Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 40 ~ Permintaan Maaf


__ADS_3

...



...


08:13


Seperti biasa, rutinitas setiap hari libur ketiga gadis remaja itu adalah bersih-bersih rumah, agar rumahnya juga tidak terlalu kotor.


Ava kini tengah mencuci piring. Ada Agnes juga di sampingnya yang baru saja memasukkan daging ayam kepanci untuk dibuat sup ayam super pedas.


Agnes menghela nafas kasar, lalu menatap gadis di sampingnya dengan malas. "Ava, biar gue aja sini. Lo kalau nyuci piring mah suka ngabisin air," Seraya merebut spons dari tangan Ava.


Ava memang begitu, gadis itu selalu mengalirkan air dengan volume cukup deras saat mencuci piring.


"Lo ke belakang aja, bantuin Ana ngejemur baju," suruh Agnes tepat setelah mengambil alih untuk mencuci piring.


"Iya. Bawel lo." dengus Ava yang kemudian berjalan ke arah belakang.


Di belakang rumah, bisa ia lihat ada Ana yang tengah menjemur pakaian. Ava berjalan mendekati untuk membantu sang sahabat.


"Lo kalau ngejemur baju di jerembeng dong! Jangan asal di sampirin, nanti nggak kering dan jadinya berkerut-kerut." protes gadis yang baru saja sampai di sana.


"Yaelah, tinggal lo rapiin aja." balas Ana tak kalah sewot.


Ini nih jadinya kalau sesama jenis disatukan, nggak akan pernah akur dan nggak mau ngalah satu sama lain. Dari Ana dan Agnes, Ava itu lebih dekat dengan Agnes, tapi sayangnya mungkin Agnes lebih dekat dengan Ana, dan Ana nya sendiri pun lebih dekat dengan Agnes. Lingkaran persahabatan ketiganya persis seperti cinta segitiga tapi bedanya Ava yang merasa seperti orang ketiga. Malang nasibnya.


***


Alan kini tengah menjalankan motornya menuju rumah Ava. Cowok itu tidak mau gadisnya terus-terusan marah dan mengabaikannya. Jadi, Alan harus menurunkan sedikit egonya, dan mengalah untuk Ava.


***


Gerbang rumah Ava sendiri sudah terbuka lebar, jadi Alan langsung masuk ke pekarangan rumahnya kemudian berdiri di ambang pintu tanpa melepas helm.


Tok


Tok


Tok


Agnes yang baru selesai mencuci piring menoleh. "Siapa pagi-pagi udah datang ke sini?"


Daripada penasaran, sang dewa langsung saja keluar menemui sang raja. Iya, jika tamu adalah raja, maka sang pemilik rumah adalah dewa. Pangkatnya lebih besar.


"Alan, ngapain ke sini?"


Sedangkan yang ditanyai malah memasukkan kedua tangan ke dalam saku hoodie. "Mau ngajak Ava jalan."


Agnes tersenyum sangat lebar mendengar hal itu. Sifat cowok di depannya ini memang sangat manis. Ia jadi iri karena Iqbal tak pernah mengajaknya jalan.


"Ava, ada teman lo datang!" teriak Agnes tanpa rasa malu sedikit pun. Kalem sih memang, tapi terkadang tidak punya malu.


Sedangkan yang dipanggil pun buru-buru datang, meletakkan pakaiannya lagi ke dalam ember. Padahal tadi udah mau dijemur.


"Siapa?" tanyanya saat ada Agnes yang masih berdiri di ambang pintu.


Gadis yang di tanyai menggeleng pelan. "Nggak tahu. Nggak kenal." Pergi dari sana mengecek sup yang ia masak.


Ana yang sudah selesai menjemur pakaian menyusul Agnes yang tengah mengaduk-aduk sup. "Siapa?"


"Alan."


***


"Ngapain ke sini?" sewot Ava kemudian melipat kedua tangan di depan dada saat melihat Alan berdiri menatapnya.


"Mau ngajak lo jalan,"


"Nggak bisa. Gue sibuk," jawab Ava datar kemudian berbalik ke arah berlawanan.


Tapi, sebelum itu terjadi, Alan bahkah dengan cepat sudah menarik tangan kiri Ava yang membuat gadis itu otomatis jatuh ke pelukan dan dekapan hangat cowok di depannya.


"Gue tahu lo marah, jadi gue mau kita baikan lagi ..."

__ADS_1


Ava terdiam, bukannya ia tidak menghargai atau tidak mau menjawab Alan, tapi untuk saat ini gadis itu lebih ingin merasakan aroma manis dari parfum yang saat ini membalut tubuh cowok di depannya.


"Kalau lo nggak suka, gue akan usahain untuk nggak negabantu atau berurusan sama Natalie. Tapi, lo juga harus janji nggak akan berurusan lagi sama kak Aras. Gimana?"


Ava mendongak, menatap Alan dengan ekspresi cukup sendu. Ada kilatan rasa bersalah yang terpancar di sana. "Iya. Gue juga janji nggak akan berurusan sama kak Aras lagi. Apa yang lo ucapin kemarin memang benar, kalau gue kekanak-kanakan dan terlalu mengekang lo. Gue bahkah nggak pernah pengertian sama lo. Maaf ..."


Cowok itu semakin mengeratkan pelukannya dan dibalas Ava juga. Tidak terlalu menyatu karena ada dua gumpalan daging cukup besar milik Ava yang menghalangi keduanya. Katakanlah Alan merasakan hal itu, karena memang iya. Karena pada dasarnya semua cowok di era sekarang itu mesum, tidak ada yang benar-benar suci.


Karena tinggi badan Ava hanya sebatas dada Alan, jadi gadis itu tentu bisa sangat jelas mendengar detak jantung cowok yang tengah dipeluk dan memeluknya sekarang.


"Nggak papa. Gue juga minta maaf, jadi sekarang kita baikan?" Seraya melepas pelukan hanga nya dari Ava. Jika tidak begitu, Alan tentu akan sangat berdosa dan merasa bersalah saat ia terlalu menikmati sentuhan itu.


"Iya, kita baikan. Yaudah, gue mau ganti baju dulu. Lo mau masuk ke dalam atau di sini aja?"


Alan menimang-nimang hal itu, jika ia di dalam pasti akan bertemu dengan Ana dan Agnes dan nanti ia akan ditanyai berbagai macam pertanyaan, belum lagi rasa canggung yang juga pasti akan datang. Jadi cara yang aman adalah menunggu di luar. "Di sini aja,"


Gadis itu mengangguk, tapi sebelum Ava benar-benar masui ke dalam rumah Alan menarik tangannya lagi. Sang gadis menoleh lagi. "Kenapa?"


"Lo lagi diserang Accismus, ya?"


"Accismus?" ulang Ava tidak mengerti dan sama sekali tidak paham.


"Iya. Accismus itu keadaan di mana seseorang pura-pura tidak tertarik dengan sesuatu atau seseorang tapi sebenarnya orang itu sangat tertarik dengan hal tersebut."


Karena Alan ngomong gitukan Ava jadi salah tingkah sendiri. Gadis itu melepas cekalan tangan cowok di depannya. "Apaan, sih?" Masuk ke dalam rumah dengan keadaan rona pipi yang terlihat begitu merah.


Setelah kepergian Ava yang masuk ke dalan rumah, Alan mendudukkan dirinya di kursi sembari mengulas senyum tipis. Super tipis dan juga singkat sesaat setelah Agnes tiba-tiba menyembul dari balik pintu.


"Tadi, lo senyum? Apa yang bikin lo senyum kayak gitu?"


Wajah Alan yang kembali datar seperti semula menghadap lurus ke depan. "Gue nggak senyum."


Dengan jawaban dan gelagat aneh yang cowok di depannya tunjukan, hal itu semakin membuat Agnes curiga.


***


Setelah bergelut dengan semua pakaiannya, gadis itu akhirnya memutuskan untuk memakai hoodie warna navy pemberian Alan, celana jeans hitam panjang, sneakers putih, dan topi warna biru muda yang kemarin ia beli dengan cowok itu di mal.


Ava sengaja memang berpakaian seperti itu karena tadi Alan juga memakai hoodie warna hitam, celana jeans panjang berwarna hitam, sneakers hitam berpolet putih, dan topi berwarna hitam yang juga dibelinya bersamaan dengan sang gadis saat di mal.


"Yuk!" ajak Ava semangat setelah memakai helm legend warna merah.


Alan bangkit dari duduknya, kedua remaja itu lantas segera menaiki motor dan menuju ke suatu tempat yang sudah dipilih oleh Alan.


Gadis itu juga sengaja tidak membawa tas karena terlalu meribetkan. Uangnya ia taruh di dalam saku celana bagian depan, sedangkan ponselnya ia letakkan di kupluk hoodie cowok yang tengah memboncengnya. Kantong itu akhirnya berguna juga meletakkan sesuatu.


***


Selama perjalanan, Alan terus saja menatap sang gadis dari kaca spion. Ia sendiri merasa tidak aman dan tidak nyaman saat Ava meletakkan pundaknya di bahu kanan Alan, dan nafas gadis itu juga berhembus mengenai lehernya. Percaya atau tidak, itu sungguh menyiksa.


Alan menghentikan motornya bersamaan dengan puluhan pengendara lain karena lampu sedang merah.


"Va," panggil cowok itu pelan.


Yang dipanggil menatap Alan dari kaca spion. "Apa?"


"Leher lo,"


Kening gadis itu berkerut. Memang ada apa dengan lehernya? Sepertinya baik-baik saja. "Kenapa leher gue?"


"Jangan taruh leher lo di bahu gue dan jangan hembuskan nafas lo ke leher gue,"


Ava menurit saja, tapi tentu ada pertanyaan yang ingin ia sampaikan. "Kenapa, kok nggak boleh?"


Lampu sudah menunjukkan warna hijau, tidak terlalu bersamaan dengan pengendara lain Alan menjalankan motornya. "Nggak boleh aja,"


"Ya nggak boleh itu pasti ada alasannya, Alan ..." elak Ava membantah pernyataan itu.


"Kaum hawa nggak akan ngerti,"


Saat cowok di depannnya mengatakan hal itu, Ava sebagai wanita, 'kan, jadi semakin penasaran. "Ish apa, sih? Ayo jelasin,"


"Cewek nggak perlu tahu, Ava ..."


"Ya perlu lah, karena gue nggak tahu makanya lo kasih tahu biar gue tahu,"

__ADS_1


"Nggak perlu, nanti lo juga tahu sendiri,"


"Hal yang nggak senonoh, ya?" tukas Ava asal nyeletuk.


"Bukan,"


"Terus apa?"


"Nanti juga lo akan tahu kok,"


"Dasar pelit. Udah peling ngomong, pelit ngejelasin, pelit nggak ngasih tahu lagi,"


"Diam. Nanti jatuh." suruh Alan saat gadis di belakangnya dengan sembrono menggoyang-goyangkan kepalanya yang terbungkus helm.


Ava terkekeh pelan, kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri kemudian mendongak ke atas. "Nggak apa-apa! Asalkan jatuhnya sama lo, Alan!"


Dari balik kaca helm cowok itu sendiri tersenyum simpul. Tertegun sekaligus heran dengan tingkah gadis di belakangnya yang semakin gila.


"Semakin ke sini, lo semakin menarik gue lebih jauh."


***


Kedua remaja itu kini ada di sebuah cafè yang dulu pernah didatangi mereka berdua saat Ava kelaparan karena menunggu Aras datang, dan beruntung karena Alan datang dengan motor matic nya kemudian mengajak Ava ke sini.


Masih ingatkah kalian tentang insiden itu? Tiba-tiba saja Ava teringat kembali. Insiden yang sungguh memalukan saat Alan yang harus membayar semua pesanan Ava karena gadis itu tidak membawa uang.


Dan, karena kedua remaja itu belum sarapan, jadi mereka putuskan untuk sarapan di sini saja.


Ava memesan chiken shandwich, roti bakar selai alpukat, dan jus alpukat sedikit gula banyak susunya tapi tidak terlalu manis, selalu. Sedangkan Alan memesan shandwich kornet, roti bakar selai kacang, dan jus buah naga.


"Terima kasih." tutur Ava sopan setelah pelayan perempuan itu selesai menyajikan pesanan mereka di meja.


"Iya, sama-sama." balas pelayan perempuan itu seraya tersenyum kemudian pergi dari sana.


Keduanya mulai makan tanpa ada halangan dan tanpa ada yang bicara. Hanya sesekali terdengar suara dentuman alat makan yang saling bergesekan.


Hal itu seakan sudah menjadi kebiasaan keduanya. Tetap diam dan tenang saat makan tanpa di iringi canda dan tawa. Mencoba menikmati dan bersyukur akan apa yang ada di depan mereka.


For your information kalau kalian ingin tahu, bahwa ponsel Ava masih tersimpan di dalam kupluk hoodie Alan.


***


Beberapa menit sudah berlalu. Remaja laki-laki dan perempuan itu juga sudah menyelesaikan semua rutinitas paginya.


Ava meminum jus alpukat miliknya yang masih tersissa separuh. "Alan,"


"Hmm," dehem cowok itu tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih yang ia pegang sekarang.


"Lihat sini dong!" gemas Ava kesal.


Alan mendongak sambil menyimpan hp nya ke dalam saku celana. "Apa?"


Kedua tangan Ava dilipat di atas meja. Menyeringai ke arah cowok di depannya. "Tadi, lo bilang kalau hari ini terserah gue mau kemana, iya, 'kan?"


Alan mengangguk pelan. Sebelum ke sini ia memang sudah janji pada Ava.


"Kita ke toko ice cream yang baru buka kemarin yuk. Pasti keren di sana, nggak cuma ice cream doang sajiannya, tapi ada berbagai macam makanan manis kayak permen kapas, gulali, coklat panas, loli pop, berbagai rasa coklat, buah-buahan, cookies, cake, dan masih banyak lagi. Mau, yah?!"


Entah kenapa, tiba-tiba saja Alan teringat akan kejadian dua hari yang lalu saat Ava mengerjainya dan berakhir gadis itu menangis ketakutan karena cowok itu membalas mengerjainya. "Tapi, lo jangan ngerjain gue kayak waktu itu. Okay?"


Gadis di depannya mengangguk antusias. "Iya, janji nggak akan kayak gitu lagi!"


Alan mengulas senyum tipis.


Keduanya sama-sama bangkit dari kursi. Ava mengekor di belakang Alan seraya tersenyum lebar saat cowok itu menuju kasir untuk membayar semua pesanan mereka.


...***...


...Ditulis tanggal 23 Juli 2020...


...Dipublish tanggal 26 Maret 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2