Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 22 ~ Danau


__ADS_3

...



...


Setelah selesai makan, Aras mengajak Ava ke sebuah danau di tengah padang ilalang dengan pemandangan yang sangat indah.


...



...


Dibuktikan dengan Ava yang saat ini tengah kegirangan dan berlari ke pinggir danau. Gadis itu menghirup udara dengan panjang.


"Gimana? Lo suka?" tanya Aras memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menatap Ava.


Ava tersenyum lebar, menatap balik Aras. "Iya suka banget! Kak Aras kok bisa nemu tempat kayak gini?"


Aras terkekeh. "Waktu kecil gue sama Papah nggak sengaja nemu ini danau. Saat itu kita lagi jalan-jalan bareng,"


Ava mangguk-mangguk dan hanya ber oh ria sebagai jawaban.


"Ini tempat spesial bagi gue, karena tempat ini tempat gue merenung. Dan lo beruntung karena cuma lo cewek yang gue ajak kesini," ungkap Aras menatap ke arah danau. Tanpa menghiraukan Ava yang menatap dirinya dengan sangat intens.


Wajah Aras terlihat semakin tampan, karena cahaya matahari yang menyinari wajah cowok itu.


Tadi Ava ingin sekali menaiki ayunan restaurant di tengah taman. Tapi Aras mencegahnya, dan akan membawa Ava ke tempat yang jauh lebih indah.


Ava duduk tanpa alas. Mencoba menikmati pemandangan danau dengan tenang. Aras yang melihat itu ikut duduk di samping Ava.


Setelah itu tak ada yang mengawali bicara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ava memainkan rumput ilalang di depannya, sedangkan Aras hanya diam menatap lurus ke depan. Ava sangat tidak suka keadaan canggung seperti ini.


"Kak Aras ..." panggil Ava spontan.


"Apa?" jawab Aras menoleh ke Ava. Sedangkan Ava saat ini menoleh ke arah lain sambil merutuki kebodohannya. Ava bahkan tidak tahu ia harus bicara apa. Ia hanya tidak ingin keadaan canggung seperti ini, "... mikir cepat, Va! Mikir cepat!" lanjutnya dalam hati mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.


Ava kembali menoleh ke Aras. "Keadaan teman Kak Aras yang jatuh kemarin gimana? Terus, namanya siapa?"


"Namanya Indra. Dia udah rawat jalan. Nggak terlalu parah cuma butuh beberapa jahitan di kaki,"


Ava sebenarnya ingin bertanya sesuatu pada Aras. Tapi Ava merasa segan, dan dengan sekuat apapun kali ini Ava akan memberanikan diri untuk bertanya. "Kak Aras kenapa nggak pacaran sama, kak Dinda? Kan, sama-sama most wanted tuh. Juga kalian berdua yang katanya pernah dekat,"


Aras menghela nafas, lalu tersenyum. "Iya, Dinda emang cantik, kaya, pinter pula. Tapi kalau gue dekat sama dia, entah kenapa gue ngerasa kurang nyaman. Karena dia orangnya pencemburu kalau gue berinteraksi sama cewek selain dia,"


"Juga karena di Molyvdos nggak boleh asal pacaran. Syaratnya harus lulus seleksi mulai dari sikap, penampilan, dan hatinya dulu dari anggota inti, kalau udah lulus seleksi baru boleh pacaran. Tapi itu semua nggak berlaku buat si Uki. Lo tahu gimana playboynya dia, sifat Uki yang itu udah mendarah daging,"


Ava tertawa pelan mendengar penjelasan Aras. "Kalau kak Gilang, pernah pacaran?"


Aras menggaruk sikunya yang memang gatal. "Kalau Gilang itu setahu gue belom pernah pacaran. Yaah walaupun dia banyak yang suka, karena katanya kalau pacaran itu ribet, dia sukanya yang simple. Dia maunya pacaran di masa kuliah soalnya ceweknya cantik-cantik kalo di bandingin anak SMA yang ribet juga belum terlalu dewasa,"


Ava tersenyum. "Kak Aras sendiri udah pernah pacaran?"


Aras tertawa. Menatap ke depan lalu ke Ava lagi. "Waktu SMP sih berkali-kali. Tapi kalau SMA belum pernah, karena belum ada yang cocok. Yang deket sih banyak, tapi belum ada yang di rekrut jadi pacar,"


"Cih, berati gue juga dong!" batin Ava menggerutu tidak jelas.


"Mungkin sama lo ..."

__ADS_1


"Hah, apa?" tanya Ava tidak terlalu mendengar ucapan Aras tadi.


Aras tersenyum. "Mungkin sama lo," ulangnya


Ava langsung salah tingkah, pipinya mulai memerah. "Ma-maksudnya?"


Aras berdiri. "Mungkin abis ini lo bakal jadi pacar gue, karena gue ngerasa cocok sama lo,"


Deg


Jantung juga hati Ava tiba-tiba langsung berdisko, pipinya mulai memanas dan bersemu merah.


Cowok itu mengambil beberapa batu lalu melemparkan batu itu sehingga membentuk gelombang air secara berturut-turut.


...



...


Ava menatap Aras lekat-lekat. Cowok di depannya ini sangat sempurna. Walaupun memiliki kekurangan, tapi itu semua tidak terlihat.


"Waktu itu Kak Aras, kak Gilang sama kak Uki minta nomor WhatsApp kita buat apa? Karena kalian sama sekali nggak ngechat kita bertiga,"


Aras berhenti melemparkan batu dan beralih menatap Ava. "Kita bertiga cuma mau nomor kalian doang. Yaa ... masa kita cowok-cowok hits nggak punya nomor cewek-cewek hits?"


Ava langsung tidak enak hati mendengarnya. Gadis itu tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. "Berati gue cuma buat punya-punyaannya doang?!"


Aras yang melihat ekspresi Ava berubah kesal tersenyum kecil. Mendekatkan diri nya di hadapan Ava. "Kalau sama lo ... gue emang mau PDKT. Selain lo cantik, hits dan narik perhatian gue, lo juga polos ..."


"Emang fans Kak Aras nggak marah kalau nanti Kak Aras jadian sama gue?"


"Maka dari itu siswa atau siswi lain rela menempuh jalan apapun agar mereka bisa hits dan eksis. Itu piramida kehidupan sekolah."


Ava diam, gadis itu tertegun mendengar perkataan Aras. Dalam hati Ava hanya bertanya. "Apa memang benar seperti itu?"


"Ayok!" Aras menarik tangan Ava, dan tidak ada penolakan dari sang gadis. Ava bahkan menatap Aras yang menggandeng tangannya.


Aras mengajak Ava ke sisi lain danau. Di sana ada pohon rindang yang di bawahnya ada ayunan, sebuah meja dan dua kursi kayu.


...



...


"Lo duduk nanti gue yang ayunin pelan-pelan," perintah Aras berdiri di belakang ayunan. Bersiap untuk mengayun ayunan.


Ava tersenyum, dengan sigap Ava duduk di ayunan. Aras mulai mengayunkan ayunannya pelan-pelan.


"Tadi kita udah bahas tentang gue. Sekarang giliran tentang lo," ucap Aras menatap puncuk kepala Ava.


Ava mendongakkan kepala nya menghadap ke Aras. "Bahas gue? Emang apa yang perlu di bahas tentang gue?"


Aras berpikir sebentar. "Yaa apa aja ..." jawabnya singkat, "... lo sendiri, pernah pacaran?" tanya Aras.


"Yaa pernah lah. Masa cewek secantik gue nggak pernah pacaran?" jawaban Ava membuat Aras mengetuk kepalanya.


Ava memegang kepala nya. "Sakit, Kak!"

__ADS_1


"Gue bakal tanya tanyain lo dan lo harus jawab dengan cepat ..." Ava mengangguk setuju, "... mantan lo ada yang istimewa atau biasa-biasa aja?"


"Sejauh ini menurut gue biasa-biasa aja. Nggak ada yang istimewa, tapi nggak tahu deh kalau nanti,"


"Lo sukanya Alan atau gue?"


Ava menoleh ke Aras lagi. "Kenapa lo tanyanya gitu?"


"Karena ... gue ngerasa lo sayang sama Alan. Lo lebih perhatian sama Alan dan lebih dekat sama dia ketimbang sama gue,"


"Sebenarnya gue sukanya sama lo. Tapi kalau lo nggak percaya ... itu hak lo sih. Lagipula, kalau gue suka sama Alan, nggak akan mungkin saat ini Kak Aras sama gue di tempat seindah ini,"


Tanpa Ava tahu, Aras tersenyum mendengar pernyataan Ava. "Gue percaya kok ..." Cowok itu berhenti mengayunkan Ava dan berdiri di depan sang gadis sambil mengulurkan tangannya, "... yuk kita jalan-jalan keliling Jakarta atau ke mal gitu? Pokoknya kita jalan-jalan sampai malam."


Ava tersenyum menerima uluran tangan Aras. Mereka kembali ke mobil dan jalan-jalan mengelilingi Jakarta, sesuai perkataan Aras tadi.


***


19:57


Saat ini Ava dan Aras berdiri di depan rumah Ava, karena sudah malam jadi mereka harus pulang dan beristirahat setelah seharian jalan-jalan berdua.


Ava membawa 5 paper bag di tangannya, 4 paper bag lainnya berisi baju, hoodie, sepatu, dan 5 buku novel. Karena mereka berdua tadi siang pergi ke malljuga mampir ke toko buku.


Sedangkan satu paper bag berisi makanan yang di pesankan Aras di restaurant berbintang saat mereka dalam perjalanan pulang. Karena Ava tidak mau mampir-mampir lagi karena dirinya sudah sangat lelah.


"Kak Aras makasih, yaa, udah di belanjain sebanyak ini. Nggak jadi makan malam terus gantinya di pesenin makan, jadi nggak enak nih gue," ucap Ava sedikit malu-malu.


Aras terkekeh pelan. "Nggak usah nggak enak. Wajar karena gue yang ngajak jalan lo. Duit Gue juga nggak habis kok karena belanjain lo,"


Ava tertawa. "Yaudah gih pulang. Terus mandi. Bau minyak wangi nggak akan nutupin bau badan karena seharian kita jalan,"


"Bisa aja lo ingat kata-kata gue tadi di restaurant," Aras melambai-lambaikan tangannya, dan di balas Ava dengan lambaikan juga


"Bye."


Aras dan mobilnya menjauh dari pekarangan rumahnya. Aras sudah pergi tapi Ava masih setia berdiri di depan gerbang. Ia memikirkan sesuatu.


Ava menghembuskan nafas kasar. Menatap bekas kepergian Aras yang sudah tidak terlihat lagi.


"Gue senang, tapi kok gue ngerasa kayak ada yang aneh? Tapi nggak tahu itu apa? "


...***...


...Hai! Hai! Udah sampe chapter 22 loh ini, gimana perasaan dan tanggapan kalian? Jawab di kolom komentar, yah!...


...Oh, iya! Aku mau kasih tahu sama kalian semua para readersku yang tercinta, nanti Aku bakal sering-sering nulis kayak ginian setelah secroll-an chapter selesai. Tujuannya apa? Ya ... tujuan Aku cuma satu, yaitu supaya readers dan author bisa saling berkomunikasi satu sama lain, dan semakin mempererat hubungan tali silaturrahmi....


...Jadi ... nggak papa, 'kan? Atau kalian merasa terganggu dengan hal itu? Soalnya, 'kan, Aku lihat di lapak lain ada readers yang nggak suka dan marah-marah kalau ada yang seperti ini, katanya sangat mengganggu saat membaca cerita. Padahal, 'kan, tujuannya baik gitu, supaya raeders bisa lebih akrab sama authornya, selain itu juga para readers lebih merasa dihargai karena adanya komunikasi....


...***...


...Ditulis tanggal 16 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 23 Februari 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2