
...Hai! Aku balik lagi nih! Tiap hari juga pasti up kok! Tapi nanti pas hari raya kayaknya Aku nggak up, jadi nanti satu hari sebelum itu Aku up- nya langsung sekitar tiga atau empat....
...Enaknya sebelum baca like dulu kali, ya? Supaya Aku nya juga tenang, dan kalian nggak bingung tadi udah like apa enggak. Gampang kok, tinggal pencet....
...Makanan Apa yang paling kalian nggak suka?...
...Kalian sukanya buah apa? Kalau Aku suka semua buah....
...***...
...
...
Karena ban motor Ava bocor jadi mau tidak mau gadis itu harus menaiki angkutan umum.
Setelah membayar sebesar dua ribu rupiah pada sang kenek, gadis itu perlahan lahan turun dari bus.
(Itu adalah tarif khusus untuk anak sekolah, mau jauh mau dekat, ya ... bayarnya cuma dua ribu doang. Soalnya Aku bayarnya pun juga segitu kalau naik bus. Murah, 'kan? Awokawokawok)
Kembali ke topik cerita ...
Dan, bersamaan dengan itu ada Alan dan Natalie yang lewat, Ava tersenyum antara licik dan tersenyum jahil.
Saatnya beraksi! seru gadis itu dengan semangat di dalam hati.
Ava pura-pura terpeleset lalu jatuh di atas paving dengan (maaf) pantatnya yang menyentuh tanah lebih dulu. "Aduh!!" ringisnya pura-pura kesakitan.
Alan dan Natalie sontak menoleh secara bersamaan.
Ava menatap sekelilingnya, mata melas gadis itu bertemu dengan mata tajam Alan. "Bantuin dong!" rengeknya sambil mengulurkan kedua tangan.
Tak ada tanda-tanda Alan akan mendekat atau membantu Ava, sedangkan di sampingnya Natalie mencekal kuat lengan seragam Alan agar cowok itu tidak membantu gadis tersebut.
"Pagi-pagi udah drama aja lo, ya?!" cibir Natalie.
"Enggak! Ini beneran sakit kaki gue, Cacing Kawat!" hina Ava tidak mau mengaku dan mengalah, justru lebih galak lagi.
"Ava, lo kenapa?!" Dengan sangat tiba-tiba Aras datang lalu berjongkok di hadapan Ava.
Gadis itu sedikit terkejut akan kedatangan Aras. "Ja-jatuh kepeleset tadi." Gadis itu tersenyum paksa lalu membantin, *Y*ah gagal dah.
Tanpa aba-aba apapun Aras langsung menggendong Ava ala brydal style.
Hal itu membuat Ava terkejut bukan main, ditambah tubuhnya yang mulai terasa menegang. "Eh-"
"Udah, lo diam aja, gue bawa lo ke uks," potong Aras dengan cepat sebelum gadis di gendongannya ini protes.
Aras menatap Ava yang juga menatapnya canggung. "Kalungin tangan lo di leher gue."
"Ta-tapi ...."
"Kalungin, Ava."
Ava mengangguk lalu mengalungkan lehernya.
Aras tersenyum senang saat Ava menuruti perintahnya. "Gadis pintar."
Kalian tentu sudah bisa menebak kenapa Aras melakukan ini. Alasannya cuma satu, yaitu membuat Alan cemburu, itu adalah salah satu keahlian yang sudah sangat dikuasai Aras.
Ava menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Alan saat Aras melewati cowok itu dan gadis menyebalkan di sampingnya.
Mulut Ava berbicara tanpa suara, hanya mulutnya yang komat-kamit berkata, "Maaf."
Tapi, sayangnya tak ada raut kecemburuan di wajah Alan, yang ada itu, raut wajah menyebalkan dan menjengkelkan dari Natalie.
__ADS_1
Kalau menurut Ava sih raut wajah Natalie seperti korban pencurian pakaian dalam karena saking kusutnya.
***
Aras mendudukkan Ava di ranjang uks.
"Makasih, ya, Kak udah bantuin gue tadi."
Aras mengangguk memperlihatkan dereten gigi putih nan rapi miliknya. "Iya sama-sama."
"Oh iya! Bentar, Kak." Ava mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, menyodorkan tas warna hitam yang dilipat sampai sekecil mungkin dan laptop dengan brand terkenal (Apel kroak). "Ini kemarin ketinggalan."
Aras menerimanya diiringi nada keterkejutan. "Oh iya! Maksih banyak udah dianterin." Menatap Ava. "Lo lipat-lipat gini, biar muat?"
Ava mengangguk pelan. "Hehe, i-iya." Daripada keadaan menjadi canggung seperti ini lebih baik Ava putuskan untuk pergi ke kelas saja. "Eum ... Kak, gue balik yah!"
"Kan, kaki lo masih sakit."
Ava turun dari ranjang lalu berdiri. "Udah nggak papa tuh." Gadis cengeng itu meloncat-loncatkan kakinya agar Aras percaya kalau ia tidak apa-apa.
Lah, 'kan, emang nggak papa soalnya itu cuma pura-pura doang untuk menarik perhatian Alan. Eh ... malah Aras yang datang menolong, gagal deh rencananya.
Aras menatap kaki Ava heran. "Cepat banget sembuhnya? Yaudah, sana ke kelas, udah mau bel." Mengacak rambut gadis itu.
Setelah berpamitan Ava hanya bisa memberikan cengiran tak berdosa. "Bye, Kak Aras!" Berlari tunggang langgang dengan kecepatan maksimal.
***
"Lan mendingan lo ke uks aja, daripada lo nanti pingsan di sini, 'kan, berabe," tutur Justin setelah mengecek suhu tubuh Alan yang sangat panas. "Lagian, lo sih! Udah disuruh istirahat beberapa hari di rumah, masih aja ngeyel! Kambuh lagi, 'kan, penyakit lo!"
"Bawel lo ah!" cibir Alan saat Justin memapahnya ke uks.
"Gue bantuin," celetuk Natalie yang akan memegang lengan Alan tapi langsung ditepis Justin.
"Nggak usah! Malah tambah sakit nanti Alan nya!"
Kata-kata Justin sungguh sangat menohok bagi perempuan suci seperti dirinya, gadis itu menghentakkan kaki juga mencebikkan bibir. Ck! Ck! Suci darimananya coba? Dilihat dari ujung (maaf) anus aja nggak kelihatan.
"Lan bangun, Lan!" Justin menepuk-nepuk pipi Alan agar cowok itu sadar, menatap sengit ke arah Natalie yang panik sendiri. "Woi bantuin dong! Panggilin yang jaga uks, jangan diam aja di situ panik nggak jelas kayak nahan berak!"
"H-hah? I-ya!" Natalie langsung lari secepat kilat menuruni anak tangga satu-persatu, ia tentu tidak mau sang pujaan hati mati terlebih dahulu.
***
Ava yang sedang makan siomay di kantin bersama teman-teman lainnya langsung terkejut saat Justin datang menggebrak meja mereka. Nafas cowok itu juga tersenggal senggal seperti dikejar setan.
"A-Alan!"
Ava menghentikan acara makannya. "Alan kenapa, Justin?"
"Alan pingsan karena penyakitnya kambuh dan sekarang lagi ada di uks!"
Ava ingin menyusul tapi ia terlihat ragu, karena takutnya ada Natalie yang sudah menjaga Alan.
"Lo tenang aja, di sana nggak ada Natalie karena gue udah urus tu cewek, jadi dia bakal lama baliknya," jelas Justin seolah mengerti apa yang Ava pikirkan.
"Makasih, Justin!" Ava berlari secepat kilat ke uks untuk menjenguk Alan.
Justin meminum entah minuman milik siapa yang penting ada di meja. Tenggorokannya kering dan sangat butuh cairan karena habis teriak-teriak serta berlari ke sana ke mari.
"Lo apain, Natalie? Lo bunuh?" tukas Bagus yang mendapat hadian tonyoran dari Justin.
"Gila, lo? Walaupun gue benci dia tapi gue nggak sampai hati ngebunuh anak orang!"
"Lha terus Lo apain dia nya?" tambah Safira yang mulai penasaran.
Justin bersedekap dada lalu tersenyum jahil. "Gue suruh dia beli obat di samping spbu depan restaurant yang dekat rumahnya Revan sambil bilang 'Alan hanya bisa cocok dengan obat di toko itu", ogebnya lagi, tu cewek percaya apa yang gue omongin. Gila nggak tuh?" justin tertawa ngakak sampai perutnya terasa keram. "Bhahahahahha! Awokawokawok! Kerenkan, ide gue!"
__ADS_1
Tawa Justin yang ngakak seperti itu nular ke teman-teman yang lainnya, jadi tawa Revan, Dino, Ana, Agnes, Safira, Syakira, dan Bagus langsung pecah seketika di sana.
"Bhahahahahahaha!!"
"Gila lo, Tin! Itu, 'kan, jauh banget! Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di sana!" celetuk Revan yang masih tertawa.
"Ngakak banget tadi liat wajah Natalie yang kayak orang lola yang nahan berak saking takutnya!"
"Dirimu sangat tidak berperikesetanan."
"Bagus sih idenya, tapi kasihan juga dibohongin."
"Biarinlah, salah sendiri dia nyakitin."
"Berani-beraninya dia lawan kita! Nggak tahu kita siapa?"
"Emang siapa?"
"Remahan rengginang lah!"
"Bhaks, naks alay!"
***
Ava membuka pintu uks perlahan-lahan, takutnya nanti ada yang terganggu, sekalian was-was kalau Alan bangun.
Di lihatnya Alan yang terbaring lemah di atas ranjang uks dengan mata terpejam, wajah yang sangat pucat, bibirnya juga kering, dan juga ada keringat di dahi cowok itu.
"Panas," ucap Ava saat meletakkan punggung tangannya di dahi Alan.
Ava menuangkan air hangat dari termos ke baskom besi yang ada di atas nakas secukupnya, mengambil handuk kecil di lemari lalu mengompres Alan agar demam cowok itu sedikit-demi sedikit turun. Ava juga mengoleskan bibir Alan dengan air minum dari dalam gelas di atas nakas agar bibir Alan tidak terlalu kering.
Setelah itu Ava duduk di kursi samping ranjang uks, memegang erat-erat tangan Alan seolah tak akan pernah melepaskannya. Ini adalah satu-satunya kesempatan Ava untuk bisa dekat dengan Alan dan memegang tangan cowok itu. "Lo sakit apa sih? Cepat sembuh, ya, jangan sakit terus, karena kalau lo sakit, nantinya gue ... bakal susah liat lo."
"Apa ini arti mimpi saat gue yang lihat lo ketabrak truk biru waktu itu? Dan, lo malah jadi sakit kayak gini. Atau ..." jeda Ava beberapa detik karena tak kuasa melanjutkan, "... atau itu tanda dari, Tuhan, kalau gue sama lo nggak akan bisa bersama di dunia yang kejam ini?"
Gadis itu terkekeh pelan sembari mengelus rambut Alan yang sedikit berantakan. "Gue sangat takut, Alan. Gue takut kalau nanti, Tuhan, mematikan hati gue untuk memperjuangkan lo, gue takut saat gue berhenti berharap sama lo, dan gue juga takut kalau, Tuhan, membuat kita nggak bisa ketemu lagi. Gue ingin tidak tidur, karena gue takut kalau, Tuhan, berkehendak seperti itu. Gue sangat ingin kalau ini adalah sebuah mimpi dan hanya ketakutan gue saja, supaya saat bangun nanti, gue nggak kehilangan semuanya."
Mata gadis itu berkaca-kaca, selain takut Alan kenapa-napa, Ava juga tidak tega melihat keadaan Alan yang seperti ini. Ava ingin melihat Alan yang seperti dulu, Alan yang suka tertawa tanpa memperlihatkan sisi cuek, Alan yang selalu perhatian padanya, Alan yang selalu menuruti semua kemauannya, dan Alan yang suka meminta maaf duluan bahkan jika Ava yang melakukan kesalahan.
"Apa lo sakit karena, gue? Apa gue terlalu terlihat kalau gue memaksa lo untuk terima gue lagi? Itu beban, buat lo?"
"Kalau itu memang benar, gue bisa mengurangi semua yang berlebihan atas perlakuain gue ke lo, kalau lo nggak nyaman, Alan. Tapi, kalau lo minta gue ngejauhi dan ninggalin lo, maaf ... karena gue belum bisa. Apapun bakal gue lakuin supaya lo bisa nerima gue tanpa paksaan dan tanpa beban."
"Gue akan selalu di sisi lo, tapi ... saat gue lelah pun gue hanya bisa diam dan menatap dari jauh tanpa bisa melihat dari jarak dekat seperti sekarang. Gue juga berharap sama, Tuhan, supaya gue nggak diberi rasa lelah untuk memperjuangkan lo, karena saat, Tuhan, memberi rasa lelahnya ke gue, itu bakalan jadi salah satu hari terberat dan tersakit seumur hidup gue karena saat itu juga gue harus berhenti berharap, mengingat, mempertahankan, dan merjuangin lo."
"Alan, lo tahu betapa sayang dan cintanya gue ke lo, tapi ... kenapa lo masih belum bisa melihat semua itu? Buka hati dan mata lo lebar-lebar, Alan. Apa semua itu belum cukup sehingga lo nggak bisa sama, gue?"
Perlahan-lahan kepala Alan bergerak ke kanan dan ke kiri. "Nat, jangan tinggalin gue sendirian, gue sayang dan cinta sama lo." Seraya mempererat pegangan tangan Ava yang ditautkan ke tangannya.
Tangis Ava semakin deras di sini dan saat ini juga. "Bahkan ... saat lo sakit pun, yang lo panggil adalah nama Natalie. Apa benar-benar nggak ada kesempatan buat, gue? Kalau lo nggak bisa melihat dengan mata, coba lo lihat dan rasakan dengan hati lo ... kalau yang ada di sini itu gue, bukan Natalie. Kalau boleh jujur, hati gue rasanya sakit dan perih saat melihat lo sama Natalie berduaan, ketawa, jalan, dan makan bareng. Lebih sakit lagi saat lo manggil nama Natalie di depan gue sendiri, Alan."
Perlahan-lahan juga Ava melepas tautan tangannya dari tangan Alan, gadis itu hanya tidak ingin berlama-lama di uks karena takutnya Alan terbangun lalu melihatnya di samping cowok itu dengan air mata yang membasahi pipi.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Ava seolah berbicara dan bertanya pada Alan, "Dan ... kenapa lo jahat banget ke gue sampai lo ngedeketin dan pacaran sama gue hanya karena rasa penasaran? Semisterius dan semenarik itukah gue di mata lo? Sampai, lo juga mencari tahu apapun tentang gue." Kali ini Ava benar-benar pergi dari sana dengan cairan bening yang tak kunjung surut dari sumbernya.
...***...
...Mau disudahi nggak sakit hati yang Ava rasakan? Atau pada mau lanjut aja?...
...Atau malah mau lebih ditambah lagi rasa sakit hati yang Ava rasakan? Tapi, apa kalian sanggup dan kuat untuk membacanya?...
...***...
...Ditulis tanggal 04 Mei 2020...
...Dipublish tanggal 04 Mei 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....