghadang Ava di depan kamar mandi wanita. Mereka semua berjalan angkuh dengan mengangkat kepala.
"Owh, ini, ya, yang melakorin sahabatnya sendiri?" Dinda menatap Ava dari ujung kaki sampai kepala.
Ava tidak terkejut dengan pernyataan itu, karena sudah sangat terbiasa. "Gue bukan pelakor yah, itu cuma salah paham aja!"
__ADS_1
"Maling mana ada yang mau ngaku!" cibir cewek dengan seragam super ketat di belakang Dinda, namanya Denise.
Ava berdecak geram, gadis itu sangat malas menghadapi kakak kelasnya ini. Jujur saja Ava sudah tidak suka pada Dinda saat tahu kakak kelasnya itu mengikutinya.
"Emang pantes sih lo dijuluki dengan sebutan 'Pelakor', karena kenyataannya emang gitu, 'kan? Lo udah ngerebut Aras dari gue dan sekarang lo ngerebut pacar sahabat lo sendiri! Dekat sama cowok emang boleh, tapi seenggaknya jangan pada lo godain! Kalau lo masih kurang dan belum puas, kenapa nggak sekalian jadi palacur?" Kalau sudah begini, 'kan, sifat Dinda keluar tanpa ada yang tertutup-tutupi.
"Harusnya dari awal tuh lo nggak usah sekolah di SMAN Tri Bakti, karena lo cuma cewek pembawa sial. Lo sadar nggak, kalau semua orang yang dekat sama lo pasti sengsara, hidupnya nggak tenang, selalu terselimuti oleh ketakutan, dan kekhawatiran?"
Kesabaran memang benar ada batasnya. Awalnya sih Ava biasa dan sabar-sabar aja, tapi saat Dinda mengatakan hal itu Ava rasanya ingin sekali merobek-robek mulut Dinda. Siapa yang tidak sakit hati coba diperlakukan seperti itu.
Ava berdecak kemudian tersenyum meremehkan. "Eh kakel gila! Lo jangan ngomong sembarangan, ya! Lo juga nggak tahu apa-apa! Jadi sebelum lo ngomong panjang lebar, lebih baik lo ngaca dulu sana dan lihat diri lo sendiri!"
Mata Dinda dan antek-anteknya membelalak dengan sempurna, mereka tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Ava barusan. Terkejut itu pasti, karena Ava berani melawan mereka. Iya mereka. Kakak kelas terkeren, terfamous, dan paling berkuasa di sekolah selain Molyvdos.
"Wah mulai berani lo, ya, sama kita?!" Dinda menatap Ava penuh kemarahan. "Denise! Ambro! Pegangin Dia! Gue mau kasih pelajaran sama ni bocah!"
Kedua teman Dinda langsung mencengkram kuat kedua tangan Ava. Kaki Ava juga dikunci oleh kedua kaki antek-antek Dinda, sehingga gadis itu hanya bisa pasrah dan menerima apa yang akan Dinda lakukan padanya.
Karena percuma saja Ava minta tolong kalau di lorong ini tidak ada yang lewat akan lalu- lalangnya para siswa ataupu siswi, itu malah akan membuat Ava lelah sendiri.
Dinda mendekat ke arah Ava dengan seringai menakutkan. Mengambil lipstik warna merah menyala di saku seragam. Itu adalah lipstik yang sama dengan yang Dinda pakai di bibirnya.
...
...
"Mau apa lo,ogeb?! Dasar gila! Gue jamin dalam waktu dekat semua orang akan tahu sifat bejat lo!"
Dinda membuka tutup liptik itu dengan cepat, mencengkram pipi Ava dengan kuat. Ava meringis pelan saat kuku-kuku panjang nan tajam milik Dinda menusuk setiap sudut pipi Ava. Setelah ini Ava yakin pasti akan ada bekas cengkraman yang tercetak di sana.
Dinda lagi-lagi menyeringai sinis. "Gue bakalan bikin lo semakin cantik. Sangat cantik, dan saking cantiknya semua siswa dan siswi yang ada di sini akan menyembah dan tersenyum ke arah lo. Jangan pernah macam-macam sama gue saat lo pun nggak tahu gue siapa." Nada bicara Dinda terdengar lembut tapi sangat menakutkan bila didengar lebih dalam.
Belum sempat Dinda menggoreskan lipstik merah menyala itu ke wajah mulus Ava. Ada suara teriakan dari arah belakang mereka.
"Lepasin Ava atau lo akan nerima akibatnya?!"
...***...
...Panjang banget yah eps ini. Ya ,emang panjang sih soalnya nyampe 2000 words....
...Ayo coba tebak, kira-kira siapa orang itu! Komen di kolom komentar yah!...
...Gimana kabar kalian semua? Aku kangen banget sama kalian. Tetap jaga kesehatan kalian yah! Karena kalian juga termasuk sumber kebahagiaan Aku....
...Eeeaaak! Awokawokawok....
...***...
...Ditulis tanggal 13 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 21 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....