Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 89 ~ Pasukan Part (A)


__ADS_3

...Happy reading semuanya...


...***...


...



...


Saat ini Alan tengah berdiri di depan rumah, cowo itu memasukkan lukisan yang Ava buatkan beberapa minggu yang lalu, gambar kepiting, gelang dengan inisiap huruf A dan topi ke dalam tong sampah yang di dalamnya sudah ada kobaran api yang cukup besar.


Tidak tahu diri? Mungkin itu yang pantas mendeskripsikan sikap Alan saat ini karena ia tidak menghargai pemberian gadis bernama, Ava. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di saku cowok itu berdering.


Tertera nama Ana di layar. "Tumben?" Menggeser tombol hijau.


"Ada apa?"


Lan, Ava nggak ada di kamar. Kak Aras dan yang lainnya udah kumpul di rumah buat nyari Ava! Lo bantu nyari juga, ya! Sekalian ajak Bagus sama Justin juga! Lebih banyak lebih baik!


"Ya udah, gue ke sana sekarang!"


Setelah sambungan terputus, buru-burulah Alan memakai hoodie dan kunci motor lalu mengabari Bagus serta Justin juga, walau Alan sudah kejam dan jahat pada Ava, tapi ia masih punya hati dan jiwa kemanusiaan.


***


Aras membawa anak buahnya sekitar delapan orang termasuk Gilang dan Uki yang ikut diajaknya.


Karena semuanya sudah berkumpul di halaman rumah Ava. Secara singkat, padat, dan jelas dari awal sampai akhir Aras sudah menceritakan kejadian yang menimpa Ava. Karena keadaan saat ini sangat kacau, yang dapat mereka tangkap yaitu hanya Dinda yang selama ini selalu meneror dan menculik Ava.


Ana dan Agnes yang ditenangkan Safira masih terisak akan tangis khawatir, seandainya mereka menjaga Ava, mungkin gadis itu tidak akan hilang.


"Kenapa lo nggak lapor polisi aja?" tanya Alan membuka suara setelah Aras selesai bercerita.


Yang ditanya menoleh tajam. "Gue tahu gimana nekat dan gilanya Dinda, kalau kita lapor polisi, Dinda malah akan nyakitin Ava."


"Sekarang kita nyari di mana?" sahut Bagus.


"Kak Aras bisa ngelacak?" tanya Revan yang mulai sadar.


"Bisa. Tapi terkadang kalau gue ngelacak suka error, seakan ada orang yang sengaja ganggu gue."


"Kak Aras coba lacak lagi deh, karena setahu gue, Ava selalu ngaktifin lokasinya!" seru Safira baru ingat.


Itu ide yang sangat bagus, kenapa tidak dari tadi saja? Dan kenapa di saat seperti ini otak Aras tidak bisa diajak kerja sama?


Gilang yang sengaja membawa laptop di tasnya untuk jaga-jaga kini diserahkan pada Aras, karena cowok itu termasuk ahlinya.


Aras mengotak atik laptop di atas jok motor untuk mencari keberadaan Ava, memencet tombol laptop beberapa kali dan pada akhirnya lokasi Ava berhasil ditemukan. Kali ini tak ada gangguan sama sekali, seakan Tuhan berpihak pada mereka untuk menyelamatkan gadis malang itu.


"Kak, coba perbesar gambarnya," suruh Dino yang ada di sisi kanan Aras.


Alan yang ada di sisi kiri mengerutkan dahi saat Aras memperbesar lokasinya. "Itu kayak tempat Ava diculik beberapa waktu yang lalu?"


Kini semua mata tertuju pada Alan, tak terkecuali Aras sendiri.


Agnes maju mendekati Alan. "Di-diculik? Ka-kapan Ava diculiknya? Kok gue nggak tahu?"


"Udah. Jelasinnya nanti aja, sekarang lo, Alan yang nunjukin di mana lokasi itu. Lo masih ingat, 'kan?" timpal Uki menengahi agar tidak berlama-lama lagi.

__ADS_1


"Iya. Ayo."


Mereka semua naik ke motor masing-masing mengikuti Alan dari belakang. Khusus para gadis mereka dibonceng untuk berjaga-jaga. Agnes dibonceng Dino, Safira tentu dibonceng Revan, Ana terpaksa dibonceng Justin, dan Syarifa dibonceng Bagus.


***


Keadaan Ava sekarang duduk di kursi dalam keadaan seluruh tubuhnya diikat, dan mulutnya dilakban. Di ruangan sempit yang minim cahaya itu Ava tidak sendirian, ada gadis lain yang juga berada di sana.


Perlahan-lahan kesadaran Ava mulai terkumpul, gadis itu mengerjabkan mata beberapa kali untuk memperjelas penglihatan.


Yang Ava tangkap sesaat setelah kesadarannya mulai terkumpul adalah lagu Into Your Arms - Witt Lowry (Feat. Ava Max)


Di depan Ava sudah ada satu gadis dengan rambut gelombang yang tengah memainkan pisau tajam. "Owh, the princess is awake?"


Ava nampak sangat terkejut saat mendapati Dinda di depannya, gadis itu memberontak mencoba melepaskan diri.


Dinda berjalan mendekati Ava, melepas kasar lakban yang tertempel di mulut gadis itu, kemudian memberi kesempatan untuk bicara.


"K-Kak Dinda? Kenapa Kak Dinda di sini dan nyulik gue? A-Alan mana?"


Yang ditanya duduk kembali sambil memainkan pisau. "Lo pasti bingung, ya? Okay, bakal gue jelasin. Girls, come here!"


Seorang gadis dengan rambut lurus dan pakaian serba hitam datang dari arah belakang, gadis itu tersenyum sinis, dia Sintia Prawira kelas X Ips 1.


"Lo, 'kan, cewek yang waktu itu minta kardus dan yang ngedate sama, kak Aras?!"


"Yes. You right."


"Dasar manusia-manusia gila kalian! Apa sih maksud kalian ngelakuin ini ke, gue?!"


Sintia berjalan mendekati Ava, lalu menarik rambut Ava ke belakang sampai gadis itu meringis kesakitan.


"Lo nggak tahu apa-apa, jadi harusnya lo diam. Semua masalah ini berawal dari lo! Dan lo juga yang buat kami terpaksa melakukan ini!" tegas Sintia, melepas jambakannya. Gadis itu ikut duduk di samping Dinda.


"Lo juga udah bikin gue malu di depan kak Aras saat di restaurant. Tepat saat pulang, dia ngatain gue bau karena gue keringetan akibat kelakuan lo. Dia juga bilang kalau gue nggak boleh dekat-dekat sama dia, karena katanya gue udah bikin dia malu."


"Kalau kardus itu banyak gue pasti akan kasih, tapi masalahnya saat itu cuma sedikit dan harus gue bagi lagi ke Ana sama Agnes! Kalau masalah di restaurant, gue cuma cemburu karena kak Aras batalin janjinya demi Lo! Jadi, gue mohon lepasin, gue!" Kristal bening sudah bercucuran di pipi Ava dengan sangat deras saking takutnya.


"Bullshit! Enak aja main lepas, kita udah nyusun rencana dengan susah payah! Sekarang, nggak ada yang bakal nolongin lo. Kenapa lo sekalian nggak gila aja kemarin?!" teriak Sintia penuh murka, matanya yang tajam memperlihatkan sorot kemarahan dan dendam terpendam.


Dinda berhenti memainkan pisau, melanjutkan cerita Sintia. "Dan saat itulah Sintia nemuin gue di taman, karena dia tahu kalau gue juga benci sama lo. Selain lo udah membuat Aras berpaling dan semakin jauh dari gue, lo juga merebut singgasana gue sebagai gadis tercantik dan terfamous di sekolah."


Dinda menghampiri Ava, lalu memainkan pisau tersebut tepat di kepala gadis itu. "Lo ternyata gadis yang bodoh, sebelum lo ke sini lo bahkan nggak baca dulu nomor si pengirim pesan. Ya iyalah lo nggak baca, karena lo pasti nggak hafal nomor Alan karena selalu lo hapus setelah chatan, selain itu juga Alan punya kode rahasia, gue selalu memanfaatkan hal sekecil apa pun itu supaya lo bisa masuk ke perangkap kita. Lo pasti bingung dan pengen tahu kenapa gue bisa tahu rahasia kalian berdua?"


"Untungnya, gue punya hacker yang handal untuk meretas, menyadap, dan nutupin semua bukti serta jejak yang kalian cari sehingga kalian nggak tahu keberadaan kita, Sintia. Dia gadis yang selalu bermain dengan lo lewat pesan, mencari segala informasi berharga tentang lo dan teman-teman lo, serta menghilangkan semua jejak yang ada. Dia juga yang selalu menjadi mata-mata karena kelas kalian satu deretan." Mendudukan lagi (maaf) pantatnya ke kursi.


Dinda meletakkan pisau di meja kecil tepat di sampingnya, menopang tangan di lutut. "Kalau tugas gue itu ... menyusun rencana dari awal sampai akhir, ngawasin lo dari jauh tanpa ketahuan dan tanpa ada yang curiga, serta mengirim sesuatu ke rumah lo. Apa pun itu."


Menyunggingkan senyum menawan namun mematikan, "Yang lo liat di jendela restaurant waktu itu juga gue, tapi saat itu Sintia juga ngebantu gue untuk ngirim darah hewan dan pisau tersebut, sekaligus yang ngirim pesan pertunjuk cara bermain. Benar-benar gadis bodoh dan nggak berguna! Gue bingung, kenapa Alan dan Aras serta yang lainnya bisa kepincut sama lo? Pakai pelet, ya?"


Ava hanya bisa menggelengkan kepala saat rencana mereka berdua ternyata sudah disiapkan sejak awal agar bisa menjebaknya. Kenapa ia belum menyadari hal itu, dan malah menuduh semua teman serta sahabatnya?


Gue masih nggak nyangka kalau hal itu akan berdampak buruk. Gue harus gimana sekarang kalau gue aja terjebak di sini? Tuhan, tolong beri saya satu kesempatan lagi untuk berubah menjadi yang lebih baik.


***


Alan dan Aras dkk turun meninggalkan motor mereka di jalan beberapa meter dari bangunan lokasi Ava diculik, alasannya agar tidak ada seorang pun yang tahu kedatangan mereka.


Setelah berjalan mengendap-endap, mereka semua sembunyi di balik pohon pisang yang beranak pinak membentuk sebuah benteng di sebrang bangunan, jaraknya cukup jauh, tapi masih bisa melihat keadaan lokasi utama.

__ADS_1


"Di sana ada empat orang jaga, bawa senjata lagi. Gimana caranya masuk?" tutur Ana setengah berbisik.


Uki mengangkat tangan. "Salah satu harus ada yang jadi umpan, terus sisanya nanti ada yang jaga anak cewek, nyerang si penjaga itu, dan nyelametin Ava di dalam bangunan," jelas Uki sebagai perancang strategi yang handal di Molyvdos.


"Fahri, Amin, Rian, dan Tio nanti yang nyerang ke empat penjaga itu, sedangkan Zero yang akan jadi umpannya. Dino, Revan, Bagus, dan Justin yang jagain anak cewek. Gue dan Gilang yang akan ngerekam semua kejadian sebagai barang bukti," lanjut Uki sambil menjunjuk satu-persatu orang yang disebut tadi, mereka semua mengangguk setuju.


"Sedangkan Aras dan Alan yang nolongin Ava. Kalian bisakan, bekerja sama?"


Aras dan Alan saling tatap, kemudian mengangguk setuju.


"Tapi gue pengen ngehajar juga," timpal Safira setengah merengek.


"Nggak usah. Gue cuma nggak mau di sini ada korban. Strategi itu udah benar, nggak boleh digganggu gugat."


Safira mencebikkan bibir, tapi tak apa lah menahan tangannya yang amat sangat gatal, yang penting Ava selamat dulu.


Mereka tak membawa alat apapun, jadi yang mereka hanya menggunakan batang kayu tak terpakai, dan batu yang mereka letakkan di masing-masing saku.


***


Di sisi lain, Zero yang menjadi umpan menggoyangkan semak-semak yang tak jauh dari bangunan.


"Eh itu ada apa di sana?" ucap salah satu penjaga, menunjuk ke arah semak-semak.


"Ayo kita coba liat." Ke tiga penjaga mulai mendekat ke arah semak-semak tersebut yang masing-masing dari mereka membawa sebuah tongkat baseball, sedangkan satu penjaga masih ada di depan bangunan.


Saat sudah cukup mendekat, Zero langsung lari tunggang langgang untuk menyeret para penjaga itu jauh dari sana.


"Ayo kejar gue kalau kalian bisa!"


Para penjaga itu tentu tidak tinggal diam, mereka bertiga spontan mengejar Zero yang sama sekali tidak membawa senjata apa pun.


"Gila! Gue yang jadi umpannya lagi! Mak, jika seandainya anak mu ini tiada! Tolong jangan marah saat emak tahu kalau Zero yang selalu nyolong gorengan di warung untuk di bagikan ke anak-anak Molyvdos. Zero cuma ingin menambah pahala!"


Saat sudah cukup jauh dari bangunan, cowo itu berhenti di tempat yang sudah ditentukan, ia embalikkan badannya, yang sontak membuat ketiga penjaga tersebut ikut berhenti.


"Mau ke mana lo sekarang?" tanya penjaga yang kepalanya botak.


Zero mundur perlahan saat ketiga orang tersebut mendekat dan berniat menghadangnya, menyatukan kedua tangan. "Ampun Bang! Saya cuma anak di bawah umur. Belum juga punya pacar, masa mati duluan?"


Tanpa ketiga penjaga itu sadari saat mereka terfokus pada omongan Zero, ada Fahri, Amin dan Reza yang sudan ancang-ancang siap memukul penjaga tersebut dengan batang kayu. Di tempat yang sama, tapi di sudut yang berbeda juga sudah ada Gilang yang sibuk merekam menggunakan ponsel miliknya.


"Halah! Banyak bacot lo! Dasar bocah ingusan!"


Sebelum para penjaga itu memukul Zero, cowok itu lebih dulu kesal karena ucapan penjaga yang badannya gendut, tampangnya berubah garang. "Wah! Berani-beraninya lo ngatain gue?" Menggulung lengan jaket jeans. "Pocong dan kawan-kawannya udah nungguin kalian tuh di belakang!"


Ketiga penjaga yang gampang ditipu itu langsung menghadap ke belakang dengan sangat santai tanpa ada rasa curiga, kala di belakang mereka sudah ada malaikat maut yang tiba-tiba datang turun ke bumi.


...***...


...Wah! Pada keppo dan nunggu aksi Alan dan Aras dkk dalam misi menyelamatkan Ava, ya?...


...Terus baca dan tungguin aja chapter selanjutnya. Nggak akan pergi kemana-mana kok....


...***...


...Ditulis tanggal 01 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 16 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2