
...Karena kemarin Aku udah nggak update, jadi hari ini Aku updatenya double!...
...Suka nggak? Senang nggak? Ya, pasti enggaklah. Awokawokawok...
...***...
...
...
Sudah tiga hari lamanya Ava tidak masuk sekolah karena stress. Stress? Iya, stress mikirin Natalie yang makin hari makin nempel sama Alan, dan sudah tiga hari pula Ava tidak mendapat pesan-pesan teror itu, jadi ia sedikit bersyukur akan hal tersebut.
Sudah tiga hari ia tidak melihat wajah Alan dan hanya bisa melihat lewat beberapa foto di hp Ava dan menonton video slow motion dirinya bersama dengan cowok itu. Sudah tiga hari lamanya Ava tidak melihat Safira, Revan, dan Dino di kelasnya. Dan, sudah tiga hari pula ia tidak mendapat gangguan dari Games yang biasanya selalu mengusiknya.
Ava yang sudah tiga hari tidak bertemu dengan Alan saja rasanya sungguh sangat menyiksa, apalagi kalau nanti ia sudah berpisah dan menyerah untuk mendapatkan Alan. Bisa-bisa gadis itu gila karena terlalu mencintai cowok itu.
Tapi perlu diingat, kalau yang serba berlebihan itu tidak baik.
Gadis itu sekarang sendirian di rumah tanpa ada yang menemai, sebenarnya sih Ava was-was karena ia takut sang peneror itu nanti tiba-tiba datang menemuinya karena tahu kalau Ava sendirian di rumah, mengingat ada kotak kado berisi benda dan hewan yang Ava tak mau membayangkannya lagi.
Sudah sekitar tujuh jam juga ada earphone yang terpasang di kedua telinganya, ditambah novel-novel yang menumpuk di atas laci, semua itu tentu Ava yang menyelesaikannya.
"Ngapain lagi, ya? Lama-lama bosen juga baca novel mulu."
Detik berikutnya setelah bermonolog, gadis itu tersenyum sangat lebar dan terlihat Bahagia, ada sebuah ide yang bagus untuk ia lakukan agar tidak mati kebosanan.
Ava mencopot earphone-nya lalu turun ke bawah menuju gudang mencari sesuatu. Bau debu yang sangat pekat langsung menusuk idra penciuman Ava, jadi serasa ingin bersin dan akan terserang flu.
Setelah melebarkan pandangan dan menemukan apa yang ia cari, gadis itu buru-buru membawanya ke kamar untuk dibersihkan. Cukup susah untuk membawa semua barang-barang itu ke kamarnya, jadi barang apa yang Ava siapkan?
Ava tersenyum menatap kanvas yang sudah ia jepitkan ke easel, palet, satu set kuas, cat akrilik, secangkir air, dan satu buah kursi di depannya. Iya, gadis itu tentu akan melukis sesuatu.
Setelah menuangkan berbagai pilihan warna cat ke palet, memilih gambar yang ia rasa paling berkesan, dan paling keren di antara yang lainnya, secara perlahan-lahan Ava menggoreskan kuas ke kanvas putih di depannya sesuai dengan warna dan gambar di hp nya sebagai objek. Kira-kira apa yang dilukis, Ava?
***
"Lan, lo kenapa sih dari tadi diam aja?"
Natalie yang duduk di samping Alan menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu agar tidak melamun terus, tapi sayangnya Alan sangat malas untuk menjawab atau bahkan berbicara sekalipun.
Udah tiga hari, batinnya menatap ke arah luar jendela, sorot matanya sedikit memancarkan kekhawatiran.
Kalian semua tentu sudah tahu apa yang ada di pikirkan cowok itu hanya dengan menyebut tiga kata tersebut.
"Lan, ngomong dong! Bosen nih diam-diaman mulu! Coba cerita-cerita apa gitu kek? Apa lo nggak bosen gini terus?"
Natalie langsung terlonjak kaget saat Alan memundurkan kursinya dengan kasar. "Gue lebih bosen dengar lo ngoceh." Cowok itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku lalu keluar kelas entah ia akan pergi ke mana.
Gadis itu tentu merutuki kebodohannya, ia menabok mulutnya berkali-kali. "Lo jadi orang goblok banget sih, Nat? Lo, 'kan, juga tahu kalau Alan nggak suka banyak bicara."
***
Kaki dan hati Alan menuntunnya ke belakang sekolah, cowok manis itu berjalan menghampiri dinding pembatas lalu menatap puluhan botol kaca yang sudah pecah.
Flashback On
Kemarin ...
__ADS_1
Alan yang tengah bermain game di kelas tiba-tiba mendapat pesan dari nomor tanpa nama.
+62 8567 ×××× ××××
Datang ke taman kecil belakang sekolah.
Tanpa pikir panjang Alan langsung pergi secepat mungkin ke belakang sekolah, entah kenapa ia sangat tertarik karena biasanya ia tak pernah seperti ini.
***
Sesampainya di taman belakang sekolah ada laki-laki yang sepertinya cukup familier dan yang ia kenal berdiri membelakanginya.
"Di sini Ava nangisin ko sampai sesegukan nggak berhenti-berhenti," kata cowok itu saat menyadari Alan telah datang. "Dia ngelampiasin semua amarah dia ke botol-botol kaca itu. Gue nggak habis pikir, kenapa Ava nangisin cowok kayak, lo?"
Alan lantas memandangi puluhan botol-botol kaca yang sudah pecah berkeping-keping di samping tembok besar.
"Lo nggak akan tahu rasanya, karena lo belum pernah ngerasain sakit dan patah hati." Games menoleh menatap Alan yang berdiri di samping pohon. "Harusnya lo bersyukur karena Ava milih lo, sedangkan gue? Gue bahkan cuma bisa mencintai dia dalam diam, saat gue nemenin dia nangis pun ... dia bahkan nggak menganggap gue ada."
"Itu derita lo. Kalau lo mau, ambil aja karena gue emang nggak pernah suka sama dia." Alan beranjak pergi dari sana tapi tertahan karena ucapan menohok yang dilontarkan Games.
"Kalau lo ngga suka, kenapa lo dekati dia, berjuang mati-matian, dan pacaran sama dia?" Tatapan Games sama tajamnya dengan milik Alan. "Cinta gue emang nggak terbalaskan, tapi jangan pikir gue nggak tahu gimana perlakuan lo ke Ava dan perlakuan Ava ke lo selama ini. Gue jagain dia dari jauh hanya sebagai pengamat tanpa berniat memilikinya, karena gue pun juga sadar kalau Ava tahu gue ingin lebih dari sekedar teman, dia bakalan menjauh. Lebih baik menyukai dia diam-diam asalkan gue masih bisa menatap dan melihat dia bahagia daripada harus kehilangan dia selama-lamanya."
Alan sama sekali tidak bisa berkata-kata, dadanya juga terasa sesak selama ini, ia memang tidak menyukai Ava, tapi dampak yang Alan rasakan sungguh besar dan tak pernah terpikirkan olehnya. Dijauhi teman dan sahabat yang ia sayangi, tidak memiliki tempat bercerita atau bernaung, serta terjebak dengan gadis yang juga sama sekali tidak pernah sedikitpun Alan sukai. Rasanya seperti siksaan yang terus menerus datang di hidupnya, dan, sampai kapan ia mau seperti ini?
Flashback Off
Alan berjongkok lalu mengambil satu keping pecahan botol kaca berukuran cukup kecil karena ada sedikit darah yang menempel di sana. Ia tidak tahu apa itu darah atau justru milik orang lain, atau juga bisa jadi itu bukan darah.
Alan mendudukkan dirinya di bawah pohon, tak salah jika Ava menenangkan diri di sini, karena udaranya sangat segar, suasana yang tenang, dan sangat adem karena dedaunan yang menutupi cahaya matahari.
Perkataan Games terus saja terngiang-ngiang jelas di kepalanya. Alan lelah dan muak dengan semua ini, ia menyesali semuanya. Menyesali kenapa ia harus penasaran dengan, Ava? Kenapa Alan bersikap manis dan baik pada, Ava? Dan, menyesali kenapa ia bisa kenal dengan, Ava? Semua yang berhubungan dengan gadis itu ia menyesalinya.
***
"Nanti pulang sekolah ngejenguk Ava yuk! Udah tiga hari loh kita nggak ngejenguk dia, gue juga kangen sama dia!" seru Safira yang langsung diangguki semuanya.
"Ngajak Alan nggak? Kasihan juga Alan dijauhin dan dibiarin kayak gini. Pasti dia nggak nyaman, butuh teman curhat, dan hatinya sakit karena ini udah termasuk bullying. Apalagi dia tertahan sama tu pohon natal." Penuturan Syarifa membuat Safira berdecak sebal tidak suka.
"Nggak usah ngajak-ngajak tu anak, di sana dia nggak berguna sama sekali! Lebih sakit Ava kali daripada dia karena emang tu bocah pantas untuk dijauhin!" Safira langsung ngegas saat mendengar nama 'Alan' disebut. Bagi Safira, nama itu sudah haram untuk didengar atau disebut.
Revan merangkul Safira, tapi langsung ditepis kasar gadis itu. "Eh, lo jangan galak-galak gitu, gimanapun jugakan Alan teman kita. Lagian kita juga udah janji sama Ava jangan pernah ngapa-ngapain Alan dan nyuruh kita tetap berteman sama Alan. Biarin Ava yang berjuang sesuai dengan apa yang udah dia rencanain."
"Iya, gue juga sebenarnya kasian sama Alan kalau dia nggak punya teman. Safira, lo dan kita semua juga tahu kalau Alan susah bersosialisasi atau malah malas untuk bersosialisasi."
"Ya salah sendiri jadi orang malas banget!" celetuk Safira ketus menanggapi ucapan Bagus, kemarahan gadis itu sudah mencapai di ubun-ubun.
"Coba aja lo bayangin di posisi Alan, perasaan lo bakal kayak gimana?" tanya Ana yang sedari tadi hanya sebagai pendengar.
"Kok gue? Kenapa nggak lo aja sana? Gue mah ogah banget dan coba Alan ada di posisi Ava! Tu cowok pasti udah gila dan bunuh diri duluan!" cibir Safira lebih galak dari sebelumnya.
"Nah! Nggak mau, 'kan? Ya, makanya ajak Alan juga, ya ... ya ... ya .... ya ... ya?" Wajah Ana dibuat semelas dan seimut mungkin, berharap Safira menerima Alan kembali.
Bukannya imut dan manis, yang Safira lihat malah sebaliknya, sangat menjijikkan melihat Ana yang memohon seperti itu. Karena semua temannya memohon dan memelas, jadah Safira mengangguk terpaksa dan pasrah. "Iya, Alan boleh ikut."
Ingat yah hanya 'Terpaksa' dan 'Pasrah' karena semua temannya memaksa.
"Yey! Makasih, Safira!"
"Cantik banget deh hari ini!!"
__ADS_1
"Hih! Makin hari makin baik tahu nggak!"
Teman-temannya langsung bersorak ria dan kegirangan akan hal itu, tentu kalau mereka semua bukan temannya, Safira sudah memberi bogeman tanpa ampun. Dan, kalau ini bukan karena sahabat baiknya gadis itu tak akan pernah mau memaafkan Alan atau berurusan dengan cowok itu lagi.
***
"Lan, nanti pulang sekolah pada mau ngejenguk Ava, dan teman-teman lainnya setuju kalau lo ikut, siapa tahu dengan itu Ava bisa cepat sembuh, lo mau?" Justin berbisik di telinga Alan, karena saat ini adalah pelajaran Pak Imam sang guru Seni Musik yang terkenal akan kegalakannya. "Lo tenang aja, karena mulai sekarang kita nggak bakal nganggap lo musuh, nggak bakal jauhin lo lagi, dan tetap menganggap lo teman seperti biasa."
Alan terdiam sebentar, kesempatan ini tidak akan Alan sia-siakan. Ia tidak mau lagi kehilangan apa yang sudah ia punya dan kehilangan orang-orang baik di dalan hidupnya, cowo itu mengangguk pelan. "Iya. Gue mau."
"Hei sedang apa kalian?!" sentak Pak Imam saat melihat Justin dan Alan dalam jarak yang sangat dekat.
Justin sangat panik, sedangkan Alan? Cowok itu tentu sangat tenang tanpa ada raut wajah dan khawatir sama sekali.
"Tadi ada nyamuk Pak, dia bantuin saya nepuk."
"Oh. Ya sudah, catat semua yang ada di papan tulis, nanti dikumpulkan. Dan jangan ada yang bicara, makan, dan tidur saat pelajaran Saya. Paham?!"
"Paham, Pak!"
Justin sangat lega saat pelototan Pak Imam beralih ke buku musik berukuran tebal yang guru itu pegang.
Ada gadis yang tadi sekilas menatap Alan, kerena Natalie yakin ada sesuatu yang akan dilakukan atau disembunyikan Alan. Dan, Natalie tak akan pernah membiarkan Alan jatuh ke pelukan Ava lagi seperti sebelumnya, karena jika begitu semua usaha yang ia lakukan selama ini akan sangat sia-sia.
***
"Finally!" teriak Ava kegirangan setelah beberapa jam melakukan kegiatan yang sangat menyenangkan dan menenangkan.
Tok
Tok
Tok
"Siapa sih?"
Gadis itu meletakkan palet dan kuas di atas meja, karena was-was dan penuh ke hati-hatian Ava mengambil tongkat baseball besi dari dalam lemari. Perlahan-lahan sambil melebarkan pandangan dan menuruni anak tangga satu persatu menuju pintu.
Setelah membuka pintu dengan cepat, Ava memejamkan mata dan mulai melayangkan tongkat baseball tersebut. Tapi, sebelum hal itu terjadi ada seseorang yang berujar ketakutan di depannya.
"Jangan pukul!"
Ava tentu tahu dan sangat tahu siapa orang yang tadi berujar, ia sangat paham betul dan sangat mengenal suara itu. Perlahan-lahan gadis itu langsung membuka matanya, seketika tubuhnya melemas dan jantungnya berdegup kencang setelah tahu siapa yang berdiri di depannya saat ini.
Jujur, kejadian seperti ini membuat Ava kembali bernostalgia saat ia juga melakukan hal yang sama kepada Alan beberapa waktu yang lalu.
...***...
...Hai! Hai! Udah lama, ya, kayaknya kita nggak ngobrol (tiap hari juga ngobrol ogeb). Haha iya, iya sabar jangan ngegas mulu kayak Safira....
...Tiba-tiba udah sampai part tujuh puluh tiga aja nih! Apa tanggapan kalian tentang cerita, ini? Jawab di kolom komentar. Okay!...
...Kayaknya ini cerita bakal tamat satu bulan lagi deh, jadi mohon bantunnya, ya, readers dan teman-teman semua. Di sini Aku nggak punya teman anjir, nulis aja gitu....
...***...
...Ditulis tanggal 01 November 2020...
...Dipublish tanggal 01 Me 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....