
...
...
Lima orang kini sudah duduk di sofa, karena mereka semua akan bermain permainan Truth Or Dare seperti kemarin saat di sekolah. Bedanya kali ini mereka menggunakan botol kaca yang diletakkan di atas meja.
Permainan itu tentu dimainkan tanpa Alan, karena cowok itu sekarang tidur di kamar Ava untuk beristirahat akan insiden kesengajaan tadi.
Alan tidak marah pada Ava karena cowok itu percaya bahwa gadisnya tidak berniat sama sekali untuk menyakiti Alan, karena Alan juga tahu kalau Ava sangat peduli dan sayang padanya.
Sedangkan Ava juga percaya bahwa Alan tidak akan keppo dengan isi kamar Ava. Karena takutnya cowok itu melihat isi lemari Ava yang di dalamnya ada banyak sekali pakaian dalam. Belum juga ada kotak berisi barang-barang pemberian Aras yang ia letakkan tepat di bawah bad kasurnya.
Ava hanya tidak mau Alan salah paham dengannya bahwa ia masih menyukai Aras karena nyatanya Ava hanya mencintai dan menyukai Alan. Jadi, gadis itu hanya berdoa dan berharap dalam hati bahwa Alan tidak akan menemukan kotak tersebut.
***
Orang yang memutar botol adalah Ana, semua orang yang ada di sanapun dengan seksama menatap ujung botol akan berhenti di mana. Tentu saja dengan hati yang sangat deg-degan.
Tapi detik berikutnya, sorak dan teriakan menggema di seluruh rumah karena ujung botol itu mengarah pada Ava.
"Truth."
Buru-buru Agnes menyahut. "Ok, gue yang tanya yah. Hal apa yang lo sesali semasa sekolah? Hal apa yang paling banget lo mau ulang di masa sekolah? Dan, hal apa yang lo nggak sukai saat masa sekolah?"
Gadis itu terkekeh pelan. "Banyak banget? Sengaja, ya, lo?"
"Iya, sengaja. Senang, 'kan, lo?"
Ana tersenyum seolah mengejek sang sahabat. "Ayo jawab dong, Ava."
Ava tahu Agnes dan Ana saat ini tengah mengerjainya, karena kedua sahabatnya pun juga sudah tahu apa jawaban Ava. Karena itu adalah salah satu pembahasan yang sudah satu tahun tidak disukai oleh Ava. Gadis itu terkadang suka sedih, menyesali, dan murung ketika mengingat hal tersebut
"Ada apa, sih? Kok kayaknya susah banget ngejawab itu?"
"Iya, ada apa? Gue jadi penasaran nih," timpal Bagus yang juga ikut penasaran.
Ava menunduk tapi detik berikutnya gadis itu mendongak sambil memperlihatkan sebuah senyum menawan.
Di sisi lain, ada Alan yang tengah mengamati isi kamar Ava sambil berbaring. Cowok itu sama sekali tidak tidur dan hanya rebahan saja.
Sejak dari tadi Alan cukup penasaran dengan lemari kecil warna putih di samping rak novel milik Ava, karena sebelumnya ia belum pernah melihat lemar itu.
__ADS_1
Alan bangkit dari tidurnya kemudian berjalan ke arah lemari tersebut, ditatapnya lemari itu dari atas sampai bawah. Tangan cowok itu terulur untuk membuka lemari tersebut, tapi sayangnya lemari itu terkunci.
Alan menghela nafasnya, cowok itu menyerah kemudian beralih berdiri di depan jendela sambil memandangi lingkungan sekitar.
***
"Ada lima hal yang gue sesali selama sekolah, yaitu saat gue ngeganggu ketenangan teman-teman gue, yang di mana mereka nggak pernah ngeganggu gue."
"Gue, 'kan, punya teman yang sebutannya 4 Sekawan, isinya itu ada empat orang laki-laki yang udah dari lama bersahabat. Salah satu dari mereka ada yang pernah gue prank namanya Firdhi. Menurut gue, dia itu orangnya julid, kalau ngomong kadang nggak dipikir dulu bakal nyakitin orang lain atau enggak, lumayan lucu juga sih orangnya. Salah satu alasan kenapa gue kurang suka sama dia adalah karena perilaku dan sifat dia mirip gue. Intinya gue agak sebal melihat gue di diri orang lain tapi gue juga enggak membenci diri gue."
"Pertama-tama, gue itu jalanin pendekatan ke dia dengan cara sering chatan dan itu berhasil. Terus yang ke dua, gue jalanin aksi gue buat ngeprank dia sesuai rencana yang udah gue susun. Tapi, nggak gue sangka-sangka dia malah baper beneran dan ngungkapin perasaannya ke gue. Jujur aja, pada saat itu gue juga ngerasa nyaman dan nyambung sama dia."
"Tapi gue mikir lagi kayak kalau semisal gue pacaran sama dia, bakalan kayak gimana? Kita berdua sama-sama punya ego yang tinggi, keras kepala, nggak mau ngalah, suka seenaknya, terlebih gue juga galak dan dia tipe yang julid. Pasti nggak ada hari tanpa beratem, jadi ... daripada pacaran terus putus dan hubungannya nggak baik, gue bilang aja kalau gue nggak ada rasa sama sekali ke dia dan gue cuma ngeprank dia."
"Ya gue tahu kalau gue tolak hubungan juga bakalan renggang, tapi renggangnya, 'kan, nggak separah setelah putus. Beberapa hari kemudian gue dapat info dari adalah pokoknya kalau ternyata Firdhi cuma mau mainin gue doang karena dia penasaran. Entah itu benar atau enggak, gue agak lega karena gue nolak dia."
"Sampai beberapa minggu itu gue berantem mulu sama dia kalau ketemu dan berakhir kita berdua saling ngehapus kontak. Jadi benar-benar udah nggak ada komunikasi sama sekali. Kalau di sekolah ketemu pun itu cuma melengos tanpa tegur sapa." Ava menghapus jejak air mata yang tadi meluncur bebas pipinya.
"Ada juga insiden lain yang terjadi karena buah tomat. Saat itu kalau nggak salah adah praktek masak di kelas. Teman gue si Nila itu cerita kalau si Firdhi ada phobia sama tomat, terus ada gang cewek-cewek di kelas yang dengar pembicaraan kita. Otomatis jiwa-jiwa kriminal mereka meronta-ronta dong."
"Akhirnya yang teman cewek gue ke kelas dia sambil bawa tomat terus disodor-sodorin supaya takut gitu dan parahnya gue pun juga ikut nakut-nakutin dia karena gue agak sebel sama dia. Kalau nggak salah saat itu dia nangis karena ketakutan, semuanya yang terlibat pada maaf ke dia dan dimaafin."
"Tapi, cuma satu orang yang maafnya nggak diterima, yaitu gue. Saat itu, ya, gue ngerasa nggak bersalah dan tetap biasa aja, gue mikirnya, ya, Nanti pasti baikan lagi kok. Palingan marahannya cuma sebentar. Nggak lama setelah kejadian itu, ya, emang beneran baikan walau nggak sedekat dulu, tapi seiring berjalannya waktu gue ngerasa nggak enak banget dan baru sadar kalau apa yang gue lakuin ke dia itu jahat dan udah keterlaluan. Terlebih pikiran gue tuh selalu beranggapan bahwa hal itu nggak papa dan gue kurang merasa bersalah."
"Yang kedua, gue itu dulu pernah bikin cerita di salah satu aplikasi nulis online, terus gue pinjam nama-nama empat sekawan itu karena gue tuh kagum sama persahabatan mereka yang erat banget dan terlihat keren karena rencananya cerita itu juga tentang persahabatan."
"Nggak mereka doang sih masih banyak nama yang gue pinjam dari temen-temen gue. Tapi, gue nggak ijin dulu sama mereka karena gue pengen cerita gue itu nggak ada yang tahu dulu dan berharap kalau gue bisa sukses baru gue kasih tahu mereka."
"Saat gue bilang pinjam nama mereka ke si Marshal dan gue suruh Marshal nyampein pesan gue ke ketiga sahabatnya juga, nggak lama ada Rimba ngechat gue, dia nggak marah sih cuma ngasih tahu dan tanya buat apa gue pinjam nama itu tapi nggak gue kasih tahu."
"Marshal sih santai aja orangnya dia ngebolehin gitu, kalau Firdhi dia malah minta dijadiin peran utamanya tapi gue tolak karenakan emang bukan dia peran utamanya. Tapi, kalau Davin dia malah marah dan ngecaci maki gue ini itu sampai bikin gue nangis kejer sesegukan nggak berhenti-berhenti, karena pada dasarnya, 'kan, gue takut kalau ada yang ngebentak."
Ava sebenarnya malu tapi ia hanya ingin sedikit melegakan rasa aneh dan rasa sakit di hatinya.
"Tapi, di sana gue juga nggak diam aja dan balik marah gitu. Sampai Agnes yang nggak ikut apa-apa pun malah dituduh. Sampai sekarang yang gue masih punya nomornya itu cuma Marshal doang karena yang lain udah pada gue hapus karena gue marah dan mereka juga ngeblok gue." Ava terisak dalam tangisnya.
"Gue tahu gue salah karena nggak ijin dulu sama mereka, gue ngerti mereka takut kalau gue pinjam nama mereka untuk hal yang nggak baik. Tapi, 'kan, seenggaknya mereka sedikit berpikir gitu kalau hal buruk apa sih yang bisa gue lakuin?"
"Karena gue cuma cewek biasa, kalau gue ngelakuin hal buruk juga gue nggak akan ijin, sampai sekarang pun makian dari Davin nggak hilang-hilang rasa sakitnya. Dan, Harapan gue kedepannya pengen baikan sama mereka kayak dulu jauh sebelum ada insiden ini. Urusan masih ada rasa sakit karena makian itu urusan belakangan, karena gue yakin gue bisa maafin dan ngilangin rasa sakit itu seiring berjalannya waktu."
Justin mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca, melihat Ava yang menangis membuat dirinya ikut sedih. "Terus cerita lo itu gimana?"
Ava terkekeh sambil mengusap air matanya. "Ya, langsung gue hapuslah tanpa pikir panjang saat itu juga karena gue marah banget dan nggak memperdulikan hal itu sama sekali. Padahal itu udah sampai chapter empat puluhan dan gue buat itu saat masa liburan kelulusan SMP. Tapi, it's okay lah karena gue pun juga masih bisa bikin yang lebih jelas dan lebih bagus dari itu sesuai sama kemampuan dan kemauan gue."
__ADS_1
"Yang ke tiga, gue, 'kan, punya sahabat namanya Sara, dia itu ditembak sama teman sekelasnya namanya Farid. Saat itu Sara satu kelas sama Agnes juga dan karena Sara itu orangnya nggak tegaan orangnya, jadi dia nerima padahal dia nggak ada rasa sama sekali ke Farid."
"Gue sebagai sahabatnya kayak nggak terima gitu loh atas keputusan Sara. Selain akan nyakitin Farid, Sara juga tanpa sadar bikin dirinya nggak nyaman."
"Jiwa kriminal gue otomatis membuncah, jadi gue chat si Farid itu pakai hp nya Sara dan gue bilang gini kayaknya, Bukannya gimana-gimana nih ya, lo jangan sakit hati karena gue ngomong ini karena ini juga demi kebaikan bersama. Sebenarnya Sara itu nggak ada rasa sama sekali ke lo, jadi lebih baik jangan maksa dia untuk suka sama lo, karena orang kalau dipaksa itu nggak akan nyaman dan malah risih. Jadi gue harap lo tahu langkah kedepannya harus gimana."
"Gue bilang gitu ke Farid dan menurut Sara tanpa sadar omongan gue itu terlalu kasar dan setelah gue baca lagi ternyata emang agak kasar gitu, terus besoknya Sara bilang sama gue kalau dia sama Farid udah nggak ada hubungan apa-apa lagi karena gue ngechat dia kayak gitu."
"Farid mungkin malu serta sakit hati terus dia ngehapus kontak gue dan gue pun juga ngehapus kontak dia karena nggak berguna juga. Di sana tuh gue kayak orang yang kejam dan nggak berperikemanusian gitu. Gue pengen minta maaf tapi gue nggak tahu cara dan ngomongnya darimana, selain itu juga gue tahu kalau maaf aja nggak cukup."
"Yang ke empat, gue, 'kan, punya teman namanya Melly katanya dia dulu pas kelas delapan pernah dekat sama temen sekelas gue di 9C namanya Aniq. Karena waktu kelas delapan Melly sama Aniq di kelas yang sama yaitu kelas 8B kelasnya orang-orang pintar. Gue nawarin ke Melly kalau gue mau ngedeketin dia deket sama si Aniq lagi dan Melly mau."
"Waktu terus berjalan dan saat itu kalau gue ketemu sama si Aniq gue selalu ngomong soal Melly apapun itu. Tapi, gue nggak tahu mulai darimana tiba-tiba aja kayak Aniq itu suka ngechat gue gitu, ya, gue mah biasa aja orang namanya juga sama teman dan yang ngechat gue juga nggak dia doang."
"Terus kayak ada insiden apa gitu gue lupa itu Aniq ngungkapin perasaannya ke gue karena dia ngira gue punya perasaan sama dia padahal enggak sama sekali. Dan saat itu gue ngerasain di posisi Sara dan parahnya gue ngelanjutin hal itu sekaligus gue juga manfaatin Aniq. Gue bosan karena selama satu bulan itu, 'kan, gue kayak nggak ada sasaran prank gitu."
Ava terlihat berpikir. "Ohh iya! Gue baru ingat insedennya apa, di sekolah gue, 'kan, kayak setiap tiga bulan praktek renang gitu loh."
"Saat pulang dari renang gue diantar pulang sama Aniq karena sebelumnya dia nawarin gue pulang bareng karena nggak ada yang jemput dan karena dia baper sama gue itulah awal mula si Aniq suka sama gue."
"Ada teman gue yang namanya Havin itu ngefoto gue pas boncengan sama Aniq terus dikirim ke story WhatsApp dan si Melly itu liat. Gue ngechat Melly buat minta maaf."
"Di sana gue kayak udah nggak punya harga diri gitu karena gue bilang, "Gue mau lakuin apapun asalkan lo mau maafin gue." Ya, yang kayak gitulah gue nulisnya banyak dan panjang lebar tapi si Melly itu balasnya cuma sedikit banget dan sama sekali nggak setimpal sama tulisan gue. Saat itu, ya, gue juga kesal dan berpikiran kalau dia sama sekali nggak ngehargai usaha gue buat minta maaf."
...***...
...Yeeeeeeey! Nanti malam sholat taraweh, terus besoknya puasa! Wah udah nggak sabar banget nunggu menu sahur, berbuka puasa, dan bangunin teman sahur!...
...Bagi umat muslim di seluruh dunia, Aku mau ngucapin selamat menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah serta cinta dan selamat menunaikan ibadah puasa!...
...***...
...Tarik ke atas untuk melanjutkan cerita!...
...Kalian pernah ngerasain rasanya bersalah yang nggak hilang-hilang?...
...***...
...Ditulis tanggal 23 September 2020...
...Dipublish tanggal 12 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....