
...
...
Dua mingu setelah mengerjakan UN dengan sangat lancar dan baik, akhirnya para siswa menerima amplop berisi surat keterangan lulus atau tidaknya yang tertera nama mereka masing-masing.
Pulang membawa benda itu mungkin akan menjadi kado terindah bagi para siwa dan siswi SMAN Tri Bakti, orang tua murid serta para dewan guru yang mengajar.
Sudah sekitar tiga tahun lamanya mereka menghabiskan waktu bersama. Di tahun-tahun itu banyak sekali yang terjadi dan tak akan pernah mereka lupakan. Setiap waktu, setiap momen, setiap kejadian, dan setiap foto atau video yang diambil selama tiga tahun itu adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dikenang dan diingat sepanjang hidup, karena itu adalah bukti dan tanda kalau mereka pernah ada dan jaya di masanya.
Para siswa dan siswi SMAN Tri Bakti merayakannya dengan cara mencorat-coret seragam mereka dengan sesuatu yang penuh warna. Nama, tanda tangan, dan tulisan mereka akan selalu terpajang di seragam putih abu-abu tersebut. Hari ini adalah harinya para siswa dan siswi kelas XII karena kelas X dan XI masih diliburkan, para dewan guru pun memberi izin dengan syarat tidak ada keributan.
Bagusnya lagi, para dewan guru menyewakan beberapa fotografer profesional untuk mengabadikan setiap momen-momen yang terjadi saat ini.
Lapangan utama ini akan menjadi saksi atas pertemuan mereka yang terakhir nanti setelah masa SMA benar-benar berakhir, dan akan menjadi tempat istimewa bagi mereka karena di sini mereka dikumpulkan menjadi satu tanpa terhalang apa pun itu. Bertemu di sini dan berakhir di sini juga.
Apa perpisahan SMA sesakit ini? Kenapa setiap perpisahan rasanya sesakit itu? Bukan menyerang fisik, namun batin.
Dino berbalik setelah Ava menuliskan sesuatu di punggung cowok itu.
...Crazy Boy....
...(Nyuuuuut! Itu rasanya saya benar-benar keilangan momen bersama teman-teman saya)...
...(Tanda tangan)...
...Dari gadis tercantik di sekolah, Ava....
Itu yang Ava tulis di punggung cowok itu menggunakan spidol warna biru.
"Berbalik!" suruh Dino yang hendak menuliskan sesuatu di punggung Ava.
...Terima kasih sudah menjadi cinta pertama daya di SMA walaupun tidak diterima, namun Anda berhasil membantu dan mengirimkan cinta yang lain kepada daya. Thanks for everything....
...(Tanda tangan)...
...Dino, siswa yang paling ganteng....
Itulah yang cowok itu tulis di seragam Ava, biarlah nanti gadis itu yang melihatnya sendiri.
Sang gadis kemudian berbalik, seragamnya sudah banyak sekali ornamen yang terpajang. Roknya juga dipenuhi pilok berbagai warna.
"Lo nulis apa?" tanya Ava setelah Dino selesai menulis.
Cowok itu mengangkat alis bangga. "Ada deh pokoknya."
"Lo nggak mau nulisin, ke Maudi?"
Dino tersenyum. "Dia mau nunggu."
"Dino! Sini!" teriak Revan yang tengah berkumpul bersama gadis-gadis dari kelas lain. Bagaimana dengan Safira? Ah, gadis itu mah tidak akan perduli.
"Gue ke sana, boleh?" tanya Dino sebelum ia pergi dari sana
Ava mengangguk. "Silahkan."
Ava menghirup udara sebanyak mungkin, rasanya ia tak mau meninggalkan sekolah yang penuh dengan kenangan ini. Sangat berat rasanya. Ia akan sangat rindu dengan tempat yang ada di SMA ini, seperti taman kecil di belakang sekolah, kantin di bagian pojok kiri, lapangan basket, rooftop, dan kelasnya selama tiga tahun ini. Banyak sekali yang terjadi di tempat istimewa itu.
"Woi! Jangan senyum mulu! Nanti bibir lo kering nggak bisa ditutup!" canda Safira yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Apaan sih?" sewot Ava.
"Jangan di sini mulu. Ayo keliling dan temui teman yang lain."
"Iya, bawel lo!"
__ADS_1
"Gue ke sana dulu," pamit Safira menuju ke arah Revan, Dino, dan gadis-gadis lain.
Sepertinya ada ada monster mengamuk, para anak gadis dari kelas lain menyingkir dan bubar satu-persatu saat Safira datang.
"Lah? Pada kabur?"
"Lo kayak boneka, Annabelle sih!" hina Dino tanpa rasa takut.
"Lah daripada lo kayak, The Boy!" balas Safira tak kalah garang.
"Jangan!" teriak Revan menengahi.
"Kenapa?" tanya Safira.
"The Boy (Brahms) sama Annabelle, 'kan, pacaran. Kalau Dino jadi The Boy, berarti dia pacar lo dong?!"
Dino mendengus kesal, merangkul Safira kemudian membalikkan badan. "Gue emang lebih goblok dari kalian semua, tapi gue nggak sampai seperti itu. Kenapa dia tambah gila gitu ya? Lebih baik nanti lo setrika deh otaknya, biar lurus."
Safira mengangguk. "Gue bom sekalian."
***
Dari jauh Ava hanya bisa tertawa saat Revan dan Safira ribut entah karena apa. Dino bukannya menengahi supaya tidak ribut malah hanya menonton sembari memakan permen.
Ava menbalikkan badannya, langkah nya terhenti dan jantungnya pun seakan ikut berhenti saat ada cowok yang berdiri di depannya.
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Ternyata, perasaan selama tiga tahun itu masih ada, dan sama seperti sebelumnya. Padahal sudah sekitar tiga tahun ini tak jarang berpapasan dengan Alan, tapi jantungnya masih saja bedetak begitu cepat tanpa arah.
Sepersekian detik mata Ava dan Alan bertemu, karena tak mau suasana hancur hanya kerena pertemuan tak sengaja ini, jadi Ava putuskan untuk pergi dari sana.
Tapi, baru beberapa langkah saja sudah ada suara yang berhasil menghentikan Ava.
"Mau bertukar?"
Ada dentuman hebat yang langsung mengenai serta menggema di seluruh ruangan di dalam hatinya. Ava tak menyangka dan tak menduga hal itu sebelumnya. Sudah sekitar dua tahun lebih ia tak mendengar suara itu yang ditujukan untuknya dari sang pemilik.
Ava menundukkan kepala. "Bo-boleh?"
"Boleh," jawab Alan.
Asal kalian tahu saja kalau cowok itu juga sekuat tenaga memberanikan diri berhadapan langsung dengan Ava. Tapi, entah kenapa saat berhadapan langsung dengan gadis itu, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan apa niatnya. Perasaan bersalah tentu masih ada dan dirasakan oleh Alan.
Sang gadis tersenyum penuh haru serta kebahagiaan yang mendalam, membalikkan badan. Dan, saat Ava berbalik sudah ada Alan yang menatapnya datar.
Ava membalikkan badannya lagi.
"Nggak ada celah sama sekali?"
Ava terdiam sebentar. Ia seperti merasakan kalau apa yang diucapkan Alan barusan ada maksud dan arti tersendiri dan terdengar ambigu di telinganya. Ah, entah lah? Mungkin saja ia yang masih sangat berharap. "Lupakan Ava, supaya usaha lo ngga sia-sia. Itu bukan apa-apa dan cuma sugesti lo aja."
"Coba lihat dan temukan sedikit celah di sana, pasti ada." Alan menuruti apa kata Ava, cowo itu akhirnya menuliskan tanda tangan beserta namanya di kerah gadis di depannya.
"Udah."
Ava berbalik menghadap Alan. Kini, giliran cowok itu yang membalikkan badannya membelakangi Ava.
Gadis itu menulis tepat di bagian bawah kerah Alan. Tapi, belum sempat Ava menyelesaikan tulisannya ia sudah dipanggil oleh seseorang.
"Ava!"
Yang dipanggil mendongak, menatap siapa orang yang memanggilnya dari jauh.
"Cepat ke sini!"
"Sebentar!" teriak Ava juga.
"Cepat! Masih ada yang ngantri!" kukuh Safira.
__ADS_1
"Maaf, gue ke sana dulu," pamit Ava sebelum ia meninggalkan Alan dan tulisannya yang belum selesai.
...Gue cuma pengen ......
"Iya," jawab Alan setelah Ava pergi jauh dari sana.
***
"Senyum, Ava!" ingat Ana saat gadis itu sampai di sana.
"Ke arah kamera semua, ya!" suruh fotografer laki-laki itu.
Sesuai arahan, Ava tersenyum sangat manis ke arah kamera. Ke tujuh orang tersebut berfoto sebanyak tujuh kali dengan pose yang berbeda-beda agar nantinya masing-masing dari mereka memegang satu foto. Ava, Safira, Ana, Agnes, Revan, Dino, dan Syarifa.
***
Tenyata, waktu berlalu begitu cepat. Saking cepatnya, bahkan sampai tak sadar kalau mereka semua telah pergi dengan tujuan masing-masing.
Ana dan Agnes menyusul orang tua mereka masing-masing di Amerika dan memutuskan menetap serta melanjutkan sekolah di sana. Tak perlu khawatir, 'kan, keduanya sudah les Bahasa Inggris selama dua tahun, jadi dijamin lancar deh.
Dino, Maudi, Syarifa, Revan, dan sudah pasti Safira melanjutkan sekolahnya di Universitas yang sama, yaitu UI dengan jurusan yang berbeda-beda karena minat mereka juga berbeda-beda.
Bagus dan Justin melanjutkan sekolahnya di ITB. Bagaimana dengan Alan? Ava tak tahu bagaimana kabarnya setelah pertemuan terakhir mereka saat di prom night.
Sedangkan Ava sendiri memilih UGM untuk melanjutkan studi belajarnya ke tingkat yang lebih tinggi. Iya, sama dengan Universitas yang Aras tempati.
Jika Aras masuk di jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik karena itu kemauannya sendiri sekaligus akan melanjutkan bisnis yang ayahnya bangun, Ava justru masuk ke jurusan Sastra karena ingin memperdalam sastra Indonesia serta sastra yang lainnya, mempelajar semuda budaya di Indonesia serta di dunia, dan juga Ava ingin menjadi public speaking yang handal dalam segala situasi apapun. Selain itu juga karena Ava suka membaca buku atau novel, ia juga ingin mengembangkan bakat menggambarnya.
Sudah sekitar satu bulan ini Ava menyandang gelar sebagai mahasiswi UGM.
Saat ini Ava dan Aras ada di lapangan basket utama UGM, karena tadi Aras yang memaksa dan menyeretnya ke sini. Anehnya di sini ada ratusan mahasiswa dan mahasiswi yang mungkin itu adalah fans Aras dan sahabat serta teman Aras baik di gengnya maupun teman biasa selama di UGM. Entah apa yang akan Aras lakukan?
Di belakang punggung Aras juga sudah ada sebuket bunga mawar. Tepat di belakang Ava sudah ada tujuh orang laki-laki diantaranya adalah Uki dan Gilang yang membawa sebuah papan berwarna biru muda.
Aras menarik nafas panjang, kejadian beberapa tahun lalu mengingatkannya akan hal ini. Jadi, saat ini Aras hanya berharap hal itu tidak akan terulang kembali.
"Ava, sudah sekitar tiga tahun lamanya gue menunggu lo, dan gue selalu berjanji kalau gue akan membuat lo bahagia dengan apa pun dan di manapun." Melangkahkan kakinya satu langkah ke depan mendekati Ava.
Baru saja Aras berkata seperti itu, Ava sudah tahu apa yang akan dilakukan cowok itu dan ia akan menjawab dengan sejujur-jujurnya.
"Satu hari pun gue nggak pernah melupakan atau nggak mikirin lo, karena lo selalu ada di pikiran gue kapan pun dan di mana pun gue berada. Di sana lo menjaga hati, dan di sini gue juga menjaga hati. Cuma lo gadis yang bisa buat gue nyaman dan mau menasehati gue yang salah dengan cara lo sendii."
"Gue memang bukan seperti dia yang dari awal tahu semua tentang lo. Gue memang bukan seperti dia yang dari awal perhatian sama lo. Dan, gue memang bukan seperti dia yang sampai saat ini lo kasih ruangan khusus di hati lo. Gue tahu, lo masih belum ngelupain dia dan ruangan khusus itu akan terus ada di sana. Tapi, tolong izinkan gue untuk mencoba lebih keras supaya beban lo akan dia berkurang sedikit demi sedikit."
Mata gadis di depan Aras berkaca-kaca. Ia akan mendengarkan Aras bicara sampai cowok itu menyelesaikan ucapannya.
"Gue hanya minta itu. It's okay kalau lo masih mencintai dia. Gue sama sekali nggak papa, karena manusia memang tidak bisa mencintai satu orang saja," Aras mendekati Ava sampai jarak antara dirinya dan gadis itu sekitar satu meter. "Berbalik."
Ava membalikkan badannya kebelakang, tepat dan beberengan dengan itu sahabat dan teman Aras menganggat papan ke atas sampai tersusun sebuah kalimat pendek.
...Do you want to be my girlfriend?...
Ava membalikkan badannya menghadap Aras, menatap dalam-dalam kedua manik mata cowok itu. Mengambil sebuket bunga dari tangan Aras. "Sesuai dengan apa yang lo mau. Tanpa paksaan, tanpa keraguan, diiringi kepercayaan, dan ikhlas hati luar dalam, kalau gue menerima lo sebagai pacar gue." Ava menjeda kalimatnya, menggelengkan kepala kemudian melanjutkan. "Karena nggak ada alasan lagi untuk gue menolak lo seperti dulu di waktu yang sama, orang yang sama, dan tempat yang sama pula."
Bebarengan dengan hal itu, kedua remaja tersebut langsung disambut keriuhan dan tepuk tangan serta ucapan selamat dari para hadirin yang datang.
Aras langsung memeluk gadisnya dengan sangat erat dan Ava membalas pelukan itu juga. Cowok itu akhirnya lega saat jawaban Ava sesuai dengan ekspektasinya. Ia merasa ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tak sia-sia ia menunggu selama tiga tahun kalau pada akhirnya cintanya terbalaskan.
...***...
...Di sini ada yang mau nunggu kayak Aras nunggu Ava, nggak? Kalau Aku sih tergantung, bisa awet sampai bertahun-tahun sukanya, tapi si doi nya nggak tahu kalau gue suka dia. Ya ... semacam suka dalam diamlah. Sejauh apapun Aku suka sama orang, ngegebet cowok sebanyak-banyaknya, dan pacaran sama siapapun selain si doi, tapi ujung-ujungnya pasti balik lagi ke si doi. Nggak tahu kenapa?...
...***...
...Ditulis tanggal 28 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 3 Juni 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....